Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
94. Akibat Kejahatan


Seorang pria tengah duduk di sebuah ruang tunggu yang panas. Hanya ada satu buah kipas angin di sana yang menghembuskan udara tak seberapa sejuk, karena hari itu memang panas.


Seakan mendukung, suasana hatinya juga sangat memanas. Betapa tidak, dia baru saja dapat vonis selama tujuh tahun penjara. Itu baru untuk kasus money laundry dan penggelapan saja.


Dua minggu lagi, rencananya dia akan di adili dalam kasus pembunuhan berencana. Dia terlibat meski dia bukanlah otak dari kejadian tersebut. Melainkan seorang wanita yang jadi selingkuhannya.


Pikirannya melambung jauh pada masa lalu, sehari hari setelah kejadian nahas itu. Sang adik, si pemilik rumah tempat mereka bersembunyi tiba-tiba menghilang entah kemana.


Sedangkan dirinya masih berada di rumah persembunyian bersama Zahra, si otak pembunuhan dan teman bercintanya selama hampir empat tahun belakangan sekaligus sang sekretaris.


...***...


“Mau ke mana, Mas?” tanya Zahra saat wanita itu memergokinya di pintu belakang, hendak kabur.


Tangan Bambang jadi gemetaran. Keringat dingin bercucuran dan sialnya, dia juga tak punya senjata untuk melawan balik. Kemungkinan besar bahwa si adik akan melaporkan pembunuhan itulah yang membuat dirinya kalang kabut. Polisi pasti sedang menuju ke mari. Dia tidak ingin ditangkap di sini. Maka dia memutuskan untuk meninggalkan Zahra di lokasi persembunyian. Tapi baru di detik pertama dia menyentuh kenop pintu, dirinya malah ketahuan.


Sorot mata wanita itu kini sudah berbeda. Tidak ada belas kasihan, tidak ada yang namanya penyesalan. Begitu kontras dengan perangai dirinya kali ini yang ketakutan dan menyesali kenapa dia sampai bisa berperan dalam kematian gadis bernama Ranita, yang mereka sering panggil dengan sebutan ‘Rita’.


Bukan tidak mungkin kalau dirinya akan jadi korban berikutnya.


Dia tidak mau mati sekarang. Apa saja, asal jangan mati. Apalagi mati di tangan wanita tanpa emosi seperti Zahra.


“Oh! Saya mau bersiap-siap, saya mau letakkan barang ini di luar, agar kita bisa cepat kabur bersama.” Omong kosong bodoh. Ya memang sebenarnya dia mau kabur sendiri!


“Kenapa hanya barang Mas yang ada di situ?”


Pria itu berusaha terus berkilah. “Mas barusan mau ke dalam lagi ambil tas punya kamu.”


Bambang masuk kembali ke kamar sambil melirik arloji mahalnya. Kira-kira sudah hampir 6 jam sejak kaburnya Happy. Dia tak tahu kapan polisi akan segera ke mari. Setiap detik akan terasa sangat berharga dan krusial. Jadi, dia mengambil tas ransel milik Zahra lalu pergi. Urusan Zahra bisa belakangan.


Seraya pergi dari sini, kepala kecilnya sedang menyusun rencana kabur dari Zahra. KALAU, dia masih hidup.


Pria itu sebenarnya tak tahu arah tujuan. Dia hanya segera berjalan menyusuri hutan di belakang rumah itu. Berdua, mereka melintasi jalanan terjal dan berbatu. Hingga mereka akhirnya sampai di pinggir sungai.


“Mas …” panggil Zahra yang kini berjalan di depannya. “Tadi itu, Mas mau ninggalin aku, kan?”


Pria tua berperut buncit itu mematung di belakang Zahra yang juga kini langkahnya terhenti.


“Kenapa mau ninggalin aku, Mas?” tanya Zahra tanpa menoleh.


“Ng … nggak, m-m-m-Mas nggak mau ninggalin kamu. Beneran, Sayang,” ucapnya terbata-bata. “Ta-tadi saya cuma siap-siap.”


“Oh …” Bibir wanita itu membulat. “Kalo gitu, Mas duluan jalan.”


“Aku? Jalan duluan?” tanya Bambang.


Zahra mengangguk polos. Tapi justru itu yang membuat lelaki tua itu ketakutan setengah mati. Dengan kaki lemas, dia berjalan maju mendahului wanita itu.


Saking ketakutannya, dia meneguk ludah yang lebih terasa seperti batu, tercekat di tenggorokannya dan membuatnya tak bisa menelan apa-apa. Dia hanya berani melirik, namun terlalu takut untuk bersitatap dengan pembunuh berdarah dingin itu. Punggungnya jadi terasa kebas, takut kalau wanita itu akan melakukan apa-apa padanya.


“Sa-saya nggak tau jalan di sini—“


“JALAN!”


Kaki pria itu sudah seumpama ranting yang hendak patah. Takut-takut, dia melangkah maju ke depan. Tepat ketika ada ujung sebuah benda yang menyentuh kulitnya. Tubuhnya menjadi kaku seketika.


“Jalan, Sayang …” bisi wanita itu dengan suara parau dan rendah untuk tetap membuat pria itu untuk terus berjalan meski tak tahu arah.


Zahra tentu sudah gila! Keringat pria itu mengucur bak biji jagung. Kepala dan punggungnya sampai basah. Tapi pria itu malah bergeming di tempat dengan begitu ketakutan.


