Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
S2 Bab 18 – Iya, Puas?


[Banyak kerjaan?]


[Nggak juga. Kamu?]


[Tadi pasien lumayan banyak. Udah makan siang?]


[Udah. Kamu?]


[Udah juga.]


Hanya dengan pesan sesederhana itu, Viani sudah sering senyum-senyum sendiri. Tapi gadis muda itu masih mencoba menahan diri. Berusaha bersikap dingin dan sedikit jual mahal.


Tapi lelaki itu tak pernah menyerah dan terus memberi perhatian kecil lewat puluhan chat yang dia kirim setiap harinya, yang herannya selalu dibalas oleh Viani meski paling banyak hanya 3 kata.


Hingga lima hari kemudian, Vincent mencoba mengajak Viani jalan dengan mengirimkan sebuah voice note.


[Viani, kamu mau nggak, jalan sama aku?]


Jemari Viani gemetar mendengar suara bariton itu. Didiamkannya VN itu untuk waktu yang lama, sembari menimbang-nimbang apakah harus menerimanya atau tidak. Namun, Viani kembali bertekad seperti niat awalnya, bahwa dia tak pernah menjanjikan pertemanan yang lebih dari ini.


[Sori, Vin. Aku masih belum bisa.] Jawabnya.


[Oh. It’s okay. You see, kalau kamu perlu teman, hubungin aja aku. Kamu tau kan, Harry dan Hana nggak bisa diharap?]


Tentu saja Viani tahu bagaimana sibuknya pasangan itu setelah menikah. Dan dia juga tahu kalau Vincent itu hanya modus. Jauh di dalam lubuk hatinya, Viani menginginkan untuk menyerahkan diri pada modus itu. Sungguh terlalu.


Di saat bersamaan, April datang dengan wajah kalut. Dia duduk di depan Viani tanpa disuruh dengan gestur yang tidak tenang. Dia meletakkan ponselnya tanpa membalas pesan chat Vincent.


“Ada apaan, Pril? Ada masalah?”


“Audit nemuin kesalahan di barang yang kita order di Garmen Hanggara, Vi.”


Hanggara? Viani mengerutkan kening. Astaga! Itu adalah keluarga koruptor yang pernah berurusan dengan Papa kandung dan Papa sambungnya sekaligus. Firasat Viani sudah buruk. Viani memang tahu kalau garmen tersebut baru saja menyuplai seprai ke Trisinar.


“Terus?”


“Ada dugaan mark up harga, Vi. Gara-gara seprai yang kita pesan itu bahannya beda. Lebih jelek.”


“Emang kemarin nggak dicek, Pril?”


“Masalahnya, Vi, kainnya mirip pake buangettt. Aku nggak ngeh dan nggak tau-menau masalah kain. Yang penting putih, tanpa cacat dan jumlahnya sesuai. Kita lagi dicurigain, Vi. Gue kemarin emang modif mobil gue, lumayan banyak abis, 10 jutaan. Tapi lo tau sendiri kan, mana mungkin gue ngambil keuntungan dari sana? Itu duit gue sendiri."


Kalau sudah mengarah ke kata korup begini, Viani merinding. Dia selalu teringat pada sang ayah yang pernah mendekam di penjara selama 4 tahun.


Memang perkara ini jauh lebih kecil kasus Indra, tapi mendengar kata ‘penjara’ tetap saja menyeramkan. Apalagi jika kesalahan itu bukanlah seratus persen kesalahannya.


“Coba cari PO-nya,” perintah Viani pada April. Temannya pergi dan membongkar arsip, lalu memberikannya pada Viani untuk dibaca secara seksama.


Mark up harganya hampir 3x lipat dari harga pada umumnya saat mendapati bahan kain yang tidak sesuai tertulid pada PO. Namun, Viani memang memberi approval karena harga tersebut masuk akal—untuk nama kain yang tertera dalam PO.


“Hm … siapa yang nyaranin mereka masuk ke sini? Coba telusurin dulu.”


“Nggak tau, siapa, Vi. Tapi denger-denger sih, kemarin ada yang lihat supir yang nganter barang ini ngobrol sama Siska.”


“Siska yang anak baru di GA itu?”


April mengangguk.


“Mbak April, Mbak Viani?” seorang OB mengetuk pintu ruangan Viani. “Maaf mengganggu. Mbak-mbak dipanggil ke ruang dr. Toni sekarang juga.”


...***...


Viani turun melalui lift menuju basement dengan langkah gontai. Wajahnya tertekuk dan dia tak bersemangat. Dilihatnya Rinto tertidur pulas di dalam mobilnya dengan mulut menganga lebar. Dengkurannya yang terdengar keras itu keluar dari kedua celah jendela yang terbuka sedikit.


Seketika, Viani jadi tak tega. Tadi malam, Rinto sempat bergantian dengan sang adik untuk menjaga bundanya yang masih dirawat di rumah sakit.


