Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
6. SKSD


“Lo nyari Gemma?” tanya Diana straight to the point. “Tadi dia lagi sama Bu Rosa.”


Sejak konflik kemarin terjadi, Diana mulai melunak pada Gala. Malahan, mereka jadi akrab dengannya. Tak ada alasan bagi Diana untuk memusuhi tiga anak tampan ini. Selain mereka berpengaruh, mereka juga ternyata berkelakuan baik dan tak pernah kurang ajar pada cewek. Tapi sang sahabat, masih tidak mau untuk membuka pintu maafnya pada Gala.


Sementara itu, Erika tidak dapat berkutik sama sekali karena Diana selalu menempel pada Gemma dan tidak membiarkan Gemma sendirian. Sementara Gala, Febri dan Niko selalu memantau dari jauh.


“Kalian di sini rupanya. Udah siap?” yang namanya disebut tiba-tiba muncul di belakang Gala, lengkap dengan orang yang sedang dicarinya.


“Kita pergi sekarang, Bu?” tanya Gala tanpa melepas pandangannya dari Gemma yang sekarang sudah kelihatan lebih segar. Gadis itu tampak seperti biasa, kecuali dengan benda yang masih bertengger menyangga kelingkingnya yang retak.


...***...


Gala menatap Gemma tanpa ekspresi. Meski cewek itu sudah menyuruhnya menjauh, Gala masih tidak bisa. Dia jadi merasa serba salah.


Erika, gadis manja dan angkuh yang merasa cantik itu, bisa berbuat yang lebih nekat lagi dengan memanas-manasi ayah Gemma. Gala baru tahu kalau Gemma dan Erika pernah satu SMP. Dan kekerasan yang dialami Gemma itu sudah terjadi mulai dari sekolah menengah pertama, dan makin parah kalau Gemma mengikuti kelas musik.


Gala jadi penasaran, ayahnya Gemma itu sebenarnya kenapa? Dia sekarang hanya menunggu saat yang tepat saat emosi Gemma padanya menyurut, untuk bertanya dan menuntaskan semua rasa penasaran yang dia miliki.


Tapi sampai kapan? Rasa ingin tahunya semakin meningkat setiap kali mereka bertemu.


Untungnya, saat Erika merengek pada Rosa untuk ikut ke venue pertandingan, Rosa melarangnya dengan tegas. “Tidak boleh. Kamu stay di sekolah!” Suara Rosa cukup menggelegar hingga banyak siswa yang mendengar.


Erika akhirnya menyerah, sebab Fabian juga sudah memperingatkannya agar tetap di sekolah, mengingat dia juga adalah salah satu panitia MOS dengan posisi penting.


Dari semua orang yang merengek ikut, justru Gemma-lah yang di’culik’ untuk ikut Gala. Niko dan Febri turut mengikuti mereka setelah Rosa mengizinkan.


“Ini, beri air minum untuk Gala sebelum dia manggung,” perintah Rosa.


“Tapi, Bu—”


“Berikan sekarang!”


Tak ada pilihan, Gemma menurut saja dan berjalan menuju Gala yang duduk di belakang panggung, bersama para kontestan lainnya dari berbagai sekolah, yang menunggu namanya dipanggil untuk perform.


“Ini buat lo, dari Bu Rosa,” ucap Gemma dingin tanpa ingin menatap langsung mata Gala.


Gala menerima botol air mineral itu dan sengaja menggenggam tangan Gemma. Lama dia memegang botol itu tanpa melepaskannya. Matanya terlalu tertuju pada sosok di depannya. Cewek itu tak lagi pucat, bibirnya sudah lebih merah, dan matanya tidak lagi sendu.


“Makasih, Gem,” kata Gala dengan pelan.


“Gala… eng… lepasin tangan gue …” bisik Gemma pelan dan sedikit salah tingkah.


“Makasih karena udah nemenin gue ke sini,” kata Gala dengan binar tulus di matanya.


“Jangan pede, gue ke sini karena dipaksa Bu Rosa.”


Kemudian, perhatian mereka teralih pada seorang anak laki-laki lain berpostur tinggi, bermata sipit dengan rambut seperti sarang burung dan sama-sama memiliki lesung pipi seperti Gala.


“Jangan ngerayu cewek di sini dong,” tukasnya dengan ketus pada Gala.


Gemma memandang sekilas padanya dan langsung mengenali siapa dia. Anak itu adalah Julian, siswa pindahan dari Kalimantan beberapa bulan lalu. Julian masuk sekolah di SMA Pelita Ibu Peritiwi, yang letaknya tak jauh dari sekolah mereka. Skill bermain gitarnya cukup bagus. Dan Gemma pernah melihatnya sekali-sekali bermain di kafe saat dia kabur dari sang ayah yang menggila.


