Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
S2 Bab 33 – Sudah Berdetak


Hanya lima belas hari waku persiapan pernikahan itu. Gala memesankan gedung hotel di mana dia dan Gemma menikah dahulu kala.


Gemma mendatangkan desainer ke rumah untuk mengukur langsung tubuh Viani agar gaun halter neck mermaid dress putih gading itu dapat membalut tubuhnya dengan indah.


Desainer itu juga memastikan bahwa gaun tersebut nyaman digunakan Viani saat pernikahan nanti.


Untungnya ada Chef di rumah, sehingga asupan kalori yang masuk dalam tubuh Viani dapat terukur dengan baik agar tidak membuat Viani terlalu gemuk atau kurus sampai saatnya tiba.


Viani hanya boleh sesekali keluar, salah satunya untuk tes makanan.


Tiga hari sebelum hari H, Vincent membawa Viani untuk konsultasi ke dokter kandungan di Aryaditya. Vincent enggan membawa Viani ke Trisinar, bisa-bisa gosip mereka yang MBA jadi bahan gosip panas di rumah sakit itu. Kebetulan, Vincent mengenal dokter tersebut kandungan yang ada di depan mereka saat ini.


“Hmm,” gumam seorang dokter wanita saat dia memasukkan transducer untuk USG transvaginal.


Kemudian, saat dilihatnya ada sebuah pergerakan pada titik tertentu di dalam rahim Viani, beliau menghentikan alat itu di sana dan menekan sedikit alat USG tersebut sampai terdengar bunyi mirip ketukan yang berulang-ulang. “Nah … ini detak jantungnya.”


Vincent dan Viani saling bertatapan dengan ekspresi yang penuh arti saat mereka tahu bahwa buah hati mereka sudah menunjukkan tanda-tanda kehidupan di sana.


“Belum bisa foto 5D ya,” ujar Vincent antusias, padahal dia sudah tau kalau belum bisa! Bisa sih mungkin, tapi bentuknya belum sempurna. Lebih elok difoto setelah usia lebih 5 bulan.


“Kamu tuh dokter loh, Vin … pake nanya lagi!” ujar dokter Theresia, seniornya di fakultas kedokteran dulu.


Vincent terkekeh alami, dia pun mengecup kening Viani dengan sayang seraya menerima hasil foto USG 2D itu dari Theresia.


***


“Udah kedengaran detak jantungnya? Syukurlah!” ujar Gemma tersenyum lebar. Di sampingnya, Gala duduk dan memperhatikan foto USG itu dengan seksama, sebelum dia memberikannya pada Indra yang duduk di seberangnya. Cucu mereka sehat dan kuat, bahkan tanda kehidupan pun sudah ada.


Lelaki yang sudah melewati setengah abad itu pun sama bahagianya dengan Gala dan Gemma. Pria itu memberikan ini balik ke pada sang calon pengantin.


Tetapi senyuman di wajah Gala tidak berlangsung lama. Secepat itu dia tersenyum, secepat itu pula semuanya pudar. Lelaki itu pun pergi ke dapur mengambil air minum sendiri.


“Papa kenapa?” tanya Viani pada Gemma.


Gemma pun menjawab. “Tadi siang, Papa pergi ke tempat kerja Niko.”


Kedua pasangan itu sontak berubah ekspresi. Meski diam, mereka tetap meminta Gala melanjutkan melalui sorot mata mereka.


“Niko nggak mau ketemu Papa. Dia juga udah pisah ranjang sama Erika. Entah sampai kapan Papamu menganggap Gala musuh.”


Rupanya kemarahan Niko masih berlanjut sampai sekarang. Vincent mengeluarkan ponselnya dan mendapati sekarang tanggal tujuh, masih ada jeda empat hari lagi sebelum hari H.


“Kalau kamu nggak keberatan, Vi … kita datangin Papa yuk malam ini.” Vincent meraih tangan Viani dan menggenggamnya.


“Aku juga baru kepikiran pengen datangin langsung.”


“Jadi kamu setuju?”


Viani mengangguk.


“Sebenarnya, Mama juga baru ingin menyuruh kalian. Tapi Vin … tolong jaga anak dan cucu Mama baik-baik ya, jangan sampai mereka kenapa-napa nanti.”


Vincent langsung paham terhadap kode Gemma. Dia memang berencana akan mendatangi Niko. Tetapi jika lelaki itu masih marah, maka dia akan menyingkirkan Viani dari sana secepatnya.


***


Bekerja sama dengan Febri, mereka mendatangi sebuah restoran yang tak jauh dari rumah Vincent. Kalau mendengar kisah Febri, lelaki itu sudah beberapa kali mengajak Niko bicara tentang hal. Tetapi sulit untuk menembus ego pria tersebut.


“Lo nggak keberatan kan, kalo gue undang orang lain?” tanya Febri saat seluruh makanan mereka telah ludes tak bersisa.


