Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
62. Happy Together


Coba sambil denger lagu


Adele – Make You Feel My Love


...****************...


“Kamu yakin mau tinggal di sini sendirian? Kalau kamu mau, kita bisa pindah apartemen supaya jauh dari Indra. Kita bisa tinggal sama-sama.”


“Enak aja! Ntar dikira kumpul kebo!” ujar Gemma sambil menepuk bahu Gala dengan begitu jengkel.


Saat ini, mereka sedang ada di sebuah rumah, di sebuah perumahan yang cukup banyak ditempati orang, dan juga cukup ramai karena sangat dekat dengan daerah pemukiman padat penduduk.


Sore itu, Gala baru selesai mengawasi orang yang bersih-bersih dan mengecat ulang rumah itu pada bagian luar.


Untungnya, rumah itu masih dalam keadaan prima setelah setengah tahun lamanya tak ditempati karena orang yang dulu mengontrak di sana telah pindah.


Rumah sederhana dengan 3 kamar tidur dan kamar mandi masing-masing di dalam itu adalah aset peninggalan Mitha.


Saat ada orang yang hendak mengontrak, Gemma tidak mematok harga sewa yang tinggi saat itu, hanya 20 juta per tahun. Dia hanya menginginkan kalau ada orang yang memelihara rumah itu.


Jadi sebenarnya, tebakan Indra pada saat itu tidak sepenuhnya benar. Di rekeningnya, uang itu masih utuh tak tersentuh, dia masih punya cadangan uang yang cukup.


Belum lagi koleksi alat musik yang dipunyai Mitha semasa hidup. Kalau dihitung-hitung, harga alat-alat itu bisa mencapai ratusan juta rupiah. Pihak Diverto-lah yang menyimpankan semua aset itu dalam gudang mereka, tentunya atas perintah Gala saat dia masih berkarir di Australia.


Saking banyak yang diurus, Gala dan Gemma hampir tak punya waktu untuk bersantai saat memindahkan semua satu per satu.


Tetapi Indra tak sepenuhnya salah juga. Jika kali ini Viani ikut dengannya, dia mungkin masih bisa menghidupi mereka berdua paling lama selama 6 bulan. Selepas itu, Gemma akan kesulitan keuangan jika dia tidak juga mendapat pekerjaan yang pantas. Dia juga bisa saja menjual aset Mitha, tapi tidak mungkin kan Gemma tak bekerja?


Gala menoel pinggang Gemma yang sedang berkutat di dapur, memasak makan malam untuk mereka. “Gem.”


“Jangan toel-toel ah! Geli!”


“Kalo cium, boleh? Kalo di hitung-hitung, selama kita baru jadian, kita baru ciuman satu kali loh kemarin!”


“Kita belum resmi, tauk! Aku juga belum resmi pisah dari Mas Indra… Nggak baik dilihat orang.”


“Ya kalo kita tinggal di apartemen, siapa juga yang mau liat? Kita bisa bebas pacaran, bebas ngapa-ngapain bareng. Aku pengen ngulang lagi waktu itu di mana aku lihat kamu pake kemeja putih aku yang jatuh sampe sepaha—aarrghh!”


Cubitan pedih itu dilayangkan Gemma pada perut Gala yang kokoh. Dipandangnya pria itu dengan jengkel. “Jangan aneh-aneh! Inget ya, kita belum ada ikatan apa-apa!” Terang Gemma dengan begitu tegas.


 


"Jangan jual mahal," ledek Gala.


"Nggak kok, sekilo 5ribu aja," jawab Gemma asal.


Tawa Gala meledak. Tak lama kemudian, Gala berpindah ke mode serius. “Sampai kapan pun, aku bakal tunggu kamu. Kalo 15 tahun aja aku mampu lewati, apa salahnya setahun atau dua tahun lagi?”


“Elah, Bucin! Untuk apa kamu bertahan sama perasaan kamu sendiri selama 15 tahun ini? Bukannya ada Leticia yang selalu nemanin kamu?”


Tubuh Gala yang berada di belakangnya terasa menegang. “Kamu tahu dari mana soal dia?”