Tapi dia harus pergi dari sini. Dia pikir mungkin akan memesan taksi menuju mal, atau kedai kopi mana saja yang bisa dia temui untuk menyendiri.


Sejurus kemudian, sebuah motor besar masuk ke basement. Viani hampir tak berkedip.


Dengan gagah, Vincent turun dari atas motor besarnya. ****, Viani hampir terpesona. Tubuhnya yang cukup atletis dibalut dengan kaos Polo putih berkerah, celana cargo selutut dan canvas sneakers.


Sedangkan Viani mengenakan kemeja kusut cokelat muda dengan kerah rendah yang dimasukkan dalam celana pegged pants khaki--yang sama kusutnya, plus pump heels 5 senti yang membuat kakinya sakit dan membuatnya tambah kurus.


Gadis itu mana peduli lagi dengan penampilannya setelah masalah yang hinggap padanya hari ini. Namun kini, penampilan itu jadi permasalahan sekarang. Lelaki itu pasti berdandan sebelum ke sini. Kondisi Viani yang belum mandi otomatis membuatnya jadi terlampau insecure.


“Vi?”


“Eh … Ya? Kenapa?” Viani kembali sadar. Tahan Vi … Act normal! “Kamu ngapain ke sini?”


Vincent meletakkan helmnya dan bergerak menuju Viani. “Bad day, huh?”


“Tau dari mana?”


“Toni …”


“Ah! Kamu kira aku nerima gratifikasi?”


“Aku nggak mau nuduh sembarangan loh, Vi. Lagi pula kamu udah kaya begitu, untuk apa kamu nerima yang aneh-aneh? Kamu bisa dapatin duit lebih banyak dari sini tanpa harus korupsi, kan?”


Wah! Sudah sejauh mana Toni menceritakan tentang dirinya di sini. Tapi ya sudahlah, sepertinya keberadaan Vincent sedikit ada gunanya. Dia perlu melepas penat sebentar. Lagi pula, pria itu sendiri yang menawarkan diri jika dia perlu teman, kan?


“Temenin aku dulu. Rasanya hari ini membetekan banget” cicit Viani pada akhirnya.


Tentu saja Vincent langsung menyambutnya dengan senyuman lebar. Dalam hatinya dia bersorak karena tawarannya untuk jalan bersama diterima. Dia malah bersyukur untuk problem Viani hari ini. “Masalah nggak pake motor?”


“Nggak sih, Vin …” Masalahnya elo terlalu tampan dan gue belom mandi!


“Kalo gitu, supir kamu suruh pulang aja bentar. Nanti aku yang anter kamu pulang.”


Viani mengangguk dan mengikuti Vincent menuju motornya. Pria itu mengambil sebuah helm lain dan memasangkannya pada kepala Viani, lalu mengancingnya dengan sempurna.


Sejenak Viani termangu, pada dekatnya jarak di antara mereka kali ini. Aroma cologne yang begitu maskulin menggelitik indera penciuman gadis itu.


“Ayo, Vi …”


Malu-malu, tangan kiri Viani meraih tangan Vincent, sedangkan tangan kanannya bertumpu pada bahu kokoh pria itu lalu dia naik di belakangnya.


...***...


Makan malam itu berlangsung sunyi. Vincent hanya tersenyum-senyum saja melihat tingkah Viani kalau sudah bad mood. Makan di rooftop di bawah langit berbintang rasanya sudah biasa. Viani tidak merasakan perbedaan sama sekali. Yang dia pedulikan hanya makan saja.


Mereka harus turun ke bawah menuju parkiran yang berada hampir seratus meter dari gedung tersebut. Ada taman hotel yang luas, Viani bisa melihat air mancur di sana, kelihatan dari lift yang mereka naiki.


“Kamu bisa cerita apa aja sama aku loh, Vi …”


Viani berdecak dalam hati pada modus Vincent. Tapi dia memang butuh teman bicara. “Ya, aku dikira ikut ambil bagian dalam mark up harga itu gara-gara ngasih approval dan April yang habis modif mobilnya, Vin. Aku sih nggak kena SP, tapi aku jadi nggak enak sama dr. Toni.”


“Dia juga nggak bakal percaya kali, Vi. Masa pemegang saham ikutan yang begituan … Ada yang nuduh kamu, emangnya?"


"Banyak. Biasalah pada ngegosip. Tapi mereka nggak tau sih kalo aku pegang saham di sana, makanya berani nuduh. Cuma Toni doang yang tau."


"Nah tuh, kamu udah ngerti."


“Tetep aja aku kepikiran …”


Mereka berdua sampai di lantai dasar dengan tujuan kembali ke rumah Viani. Keluar dari lift, gadis itu buru-buru duduk di sofa di area lobby sambil mendesah dalam-dalam.


Dia mencurahkan semua rasa kesalnya lewat curhatan panjang yang hanya dibalas anggukan oleh Vincent. Pria itu lebih banyak mendengarkan dan tidak merespon banyak.


