
Setelah makan malam, Viani langsung kembali ke kamarnya tanpa banyak bercakap-cakap dengan orang tuanya. Dia menghindari pertanyaan-pertanyaan yang mungkin saja akan orang tuanya utarakan. Gala dan Gemma pun seakan mengerti dan tidak bertanya apa-apa.
Viani menutup pintu dan berdiri di sana dengan punggung menyandar di daun pintu untuk waktu yang cukup lama. Menatap gamang sudut ruangan itu dengan hati yang kini begitu hampa.
Di sekolah, dia tak pandai bergaul. Hanya punya satu teman, yaitu Hana, dan sejak SD mereka sudah akrab bagai saudara beda orang tua. Dan kini, dia kehilangan satu-satunya teman yang benar-benar disayanginya. Sudut matanya mengembun, tetapi dia berusaha untuk tidak terisak.
Namun foto mesra antara Vincent dan Nadia membuat pertahanannya seketika runtuh. Dia merosot ke lantai, menangis tersedu-sedu, dan menenggelamkan kepalanya pada lututnya.
Ini berbeda dengan perkara anak remaja semata. Kasih itu sama sekali belum disampaikan, namun Viani sudah jatuh di dalamnya dan terjerat dalam puing-puing perasaannya tanpa ada yang mencarinya.
...***...
Dua jam kemudian, ketika waktu menunjukkan pukul 12 malam, beberapa ketukan terdengar dari pintu kamar gadis itu.
“Vi … kamu masih bangun?” Suara Gemma terdengar dari luar.
Dia turun dari ranjang dan membuka pintu. Dia melihat Gemma berdiri di sana dengan kening berkerut.
“Kamu kenapa—“
Pertanyaan itu tidak selesai saat tubuh Gemma termundur satu langkah ke belakang akibat Viani yang tiba-tiba menabraknya dan menenggelamkan kepalanya pada dada sang ibu, lalu menangis.
“Viani … It’s okay. Mama di sini …” ucap Gemma mengelus punggung anaknya. Perlahan, Gemma menuntun Viani dan membawanya masuk ke kamar. Mereka duduk di atas ranjang tanpa Viani melepaskan pelukannya dari tubuh Gemma. “It’s okay, Sweety …”
“Vi-Viani minta maaf sama Mama dulu pernah ngehina Mama, pernah jahat sama Mama …” ucap gadis itu dengan susah payah, terbata-bata akibat tangis yang tak kunjung reda. “Viani menyesal, Ma …”
Viani memang sempat menebak-nebak bagainana perasaan Gemma waktu dia membanding-bandingkan dirinya dengan ibu teman-temannya. Mungkin rasanya 11 12 dengan apa yang dia rasakan saat di-bully Nadia, dan itu sama sekali tidak menyenangkan.
Hati Gemma luluh mendengar permintaan maaf dari anaknya yang disampaikan dengan cara yang menyedihkan. “Mama nggak pernah marah loh, sama kamu. Lupain aja semua ya. Kalo kamu mau nangis, nangis aja. Mama ada di sini,” ucap Gemma sambil membelai rambut anak gadis satu-satunya.
Meski dia tahu kalau bukanlah itu yang menjadi alasan Viani, Gemma berusaha tetap ada di samping anaknya, mendengarkan berbagai cerita yang tak menyebutkan hal sebenarnya. Membiarkan gadis itu puas dengan bercerita lalu tertidur pulas di kamar tidurnya.
...***...
Pada hari Senin, Viani turun sekolah seperti biasanya. Dan mulai hari ini, dia telah memutuskan akan berteman dengan siapa saja yang mau mendekatinya, termasuk Harry, jika lelaki itu masih ingin berteman dengannya.
Dia sudah tidak pusing dengan Hana, Nadia, Chicrich, atau siapa pun itu yang akan menghakiminya.
Dia berjalan ke kelasnya sendiri, menghindari tatapan-tatapan menghujam yang mengantarkannya sampai ke tempat duduk. Diliriknya jam tangannya, yang masih menunjukkan sepuluh menit sebelum bel masuk.
“Hai,” sapa Harry pada Viani.
