
“Ayah, hentikan!!”
Seorang gadis dengan air mata membanjir duduk di kursi sangat tak berdaya.
Sementara ada seorang pria dengan wajah amat arogan, berdiri di meja makan dengan kaki yang sedang menginjak sesuatu yang terjulur dari tubuh gadis itu.
“Saya sudah beritahu kamu berkali-kali, tak boleh ada instrumen apapun di rumah. Apa kamu tuli?”
"SAKIT!!” ujarnya kala kaki sang Ayah semakin menekan bagian tubuh si gadis di atas meja.
“Oh sakit? Bagaimana kalau begini?”
Gadis itu semakin menjerit kencang kesakitan. Peluhnya bercucuran dan tubuhnya mulai gemetar hebat diringi suara rintihan yang semakin memenuhi seisi ruangan.
Dia amat yakin kalau sebentar lagi jari-jarinya akan remuk redam dibawah pijakan kaki pria yang menjadi bapak kandungnya.
“Kamu mau jadi murahan macam ibumu itu? Tukang selingkuh? Tak menurut pada suami dan suka menginjak harga diri saya? Kamu memang semakin hari semakin mirip dia! Kamu harus saya kasih pelajar—ARRRGGGHHHH!!”
Pria itu tiba-tiba terpekik kesakitan saat si gadis nekat menggigit betisnya dengan kuat. Mati-matian pria itu mencoba melepaskan diri, membuatnya terhuyung sampai jatuh dari atas meja.
“ANAK SETAN!”
“Kalau begitu, anda Bapaknya Setan!” maki gadis itu pada akhirnya.
Dia tak sadar, kalau makiannya itu sukses membuat mimpi buruk jadi nyata. Pria itu memasang wajah datar tanpa ekspreksi, dia terlihat melakukan sesuatu. Terdengar suara sabuk yang dilepaskan dari pinggangnya.
Wajah gadis itu berubah pias dan dia seketika berlari ke kamarnya. Tetapi sebelum sampai, rambutnya ditarik dan dia merasakan perih yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Tubuhnya melengkung berkali-kali saat dirasakannya benda kecil panjang dan lentur mendarat di punggungnya hingga menimbulkan bunyi benturan yang keras.
Beberapa menit, dia berteriak-teriak kesakitan. Si pria masih tetap menikmati kegiatannya hingga sesaat kemudian, si gadis sudah tidak sanggup lagi untuk bersuara.
Tubuhnya masih menggeliat-geliat sampai akhirnya hempasan di tubuhnya berhenti. Gadis itu menangis terisak-isak dan menutup matanya.
Saat matanya kembali terbuka, gadis itu kini berada koridor di sebuah hotel. Tubuhnya kini sudah bebas dari sakit yang tadi dia alami. Keningnya mengernyit sambil bertanya dalam hati, ‘kemana luka cambukan itu pergi?’
Dia melihat sekeliling dan mendapati pria yang memukulnya tadi telah memasuki sebuah kamar.
“Lari… lari…” gumamnya pada diri sendiri sambil mencari tangga darurat. Tetapi sebelum tangannya sempat mencapai pintu tangga, tubuhnya ditarik seorang lelaki familiar.
“Eittt… mau kemana?” katanya dengan seringaian. “Oh. Jadi kamu mau kabur?”
Mata gadis itu terbelalak dan dia memberontak hebat, tetapi lelaki itu lebih kuat. Lelaki itu mendorongnya masuk dalam sebuah kamar.
“Kamu nggak boleh kemana-mana. Papa kamu sendiri yang membawa kamu kemari untuk menikah,” katanya sambil mengelus pipi gadis itu dengan punggung tangannya yang begitu menjijikan.
Gadis itu berlari menuju pintu dan sempat membukanya, tetapi hanya untuk ditarik lagi ke dalam dengan kasar.
