
Coba sambil denger lagu
Yellowcard - Only One 😭
Semacam slow motion, Gala keluar dari antrian manusia itu untuk mendapati Gemma yang berlari ke arahnya. Dia sempat memperingatkan diri kalau ini hanya halusinasi yang muncul seperti fatamorgana. Tapi ternyata itu sama sekali bukan bayang-bayang semata, begitu Gemma menabrak tubuhnya dengan tangan dan kaki yang melingkar padanya.
Gala merengkuh tubuh itu dalam dekapannya, tak peduli orang-orang di sekelilingnya dan tak peduli kalau Kakaknya melihat dengan mata terbeliak dan mulut membuka karena adiknya sedang dipeluk oleh istri orang.
Saat pikiran tentang suami Gemma itu melintas, buru-buru Gala menurunkannya, menarik tangannya untuk menjauh dari orang-orang yang memperhatikan mereka.
Dicarinya sebuah taksi dengan jenis sedan yang memakai kaca film sparta mirror.
“Pak, saya mau pinjem taksinya satu jam aja. Kami perlu bicara 4 mata.”
“Tapi—“
“Ayolah, Pak, mau LDR nih! Istri saya lagi hamil… Kasian berdiri-berdiri di sini. bandara rame banget, nggak ada tempat duduk!”
Sang supir langsung bungkam saat Gala menyentak dadanya dengan lembaran uang seratus ribuan sebanyak lima lembar. Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, dia membukakan pintu untuk Gala dan Gemma agar kedua orang itu masuk.
“Tapi inget loh, Mas, jangan mes—“
“Saya nggak akan mesum, Pak!” bentak Gala yang langsung menutup pintu taksi di kursi penumpang itu dengan sekali tarikan kuat.
“Gem, kamu kenapa lari-lari begitu?” tanya Gala dengan perhatian sambil mengelus perut sang kekasih—atau lebih tepatnya, sang mantan. “Kasihan bayi kamu.”
“Diana ngasih tau aku kalau penerbangan kamu hari ini,” ucap Gemma sambil mencoba mengatur napasnya. “Aku langsung ke sini setelah mastiin suamiku nggak akan makan siang di rumah.”
Gala mengulum senyumnya. Begitu miris saat dia menyadari kalau semua perhatian Gemma bukanlah untuknya. “Kamu itu istri yang baik … Suami kamu pasti sayang sama kamu.”
“Aku akan menyesal banget kalo aku nggak lihat kamu buat terakhir kali…” ucap Gemma dengan binar mata sendu.
Mata hijau bulat yang selalu memandangnya dengan hangat itu kini berada di depannya, tetapi sayang, si empunya mata tidak terikat lagi pada dirinya. Tidak ada yang bisa Gala lakukan selain membiarkan gadis ini menjalani pernikahannya dengan bahagia.
“Gem…” Gala meremas kedua tangan Gemma dengan lembut. “Aku benar-benar berharap kamu bahagia… Harus! Ada calon anak kamu yang bergantung sama kamu dan kamu harus bertahan demi dia.”
Sungguh! Kalau Gemma tidak hamil sekarang, akan dia bawa bersamanya sekarang juga!
Tetes demi tetes air mata Gemma mengalir turun membasahi pipinya yang pucat. Ya, kehamilan itu membuat gadis—lebih tepatnya wanita karena dia sudah menikah kan?—ini begitu pucat dan begitu sensitif.
“Kamu … perempuan yang kuat. Nggak seperti aku …” tangan Gala merambat naik dan mengelus puncak kepala Gemma.
Bahwa semua kebersamaan itu sedang bertransformasi dari kenyataan menjadi ilusi yang menimbulkan perih bagi keduanya.
Gemma mengikis jarak di antara mereka dan memeluk Gala seerat-eratnya seakan tak ada lagi hari esok.
“Aku sayang kamu…” bisiknya dalam lirih, serasa hatinya sekarang sedang disayat-sayat belati tak terlihat. Sakit, namun tak berdarah.
Perasaan Gemma sama sekali tidak bertepuk sebelah tangan. Lelaki yang dalam pelukannya ini merengkuhnya begitu nyaman dan membuatnya terbuai dalam kasih sayang yang lama tak dia rasakan.
“Aku juga sayang kamu, Gemma. Sayang sekali…”
“Aku harus balik,” bisik perempuan itu dengan amat berat hati. Kendati kerongkongannya terasa tercekat, dia harus pamit untuk kembali ke dunianya sendiri.
Sebelum Gemma membuka pintu mobil itu, Gala menahannya, merogoh duffle bag yang tadi masih dia bawa dan mengeluarkan sesuatu dari sana.
“Ini kan strap gitar kamu yang kamu pakai pas lomba,” kata Gemma saat Gala memintanya menerima benda ini.
“Kalo diingat-ingat, aku belum pernah kasih apa-apa waktu kamu ulang tahun. Maaf ini bekas aku, tapi aku nggak pernah pakai lagi sejak lomba itu.”
Gemma meremas strap gitar berwarna hitam berbahan kulit edisi terbatas dari merk terkenal itu dengan tangannya, berusaha menahan cairan bening yang terus melesak meminta turun. “Aku akan simpan baik-baik…”
“Dan… maafin aku, Gemma…” bisik Gala yang tak mampu lagi memandangi Gemma.
Bibir Gemma berkerut seiiring dengan air mata yang kembali merembes. “Keadaanlah yang salah…”
Perasaan yang meluap-luap itu akhirnya tak tertahan lagi. Tubuh Gemma dan Gala yang sama-sama mendamba itu berbenturan keras. Saling merengkuh. Saling mendekap di mana semua cinta dan kesedihan melebur jadi satu. Saling meresapi dan meratapi kasih tak sampai yang menjadi takdir mereka saat ini. Air mata keduanya luruh tak terbendung.
Gemma yang akhirnya menyudahi semua itu saat ponsel Gala berbunyi, panggilan masuk dari Mona, mengingatkannya pada penerbangan yang akan lelaki ini tempuh sebentar lagi.
“Good bye…” bisik Gemma yang melepaskan diri dan langsung membuka pintu mobil itu untuk turun, menghilang dari pandangan Gala yang kini mematung.
Dia memandang kedua tangannya yang masih dalam posisi merengkuh. Kosong. Tak ada lagi Gemma di depannya.
Wanita itu lenyap dengan membawa hati Gala pergi bersamanya.
...****************...
Hai Guys… aku cuma mau ingetin kalau GIVEAWAY masih berlaku sampai Minggu 16 Januari 2022 pukul 16.00 WIB (jam 4 sore WIB).
Pemenang akan diumumkan malam hari, nanti aku langsung mention orangnya. Jangan lupa ikutan ya, siapa tau hokiiii.