
Permohonan persetujuan pinjaman dana dikabulkan akhirnya pihak Diverto. Dan benar saja, PO untuk pembuatan gedung kantor dan gudang Rapidash cabang Banten telah dikeluarkan.
Nilainya cukup fantastis, yaitu lebih dari 70 Milyar. Kalau dugaan Gala benar, maka nilai ini adalah usaha korupsi Bambang dan kawan-kawan yang gila-gilaan.
Benar-benar tak tahu diri! Ck!
Cukup lama Gala termenung pada PO yang telah ditandatangani dan di email pada PT. Karya Indah Konstruksi, perusahaan yang bertindak sebagai kontraktor yang mengeksekusi proyek tersebut.
Setelah Gala memberi nama perusahaan itu, Felix mengirimkan Gala sebuah email berupa profil perusahaan. Gala kembali menggelengkan kepala saat melihat siapa CEO sekaligus owner kontraktor tersebut, Dimas Hanggara, yang tak lain adalah adik kandung Bambang Hanggara.
Apa-apaan mereka ini? Satu keluarga korupsi kah?
Diam-diam, Gala melirik Daniar yang sedang memperbaiki riasannya. Kalau dihitung-hitung, Gala sangat jarang mendapati Daniar melakukan pekerjaannya memilih vendor atau supplier untuk kebutuhan perusahaan, baik ke lapangan langsung, mendatangkan sampel dari vendor, atau sekedar membuat panggilan telepon. Bisa jadi karena vendor yang mereka pakai adalah vendor tetap.
Atau bisa jadi, pada kenyataannya, proyek yang dikerjakan hanyalah fiktif belaka.
“Black Ruby I’ve put on your ring finger…”
Tiba-tiba, Gala menoleh pada suara yang keluar dari speaker bluetooth di atas meja Daniar. Sebuah lagu ciptaannya sendiri saat masih di band Black Ruby.
“Gala…” panggil Daniar yang sedang menutup tas make up miliknya.
“Ya, Mbak?” Gala berhenti melamun dan menatap wanita itu.
“Tau nggak ini lagu siapa?”
“Nggak tau, Mbak. Nggak ngerti, nggak bisa bahasa enggres!”
“Masa sih? Tapi kan dikit-dikit bisa! Ini lagu favorit aku. Dari band Black Ruby, pernah dengar?” tanya Daniar dengan penuh ketertarikan. Tapi dari raut wajahnya yang terlihat tegang, Daniar sepertinya tidak benar-benar suka pada Band itu. Seorang fans, tidak akan menunjukkan wajah sekaku itu saat bertemu idolanya.
"Ya kan aku taunya lagu-lagu Indonesia, Mbak," elak Gala dengan santai. Tapi ekspresi wajahnya tak bisa meyakinkan Daniar yang masih menatapnya dengan aneh.
Otot wajah Gala melemas, Daniar pasti sudah tahu identitas aslinya. Pun ketika Gala memandang sekeliling. Gio dan Anton menatapnya dengan tatapan menyelidik. Tapi Gala tetap berusaha tenang dan membiarkan semua berjalan seperti biasanya. Dia masih ingin melihat kejadian apa yang terjadi selanjutnya.
Tepat pukul 5 sore, karyawan-karyawan yang tak lembur serentak keluar dari kantor seperti kawanan bebek yang sedang dituntun oleh pawangnya. Mereka tak henti-hentinya bicara, banyak yang terlalu excited untuk pulang di penghujung weekday itu.
“Gala!” Panggil Daniar lagi padanya.
Gala yang hampir menyeberang ke halte bus, menoleh pada Daniar. “Ya, Mbak?”
“Dinner bareng yuk, sama anak-anak.”
“Anak-anak siapa?”
“Gio dan Anton. Udah ikut aja!" wanita itu menarik tangan Gala dengan begitu semangat.
“Loh, ini kan? Mobil Pak Hendra?” tanya Gala dengan kaget saat melihat mobil yang akan dia naiki ternyata mobil Hendra, sebuah SUV mahal tahun 2021. Di dalamnya ada Gio dan Anton yang turut bergabung, mereka berdua sama-sama terdiam saat Gala muncul.
“Masuk, Gala. Biar kita nggak kemaleman,” ujar Hendra sambil bersiap pada kemudinya..