“Berita infotainment,” jawab Gemma dengan tenang.


“Apa pun yang terjadi antara aku sama dia, itu tanpa melibatkan perasaan aku sama sekali. Kami hanya partner—“


“with benefits kan?”


Sekarang keseluruhan organ tubuh Gala jadi kaku. Dia tidak menyangka kalau Gemma akan membawa perkara Leticia sekarang. Wajah dingin sialan yang dia sukai itu hampir tak bisa ditebak oleh Gala. Mau tak mau, Gala harus bertanya apa yang dalam isi kepala wanita itu.


“Kamu nggak perlu kaget. Aku nggak akan masalahin itu. Aku percaya kalau kamu dan dia nggak ada hubungan apa-apa lagi. Tapi kayaknya dia benar cinta sama kamu. Gimana reaksinya waktu kamu mau tinggalin dia di Aussie?”


Gala menghembuskan napasnya dengan lega. “Dia kejar aku sampai ke sini…”


“Oh ya? Lalu?”


“Barusan kemarin, aku kembalikan dia ke negaranya.”


“Hah? Gimana ceritanya?”


Gala menceritakan bahwa dia sengaja membayar banyak pada ibu Leticia untuk berpura-pura sakit. Leticia langsung menerima perintah pulang dari agency setelah dia dengar kabar tersebut.


“Ih! Bohong itu nggak baik, tau!”


“Dari pada dia di sini, hayo? Kan kita udah barengan, untuk apa dia ada di sini?”


“Tapi kan aku nggak bisa lebih dari ini. Aku nggak bisa mikir apa-apa sebelum urusan kita beres.”


“Aku ngerti… Aku tulus sama kamu, nggak niat macam-macam. Padahal, kalau aku mau, aku bisa lakukan lebih dari ini.”


“Eh!”


“Becanda! Emangnya aku aku cuma mau bodi kamu? I need more than that, Baby! I need your heart.”


Setelah melewati makan malam, Gala mendapati Gemma termenung menatap jendela bagian luar. Di tangannya terdapat satu gelas minuman alkohol bening.


“Alkohol itu nggak baik buat wanita…” Ujarnya sambil mengambil gelas itu dari tangan Gemma dan meletakkannya di nakas. “Sejak kapan kamu bisa minum?”


“Mungkin tiga tahun setelah melahirkan. Indra suka nyimpan alkohol di rumah. Ya aku kadang-kadang minum. Eh, jadi keterusan. Tapi jarang juga sih. Aku minum kalo lagi banyak pikiran aja."


“Emang, kamu lagi mikirin apa sekarang?”


Gemma menghela napas dan menghembuskannya dengan perlahan. “Mikirin Viani.”


“Kamu udah coba hubungin dia?”


“Sudah. Tapi nggak satu pun pesan aku yang dibalas…”


Di tengah semua curahan hati yang Gemma ungkapan, Gala berdiri di sampingnya, mendengarkannya dengan sabar dan tak menyela apa pun.


Gemma menceritakan semua, mulai dari pernikahannya yang rusak sejak hari pertama, perselingkuhan Indra dan sekretarisnya, sampai kecurigaannya terhadap apartemen baru yang dibeli oleh suaminya.


Ada setitik air mata yang jatuh di pipi Gemma yang buru-buru dia hapus sebelum Gala bisa mencapainya. “Jangan kasihanin aku! Aku lagi kelihatan bodoh banget sekarang,” ujarnya.


“Siapa yang kasihanin kamu?” Gala mengulurkan tangannya, dan Gemma menerima genggaman tangannya tanpa ragu. “Aku mau ngomong sesuatu sama kamu…”


“Ngomong apa?” tanya wanita itu.


Gala tersenyum, dia lalu menarik Gemma menuju sebuah kamar yang sudah mereka sulap jadi sebagai tempat penyimpanan semua alat yang tersisa dari peninggalan Mitha. Menyuruh Gemma duduk di sebuah bar stool yang tak jauh dari posisi sebuah digital piano.