“Oh, hai, Har,” sapanya tanpa memperhatikan Harry. Viani membuka tasnya dan mengeluarkan buku pelajaran pada jam pertama, yang akan dimulai sebentar lagi. “Ngomong-ngomong, hadiah lo udah gue sampein ke Hana.”
Harry menghela napasnya. “Thanks, I guess??”
“Kenapa lo nyampein terima kasih pake ragu-ragu?”
Ekspresi lelaki itu berubah datar, “Semua ini udah nggak menarik lagi buat gue, Vi …”
“Entahlah ... Gue kayaknya nggak suka lagi sama Hana …”
Viani mengangkat kepalanya, menatap lurus pada manik cokelat belo milik Harry. “Kok bisa gitu? Cepet amat lo move on-nya?” Gadis itu bersedekap. Meski Hana bukanlah temannya lagi, dia tidak terima dengan perubahan Harry yang terlalu cepat seperti ini.
“Jangan salah sangka … bukan gitu maksud gue. Gue cuma … gimana ya ngomongnya? Mentah ya? Ilfeel bangetlah. Ngelihat dia akhirnya akrab sama geng Chicrich dan jadi pribadi yang begitu berbeda. Gue udah nggak nemu Hana yang dulu. Yang ramah sama semua orang selagi dia masih akrab sama elo,” terang Harry dengan wajah tanpa ketertarikan lagi saat membicarakan Hana.
Viani menganggukkan kepalanya tanda paham. “The feeling is mutual, Har .… Gue juga berasa nggak pengen apa-apa lagi dari Hana. Kalo dia lebih milih temenan sama mereka, ya udah …”
Harry juga mengangguk samar pada perkataan Viani. “So, I guess, kita temenan kayak biasa? Dan lupain semua? Itu juga kalo lo mau … bodoh amatlah apa kata orang.”
Viani tersenyum tipis. “Kenapa enggak?”
...***...
Seperti biasa saat istirahat, Viani pergi ke perpustakaan untuk makan, sekaligus membaca apapun yang dapat dia baca. Namun di tengah seru-serunya dia membaca novel Agatha Christie, sesosok cewek muncul di hadapannya.
“Gue mau ngomong, Vi …” Suara Hana.
Dia mengangkat kepala lalu berdiri untuk menyimpan novel itu pada tempatnya. “Ngomong apa, Han?” Viani berbalik, berdiri di tepi rak buku itu dan bersedekap
Hana berdiri di depannya dengan wajah tertunduk dan kedua kuku jempol yang saling beradu dipengaruhi rasa takut dan ragu. Gadis yang lebih tinggi dari Viani itu menatapnya penuh harap.
“Gue udah buka kado dari elo. Thanks …”
“You’re welcome. Kalo udah, gue mo balik.”
“Tunggu~” Hana menahan Viani yang hendak beranjak pergi. “Gue minta maaf sama elo. Gue udah buka kado dari Harry dan ada temen yang jelasin ke gue tentang kejadian yang sebenarnya. Dan … gue mau minta maaf sama elo, Vi …”
Viani berhenti, dia memandang lega pada Hana yang kini meminta maaf padanya karena segala salah paham yang dimilikinya akhirnya terluruskan.
“Gue maafin elo kok, Hana …”
“Beneran?” tanyanya dengan mata berbinar.
Tapi melihat bulu mata yang menggunakan mascara, bibir dengan lip matte, pipi merona karena blush on dan mata yang mengkilap oleh eye shadow membuat Viani tertawa kecut. Ditambah lagi kehadiran salah satu Chicrich yang menunggui Hana di sana membuat Viani tak ingin memberikan Hana lebih dari sekedar maaf.
“Pergi gih. Lo udah ditungguin Dara di depan tuh.”
Alis Hana terangkat saat melihat Dara menatapnya tajam dengan tangan terlipat di depan dada. “Nggak! Gue pengen sama-sama elo aja!” ujarnya sambil mengamit tangan Viani dengan erat.
“Kalo gitu, gue yang pergi.”
Viani pelan-pelan melepaskan diri, meninggalkan Hana yang memanggil-manggil namanya dengan putus asa dan air mata mengalir yang dibanjiri dengan penyesalan.
...****************...