Darah memompa jantungnya dengan amat cepat. Bulu kuduknya sampai berdiri, matanya terbelalak, dia berusaha kabur tetapi pria itu jauh lebih kuat, jauh lebih besar darinya.
“Sekarang, siapa yang mau sama kamu? Kalau bukan aku?”
...***...
Terbangun di malam hari dengan keringat dingin yang membanjir, seorang wanita terduduk dengan napas memburu. Rambut panjangnya terlihat amat berantakan, lingkaran hitam tercetak jelas di bawah matanya tanpa mampu dia tutupi.
Mimpi buruk ini selalu menghantuinya bahkan sejak 15 tahun berlalu. Luka itu tidak pernah sembuh, sekalipun kini pria yang kini jadi suaminya sudah menunjukkan sikap yang lebih baik.
Sekalipun kini dia terbebas dari kekejaman sang ayah. Pria ini menyelamatkannya walau tidak sepenuhnya.
Dia menangkup wajahnya sambil mencoba memelankan napasnya dan mengatur detak jantungnya yang berantakan. Dia pun mengambil gelas berisi air minum di atas nakas lalu meminumnya sampai habis.
Wanita itu menoleh pada sisi di sebelahnya. Seorang pria berusia 40 tahunan tertidur membelakanginya. Tubuhnya padat berisi, kekar, wajahnya tampan, rambutnya hitam dengan model rambut kekinian.
“Mas …” panggil wanita itu padanya. “Mas Indra.”
“Apaan?” tanya Indra dengan suara serak. Wajahnya terlilhat begitu terganggu. “Jangan bangunin dong! Aku besok ada meeting. Aku mau tidur!”
Dipandanginya apartemen yang dia tinggali sekarang. Besar dan nyaman. Bukan penthouse, tetapi cukup modern.
Matanya kini jatuh pada dua pigura yang terpajang di dinding. Di sebelah kiri, adalah foto pernikahannya dengan Indra. Di foto itu, dirinya berdiri dengan mata bengkak dan tanpa senyum.
Menikah tanpa cinta sama sekali, tetapi karena keterpaksaan dan karena sebuah pemer—cepat-cepat dia menghentikan otaknya untuk menyebut habis kata itu.
“Indra sudah minta maaf sama aku, dan aku udah maafin dia …” gumamnya mencoba meyakinkan diri sendiri.
Lagi pula, selama ini Indra adalah sosok yang bertanggung jawab. Semua kebutuhannya dan anak perempuan sematawayangnya terpenuhi. Kadang dia bertanya pada diri sendiri, kenapa sangat sulit melupakan kejadian yang sudah terjadi 15 tahun lamanya?
Dipandanginya foto yang ada di sebelah kanan. Fotonya bertiga bersama anak perempuan mereka yang cantik, yang kini sudah berusia 14 tahun lebih, yang lahir sembilan bulan lebih beberapa hari setelah mereka menikah.
Dia lalu pergi ke gudang. Mendapati sebuah siluet alat musik yang sudah lama tak dia jamah dengan sebuah strap yang tergantung di neck-nya.
Disentuhnya benda itu dengan penuh penghayatan. Sekelebat ingatannya terhadap masa lalu yang begitu menyenangkan muncul dan membuatnya tersenyum tipis.
“I miss them …” gumamnya. “And I miss you,” katanya lagi sambil mengelus strap gitar itu, memperhatikan setiap detailnya dengan seksama. Mengingatkannya pada orang-orang yang berarti untuknya semasa SMA.
Benda itu masih seperti yang dulu, tak berubah, tak rusak sama sekali. Masih sama seperti saat pemilik awalnya memberikan ini padanya dulu. Wanita itu menjaganya dengan baik seperti nyawanya sendiri.
Pelan-pelan diraihnya instrumen itu, dia memasangkan strap itu pada tubuhnya. Matanya terpejam begitu strap itu melilit dirinya, seperti seakan-akan ada yang memeluk, tersampir pada lekuk tubuh dirinya dalam hening.
