Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
S2 Bab 13 – Overprotektif



visual Viani. cantik ya 🤭


...***...


“Bang Rinto bisa pulang aja, nggak sih?” Gadis itu menoleh pada sang bodyguard bersuara lembut selembut bulu yang terus mengikutinya kemana-mana. Viani sudah tak tahan dengan pengawasan Gala yang super ketat itu. Lelah karena diikuti kemana pun, bahkan sampai ke bar ini. “Pulang, nggak?!”


“Maap Neng, saya cuma disuruh Bapak. Jangan usir saya,” wajah garang bak badak afrika itu berubah seperti kelinci yang begitu pasrah setelah diomeli Viani.


“Arrghh!” Viani menghentakkan kaki pada jalan parkiran yang tak punya salah apa-apa itu dengan jengkel. “Saya bakal bikin Abang dipecat, ya!”


“Eh jangan, Neng Viani … Ibu saya di kampung lagi sakit. Masa Neng Viani tega?” mohon Rinto dengan puppy eyes.


Papa sambungnya itu memang sangat overprotektif padanya, sehingga kemana-mana, dia harus ditemani bodyguard kepercayaannya. Tapi kalau sudah begini, Viani bisa apa? Mau mecat Bang Rinto, juga tak tega.


Maka dia pun menelepon lagi pada sang ayah, menegaskan kalau dirinya tidak akan pulang malam ini. Kalau kemarin-kemarin dia tidak masalah kemana-mana diikuti, namun kini, dia harus mengambil tindakan untuk sedikit terbebas dari pengawasan Gala.


Tak peduli pada Rinto yang terus memohon padanya untuk pulang.


...***...


“Viani nggak pulang.”


Gala menurunkan ponselnya dan meletakkannya di atas nakas. Dia menatap Gemma yang tengah memakai piyama sutra di dalam walk in closet.


“Udah cukup loh, Sayang!” perintah sang istri. “Dia itu udah hampir 27 tahun, sehat dan bisa sedikit beladiri! Udah gede dan cukup bisa jaga diri … kasih anakmu sedikit privasi! Kamu nggak bisa terus ikutin Viani kayak gitu. Kamu itu loh, nggak segitunya sama Geraldo dan Gemini.”


Sementara itu, Rinto melaporkan bahwa semua aman-aman saja. Hanya saja, Viani ternyata sempat pergi ke sebuah bar dan keluar setengah jam kemudian. Gala tak akan bertanya pada durasi yang sesingkat itu, sebab Viani tak mungkin mabuk.


“Bukan nggak segitunya, tapi aku akan segitunya juga pada Gemini ketika nanti dia remaja, bahkan sampai dewasa. Aku nggak mau anak perempuan aku kenapa-napa, Gem. Bukannya Viani anak aku juga?”


“Ya tapi nggak segitunya juga. Parno kamu tuh berlebihan!”


Gala diam, tak membalas ucapan Gemma. Pria itu masih memikirkan Viani yang tidak akan pulang malam ini. Dia pun mengawasi CCTV yang dia pasang di apartemen anaknya yang letaknya dekat dengan Trisinar Hospital, dan mendapati Viani telah tiba di apartemen itu seorang diri. Fiyuh … Gala lega.


Namun masih ada satu masalah lagi. Alvin.


Dia belum menyelidiki latar belakang lelaki itu. Entah kenapa, dia terlampau percaya pada mulut manis Chandra Wiratama ketika pertama kali bermaksud meminang Viani untuk anaknya. Gala mengakui kali ini dia sedikit ceroboh.


Pikirannya masih bercabang pada keamanan Viani dan soal Alvin sampai tak sadar kalau Gemma telah berada di sampingnya, masuk dalam selimut.


“Kita harus percaya pada Viani, Sayang. Dia udah dewasa dan bisa mengatasi masalahnya sendiri. Berilah dia sedikit privasi supaya bisa menikmati masa mudanya.”


Gala mendesah pelan, “Apa aku terlalu keras sama Viani?”


“Yes, sometimes ... Tapi dari situ aku tahu kalau kamu menyayangi Viani seperti Mas Indra.”