Tapi saat ini, Gemma tidak berniat menyapa duluan. Selain tidak pernah ada interaksi langsung, Julian juga sering dikelilingi banyak fans fanatik cewek. Dia pun melepas paksa tangannya dari Gala untuk segera berlalu dari sana, menghindari interaksi dengan orang lain lagi.


“Eh kamu ‘kan…” Julian mengenali Gemma saat dia hendak berbalik. “Aku kayak pernah lihat kamu deh waktu ke kafe di daerah Kemang, kamu sempat main di sana satu kali ‘kan? Kamu ke sini buat kompetisi juga?”


“Awalnya sih gitu. Tapi nggak jadi…” ujar Gemma dengan ramah.


Gemma tersenyum tipis sambil menunjukkan jari cidera yang dialaminya pada Julian.


Alis Julian terangkat melihat jari Gemma. “Wah sayang banget. Kalau kamu yang maju, aku rela kalah buat kamu…”


Alis Gala terangkat dengan perasaan jijik pada Julian. Dasar playboy kampungan culun!


Gemma tertawa kecil, “Bisa aja kamu. Nggak perlu deh…”


Dan itu lagi… kenapa langsung pake ‘aku-kamu’? SKSD benar!


Perasaan aneh langsung bergemuruh pada benaknya ketika melihat Gemma yang dengan begitu mudah berinteraksi dengan Julian. Sedangkan dengannya? Selalu diusir-usir… Apa-apaan dia coba? Mau tebar pesona?


Semua emosi asing yang tiba-tiba bergulung dalam benak Gala itu akhirnya membuatnya mengeluarkan satu kalimat seperti ombak tsunami yang langsung membungkam mulut Julian.


“Lo ngapain deketin cewek gue?”


Baik Gemma maupun Julian langsung menoleh pada Gala yang kini berdiri menatap mereka sambil bersidekap. Mulut Gemma membuka saat mendengar Gala mengaku sebagai pacarnya dan dia tampak terkejut.


Gala langsung menarik tangan Gemma menjauh. Julian semakin melongo saat Gemma hanya dengan pasrah mengekor Gala, dan terlihat seperti pacar sungguhan.


“Lepasin…” pinta Gemma saat mereka akhirnya sampai ke parkiran di belakang venue.


"Gue nggak suka lihat lo digodain sama dia!"


“Gue mau ngomong sama siapa ya terserah gue! Kenapa sih pake ngaku-ngaku pacar segala?"


“Lo yang kenapa, Gem? Beberapa hari ini, gue udah baik sama lo, tapi lo masih nyuekin gue. Lo dingin banget ke gue. Lalu kenapa sama Julian cepet akrabnya?”


Suara Gemma terdengar meninggi. “Gue nggak ada kewajiban jelasin apa-apa sama lo. Lagian, gue masih marah sama lo. Gara-gara lo semua—”


“Sudah gue bilang, itu bukan gue. Lo bisa tanya Diana. Selama beberapa hari ini kami maksa Erika ngaku. Dan kemarin, akhirnya dia ngaku. Dia yang bikin lo dihajar ayah lo, bukan gue.”


Mata Gemma membesar dan berbinar. Nada suaranya lalu menurun. “Ngaku? Apa itu beneran nomor Erika?”


“Iya... Dan gue jamin, dia nggak bisa ganggu lo lagi.”


“Bisa gitu? Kenapa?”


“Karena kita pegang rahasia dia…”


“Rahasia apa?” Gemma mulai mengubah perangainya dari jutek jadi ingin tahu.


“Apaan sih? Mupeng banget dah! Ada deh... Cuma kami yang tahu.”


Entah Gemma harus merasa senang atau tidak. Memang, Diana telah berusaha meyakinkannya kalau Gala tidak bersalah. Dia lalu memberanikan diri menatap Gala yang masih memandanginya dengan intens. Tetapi Gemma malah tersipu, ingin sekali dia berlari dari sini agar tak ditatap seperti itu.


Bukannya Gala melepas tatapannya, dia malah semakin lekat menatap manik Gemma yang ternyata berwarna hijau tua. Dari mana dia dapat mata hijau itu? Sungguh unik dan membuat Gala tambah penasaran.


Didorong oleh perasaan itu, Gala mengambil tangan kiri Gemma dan menggenggamnya erat. Membuat Gemma tersentak dengan gerakan Gala yang tiba-tiba itu.


“Gem… kita damai yuk. Kita berteman…”


...****************...