Dia begitu menikmati, kendati tangannya belum memetik senarnya sama sekali. Diingatnya lagu yang dimainkannya pertama kali saat seorang anak laki-laki melabraknya dan memintanya untuk mundur dari lomba yang akan diikutinya.
Laki-laki berlesung pipi yang sangat menawan. Tatapannya, ekspresinya saat memainkan not gitar dengan merdu membuat Gemma kembali jadi anak remaja lagi saat mengingatnya.
Sungguh sebuah ingatan yang manis.
Jarinya pun dengan lincah memetik senarnya. Tetapi pada saat masuk refrain, tiba-tiba salah satu senarnya terputus.
“Sial!” katanya. Dia pun sudah kehilangan mood untuk memainkan benda itu dan meletakkannya perlahan pada stand-nya, lalu meninggalkan gudang.
Matanya kembali menatap foto keluarga mereka yang tadi. Sosok yang kesemuanya good-looking. Kecuali dirinya.
Viani adalah wujud dirinya saat masih muda, namun minus mata hijau miliknya. Dia begitu cantik dan menarik. Mata Viani dan caranya menatap persis dengan sang suami. Pembagian yang adil, gumamnya pada diri sendiri.
Tapi kini, dirinya sudah kehilangan aura muda itu, dia tidak menarik sama sekali. Dia berdiri di depan cermin besar panjang di depan kamarnya. Menatap tubuhnya yang kini jauh dari kata indah.
Tubuhnya masih tetap kurus, kulitnya kusam, matanya sendu, rambut yang dia selalu cat cokelat terang terlihat lepek. Dia lalu mengangkat piyama tidurnya sedikit dan mendapati stretch mark yang tak kunjung hilang di perut bagian bawahnya.
Benar-benar tidak menarik.
Dirinya lalu tersadar akan sesuatu. Apa karena ini, Indra tidak pernah menyentuhnya lagi selama hampir satu tahun belakangan? Apa karena dia sudah tidak menarik lagi? Sudah terlihat tua dengan kulit perut yang cacat akibat berjuang saat hamil anak mereka dulu?
Tiba-tiba hatinya kini merasa tidak nyaman. Senar yang putus tadi terasa aneh. Dia menyesal kenapa harus memaki kata “sial”. Bukan dia percaya tahayul, tetapi kini, dia merasa ada sesuatu yang lain. Dia tidak mau juga jadi sial benaran!
Dia tidak ingin berlarut dalam pikiran tak pasti, lalu segera kembali ke tempat tidurnya bersama Indra. Dengan sepelan mungkin, dia berusaha agar tak membangunkan suaminya.
Namun, begitu dia masuk ke dalam selimutnya, sebuah pesan notifikasi masuk dalam ponsel suaminya.
Sebuah bunyi khusus yang masuk menandakan kalau notifikasi itu bukan hanya basa-basi layanan provider yang menawarkan undian berhadiah atau gratis top up saldo, tetapi itu adalah bunyi pesan chat pribadi.
“Siapa yang malam-malam begini nge-chat?” gumamnya dalam bisikan.
Sebelum-sebelumnya, dia tidak pernah merasa penasaran dengan apa yang suaminya lakukan. Tentang siapa saja yang berkomunikasi dengannya maupun isi dompetnya.
Namun, entah kenapa, baru kali ini dia merasa kalau intuisinya sangat tajam dengan rasa penasaran yang amat tinggi.
Pelan-pelan, dia turun lagi dari tempat tidur menuju nakas yang ada di samping suaminya. Dia tidak memegang ponsel yang tergeletak di sana, hanya mengintip saja.
Seketika wajahnya menegang, mulutnya membuka dan dia terkesiap saat melihat pesan yang jelas-jelas ditujukan pada suaminya.
[ Rita : Sayang, aku rindu kamu… ]
***