Dari ujung sana, Niko bisa melihat Vincent dan juga Viani bergandengan tangan masuk melalui pintu restoran. Ekspresi Niko sudah berubah masam.


“Malam, Papa …” sapa Vincent. “Malam Om Feb …”


“Duduk sini, Vin!” ajak Febri menunjuk pada dua buah kursi kosong. “Kita ngobrol-ngobrol dulu.”


Mereka mulai mengobrol segala sesuatu tentang persiapan pernikahan mereka. Sedangkan Viani selalu menundukkan kepalanya, takut pada Niko yang duduk di seberangnya. Pada akhirnya Febri mengaku pada Niko, saat lelaki itu tiba-tiba berdiri hendak pulang.


“Wait, Nik … duduk dululah.”


“Lo sengaja nyuruh gue ke sini supaya ketemu Vincent?”


“Bukankah Vincent anak elo, Nik? Kenapa lo sekeras itu nggak mau ketemu sama anak sendiri? Gue heran deh sama lo, Nik. Lo selalu ngomong kalo Vincent anak yang nggak berbakti. Tapi yang gue lihat di sini justru elo yang bikin dia jadi demikian!”


Well, perkataan Febri cukup keras hari ini. “Ini udah saatnya lo bicara sama mereka. You’ll thank me later,” lelaki itu segera berdiri dan meninggalkan mereka bertiga di meja bundar tersebut.


Lama mereka terdiam, akhirnya, Vincent yang berbicara duluan. “Papa … apa kabar?”


“Nggak usah basa-basi."


Vincent mengangguk, “Oke … kami ke sini mau minta restu Papa. Kalau hari Sabtu ini, kami menikah di hotel yang sama tempat Om Gala dan Tante Gemma menikah dulu.”


“Menikahlah, " ucap Vincent datar.


“Kami mau Papa datang.”


“Saya nggak sudi besanan sama Gala, oke? Itu saja. Dengan pernikahan ini, kamu jelas sedang memutus tali keluarga kita, Vin!”


Suara meninggi Niko membuat Viani tambah ketakutan. Vincent mengedarkan pandangan dan melihat Febri yang sebenarnya masih belum meninggalkan tempat itu menatap kepada mereka.


Lelaki itu langsung mengerti dan segera menghampiri meja tadi untuk membawa Viani pergi di mana Vincent dan Niko bisa bicara dari hati ke hati.


“Papa … sampai kapan pun, Papa Niko adalah Papanya Vincent. Hanya karena pilihan Vincent jatuh pada orang yang tidak Papa suka, bukan berarti hubungan kita putus begitu saja. Lagi pula, cepat atau lambat, aku bakal ninggalin Papa dan Mama untuk bersatu sama istriku …


Viani udah lebih dari sekedar pacar dan tunangan Pa … dia lagi hamil, anak Vincent. Cucu Papa …”


Vincent menangkap lirikan mata Niko. Ada rasa penasaran di balik gurat marah itu. Seketika secercah harapan merasuk dalam hati Vincent. Tapi dia sudah lelah memaksa, sekarang terserah pada Niko saja.


“Viani udah hamil 6 minggu. Dia sehat dan kuat, Pa, detak jantung cucu Papa udah kedengaran.”


Vincent mengeluarkan sebuah undangan, lalu diletakkannya benda itu di hadapan Niko, bersama dengan satu buah amplop kecil.


“Aku nggak mungkin tinggalin Viani dan biarin cucu Papa lahir tanpa ayah. Aku bukan orang brengsek yang ninggalin pacarnya setelah ambil enaknya aja.


Apakah Papa tau, kalau aku belajar itu semua dari Papa? Seperti Papa yang nggak pernah ninggalin Mama, seperti itu pulalah aku pada Viani.


Meski masa lalu Papa dan Mama nggak seindah orang di luar sana, aku tetap bersyukur terlahir jadi anak kalian. Papa juga orang yang nggak sempurna, tapi semua yang Papa lakukan itu jadi panutan untukku.


Terlepas dari sikap Om Gala yang sempat menyakiti hati Papa, tapi percayalah Pa … kalau aku punya anak perempuan, aku juga pasti akan terus berpikir seperti itu.


Reaksi Om Gala dan Papa sama-sama wajar. Sama-sama ingin melindungi dan sama-sama parno kalau ada yang menyakiti anaknya. Saatnya nanti aku jadi ayah, aku akan jaga anakku seperti Papa jaga aku dan Elvina, dan Om Gala jaga Viani.


Jadi kali ini, aku nggak bermaksud mengundang Papa, karena Papa bukan orang lain. Tapi, aku harap Papa bisa datang. Duduk di samping Mama, sama-sama memberkati kami berdua jadi suami istri sebagai orang tua kami.”


Vincent mengambil tangan Niko dan mencium punggung tangannya sebagai bentuk penghormatannya pada orang tua, sebelum meninggalkan restoran itu bersama Viani.


...****************...