
Begitu matahari terbenam, satu kalimat itu akhirnya meluncur bebas dari mulut Gala.
“Aku sayang kamu.”
Dia tidak lagi berpikir menggunakan kata ganti yang biasanya mereka gunakan. Aku dan kamu adalah sebutan yang pas saat semua rasa itu akhirnya terbongkar.
Gadis itu bergeming, matanya bulat hijaunya membesar, dan dia begitu speechless.
“So…?” Gala melanjutkan karena Gemma masih diam saja. Sepertinya dia memang tidak menyangka kalau hal ini akan terjadi. “Please say something…”
“Apa…” Gemma memikirkan apakah kata ganti itu dia gunakan saja atau tidak. Ahhh persetan! Kalau Gala sendiri tidak masalah, berarti tidak masalah! “Apa kamu yakin sama perasaan kamu? Apa karena ini, kamu jadi nyuekin dan dingin sama aku selama ini?”
Anggukan dari Gala menjawab semua pertanyaan Gemma. Cowok itu sedang H2C*. Kini dia memasrahkan diri. Kalau Gemma tidak punya perasaan apa-apa padanya, tidak mengapa. Dia akan berusaha melupakan semuanya dan bersikap seperti biasa. Seperti kata Febri, paling tidak apa yang membuat dadanya sesak, kini sudah terungkap tanpa ada yang ditutupi.
“Kalau dengan rasa sayang kamu malah bikin hubungan kita kayak gini, maka aku nggak akan mau punya rasa apa-apa sama kamu!”
Deg! Apa ini artinya perasaan Gala bertepuk sebelah tangan? “Gem… Aku—“
“Tiap kali lihat kamu, rasanya beda. Nggak kayak rasa pas liatin Febri yang macho dan Niko yang jenaka… atau Stefan dan Marco yang keren dengan cara mereka masing-masing. Tapi kamu… selalu bikin…”
“Bikin apa Gem?”
“Kalau tahu begini, aku nggak akan biarin rasa ini tumbuh juga di hati aku!” bisik Gemma sambil kembali menunduk.
Rasa ini? Tumbuh juga?
Eh… Ini cewek suka juga kah sama Gala? Cowok itu mengerutkan keningnya mencerna kata demi kata yang Gemma bilang tadi… ‘Aku nggak akan biarin rasa ini tumbuh juga…’ apa itu artinya Gemma juga menyukai Gala?
Menyadari hal itu, Gala tersenyum lembut, memandang Gemma penuh arti. Dia maju selangkah, meraih kedua tangan Gemma dan menggenggamnya erat. “Gemma… kita nggak perlu seperti ini karena rasa sayang yang berbeda dari pertemanan biasa. Kita tetap bisa sama-sama.”
“Sama-sama?” tanya Gemma yang masih belum sempurna mengartikan kata itu.
“Bolehkah aku…” kata-kata Gala terputus begitu saja saat dia langsung menunduk, mengecup lembut kening perempuan yanh sedari tadi menyangkal diri.
Mata hijau Gemma terbelalak. Dia tidak menyangka kalau perasaannya itu akhirnya membawanya sampai ke titik ini. Titik balik di mana sebuah pertemanan antara lawan jenis berubah menjadi cinta. Titik di mana akhirnya ada lelaki yang mengasihinya dengan cara yang lembut.
“Maafin aku yang sempat kasar sama kamu… Waktu itu, aku nggak tau gimana caranya mengartikan perasaan aku…” bisik Gala saat kecupan penuh sayang itu akhirnya disudahi. Wajah mereka masih begitu dekat, hingga mereka dapat mendengar jelas deru napas masing-masing.
Kondisi alam kini sudah benar-benar gelap karena matahari telah tenggelam di ufuk barat. Gala mendongak dan menatap sekeliling, baru menyadari kalau ini sudah malam. Itu adalah pertanda bagi cowok itu untuk mengakhiri pertemuan mereka hari ini.
Tanpa melepas genggaman tangan mereka, Gala menarik Gemma kembali ke mobil. “Aku anter kamu pulang.”
Meskipun Gemma tidak membalas kecupan itu, Gala tau kalau cewek itu kini tengah memikirkannya. Cowok itu yakin kalau perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan. Gala pastikan bahwa sebentar lagi, Gemma akan membalas perasaannya.
Perjalanan itu memakan waktu lebih dari satu jam karena jalanan begitu ramai dipenuhi orang-orang yang baru saja pulang bekerja. Gemma sendiri tidak mempermasalahkannya karena jadwal kepulangan Yahya belum sampai pada waktunya. Artinya dia bisa bebas di rumah tanpa merasa canggung atau takut.
Tapi tebakannya salah. Sang ayah malah sudah menunggu di rumah dengan wajah kerasnya. Hawa mencekam menguar dari sekeliling tubuh sang ayah yang berdiri di ambang pintu, membuka jalan masuk untuk Gemma pulang.
“A-ayah?”
Yahya menyesap rokoknya dan menghembuskannya di depan Gala dan Gemma. “Dari mana kamu?”
Tangan Gemma gemetar. Gala yang mengetahui hal itu langsung maju selangkah, memasang badannya di depan Gemma untuk melindungi gadis itu. Setidaknya, sampai sang ayah mendengar penjelasan mereka.
“Tadi Gemma ikut lomba, Om,” ucap Gala meski perasaannya sedikit gentar.
“Saya tidak tanya kamu. Kamu siapa?”
“Saya temannya Gemma, Om. Nama saya Gala… Galandra Putra…”
“Kamu bisa pulang.” Dengan santainya, Yahya kembali menikmati rokok kreteknya itu dan tak peduli pada Gala dan Gemma yang mulai terbatuk. “Gemma, masuk ke dalam.”
Dengan ragu-ragu, Gemma menatap Gala dan pelan-pelan melepas genggaman tangan laki-laki itu. Namun sebelum Gemma benar-benar masuk, Gala tiba-tiba mendahuluinya, mendatangi Yahya.
“Om… Saya mau ajak Gemma jalan sebentar. Apa boleh?”
Nekat bener! Tapi dia hanya ingin ayah Gemma tahu kalau Gemma juga punya kehidupan di luar selain terkurung dalam rumahnya. Kalau saja Yahya tidak sering keluar kota, mungkin Gemma akan terus menjadi Gemma yang dingin dan tak tahu bagaimana indahnya masa muda yang hampir saja dia lewati.
“Siapa kamu berani-beraninya nekat membawa anak saya?!”
“Saya hanya salah seorang dari teman terdekatnya Gemma, Om. Dan saya janji akan kembaliin Gemma maksimal dua jam lagi. Kami seharian ada di venue lomba, dan kami belum makan. Saya merasa nggak enak kalau Gemma pulang kelaparan.”
Yahya mengernyit. Baru kali ini ada anak lelaki yang berani-beraninya minta izin padanya untuk mengajak Gemma jalan. Belum sempat dia hendak marah pada Gala karena merasa anak itu kurang ajar, perut Yahya mendadak berbunyi keras.
Suara keroncongan itu tidak dapat ia tahan sama sekali, dan membuat bocah tersebut tersenyum miring. “Kalau Om mau, kami bisa bawakan untuk Om.”
“Nasi dan Pecel lele dua ekor, sambal pedas, tidak pakai lama!”
...****************...
*H2C \= harap-harap cemas
Siapa suka pecel lele? angkat tangan!