Gala mematikan bed lamp dan segera berbaring di samping Gemma. Kendati suasana sudah gelap, setelah setengah jam kemudian, dia masih tidak bisa tidur.


Lalu, sebuah tangan melingkar di perutnya. Tangan istrinya.


Terdengar sebuah bisikan, “Susah tidur?"


"Hm!" jawab Gala singkat.


"Mau ku bikin tidur nyenyak?" Gemma menyeringai.


Gala menoleh dengan pandangan menggelap. Mana bisa dia tahan godaan suara seksi sedikit saja dari sang istri.


“Tapi janji dulu …”


“Apa?”


“Berhenti ngikutin Viani untuk sementara ini. Suruh Bang Rinto longgar dikit. Jangan ngekor terus sama Viani.”


Gemma mengatakannya dengan memberi sentuhan berbahaya yang membuat Gala sulit berpikir. Tanpa sadar, lelaki itu mengangguk, menunggu hidangan selanjutnya.


“Janji?” tanya Gemma lagi dengan nada seduktif.


Pria itu kembali mengangguk lebih yakin. “Nakal ...”


Tentu saja Gemma bersorak dalam hati. Jika Gala tak bisa dibujuk dalam keadaan serius, maka ranjang adalah tempat yang paling tepat untuk mengubah pemikirannya.


***


“Yakin, Ma?”


Setelah menceritakan semua pada sang bunda lewat panggilan suara keesokan paginya, Viani jadi lega. Tentu saja pertunangan Alvin dan dirinya langsung dibatalkan.


Gala marah besar dan dia langsung menyiapkan tim pengacara jika Alvin benar-benar menuntutnya. Untungnya, Gala tidak marah pada Viani.


Bahkan, lelaki itu tampak perlahan jadi percaya padanya. Dia bahkan sudah menyuruh Rinto untuk libur hari ini setelah mendengar aksi Viani yang dengan berani menghajar wajah mulus Alvin hingga babak belur dan hidung yang retak. Viani membuktikan pada Gala kalau dia memang sudah besar dan bisa jaga diri.


Viani berjingkrak riang saat hari ini dia bebas. "Nggak sia-sia belajar beladiri sama Tante Diana!"


Lalu gadis itu menghabiskan seluruh Sabtu siang dengan nonton N3tflix, pada serial apa saja yang dapat menghiburnya kala itu. Dia juga sempat video call dengan Hana yang sudah menikah dengan Harry setahun lalu. Mereka kembali menjalin komunikasi setelah Viani lulus kuliah.


“Anyway, gue pergokin Alvin awokawokawok sama cewek lain loh, Han.” Viani merebahkan tubuhnya pada sofa tebal di ruang tengah, matanya tertuju pada televisi dalam keadaan mulut yang penuh cemilan. Dia bercerita pada Hana kelewat santai.


Mata Hana membesar saat temannya terdengar begitu santai menceritakannya. “WHAT? Vi! Lo putusin dia, PUTUSIN!”


Viani tertawa meledek, lalu mengambil cemilan lagi dan menjejalkannya dalam mulut, “Sejak kapan gue sama dia pacaran? Kita dijodohin doang, Han."


“Berani-beraninya dia selingkuhin elo. Dia nggak tau lo anak siapa emangnya?”


“Tau kok. Tapi sekali orang nggak bisa hargain komitmen, selamanya akan begitu. Mesti ada meteor jatuh, badai Katrina atau Tsunami dulu baru mereka bisa berubah. Udah hukum alam. Lagian, bagus juga ketahuan sebelum semua terlambat kan? Gue juga nggak ada rasa sama dia. Gue nggak punya alasan buat stay."


“Temen gue pinter … "


“Dari dulu …”


"Sempat lo tonjok?"


"Sempatlah! Puas gue!" jawabnya bangga. "Dua kali. Pertama pake tangan gue, kedua pake iPhone 15 yang gue beliin sebagai kado ulang tahun dia. Gue lempar pas di muka dia."


