Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
S2 Bab 16 – Usaha Vincent


Vincent mengambil ban serep itu dan meletakkan benda itu di samping Gala yang tengah memutar kunci roda. Pria itu melonggarkan 4 mur besar yang mengunci salah satu ban mobilnya yang kempes.


Setelah itu, pria yang seumuran ayahnya itu mengambil dongkrak, memosisikanya di bawah kakikaki, memutar tuasnya hingga baja persegi itu terangkat, dan ban kempes itu tak lagi berpijak pada bumi.


“Kamu ternyata masih nekat berhubungan dengan Viani …” tembak Gala tanpa menatap Vincent, sibuk dengan tangannya yang melepas baut yang telah longgar itu. Dia menurunkan ban yang telah kempes itu.


“Saya benar-benar sayang sama dia.”


“Tapi sepak terjang kamu sungguh meragukan.”


Sebelum tangan Gala meraih ban serep tersebut, Vincent sudah mengangkatnya terlebih dulu dan mendorongnya hingga masuk pada 4 baut besar yang mencuat dari steering knuckle.


“Saya sudah minta maaf pada Viani dan dia memaafkan saya. Saya nggak pernah ada maksud jahat sama Viani, Om.”


Gala menatap anak remaja yang terlihat begitu segan sekaligus berani itu, membiarkan anak tersebut memasangkan murnya dan menguncinya dengan kuat menggunakan kunci roda. Anak ini begitu mirip dengan Erika, tetapi punya cara dan gestur persis seperti Niko.


“Sampai kapan pun, kamu nggak akan bisa layak buat Viani.”


“Salah saya apa sih, Om? Sampai-sampai Om segitunya bilangin saya nggak layak buat anak Om?”


“You know … Viani udah jadi bagian dari keluarga saya. Hanya orang-orang yang sederajat dengan kami yang layak. Kamu masih jauh dari kata cukup, Vincent.”


Vincent menurunkan dongkrak itu dan menariknya dari kolong mobil. “Om, saya mungkin memang masih muda. Tapi saya nggak sebodoh itu untuk mengira kalau hanya itu yang jadi alasan Om.”


Gala menunduk dan kembali mengencangkan mur itu dengan kunci roda sampai benar-benar kuat. “Ini peringatan saya yang terakhir. Jauhi Viani, kalau kamu masih mau lihat persahabatan saya dan Papa kamu tetap akur.”


... -...


Jam tangan itu masih bergerak mengikuti waktu. Detiknya, menitnya, jamnya, hampir tidak ada yang berubah, seperti Viani. Hanya saja, gadis itu kini sedikit lebih dewasa dan lebih tinggi beberapa senti.


Vincent memperhatikan setiap lekuk jam tangan miliknya dengan begitu seksama. Benda itu masih dia simpan, dan ajaibnya bertahan hingga sepuluh tahun lamanya, sebuah benda pemberian cewek yang pernah mengisi hatinya.


Kendati semua rasa yang dulu sebenarnya sudah lama terkubur, tetapi entah kenapa dua malam berturut-turut, pria tersebut malah ingin memakainya. Sekali dia pakai saat di bar setelah selesai jam praktek, dan satu kali dia memakainya saat di klub, menemani Tian yang mabuk akibat putus dari pacarnya.


Ada senyum samar tercipta di bibirnya, seakan-akan pada jam tangan itu, dia bisa melihat sosok Viani di sana. Klise memang, tapi kadang-kadang, Vincent sering membayangkan hal seperti itu.


Barusan, dia bertemu lagi dengan gadis itu. Dada Vincent seolah terbakar dengan rasa rindu dan ingin memilikinya.


“Ya. Dan aku harap, kita nggak usah ketemu lagi …”


Dan setelah berusaha mendapat nomor gadis itu dari Harry, tiba-tiba dia melihat foto Viani sudah menghilang dari akunnya, pesan yang dia kirim lagi hanya centang satu dan dia tak dapat lagi dihubungi.


Diblokir.


Kalau sekarang dia menyerah, dia sungguh-sungguh jadi lelaki yang pengecut.


...***...


Mengingat hari ini akan berlangsung seperti biasanya, Viani pun bersiap menuju Trisinar Hospital pagi-pagi sekali. Jaraknya yang agak jauh membuat Viani harus berangkat lebih dulu. Diantar Rinto, Viani akhirnya sampai di kantor dengan selamat dan menjalani harinya dengan membosankan.


