
Setelah mendapatkan bukti yang diinginkannya, dia pun diam-diam keluar dari sana kembali ke apartemen barunya.
“Pembohong…” bisik Gemma saat menatap foto Indra di nakas. “Dasar pengkhianat!”
Dia sampai mengabaikan beberapa chat dari temannya. Dari Diana dan Erika, juga dari Febri dan Niko yang menanyakan apakah besok dia akan ikut reuni atau tidak. Gemma membaca saja chat itu, tetapi tak ia balas. Dalam posisi seperti ini, dial sudah tidak tertarik lagi dengan apa yang akan terjadi.
Lima menit kemudian, ponselnya berdering tanda panggilan masuk.
Karena retak ponselnya yang cukup parah tepat di tulisan penelpon, Gemma tak bisa melihat siapa yang meneleponnya malam-malam begini. Dia juga tak pandai mengingat nomor, bahkan nomor Indra tak hapal.
Dengan perasaan skeptis, dia mengangkat saja telepon itu. “Halo.”
“Gem?”
Gemma tahu itu suara siapa. Kenapa tetangganya itu tidak berhenti juga mengganggunya? Bukankah dia tadi bersama pacarnya?
“Aku mau jelasin, Gem. Cewek tadi itu bukan—“
“Gala, tolong, saat ini bukan saat yang tepat. Please jangan hubungi aku dulu,” bisik Gemma yang tanpa ragu-ragu langsung memutuskan panggilan itu.
Lelaki itu ternyata belum juga menyerah, belasan chat masuk dalam ponselnya untuk berusaha menjelaskan siapa wanita itu pada Gemma.
Gala kenapa? Apa itu penting untuk Gemma ketahui? Sepertinya tidak kan? Mereka sudah punya kehidupan masing-masing, kenapa pria itu tak menjalani saja tanpa menyeret orang lain untuk ikut masuk?
Gala dan dirinya tidak punya hubungan apa-apa, sehingga Gemma seharusnya tak butuh penjelasan itu. Dia bahkan tak ingin mendengar siapapun berbicara padanya malam ini. Mentalnya bisa-bisa hancur sekarang kalau dia mendengar kalimat lebih jauh dari pria itu.
Dan bisa jadi, dia akan menjadikan Gala tempat pelampiasannya untuk menangisi penderitaannya. Which, itu bukan sikap Gemma sama sekali.
Kalau dengan Indra, dia gampang menangis karena takut ditinggal, tetapi dengan Gala, dia tidak ingin dipandang lemah. Sudah lama sekali mereka tak berdekatan dan Gemma sama sekali tidak tahu bagaimana perangai Gala sekarang.
Apa dia akan menerima curhatan Gemma dengan tangan terbuka dan dengan setia menjaga mulutnya untuk tertutup rapat seperti dulu tanpa menghakimi, atau malah bertindak sebaliknya dan bocor kemana-mana? Atau lebih buruk, bermuka dua seperti Indra, manis di depan namun di belakang busuk.
Gemma menutup segala kemungkinan itu. Dia tidak ingin meratapi hidupnya dan bersandar pada pria lain seperti Gala yang kini tak begitu dia kenali lagi.
Dia sudah bilang pada Gala kalau dia bahagia, dan pria itu sebaiknya hanya tahu sampai di sana.
...***...
Pukul 8 pagi, ponsel Gemma berbunyi. Masuklah sebuah panggilan dari nomor yang entah dari siapa, yang membangunkan Gemma dari tidurnya.
“Halo?”
“Gem. Ini Melly. Gue dapat nomor lo dari grup alumni.”
Gemma menggosok matanya. “Kenapa Mel?”
“Eng... Gue minta maaf sama lo.”
“Minta maaf?” wanita itu memiringkan kepalanya tak menangkap maksud Melly. “Buat apaan?”
