Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
S2 - Epilog


"Happy birthday to you ... Happy birthday to you ..."


Nyanyian sekelompok orang memenuhi taman belakang sebuah rumah besar.


Setelah itu, beberapa anak sedang berlari dengan riang gembira setelah acara potong kue. Ada Briana, Geraldo, Gemini dan Jason--anak Felix. Mereka datang kemari dengan orang tua mereka, mengunjungi gadis kecil yang baru saja berusia 7 tahun.


Walaupun mereka sangat kaya, Viani tidak ingin ulang tahun ini jadi ajang pamer harta. Dia ingin berkumpul dengan keluarga dan sahabat terdekatnya saja.


"Sori gue baru datang," si tengil Alvin kembali muncul bersama istrinya--Anita, dan seorang anak lelaki berusia 5 tahun bernama Arnold, yang tak kalah tengilnya. Keluarga kecil itu membawa sebuah kado di kotak besar yang mengundang perhatian orang-orang.


"Lo bawa apaan sih? Jangan aneh-aneh loh!" gertak Vincent yang menaruh curiga pada benda kotak tersebut.


Alvin hanya cengengesan seperti orang tidak waras. Setiap tahun, youtuber kenamaan itu memberi hadiah ulang tahun aneh-aneh pada anak Vincent. Tahun lalu, lelaki itu memberi samsak tinju untuk anak Vincent, karena katanya Vincent sering marah-marah. Entahlah tahun ini lelaki itu hendak membeli apa.


"Sstt, Sayang," Anita menarik lengan Alvin dan berbisik. "Yakin nggak ketukar sama punyanya Wawan sama Jihan? Kamu suka aneh-aneh, masa kertas kadonya disamain sih?" katanya merujuk pada kado dengan kertas polos berwarna pink yang menjadi pembungkusnya.


"Aku yakin enggak," ucap Alvin meyakinkan sang istri. "Tadi kadonya udah aku taroh di mobil. Nggak akan ada yang ambil kok."


Entah kenapa, perasaan Anita serasa tidak yakin dengan perkataan Alvin saat itu. Mereka mencoba menikmati pesta anak-anak yang terlihat sangat meriah.


Ada cupcake tower, chocolate fountain dengan berbagai buah-buahan kecut seperti kiwi, stroberi dan cheri. Belum lagi pinata yang digantung di belakang, tampak begitu berkilau di mata anak-anak yang haus akan gula dan menanti tubuh mereka dilanda sugar rush.


"Lihat Valerie?" tanya Viani kebingungan saat anak-anak sedang menikmati acara bebas.


"Nggak tuh," jawab Anita. Ibu muda itu langsung awas pada Arnold yang juga kebetulan suka menghilang jika sudah bersama-sama Valerie. "Astaga, Arnold juga nggak ada!"


Buru-buru, kedua ibu muda itu mencari Arnold dan Valerie, ditemani Alvin. Sementara Vincent sedang bermain pinata bersama anak-anak lainnya.


"Kemana sih, si Arnold itu?! Awas aja kalau ketemu! Aku bakal--"


Kalimat itu terpotong secara mendadak saat mulut Alvin menganga, pun dengan mata Viani yang melotot besar pada sesosok anak lelaki sedang bermain pedang-pedangan dengan sebuah benda aneh di kepalanya. Diikuti oleh seorang anak perempuan yang berlari dengan satu benda sejenis. Yaitu dua benda berduri model punk yang baru saja mereka keluarkan dari kotak yang sama.


Alvin menoleh pada mobilnya dan seketika melihat mobil itu sudah terbuka dengan kunci mobil yang masih tergantung di rumah kuncinya.


Di ujung sana, Vincent sedang mencari Valerie. Alvin buru-buru mengejar anak mereka. Tapi terlambat. Ada Viani yang sudah menggeram marah, tak hanya pada Arnold, tetapi juga pada anaknya sendiri yang sudah memakai bra itu di dadanya.


"VALERIEEEEE!!"


Tubuh Valerie dan Arnold menegang dengan takut. Alvin langsung melepas benda-benda yang baru saja akan dibawanya menuju rumah Wawan yang berada di kawasan Jakarta Utara, sebagai kado anniversary mereka. Kedua anak itu pun kabur dan bermain lagi.


"Ceroboh banget si?!" bentak Viani pada Alvin. "Untung Vincent nggak liat!"


"Ya maap! Mana gue tahu kalau anak gue bakal buka mobil gue buat ambil kado yang itu!"


Kesal, Viani mengepalkan tangannya dan meninju bahu Alvin dengan kesal hingga lelaki itu berjengkit dan mengusap bahunya yang nyeri.


"Aw! Sakit! Kira-kira dong Vi!"


Viani menggeram dengan menggertakkan giginya, hendak memukul Alvin lagi. Tetapi langkahnya terhenti saat sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Wangi familiar yang begitu maskulin itu menggelitik hidungnya sehingga dia menoleh.


Diterpa jingganya mentari sore, wajah Vincent terlihat bersinar lembut. Bentuk tubuhnya tidak kekar namun cukup atletis, membuat Viani terpana pada sosok yang begitu indah itu. Lelaki itu semakin menawan seiring bertambahnya usia.


Bukan hanya Viani, Vincent pun merasakan hal yang sama.