“Dengar aku main dulu.” Gala mengambil posisi duduk tepat di depan sebuah digital piano berwarna hitam dan menekan tutsnya pada kunci yang diinginkannya. Memberi alunan melodi yang indah di telinga Gemma.



Gemma terpana saat melihat betapa indahnya Gala memainkan instrumental piano itu dengan kunci yang rumit. Dia mengingat kalau instrumental ini berasal dari sebuah film drama fantasi. Dan film itu terlalu romantis!


Jemari Gala terlihat begitu seksi saat menari di atas benda itu. Pun dengan alunan melodi yang diperdengarkan. Benar-benar indah. Gemma sampai hampir kehilangan konsentrasi.


“Ini…”


“Secret*,” jawab Gala. Dia memutar tubuhnya sehingga kini berhadapan dengan Gemma. “Pernah dengar?”


“Ya, aku nonton film itu. Tapi dari sekian banyak, kenapa kamu pilih lagu ini?”


“Aku suka bagian time travel-nya.”


Giliran Gemma yang terdiam  sejenak. Dia ingat persis adegan saat lagu ini dimainkan, bagaimana Xiao Yu bisa bepergian antara masa lalu dan masa kini.


Tapi mereka tak hidup di dunia fantasi seperti itu. Mereka hidup di dunia nyata dengan realitas yang begitu berbeda. Gemma tahu persis kalau pria itu masih begitu merasa bersalah dengan apa yang terjadi di masa lalu.


Sungguh, dia tidak ingin Gala membahas apa yang sudah berlalu. Gemma mengalihkannya pada obrolan lain yang masih ada hubungannya. “Aku baru tau kalo bisa main piano...”


“Di Aussie, aku belajar banyak. Saat berkarir di band, aku belajar banyak dari teman-teman di Black Ruby. Aku juga nggak nyangka kalo cepat bisa.”


“Lalu kenapa kamu berhenti dari band?”


“Dari semua personel, akulah yang paling banyak fans. Karena aku masih belum juga punya pacar, aku digosipin gay. Makanya aku berhenti karena pengen kabur dari media. Eh, pemberitaannya malah makin santer. Mungkin karena aku ganteng dan paling jago main gitar…”


Gemma menggoda. “Apa Anda sekarang lagi pamer, Tuan Gala?”


Gala juga menampilkan senyum khasnya yang membuat lesung pipinya semakin mencuat. “Benar sekali, Nona… Anda terkesan?”


“Sangat…” kata Gemma dengan senyum yang mengembang.


Gala berbalik dan menatap Gemma dengan wajah serius.


“Aku tau kamu masih ragu… Aku juga tau kalau di hati kamu masih ada Indra. Tapi satu hal yang kamu harus tau, kalau perasaan aku ke kamu masih belum berubah... Kalau kamu mau gunakan aku sebagai bahu kamu untuk menangis, atau bahkan manfaatkan aku untuk melupakan Indra, aku rela…


"Aku udah nggak peduli apa kata orang-orang. Aku hanya pengen ada di sisi kamu, jadi sandaran kamu saat kamu butuh dikuatkan. Cuma itu yang bisa aku tawarkan supaya kamu bisa tau kalau aku benar-benar sayang sama kamu. Karena aku tau kalau uangku sama sekali bukan jadi daya tarik di mata kamu.”


Dan saat itu juga, Gemma tak lagi menahan perasaannya. Dia menatap Gala begitu dalam dengan mata yang berkaca-kaca.


“Cuma satu mauku… Jangan pergi lagi…”


Meski saat ini Gemma diam saja dengan wajah sendunya, Gala tahu kalau saat ini Gemma sudah membuka hatinya untuk Gala. Gala sendiri tidak pernah mempermasalahkan seberapa besar pintu itu terbuka untuknya. Asalkan ada celah sedikit, Gala bisa menerima itu.


Dia tak peduli bagaimana statusnya sekarang, baginya, dekat dengan Gemma sudah sangat cukup.


Karena sedari dulu, Gala sudah memberikan dirinya menjadi milik Gemma.


...****************...


*Secret : Film drama fantasi Taiwan (2007)