Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
75. Hampir Luluh


Sejak Gala membantu Viani mengerjakan PR, remaja itu tidak terlalu ketus lagi padanya.


Saat Gala mengajak Gemma berkencan, tak jarang pria itu juga mengajak Viani bersama mereka. Seperti menonton film-film box office di bioskop, makan Gelato atau jajanan lainnya yang sedang populer.


Seperti Minggu setelah makan siang ini, Gala mengajak mereka nonton film DC comics pada jam 3 sore di sebuah mal.


“Ma,” panggil Viani ketika mereka sedang bersiap-siap.


Gemma sedang tersenyum-senyum sendiri saat hendak memasang sepasang Stud Earrings emas dan berlian dengan mutiara pemberian Gala.


Dia sempat memotret benda ini sebagai ucapan terima kasih, lalu protes pada pria itu karena ternyata, setelah dicek di website, harganya sungguhlah mahal!



(cantik yaa... huuu aku juga suka)


“Apa tuh?”


Pertanyaan Viani membuat Gemma sedikit salah tingkah. “Oh ini… Eng… Dikasih sama Om Gala.”


Tingkah laku sang ibu yang mirip anak remaja jatuh cinta itu membuatnya mengangkat alis sebelah dengan keheranan.


“Harus ya, kita nonton bareng sama Om Gala?”


“Ini film yang kamu pengen loh.”


“Mama… Cinta ya sama Om Gala? Nggak cinta lagi sama Papa?”


Gemma menghentikan pergerakannya dan memandang Viani. Bagaimana ya cara memberitahukan anak remaja ini kalau dia tak pernah mencintai sang ayah? Bahwa pernikahan di antara mereka hanya sebatas keterpaksaan saja?


“Mama mau move on, Sayang.”


Viani mengangguk tak bertanya lagi. “Viani kangen Papa.”


Kasihan gadis ini. Gemma mendekat padanya dan memberi usapan lembut di puncak kepala anaknya.


Memandangnya dengan tak tega, Gemma masih tak sanggup membuka kenyataan pahit pada anaknya kalau sang ayah sungguhlah seorang bedebah brengsek.


“Besok pulang sekolah, jenguk Papa, mau?” tawar Gemma.


Gadis itu langsung menjawab dengan anggukan yang lebih semangat.


...***...


“Gem, Viani ultahnya kapan?” tanya Gala di sela-sela film yang sedang diputar.


“22 Februari,” jawab Gemma sedikit nyaring sampai Viani menoleh. Jangan salahkan Gemma yang berteriak, suara di bioskop itu sudah terlalu memekakkan telinga. “Sepuluh hari lagi.”


“Kok baru ngomong sih?” protes Gala.


“Hm? Emang kenapa?”


“Ya aku mestinya tau dari awal dong. Viani suka K-Pop gitu nggak sih?”


Gemma memikirkan apa yang jadi kesukaan Viani. “BTS sama Blackpink, kayaknya,” ucapnya dengan tak begitu yakin.


“Oh.”


Bukan tak perhatian sama anak sendiri, hanya saja, Gemma bukan K-Popers dan tak begitu hapal dengan para personelnya.


Setelah film itu selesai, mereka pun keluar untuk makan malam bersama menuju ke sebuah resto yang tak jauh dari bioskop itu, masih dalam area mal yang sama.


“Anyway, Niko mau ketemu katanya,” ujar Gala setelah menghabiskan makan malamnya.


“Oh ya? Kalo gitu, kalian jalan aja nggak pa-pa, aku sama Viani naik—“


“No, Gem. Kita tetap pulang sama-sama. Dia cuma perlu sedikit bantuan kita.”


“Buat?”


“Ada yang dicari, mau ngasih Erika katanya,” ujar Gala. "Oh ya, Vi. Kalo Viani perlu sesuatu, ngomong aja ya. Kita cari sama-sama."


Viani melirik Gala dan menjawabnya dengan anggukan samar.


“Nah, tuh Niko!” seru Gala saat melihat tubuh bulat Niko muncul di pelataran resto bersama Niko.


“What’s up bro!” ujar Niko sambil menyalami, menarik lalu merangkul pria itu.


“Kaga yakin gue milih sendiri. Jangan-jangan gue beliin model nenek-nenek pula,” ujar Niko. “Eh. Itu Viani? Anak Gemma?”


“Iya.”


“Ceileh, calon anak dong.” Niko berbisik, “Gimana progressnya?”


“Ada kemajuan tapi—“ Gala menunjukkan jempol dan telunjuknya yang dia dekatkan tapi tak melekat, menunjukkan kalau yang dimaksudkan adalah progress yang sedikit.


