
Setelah puas bermain-main sampai tempat hiburan tersebut hampir tutup, kini mereka semua berkumpul di salah satu restoran outdoor yang masih ada di kawasan Ancol untuk makan malam bersama.
Diana, Febri, Erika dan anak-anak sudah duduk lebih dulu. sedangkan Gemma, Niko dan Gala masih mengobrol di beberapa meter jauhnya, sambil berjalan menuju mereka yang telah duduk.
Namun sebelum mereka mencapai meja yang mereka tuju, tiba-tiba seseorang yang mereka kenal datang. Kiki, si model runway dari Perancis baru saja mendarat di Indonesia. Gemma tahu dari sosial media yang di mana teman satu angkatannya itu selalu aktif menggunakannya.
Orang pertama yang didatanginya adalah Gala. Wanita berubuh kurus tinggi menjulang mirip tiang listrik itu memeluk Gala dan cipika cipiki. Pria itu terlihat canggung dan tidak membalas pelukan Kiki, tapi hal itu saja sudah membuat Gemma panas setengah mati.
“Tambah ganteng aja lo habis nikah,” puji Kiki dengan senyum lebar. “Hai Gemma!”
Dengan bodohnya Gemma melambaikan tangannya pada Kiki. Tolol, maki Gemma dalam hati.
“Loh, ini Niko ya?” tanya Kiki yang hampir tak mengenal mereka berdua. “Ada Febri, Erika dan Diana juga di sana, wah pada reuni ya lo pada?”
"Nggak dipeluk sekalian Niko-nya, Ki?" Sorot mata Gemma memicing pada Kiki.
Bukannya wanita itu merasa tersindir, dia malah merangkul Niko juga.
Rahang Gemma mengeras dan wajahnya memerah, dadanya sudah terlihat kembang kempis menahan gejolak emosi yang berusaha dia tahan habis-habisan karena wanita itu sama sekali tidak menunjukkan gestur sadar diri.
Meski teman, kan seharusnya dia tidak bisa seenaknya saja seperti itu!
Yang bikin Gemma tambah jengkel, memang Gala terlihat risih disentuh Kiki, tapi bukan berarti harus obrolannya harus diladeni juga.
Sudahlah, Gemma tak mau melihat lagi. Dia duduk di kursi mereka diikuti Niko yang tahu kalau Gemma sedang cemburu. Semua orang bisa melihat ekspresi wajah yang terlihat dingin dan sama sekali tidak bersahabat itu.
Sekembalinya Gala dari ngobrol sebentar dengan Kiki, dia sudah disambut dengan tatapan dingin menusuk dari sang istri. Sedangkan Kiki sudah tak terlihat lagi keberadaannya di mana.
“Pesan apa, Sayang?” tanya Gala pada Gemma.
“Kakap Asam Manis!” kata Gemma. “Sama nasi putih, es teh manis tapi nggak pake es!”
Gala mengerutkan kening, “Es teh manis tapi nggak pake es?”
Gemma mengangguk, “Iya, nggak pake es. Emang kenapa?”
“Tunggu-tunggu, aku bingung. Ini gimana ceritanya jadi es teh manis nggak pake es?” tanya Gala kebingungan.
“Bikin aja tehnya pake teh, air sama gula, terus taroh deh di kulkas, 15 menit juga udah dingin … atau bisa ditarohin es dulu biar airnya cepat dingin. Terus dikeluarin lagi esnya.”
“Tapi kan bisa kamu keluarin sendiri esnya, nggak usah di-note dalam pesanan begitu. Supaya pesanan kita nggak ribet."
“Aku nggak mau keluarin esnya,” jawab Gemma santai. “Pokoknya sampe di aku tehnya harus dingin!”
Gala pun memanggil waitress untuk mencatatkan seluruh pesanannya. Waitress itu sampai bingung bagaimana mendeskripsikan es-teh-tanpa-es pesanan Gemma tersebut. Gemma tak menyerah hingga akhirnya Mbak itu mengerti apa yang dipesannya.
Namun setelah selesai dan Mbak itu hampir pergi, Gemma malah menahan tangannya. Lagi.
“Mbak, ada nasi lembek nggak?”
Waitress itu menghentikan pergerakannya. “Apa yang Mbak maksud bubur?”
“Nggak, nasi lembek!”
“Mohon maaf. Nasi kita cuma satu jenis di sini, Mbak …” jawab sang waitress.
“Emangnya nggak ada—“
“Pesanan kita udah gitu aja, Mbak.” Gala langsung memotong omongan Gemma sebelum wanita itu bertanya lagi sambil mengawasi kepergian waitress tersebut.
Diliriknya sang istri yang mulai kemarin sampai hari ini bertingkah agak menyebalkan. “Gem, jangan ngerepotin orang-orang,” tegurnya.
Lalu dia melihat kode dari Niko dan Febri, saat mereka menyebutkan kata ‘cemburu’ tanpa bersuara. Dilihatnya lagi Gemma. “Kamu ngerjain aku ya, Gem?"
Gemma mengendikkan bahu dan sibuk dengan ponselnya sendiri sambil menunggu makanan datang.
Saat Gemma menerima satu porsi Kakap Asam Manis itu dan satu porsi nasi, dia malah memisahkan semua nanas yang ada di sana dan menempatkannya di piring Gala.
Gala kira, semua sikap absurd Gemma hari ini akan berakhir setelah makanan mereka datang. Ternyata tidak sama sekali.
“Eh, kok nanasnya ditaroh ditempatku sih, Sayang?”
“Aku nggak suka lihat nanas,” jawab Gemma dengan ekspresi aneh. “Kamu aja yang makan.”