Hana terpingkal-pingkal sampai menjatuhkan ponselnya. Dia mengambil ponsel itu lagi sambil menyeka air mata, mengacungkan jempolny "Good girl~ Anyway, Vi …”


“Hm?”


“Lo nggak nyoba buka hati, nyari yang lain gitu?”


“Gue sih buka-buka aja. Entahlah, makin dewasa kita makin sulit ketemu yang pas. Kadang-kadang ketemu yang mesum dan ngajak skidapap sawadikap melulu. Atau ada yang prik, macam-macam lah”


“Gue kenalin ke temen gue mau? Doi cakep, alumni kampus paling bergengsi seJakarta, tinggi, suka nge-gym dan kaya .... pelorotin ampe gak bersisa.


Viani berdecak, menelan cemilannya dan mengganti bahan kunyahannya dengan potongan apel yang ada di atas meja. Hana lupa kalau Viani ini sudah kaya raya, dia tidak perlu mempeloroti pria kaya lainnya.


“Lagian, selama ini, tiap kali lo pacaran, lo selalu santai tiap kali putus. Jadi, kalo elo nggak bisa cinta sama satu orang, setidaknya lo bisa merasakan kesenangan di sana, Vi ... Manfaatin duit cowok, misalnya. Enjoy your life! You ain’t gonna live forever, Babe!” Ujar Hana dengan backsound bayi menangis.


Kata-kata itu ada benarnya juga. Dia harus having fun sedikit. Tapi tidak bisakah temannya itu menyarankan hal lain saja untuk bersenang-senang?


Viani selalu memilih dalam posisi aman setiap kali pacaran. Hingga sekarang, belum pernah ada yang menjamah tubuhnya.


Selain karena selalu diikuti, dia juga selalu merasa cepat bosan pada para pria yang sempat singgah untuk memberinya status 'pacaran'. Tak ada kesenangan di sana. Bahkan setelah putus, hidup Viani terkesan begitu datar.


Beda kasus dengan Alvin. Pria itu kemarin memang sudah keterlaluan. Viani bersyukur dia tak pernah disentuh oleh lelaki itu.


Namun, Viani terbayang Chandra dan Gala yang telah melakukan kesepatakan pertunangan, dia hanya tidak ingin membuat kedua orang tua mereka malu.


“Lo nyadar nggak sih, terakhir kali lo nangis, pas Vincent mutusin elo sepihak. Setelah itu, nggak pernah lagi.”


Mendengar nama Vincent disebut lagi, Viani hanya bisa menggelengkan kepala dan menghindar. “Udah ah, urus Harvey sana!”


“Iya-iya! Nih anak tuntutannya banyak banget. Kalo gue nggak diturutin, rambut guelah dijambak, muka guelah yang dicakar.”


“Hahaha, namanya juga bayi. Geraldo sama Gemini juga dulu begitu. Dah, ah, gue mau healing sendiri!”


“Nonton N3tflix mah bukan healing!”


“Ya itu kan versi gue! Salam sama Harry. Bye!”


Viani meletakkan ponselnya di atas coffee table lalu mengambil apel itu lagi. Sambil mengunyah, dia memikirkan apa yang Hana bilang tadi, bahwa dirinya kurang bersenang-senang.


Gadis itu kembali berpikir, ‘having fun’ macam apa yang cocok untuknya saat ini. Dilihatnya jam sudah menunjukkan hampir pukul 5 sore.


Apa kira-kira hal yang bisa dia coba saat malam hari? Ke mal, belanja, nonton, ice skating, bowling, makan di resto mahal, semua sudah biasa. Dufan apalagi, terlalu banyak kisah di sana yang tak mau dia ulang dan berusaha ia lupakan.


Tapi Alkohol, dia belum pernah merasakan benda itu. Seketika dia jadi merasa penasaran. Dia teringat pada mocktail yang pernah diminumnya di sebuah bar, dan memutuskan untuk pergi ke sana dengan mengajak seorang teman kerjanya, April.


Hari ini, dia harus merayakan satu hari bebasnya dari pengawasan sang ayah.


...****************...