Tubuh yang dulu sempat gemuk itu, kini sedikit menyusut. Jadi berisi dan segar. Tidak ada makhluk lebih indah dari sosok Viani, wanita yang dia cintai dari SMA hingga sekarang. Bertahun-tahun berlalu, tak membuat cinta Vincent pada Viani berkurang.


Wanita itu sempurna.


"Obat nyamukkk!!" gumam Alvin seraya menjauh dari pasangan tersebut.


Tidak ada yang mendengar keluhan sahabat mereka itu. Mata mereka masih terpaut satu sama lain. Vincent langsung membawa Viani duduk di tepi kolam, membuat kepala wanita itu bersandar pada dadanya yang bidang.


"Valerie senang banget ya," ujar Vincent.


Mata Viani terbelalak. Dia menoleh pada Valerie yang masih terduduk berdua dengan Arnold seraya disidang Alvin dengan wajah pias. Semoga Vincent tidak menyadari kelakuan Valerie dan Arnold hari ini.


"Of course! Hidup kita sempurna." Viani kembali bersandar pada dada Vincent, mengalihkan perhatian pria itu dari anak mereka yang sedang kena marah. Lalu Indra datang dan menggandeng tangan Valerie kembali ke pestanya. Syukurlah gadis itu kembali riang.


Lama mereka terdiam dalam hening. Tangan Vincent masih mengusap-usap puncak kepala istrinya dan sesekali mengecupnya dengan lembut.


"Malam ini aku mau ke suatu tempat. Kamu mau ikut?"


Jiwa penasaran Viani langsung meronta-ronta. "Mau kemana?"


"Kamu pasti suka."


...***...


Senyum Vincent tersungging tipis saat dia meraba satu album berisikan kenangannya selama hampir delapan tahun menikah dengan Viani.


Mulai dari foto mereka saat masih berpacaran, menikah, hamil lalu melahirkan.


Wajah mungil Valerie menambah kebahagiaan yang sebelumnya sudah ada di pernikahan mereka, meski mereka punya awal yang begitu sulit. Setelah Valerie lahir, barulah album foto itu terhiaskan dengan seluruh personil keluarga yang lengkap.


Vincent membuka plastik transparan itu menampilkan foto dirinya dan Viani, di berbagai tempat. Cappadocia, Paris, Maldives, Raja Ampat, Labuan Bajo, Bali, Thailand, dan segudang tempat bulan madu lainnya.


Lalu di lembar selanjutnya berderetlah foto-foto Valerie mulai dari bayi sampai sekarang. Sosok yang berwujud persis dirinya, tapi berjenis kelamin perempuan. Valerie sudah besar, dan dapat melakukan semuanya sendiri.


Lalu tak lama, sebuah foto lagi dia tempatkan di sana, di lembar paling akhir. Sebuah foto yang tersimpan pada ponselnya yang lama.


Foto mereka saat masih menggunakan seragam SMA.


Entah bagaimana Vincent bisa mendapatkan foto itu, tetapi dia seakan bernostalgia saat ini.


Saat ini dia merasakan deburan ombak perasaan yang seperti itu, seperti dulu. Berdebarnya jantung Vincent saat tiap kali bertemu Viani. Bagaimana bahagianya dia saat dapat mengerjai Viani dan saat wanita itu menyampaikan rasa kesalnya.


Dan Vincent mengucap syukur untuk hal itu. Bahwa semua terjadi dalam hidup mereka sudah menjadi takdir Tuhan. Vincent tidak pernah menyesal meski kenangan itu bukanlah kenangan yang baik.


Semua waktu yang diberikan Tuhan untuk mereka sangat berharga. Termasuk saat ini.


"Siap?" tanya Viani yang muncul dari pintu, pada Vincent yang masih berada di kamar mereka.


Vincent menoleh pada sosok yang tidak lagi muda itu. Wajahnya sudah sedikit menua, rambut putihnya mulai muncul satu per satu, tetapi tidak mengurangi kadar cantiknya sama sekali.


Viani akan selalu jadi pertama paling cantik setelah Valerie.


"Ayo, Arnold sudah nunggu di depan altar! Kamu harus anter Valerie loh!"


Dengan napas yang terhembus pelan, dia meyakinkan diri untuk dapat mengumpulkan segala mentalnya agar dapat melepas anak gadis satu-satunya menikah. Memang ada sedikit rasa sesak di dadanya sejak tadi.


Namun, senyum cantik sang istri menghempaskan segalanya. Dia tidak lagi takut. Arnold adalah orang yang tepat untuk anaknya. Dengan mantap, Vincent berdiri, mengembalikan album foto itu dan memperbaiki jasnya.


"Udah ganteng, Sayang!" ucap Viani mengecup rahang Vincent.


"Aku udah tua," gumam Vincent seraya menyisir rambutnya yang sudah setengah memutih.


"Tetap ganteng kok, nggak kalah sama Arnold."


Vincent terkekeh pelan, lalu menggandeng istrinya keluar kamar.


...TAMAT...


Terima kasih yang sudah baca sampai sekarang ya readers.


Akhirnya, Aku Gala, Gemma, Vincent dan Viani pamit undur diri. Sampai jumpa di karya selanjutnya!