“Ya tinggal dipinggirin, Sayang,” ujar Gala yang lalu hendak mengambil piring kecil untuk menempatkan nanas itu pada tempat terpisah.
“Loh, kok aku? Aku kan nggak suka nanas!” Gala protes.
Nada suara Gemma mulai meninggi. “Harus makan!”
Gala memilih mengalah. “Iya-iya. Aku bagi sama Febri nih.”
“NGGAK BOLEH!” larang Gemma dengan keras, ketika potongan nanas itu hampir sampai ke piring Febri. Namun, sejurus kemudian, ekspresi marahnya tadi berubah jadi kembali melunak. “Kamu yang makan ya …”
“Oke-oke! Fine!” Gala pun memakan semua nanas itu sampai habis. Perutnya yang sudah kelaparan itu malah kenyang dengan nanas, bukan dengan menu yang dipilihnya tadi. “Puas?”
Gemma tersenyum lalu melanjutkan makan malamnya. Sedangkan teman-teman mereka tahu kalau Gemma mengerjai Gala akibat cemburu tadi.
Beberapa saat kemudian, Gemma terlihat melirik menu yang Diana makan, yaitu Ayam Jamur Saus Tiram. Seketika cacing dalam perutnya meronta-ronta meminta makanan jenis lain “Di, boleh minta?”
Diana menoleh pada Gemma, lalu dengan ikhlas membagi, “Ya udah ambil aja! Lo mah kebiasaan nggak bisa lihat jamur!”
Dengan santai, Gemma terkekeh dan menghabiskan jamur yang ada di piring milik Diana seraya mengawasi Gala makan. Dia pun teringat pada es tadi dan langsung mendatangi waitress yang melayani mereka hingga dia mendapatkan apa yang dia inginkan.
“Udah dingin tehnya?” tanya Gala ketika melihat Gemma membawa teh tersebut dari dalam dapur.
“Udah,” jawab Gemma yang tanpa menjeda sedikit pun, meminum es teh itu hingga tandas.
Gala menunduk dan berbisik. “Coba jelasin ke aku semua tingkah absurd kamu malam ini. Kamu kenapa sih? Cemburu? Cemburu bilang,” tanya Gala. “Aku cuma ngobrol sama Kiki loh. Cuma ngobrol …”
“Kalo gitu tiap kali aku ketemu temen kita, aku juga mau cipika cipiki terus mau dirangkul …” balas Gemma.
“Yah, jangan gitu dong, Sayang. Iya deh, maaf ..." Gala menyerah dan meminta maaf. "Aku nggak bakal kayak gitu lagi. Dia juga cepet banget tadi rangkul aku, nggak sempat ngehindar."
“Ngeles aja terus! Jatahmu aku kurangin.”
“Tapi kan kamu lagi mens, weeekk,” Gala menjulurkan lidahnya yang disambung pekikan nyaring ketika tiba-tiba ada sengatan pedih di pinggangnya. Gala mengelus permukaan kulitnya yang dicubit sang istri, “Sakit, Yang!”
“Habis mens! Tiga hari kamu libur!”
...***...
Selepas makan, mereka kembali mengobrol sampai malam hingga semua anak-anak mengantuk. Mereka semua pulang ke rumah masing-masing setelah pukul 10 malam.
“Seru, mainnya Pak?” tanya Marni ketika dia membukakan pintu rumah untuk Gemma, Gala dan Viani. Sejak kepergian Yahya, Marni didaulat untuk menjadi asisten rumah tangga hingga sekarang. Kerjanya tergolong baik dan gesit, dan dapat dipercaya. Sama seperti Gemma, beliau sudah hidup sebatang kara sejak suami dan anaknya meninggal dunia.
“Serulah. Bu Marni sih … diajak nggak mau ikut!” tukas Viani yang langsung menghambur masuk seraya melepas sneakers-nya dan meletakkannya di rak sepatu. “Mama, Om ... Viani masuk duluan ya, ngantuk. Besok sekolah pula.”
“Good night, Vi. Beneran bobo ya, jangan scrolling IG atau stalking Jimin!” tegur Gala pada sang anak.
Viani berdecak, “Iya-iya!!”
Semua orang pun masuk kamar masing-masing, mandi dan membersihkan diri, untuk bersiap-siap tidur.
Namun saat di kamar mandi, Gemma merasa ada yang aneh saat melihat pembalut yang dipakainya putih bersih tanpa noda.
Apa dia tidak jadi menstruasi? Dia juga baru sadar.
Setelah mandi, Gemma berjalan menuju walk in closet untuk mengambil pakaiannya dengan kening mengernyit, memikirkan kalau seharusnya dia sedang deras-derasnya hari ini.
“Kenapa Sayang?” tanya Gala yang merasakan kalau Gemma sedang memikirkan sesuatu. Pria itu sudah lebih dulu mandi. Kini sudah memakai kaos rumahan dan boxer.
“Aku nggak jadi mens kayaknya …”
Alis Gala terangkat. “Kenapa ‘kayaknya’?”
Gemma mengendikkan bahu, “Bersih aja gitu.”
“Kalo lagi nggak mens,” Gala bergumam dengan seduktif.
“Aku lagi nggak mood, Gala …”
“Demi bikin dedek bayi? Bagian produksi harus tetap jalan, Yang. Pabrik gak boleh libur," Gala berusaha membujuk sang istri.
"Oke," Gemma akhirnya mengalah lalu bersiap-siap. Namun sejurus kemudian, dia pun berseru.
“Eh! Kunci pintu dulu! Bu Marni suka sleep walking!
...****************...