Saking panjangnya curhat Viani, dia tidak memperhatikan kala lelaki itu berlutut di hadapannya, melepas sepatunya.


“Eh, kamu mau apa?”


Saat itu, mereka duduk di sofa yang ada di balik dinding dekat lift, membuat posisi sofa itu sedikit tersembunyi.


Vincent tersenyum, dia mengangkat kaki kanan Viani, kemudian menumpukannya pada pahanya. Ada sebuah lecet di tumit gadis itu yang mengundang perhatiannya sejak tadi. “Kamu duduk bukan karena curhat. Tapi karena kaki kamu sakit kan?”


“Nggak kok …”


“Kamu tuh nggak biasa make heels.”


Mata Viani tak berhenti menyorot pergerakan kecil yang manis Vincent ketika lelaki itu mengeluarkan sesuatu dari sling waist bag hitam miliknya dan mengoles luka Viani dengan salep luka.


Wajah Viani memerah kala lelaki itu meniup tumitnya dengan napasnya yang hangat. Bulu kuduknya berdiri saat sapuan napas hangat pria itu hinggap pada lukanya. Rasa-rasanya, kehangatan itu menjalar pada seluruh kakinya.


Kedua pipi Viani memanas. “Dari mana kamu tau?”


“Kamu kan biasanya pake sneakers, Vi,” kata lelaki itu lagi seraya mengambil tumit yang satu lagi yang ternyata sama-sama lecet.


“Vin, udah! Aku belum mandi loh! Kaki aku bau kali,” ucap Viani dengan wajah semerah tomat.


Vincent terkekeh, mengabaikan peringatan Viani dan tetap memberi salep, meniupnya, dan menutupnya dengan plester luka agar tak tergesek bagian dalam sepatu.


“Udah selesai … Lain kali nggak usah maksain diri pake heels. Lagian di rumah sakit, kamu pasti harus sering jalan kaki, kan?"


“Ma-kasih …” jawab Viani malu-malu.


Vincent pun duduk di samping Viani, menunggu kapan Rinto akan datang setelah menerima telepon Viani untuk menjemputnya di sini.


“Kenapa nggak aku aja yang nganter kamu pulang?”


“Akan heboh nanti kalo orang rumah nggak lihat aku pulang bareng Bang Rinto, Vin ...” seketika Viani jadi teringat sesuatu. “Oh ya, aku mau nanya.”


“Apa itu?”


“Tapi jangan salah sangka, ya! Aku benar-benar sebatas penasaran!”


“Oke.”


“Apa bener alasan kamu waktu itu putus sama aku gara-gara Papa ancem kamu doang?”


Vincent menunduk, “Iya. Mungkin kedengarannya masih kurang kuat ya? Tapi ancaman Papa kamu itu nggak berlangsung satu kali, Vi.”


“Dengan kata lain, kamu udah beberapa kali diintimidasi? Gitu?”


“Semacam itulah ... Aku nggak tau alasan sebenarnya di balik ancaman Om Gala terhadap aku.”


“Kalau sekarang, kamu udah tau?”


“Masih nggak tau, Vi. Ikut makan malam geng orang tua kita aja, aku nggak pernah lagi. Selain aku menghindarin kamu, aku juga emang menghindari Papa kamu.”


“Aku penasaran …” kata Viani sambil berpikir. Sekeras apapun dia mencoba menelisik, tetapi dia tidak menemukan alasan yang lebih kuat dari sekedar kata ‘tidak layak’.


“Tapi aku nggak tau kalo sekarang, Vi …"


“Maksudnya?”


“I mean, kalo sekarang aku pacarin kamu, apa aku masih nggak layak atau enggak. Ya … aku sih berharap kalau aku layak …” Vincent melirik Viani dengan senyum menggoda.


Pria ini seakan-akan suka sekali melihat wajah Viani terus memerah berkali-kali akibat ulahnya. Viani langsung memutus tatapannya pada Vincent dan berpaling muka.


Perutnya terasa sedikit mulas dan tangannya jadi basah karena keringat akibat salah tingkah. Dia tidak bisa mengartikan rasa itu, senang? Sedih? Kasmaran? Masih kecewa? Semua campur aduk!


Saat Viani mati-matian menahan gejolak rasa itu, Rinto menghubunginya dan berkata kalau dia sudah ada di parkiran. Selamat deh ...


Viani lega. “Aku harus pulang, Vin. Bang Rinto udah jemput. Makasih buat malam ini udah sabar dengerin aku marah-marah.”


“Tunggu,” lengan Viani dicekal Vincent yang kini sudah berdiri dengan jarak amat dekat dengannya.


“Aku pengen ajak kamu jalan suatu saat nanti. Boleh kan? Anggap aja balas jasa kamu padaku karena aku telah jadi pendengar yang baik.”


Viani menepuk lengan Vincent. “Pamrih, ih!”


“Boleh nggak?” tanya Vincent lagi dengan penasaran.


“Iya … puas?”


...****************...