Niko dan Gala berjalan terlebih dahulu, disusul Viani dan Gemma menuju lantai paling bawah, tempat sebuah galeri perhiasan berada.


Setelah beberapa lama memilih, tangan Niko akhirnya menjatuhkan pilihannya pada sebuah kalung emas putih dengan solitaire pendant yang begitu menawan. Gemma dan Viani mengiyakan kalau desainnya bagus.


“Kamu suka yang mana?” tanya Gala tiba-tiba pada Gemma.


Namanya perempuan, pasti tertarik dengan yang berkilau. Tetapi Gemma tahu diri. Mana mungkin dia minta Gala membelikannya lagi. Anting-anting ini saja belum ada seminggu di tangannya. “No thanks. Yang ini juga baru dipake.”


“Oh come on… Aku nggak enak kita ke sini nggak beli apa-apa buat kamu.”


“Udahlah, Gala. I’m good.”


Melihat Gala dan Gemma yang begitu akrab—slash mesra meskipun tak pegangan tangan—Viani jadi gerah dan mendengkus. “Ma, Viani capek.”


Gemma bermaksud merespon, tetapi seorang pegawai datang menghampiri mereka.


“Ini, Pak,” kata pegawai galeri itu. Dia memberikan sebuah paperbag pada Niko yang telah menyelesaikan pembayaran.


“Udah nih. Makasih udah bantu gue milih. Erika pasti suka.”


“Dalam rangka apa Om?” celetuk Viani tiba-tiba penasaran.


“Oh. Istri saya, Tante Erika ulang tahun. Ngomong-ngomong, kita belum pernah hang out bareng anak-anak ya.”


“Kapan-kapan kita atur,” imbuh Gala.


Di mobil saat pulang, mendengar percakapan Gala dan Gemma yang begitu ringan dan santai, membuat gadis itu banyak berpikir, terutama mengingat Niko membelikan sang istri kado begitu mahal tadi.


Indra tak pernah membelikan Gemma apa pun selama pernikahan mereka selain nafkah atau belanja bulanan.


Tak pernah ada perhiasan di tubuh Gemma yang mencolok selain anting-anting yang sudah dipakai selama 10 tahun pemberian Oma Mitha waktu beliau masih hidup.


Tak pernah ada hadiah ulang tahun, hari ibu, maupun hadiah lainnya. Percintaan mereka terkesan datar dan sunyi.


Dia tak pernah melihat Gemma tertawa selepas ini ketika bersama Indra. Di rumah selalu tegang, boring, galak dan kaku.


Ketika dengan Indra, Gemma cenderung pendiam dan penuh antisipasi.


Ketika mereka main ke mal atau pusat perbelanjaan lainnya, Indra tak pernah menawarkan apa-apa untuk Gemma beli.


Indra tak pernah memperlakukan Gemma begitu spesial seperti sekarang yang Gala lakukan pada sang ibu. Membukakan pintu saat Gemma keberatan membawa barang belanjaan, atau sekedar membantu cuci piring setelah mereka selesai makan. Bahkan untuk galon air saja, Indra tak pernah menolong Gemma untuk mengangkat benda itu.


Tatapan Gala pada ibunya juga begitu berbeda dengan tatapan Indra. Gala jauh lebih hangat, dan jelas sekali laki-laki itu memandang sang ibu dengan penuh cinta.


Berbeda dengan perlakuan Indra pada Ranita saja lebih spesial. Ayahnya sangat royal pada perempuan itu. Dia membelikan apa saja yang Ranita inginkan. Bahkan hampir selalu ada kejutan setiap hari yang sialnya, Viani baru sadari itu, kalau Ranita dan ayahnya memang punya affair.


Setelah Gala datang semuanya jadi jauh berbeda.


Ibunya begitu bahagia bersama orang ini. Orang yang kata Tante Diana berasal dari masa lalu mereka. Teman SMA sekaligus cinta pertama sang ibu sebelum menikah dengan sang ayah.


“Viani…” Gala memanggil.


“Ya?”


“Sleep tight ya. Kalian tinggal cuma berdua di sini. Kunci pintu dan pagar rapat-rapat. Kalo perlu apa-apa, jangan sungkan telepon Om Gala.”


Gadis itu masuk ke kamarnya, menutup pintunya rapat-rapat dan berpikir keras.


Haruskah dia memberi Gala kesempatan?


Haruskah dia melihat sang ibu bahagia walau itu bukan bersama sang ayah?


Eh, tapi. Kenapa dia malah memikirkan hal ini?


Atau jangan-jangan, sekarang Viani hampir luluh?


...****************...