Satu-satunya yang membuatnya lumayan merasa sibuk adalah seminar kesehatan itu, serta me-review permohonan pembelian barang dari setiap divisi dan follow up pada supplier.


Namun, di saat makan siang, dr. Toni, memanggilnya sebab kemarin memang sempat ada masalah pada alat USG yang ada di ruangannya yang berada tak jauh dari ruang radiologi yang terpencil.


Viani mengetuk pintu itu, dan masuk ke dalam setelah ada sambutan. Karena tak ada pasien, maka Viani langsung saja bicara to the point.


“Ini harusnya kerjaan GA, kok saya yang dipang—“


Mata Viani hampir lompat keluar dari tempatnya begitu melihat sosok dr. Toni digantikan oleh dr. Vincent Hendrawan. Dokumen yang ada di tangannya bertebaran di lantai sebab tangannya sudah mulai melemas.


“Hai Vi … Can we talk?”


“Aku lagi kerja, nggak ada waktu,” jawab Viani.


“Berarti habis kerja, kamu punya waktu?”


“Nggak!” tolaknya sambil memungut semua dokumen di lantai. Vincent pun menunduk dan mencoba membantu. Tapi …


Jedug!


“Aww!” Viani mengaduh saat kepala mereka saling membentur. Mereka berdua terduduk di lantai sambil memegangi dahi masing-masing. “Aku udah bilang kalau aku nggak mau ketemu kamu lagi! Kenapa sih nggak ngerti juga?!”


Viani segera mengambil seluruh kertasnya, lalu keluar dari ruang itu dan mendapati dokter slash anak pemilik rumah sakit sekaligus empu ruangan itu sedang berdiri di luar dan menunggu.


“Dok, tolong temannya suruh keluar dari ruangan! Bisa-bisanya dr. Vincent ada di ruangan dokter? Gimana kalau ada pasien yang ngira dr. Vincent itu Anda?”


Yang punya ruangan menganga, bingung hendak menjawab apa pada gertakan Viani yang cukup berbahaya.


“Jangan bikin saya narik saham saya dari sini, Dok!”


Sang dokter mengerjapkan matanya, semacam déjà vu pada ancaman yang diberikan oleh ayah Viani pada ayahnya sepuluh tahun yang lalu, karena adiknya—Nadia—melakukan pernah perundungan terhadap gadis itu.


"Ya jangan dong, Vi," ujar Toni memelas saat melihat Viani melengos pergi.


Toni masuk ke dalam dan melihat Vincent yang berdiri dengan wajah tertekuk. “Lo nggak pa-pa, Bro? Gagal ya?”


“Gitu deh …” ucapnya pada seniornya, yang kebetulan jadi teman akrabnya saat di fakultas kedokteran.


“Jangan nyerah … lo harus banyak usaha.”


Vincent mengusap wajahnya lelah. “Orangnya keras kepala gitu.”


“Lo tau nggak, kalo mulut sama hati cewek itu nggak pernah singkron? Usaha dong!”


...***...


Pukul 7 malam, Viani akhirnya memutuskan untuk berhenti. Semua pekerjaan yang tak ada habisnya itu akan dia selesaikan besok hari saja. Dia ingin pulang, mandi dan makan sampai kenyang.


Dia berjalan menuju koridor sepi menuju lift. Begitu pintu lift akan tertutup, sosok Vincent tiba-tiba muncul di sana.


“Kamu?” Viani maju dan menekan open button agar dia bisa keluar.


Dengan lebih cepat, Vincent menutup jalan keluarnya dan menekan close button. “Vi … “


“Aku bisa tuntut kamu karena stalking aku terus!”


“Kalau kamu nggak blokir nomor aku, aku nggak mungkin ngejar kamu sampai ke sini!”


“Aku udah bilang kalo aku nggak mau ketemu kamu!”


“Gini aja. Habis ini aku nggak akan ganggu kamu lagi. Aku akan mempersingkat semuanya jika kamu nggak mau lama-lama.”


Mendengar negosiasi Vincent, Viani jadi berpikir sebentar pada nasihat Harry dan Hana yang sempat dia terima kemarin. Pada kebenaran kata-kata Vincent tadi.


Jika saja dia tidak memblokir nomor Vincent, mungkin lelaki itu tak akan memaksa bertemu atau dengan nekat menemuinya di kantor. Semoga saja keputusan Viani tidak salah.


“Tempatnya aku yang tentuin!”


...****************...