Mobil Hendra menderu di jalan raya. Mereka memang sempat terjebak kemacetan selama satu jam, lalu setelah itu, mobil mereka berjalan lancar walaupun kondisi jalan masih padat. Semua terpantau normal. Gio, Anton dan Daniar masih sempat bercengkerama dan bercanda-canda.
Belasan menit kemudian, Gala menyadari suatu hal yang tidak beres saat melihat Hendra seperti dalam keadaan tak konsentrasi. Tiga orang tadi telah dalam mode senyap sementara Hendra mulai tegang. Gala mulai bertanya-tanya.
“Pak, kita mau ke mana?”
“Kita dinner bareng aja dulu bentar, oke?” jawab Hendra mengulang perkataannya tadi.
“Di mana?” Gala begitu ingin tahu.
“Maunya di mana?”
“Makanan sederhana, bisa? Saya nggak biasa makan makanan di restoran mahal, apalagi western.”
“Saya bisa makan apa aja, Pak.”
“Yakin?”
“Iya.”
“Kalo gitu, saya tau pecel lele enak di Kalideres.”
“Saya ngikut aja, Pak!”
Mereka hening sejenak, lalu Hendra kembali membuat percakapan. “Kamu suka kopi?”
“Suka, Pak.”
“Kamu tau kopi Los Planes nggak?”
“Kopi mahal itu, Pak. Enak!”
“Ya, saya dulu pernah ngerasain itu. Mahal sekali ya. Tapi rasanya unik. Kalau saya suka yang deep roasted, aromanya lebih unik.”
Fix, mereka pasti sudah tahu. Gala mengerti kalau dirinya telah dipancing-pancing.
Jalanan yang padat itu membuat perjalanan mereka jadi tambah panjang. Namun rasa gelisah dalam hatinya membuatnya tak henti-hentinya meremas ponselnya.
Warteg Pecel lele yang dimaksud, mereka lewati begitu saja. Gala tahu karena dulu, warteg tersebut adalah tempat Gala dan Gemma membelikan makanan untuk Yahya, dan tempat Gala, Niko bersama Febri pernah makan bersama saat kehabisan uang.
Tapi ini bukan saatnya bernostalgia.
“Pak. Pecel Lelenya udah lewat kayaknya,” Gala berusaha mengingatkan.
“Oh… Lewat ya…” ujar Hendra dengan canggung. “Oke, saya cari putar balik dulu.”
Namun mobil itu tetap melaju lurus, tak ada niat dari sang supir untuk berbalik arah menuju tempat makan yang dimaksud.
“Pak, sebenarnya saya mau dibawa kemana?” tanya Gala menuntut.
Baik Hendra dan Daniar diam. Keduanya hanya saling berpandangan dengan amat dingin. Hingga arah pun berubah, Gala sudah tak tahu lagi dia berada di mana.
Dia buru-buru mengetik informasi pada Felix kalau dia sekarang berada satu mobil dengan Hendra, Daniar, Gio dan Anton, dan mengirimkan lokasinya secara live pada sepupunya itu.
[ Felix : On the way! ]
“Ayolah Pak Gala… Nggak usah pura-pura panik,” ucap Hendra dengan mata yang masih tertuju pada jalan raya. Pria itu tertawa getir, lalu melanjutkan. “Kami tahu siapa Bapak.”
Gala memperbaiki posisi duduknya, wajahnya yang semula gelisah, berubah jadi datar dengan rahang yang mengeras.
Mode polos di wajahnya berganti dengan mode waspada tanpa terintimidasi sama sekali. “Kalian mau bawa saya ke mana?”
Tak ada satu pun dari mereka yang menjawab. Gio, Daniar dan Anton semua terlihat diam saja. Hingga mereka akhirnya sampai ke sebuah lapangan yang amat sepi di kawasan Jakarta Utara.
Tiga orang itu turun lebih dulu. Atas suruhan Hendra, kedua pria itu pun menarik paksa Gala untuk turun dari mobil. Mereka kini berpijak di atas tanah kering.
“Galandra Putra Aditya, pemilik Diverto Music and Management. Pemegang saham di seluruh perusahaan yang ada di bawah naungan Aditya Group... Dan juga karyawan biasa di Rapidash Express,” ujar Hendra dengan tatapan mengintimidasi pada Gala. “Identitas Anda sudah terbongkar.”
Gala mundur selangkah. "Bagaimana kalian bisa tau?"
...****************...