“Ya… Eng…” ada jeda beberapa detik sebelum Melly melanjutkan. Wanita itu juga bingung hendak mulai dari mana. “Jadi gini, Gem… Gue minta maaf… Suer, gue nggak tahu kalo lo istrinya Pak Indra. Gue baru tau pagi ini pas stalking profil beliau, dan ternyata...”
“Ohhhh… Gue kira napa… Udah santai aja lagi!”
“Ih Gemma gitu deh. Gue bingung jadinya, kan! Kenapa lo nggak jujur aja sih dari awal?"
Alisnya menukik saat Melly tak menangkap apa maksudnya dan kenapa dia berbohong pada Melly kalau Indra adalah abangnya.
“Ya kalo lo di posisi gue, gimana Mel? Gue sama lo kan nggak akrab, walaupun kita baik-baik aja. Belasan tahun kemudian, gue tiba-tiba datang ke lo, nanya-nanya tentang Indra dan langsung bilang kalo dia selingkuh? Enggak kan... Gue malu kalo sampe gue segamblang itu ke elo.”
Melly menghembuskan napasnya kasar. “It’s okay... Gue orangnya bisa dipercaya kok, Gem, walaupun kita nggak akrab-akrab amat dulu. Cuman, gue nggak enak aja sama lo.”
“Nggak enak gimana?”
“Ya kesannya gue ngelapor gitu."
“Santai. Gue udah tau duluan kalau dia selingkuh. Lo jangan merasa bersalah.”
“Beneran?”
“Iya… Udah lo pasti banyak urusan kan?” ujar Gemma yang malas mengobrol lama-lama. “Bukannya gue nggak mau ngobrol, tapi ini bukan saat yang tepat aja."
“Ya udah… Gem… Gue harap masalah lo cepat selesai ya.”
Melly memang tak perlu menyesali apa-apa, toh itu memang bukan kesalahannya. Adalah Gemma sendiri yang memancing wanita itu tanpa dia tahu tujuan tersembunyi istri Indra tersebut.
Setelah mandi, berbenah, sarapan dan memastikan keadaan Viani baik-baik saja, Gemma mengambil kunci mobilnya, menderunya menuju pusat penjualan gadget.
Dengan kartu kredit Indra, dia membuat transaksi dengan membeli sebuah ponsel termahal dan termewah tahun ini, plus sebuah smart watch yang harganya bisa jadi untuk DP mobil keluarga.
Dan dia sudah bodoh amat!
Dia hanya ingin transfer data dari ponsel lamanya cepat beres agar ponsel itu bisa segera digunakan.
Setelah itu dia pergi ke mal lain dan membeli beberapa barang-barang branded yang tak pernah dia punya sebelumnya. Bahkan, dia membeli berlian dan perhiasan yang menghabiskan limit kartu kredit milik Indra.
Kalap. Gemma buta karena amarah.
Tapi ternyata uang memang tak bisa membeli kebahagiaan. Sesampainya di rumah, dipandanginya barang-barang tak berguna yang telah dibelinya. Setelah belanja, hatinya tetap terasa getir, kepuasan yang tadi hanya bertahan sebentar lalu setelah itu tersisa kehampaan saja.
Untuk apa dia menggunakan tas, rok jeans pendek, singlet, sweater, topi, kacamata branded itu? Itu bukan gayanya. Dia adalah orang yang sederhana yang selalu menggunakan pakaian sepantasnya karena Indra dari awal sudah melarang Gemma berpakaian terbuka. Tak pernah ada rok sedikit di atas lutut atau kaos tanpa lengan.
“Nggak usah kayak cewek di luar sana! Murahan banget tau, gaya kayak gitu.”
Lalu sekarang, dia bercinta dengan siapa?
Tak lama kemudian, Indra meneleponnya. Suaranya terdengar marah dan menuntut. Gemma tahu, pasti Indra berencana akan menggunakan kartu kredit ini untuk transaksi online.
Selama ini kartu kredit itu memang Gemma yang pegang, sehingga Indra hanya bisa menggunakannya untuk transaksi daring saja.
