
“Gem!” Seketika wajah Gemma langsung menoleh pada suara tegas yang memanggil nama wanita itu.
Mereka berdua sampai baru sadar kalau lift itu sudah sampai di lantai 20, di mana apartemen mereka berada, dan di mana Indra berdiri dengan kaku di hadapan dengan tangan terkepal kuat. “Kamu lama sekali! Habis apa sih?”
Di belakang mereka, Gala tak ingin menyapa Indra atau pamit dengan Gemma. Dia langsung mengambil access card untuk masuk dalam apartemennya.
Namun dia sempat menahan langkahnya, penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya pada Gemma. Awalnya, setelah melihat kepalan tangan pria itu, Gala mengira Gemma akan ditampar.
Tetapi dia salah. Matanya membesar saat melihat Indra malah mengambil box itu dari Gemma dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya merangkul Gemma dan mencium bibirnya dengan mesra di depan lift.
Dada Gala terasa sesak bukan main sampai tanpa sadar, dia membanting pintu apartemen itu hingga menimbulkan bunyi keras.
Segalanya berlangsung sangat cepat. Setelah melampiaskan emosinya pada samsak yang terletak di balkon, dia memutuskan untuk menelepon sepupu yang merangkap sekretarisnya itu.
“Lix, udah dapat informasi tentang Indra Suteja?”
“Sudah. Informasinya baru rangkum sore tadi.”
“Kenapa lo nggak langsung kasih ke gue sih?”
“Lah, ini besokan aja napa sih, Bos?! Gue baru aja istirahat!”
“Ish, lo nunda kerjaan gue emang! Gue cuma minta waktu lo dua jam buat bahas ini.”
“Hitungan lembur tapi!”
“Deal!” seru Gala tanpa keberatan pada sepupunya yang terkadang begitu perhitungan.
“Ck… Iya, iya! I’ll be there in an hour!”
***
“Indra bakal jadi CFO per Januari?” tanya Gala setelah selesai membaca isi map yang dibawakan Felix.
“Iya, gantiin Pak Rustam yang pensiun dini.”
“Kenapa Pak Rustam pensiun dini?”
“Ya kurang tau juga sih. Katanya beliau lagi sakit.”
“Lalu kenapa jadi Indra yang naik, bukan yang lain?”
“Dia dapat promosi mulai bulan kemarin dari Pak Bambang Hanggara. Januari nanti akan resmi sertijab.”
“Bambang, CEO Rapidash, yang masih kerabat sama Bokap kita?”
“Benar…”
Gala menuju lemari pendingin miliknya, mengeluarkan dua buah kaleng bir untuk dirinya dan juga Felix.
“Lo segitu setresnya sama yang namanya Indra? Apa ada yang lo belom ceritain ke gue?” Tanya Felix penasaran. Tetapi seketika Felix jadi ingat sesuatu, mulutnya terbuka dan tampak sedikit terkejut. “Ini... Gemma yang jadi istrinya Indra, lo kenal? Apa jangan-jangan, ini Gemma mantan lo waktu SMA itu?”
Gala menatap tajam pada Felix dengan mulut terkatup rapat, membenarkan dugaan sepupunya dalam diam.
“Diberkatilah engkau, wahai Gala… Lo bisa jadi knight in the shining armour dong buat Gemma entar,” goda Felix. “Terus… lo jadi pebinor nih ceritanya?”
“Shut up!” hardik Gala kesal. Makin ke sini, sepupunya itu semakin menggodanya saja. Tapi apa boleh buat. Indra sepertinya terlibat dalam kasus ini, dan Gala sendiri yang akan mencari tahu. “Jadi gimana? Senin ini gue udah bisa kerja di Rapidash Express?”
“Bisa, berkas lo udah beres. Entar gue email job desk lo apaan.”
“Bakal ketahuan nggak?”
“Nggak bakal. Lo nanti jadi titipan Pak Eko. Inget ya, lo keponakannya dia. Lo tinggal di Cengkareng. Pokoknya, lo pura-pura bego aja entar.”
“Pak Eko bisa dipercaya?” tanya Gala yang masih belum yakin.
“Gue megang kartunya Pak Eko,” kekeh Felix dengan licik. “Dia emang tukang selingkuh, tapi kalo soal kerjaan, orangnya bersih. Tapi lo perlu perubahan nih…”
“Maksudnya?”
“Lo nggak mungkin datang ke kantor pake Mercy, kemeja Lacoste sama jam tangan Hublot!”
Gala sampai melupakan hal itu. Dia perlu penyamaran yang membuat dirinya benar-benar menjadi karyawan biasa dengan sangat meyakinkan. “Ah iya… Gue belum ada persiapan soal itu…”
“Besok, gue suruh sopir gue, Pak Hasan, bawain semua yang lo harus pake hari Senin.”
***
Gala pergi ke minibar miliknya, yang berada di seberang kamarnya. Dia duduk di sana, menuangkan wine ke dalam gelas lalu meminumnya.
Dia duduk menghadap ke dinding kaca transparan besar, menampilkan pemandangan kota Jakarta yang tak pernah tidur dengan lampu-lampu perkotaan berkelap-kelip begitu menawan.
Pikirannya masih di penuhi dengan Gemma, Gemma dan Gemma.
Kalau diingat-ingat bagaimana pria itu memeluk Gemma dari samping dan mencium bibirnya, darah Gala rasa-rasanya mendidih melebihi 100 derajat celcius, seakan urat-uratnya hampir putus semua. Seandainya Indra bukanlah suami Gemma, mungkin Gala sudah menghajarnya sampai mati.
Ditatapnya file yang tadi disodorkan Felix padanya dengan tajam, seakan-akan sedang menatap Indra di sana.
Bajingan, umpat Gala dalam hatinya. Playboy kampungan busuk!
“He’s not worthy of you, Gemma…” bisiknya sambil menyesap wine itu dengan hikmat.
Dia tidak sabar menunggu hari Senin, menanti pertunjukan yang akan segera ia mulai.
...****************...