“Zahra—Arrghh!”


Di lihatnya Zahra berjalan mengitarinya.


"Aargghhh!" Bambang berteriak sekali lagi kala wanita itu mencabut pisau yang tertancap di punggung Bambang. Dia begitu kesakitan saat pisau itu ditarik paksa dari tubuhnya hingga aroma darah yang anyir pelan-pelan menyeruak.


“Mau nyusul Rita?” tanya Zahra dengan wajah datar tanpa ekspresi.


Pria itu menggeleng keras dengan ketakutan. “Tolong! Kasihani saya!”


“Tapi tadi kan Mas mau kabur?” Zahra menyeringai. “Itu artinya Mas udah punya niat tinggalin aku.”


Bambang menutup matanya. Dia berdoa dalam hati agar Tuhan mengampuni hamba-Nya yang begitu hina ini kalau memang ajalnya sudah menjemput.


“Selamat jalan Mas Bambang ….” Zahra mengambil posisi bersiap menusukkan pisau itu untuk kedua kalinya pada sang koruptor.


Namun, sebuah suara kencang yang memekakkan telinga membuat Bambang terbelalak. Itu jelas-jelas suara senjata api yang menembak entah dari mana.


Detak jantung pria itu jadi tak terkendali, sementara darah semakin banyak keluar dari luka menganga miliknya. Tiba-tiba tubuh Zahra terjatuh tepat di sampingnya.


Bambang menoleh, dilihatnya Zahra terbaring di tanah, dengan kondisi mengenaskan dengan mata yang berangsur-angsur memejam. Sebuah timah panas telah menembus rongga dadanya. Tapi Bambang tak bisa menebak, mana yang tertembak. Jantung kah? Paru-paru kah?


"Pak Bambang? Bisa dengar saya?" seorang pria berseragam cokelat yang sedang memegang senjata api datang mendekatinya. Diikuti dengan pria-pria lainnya, ada yang sama-sama berseragam cokelat, ada pula beberapa yang menggunakan pakaian preman.


Hell, Bambang tidak peduli. Dia kemudian mencoba berdiri namun rebah lagi.


Hingga matanya juga pelan-pelan menutup dan dia kehilangan kesadarannya.


...***...


Anyway, Zahra tidak mati. Dia sempat kritis, namun Tuhan berbaik hati dengan menyelamatkan nyawanya, lewat tangan para paramedis.


Barusan saja dia bertemu lagi dengan wanita tanpa emosi tersebut. Zahra divonis empat tahun penjara, tiga tahun lebih ringan dari dirinya. Namun untuk kasus pembunuhan itu, Bambang yakin kalau perempuan itu akan dipenjara dalam waktu yang sangat lama, meski dia terbukti punya gangguan kepribadian.


Sebab psikopat ternyata bukanlah sebuah gangguan jiwa, sehingga orang dengan gangguan kepribadian tersebut dapat dipidana sesuai dengan pelanggaran hukum yang telah diperbuatnya.


Saat ini, kepala Bambang tengah tertuju pada pintu yang diketuk perlahan lalu terbuka Dan masuklah seseorang yang selama ini dia ingat hanya satu nama, yaitu ‘Putra’.


“Halo, Om …” ujarnya seraya duduk di depannya.


Bambang tertawa kecut seraya menggaruk hidung dengan kedua tangan terangkat karena diborgol. “Buat apa kamu ke sini?”


Gala tahu, bahwa kedatangannya saja ke sini sudah merupakan bentuk penghinaan bagi pria berperut buncit itu. Tapi bukan karena itu Gala ke sini. Dia hanya ingin melihat bagaimana kondisi Bambang setelah vonis. Suami Gemma itu hanya sedikit penasaran, apakah ada penyesalan di mata pria berwajah angkuh tersebut.


“Saya pastikan kamu nggak bakal hidup tenang!”


Gala mendesah pelan. "Sudahlah Om! Om udah nggak punya daya apa-apa sekarang. Konveksi milik Happy kini seperti buah simalakama, hidup segan mati tak mau. Begitu pula dengan usaha komputer milik adik Om yang lain.”


Bambang menatap Gala dengan tajam.


“Semoga saja ini jadi pelajaran buat Om … Berhentilah mendendam. Kecurangan Om saja sudah bikin Om kehilangan segalanya.”


Gala berdiri dan berjalan menuju pintu. “Oh ya, Om. Siska dan Aldo udah putus kuliah. Selain jadi bahan bully, mereka juga tidak mampu membayar uang kuliah yang terlalu mahal ... Tapi Om tenang aja, aku dan Felix bakal bantu mereka.


Mereka udah kami masukkan di kampus yang lebih terjangkau yang kami biayai. Kami nggak sejahat itu untuk membuat anak-anak Om turut menderita karena apa yang Om perbuat pada perusahaan. Kami nantikan Om keluar dari sini untuk jadi pribadi yang lebih baik.”


Direktur Utama Diverto itu berjalan keluar dari sana meninggalkan Bambang di dalam ruangan sendirian. Tak satu pun keluarganya datang untuk mengunjunginya. Istrinya sudah meninggalkannya. Anak-anaknya pun marah padanya.


Kendati demikian, dia hanya bisa pasrah, menanti sidang yang akan dilakukan ke depannya. Menanti berapa lama lagi hukuman yang akan diterimanya akibat kejahatan yang sudah dia lakukan.


...****************...