“Gem, apa-apaan ini? Kenapa limit kartu aku sampe habis begini? Kamu belanja apa sih? 450 juta langsung habis, loh. Kamu kira aku punya uang sebanyak itu setelah kita beli apartemen baru?”
“Ah… Iya Mas. Maaf, aku belanjanya bablas…” kata Gemma santai sambil mengusap ponsel barunya yang terlihat berkilau, Apple 13 Max Pro berwarna gold dengan kapasitas 1 terabyte plus sebuah Apple Watch warna hitam yang cantik.
“Kok santai banget sih ngomongnya? Bulan depan aku bisa mampus bayarnya, Gem! Kamu gila apa?”
"Ya... aku gila dikit kayaknya, Mas..." ucapnya sambil tertawa sendiri. Dia menertawakan betapa paniknya Indra saat ini. Sebab tanggungannya semakin berat. Dia yakin kalau Indra bahkan hanya bisa mengandalkan kartu debit yang sangat terbatas.
“Mas… Sebentar lagi kan kamu jadi CFO, mana mungkin uang segitu kamu nggak bisa penuhin. Aku perlu harta, Mas… Yang banyak. Dan aku pengen ngerubah gaya hidup aku yang selama ini sederhana. Aku pengen perawatan, pengen emas dan berlian. Aku pengen semua yang nggak pernah aku punya.”
“Kamu nih ngomong apa sih, Gem? Aku nggak ngerti.”
“Ya nggak ada apa-apa sih. Aku cuma lagi bosen sama hidup aku yang itu-itu aja."
Dari ujung sana, Gemma tahu kalau Indra sedang berpikir kalau ada sesuatu yang aneh. Dia masih menahan diri untuk tidak menjatuhkan bom itu pada Indra. Tidak selama Viani masih bersikap ketus padanya.
“Terserah kamulah! Habis aku pulang nanti, kita bakal ngomong serius!”
“Boleh, Mas. Aku tunggu. Aku kangen sama Mas…” well, berakting jadi buaya bukanlah hal yang sulit untuk Gemma sekarang.
“Kamu…” Indra menjeda kalimatnya. Hendak bertanya ada apa dengan wanita itu, tapi dia mengurungkan niatnya. Gemma bukan orang yang dengan mudah terbuka pada orang lain.
Bahkan kalau ada masalah, dia selalu memendamnya sendirian. Wanita itu paling pintar menyimpan rahasia dan juga perasaannya. “Ngomong-ngomong, aku extend satu minggu di sini. Kerjaan masih banyak.”
Sudut bibir Gemma tertarik membentuk senyum kecut, dia pun mendengus kasar. Tapi baiklah, mari bermain sedikit. Itu kan yang diinginkan oleh Indra?
“Kok lama sih Mas? Itu libur natal tahun baru loh, biasanya kamu ambil cuti?”
“Kali ini nggak. Oh ya, untuk Viani, dia tadi bilang sama aku kalau akan ikut Mami dan Papi ke Bali, langsung dari Bandung nanti.”
Benar kan? Viani masih sangat jauh dari gapaiannya. Kalau dia bercerai sekarang, dengan mulut manis Indra dan perlakuan lembut dari Ranita, anak itu pasti akan memilih sang ayah ketimbang dirinya.
Gemma harus cari cara. Meluluhkan hati Viani adalah satu-satunya jalan untuk tidak kehilangan anak itu.
“Jadi akhir tahun ini, aku sendirian, gitu, Mas?” kali ini, kesedihan bukanlah suatu hal palsu. Tapi biarlah. Kalau dia marah pada Viani sekarang karena anak itu hanya mau mengabarkan sang ayah daripada sang ibu, itu hanya akan menambah masalah menjadi runyam.
“I’ll see you later, Gem!”
Panggilan itu pun terputus.
‘Kamu mau liburan sama pelacur itu, Mas?’ tanya Gemma dalam amarahnya sambil memperhatikan data GPS Tracker yang menunjukkan lokasi mereka kini sudah berpindah, dari Jakarta menuju kota Jogja.
...****************...