
3 jam yang lalu di Sydney, 1 jam sebelum take off penerbangan malam menuju Jakarta.
“Viani udah bisa dihubungin, Gem?” tanya Gala.
Gemma berjalan mondar mandir di lantai longue yang terletak di airport itu. Wajahnya terlihat kuatir sekali. “Belum, Sayang … Aduh, nih anak ke mana sih? Ada kabar dari Rinto?”
“Waduh, ibunya masuk ICU, Sayang … Kita nggak bisa andelin Rinto sekarang,” kata Gala saat membaca pesan Rinto di ponselnya, bahkan mengirim foto sang ibu yang tengah terbaring di brankar tak sadarkan diri agar bosnya percaya. “Bentar, aku hubungin Bang Agus dulu.”
Beberapa menit kemudian, Gala sudah berhasil menghubungi Agus dan mengirimkan foto Viani padanya. Tapi dia masih menunggu orang itu menemukan di mana Viani yang katanya Rinto sedang berada di sebuah klub malam.
“Kok Viani bisa ke sana?” tanya Gemma tak paham. “Sendirian?”
“Kata Rinto sendirian.”
“Astaga, Viani!”
“Rinto melapor, bahwa Viani tadi lagi banyak pikiran dan lagi ada masalah di kantor. Aku dengar, PO di sana bermasalah dan Viani yang kena getahnya. Kita nggak bisa nyalahin Viani seratus persen, Gem. Dia lagi ada masalah, wajar kalau dia butuh pelarian.”
“Jadi kamu udah tau masalahnya Viani?! Kamu nih, anak lagi susah kok didiemin, sih?”
“Bukan gitu, Sayang ... Dari awal, Viani udah bilang kalau dia bisa ngatasin semuanya sendiri, kan? Aku hanya memberi ruang ke anak kita supaya dia bisa belajar mandiri, merangkak dulu dari bawah sebelum bisa naik ke atas.
Meski sudah di level Manajer, dia tetap harus menemukan banyak tantangan. Bukankah dia mau balik ke Aryaditya setelah dia merasa cukup matang untuk kembali? Masalah ini nggak besar-besar amat kok, Gem. Tinggal gimana Viani menghadapi dan menyelesaikannya aja.”
Gemma kemudian duduk. Wajahnya masih menyiratkan sebuah kekuatiran pada anak perempuannya yang dia tinggal sendirian di ibukota. “Aku takut banget dia mabuk terus dikerjain orang.”
“Kita nggak usah mikir yang enggak-enggak, Yang … dia udah dewasa, bisa beladiri sedikit dan bisa jaga diri. Lagi pula, aku udah hubungi Bang Agus dan dia udah ngelapor kalau mereka udah di klub itu. Aku udah perintahkan dalam waktu satu jam, dia sudah harus membawa Viani pulang.”
Gemini dan Geraldo yang sedang menikmati cokelat panas itu memandang orang tuanya dari meja lain dengan bingung.
“Kak Viani kenapa, Ma?” tanya Geraldo.
“Nggak pa-pa, Sayang. Kalian minum cokelatnya sampai habis ya? Mau Mama belikan apalagi biar bisa dibawa di pesawat?”
“Gemi mau Pie!” sorak Gemini.
“Gerald mau, apa ya? Hm … Red Velvet cake aja, Ma.”
“Ok. Right away …” Gemma memanggil waiters untuk memesankan kemauan anak-anaknya.
“Oh ya, Pa. Kenapa kita pulang cepet banget? Geraldo belum sempat ke Rottnest Island …”
“Ngapain ke sana?”
“Mau lihat Quokka …” Geraldo si pecinta hewan ini benar-benar terobsesi pada makhluk berjuluk 'binatang paling bahagia di dunia' itu.
Entah apa yang merasuki anak lelaki satu-satunya. Dia tidak tertarik pada musik, meski berapa kali Gala mencoba mengenalkan benda-benda di rumah padanya. Dia tertarik hanya pada hewan saja.
Gala tertawa. “Next time, oke? Nanti pas libur beneran panjang sama Kak Viani sekalian. Sekarang kita pulang dulu, ketemu Kak Viani. Besok dia ulang tahun loh! Udah nyiapin kado belum?”
“Sudah!” Gemini dan Geraldo sama-sama bersorak riang. Kakaknya yang ulang tahun, tapi mereka yang kesenangan.
Setelah pesanan kedua bocil itu datang, Gala dan Gemma menyambar beberapa barang mereka yang akan diletakkan dalam kabin. “Ayo kita pulang, waktu boarding udah mau habis …”
...***...
Di klub itu, Agus sedang berdiri dan menunggu Damar, anak buahnya untuk membawa Viani pulang dari sana. Tetapi setelah setengah jam menunggu, gadis itu tak keluar jua.
“Mar, lo di mana sih?” tanya Agus pada anak buahnya lewat telepon.
“Nona kayaknya nggak ada di dalam, Bos!”
Lalu mata mereka tertuju pada dua orang yang sedang berjalan menuju sebuah mobil Toyota Rush berwarna Putih. Seorang lelaki tinggi dan seorang perempuan.
“Itu kayaknya Nona Viani, Bos!” tunjuk Damar. Agus juga memperhatikan gadis itu. Wajah, tubuh dan deskripsinya sesuai dengan apa yang Gala katakan. Gadis itu mengenakan celana jins, kaos oblong, dan sneakers dengan rambut panjang sedada.
“Waduh, mau digarap siapa tuh?” Agus dan Damar segera menghampiri kedua orang itu, tepat saat gadis itu sudah masuk ke dalam mobil.
“Mau nyulik anak Bos kami ya, lo?” hardik Agus.
“Apa-apaan nih? Jangan sentuh cewek gue!” kata lelaki itu tak terima.
"Kalopun cuma pacar, nggak usah belagu, Mas. Kita suruhan langsung orang tuanya!"
Damar memapah gadis itu, “Ayo pulang, Non. Entar dicariin Pak Gala.”
“Pulang? Pak Gala siapa?” tanya gadis itu terlihat cemberut. “Saya Hailee Stainfield … I'm gonna touch the pain away, hey! I know how to scream my own name!“
Tapi saat gadis itu akhirnya menginjak tanah, tiba-tiba gadis itu hampir limbung, namun ditangkap oleh Damar. Bau alkohol menguar dari tubuh gadis itu.
“Nona!” pekik Agus. “Kamu apain anak Bos kami? Sialan! Lo kasih obat nih jangan-jangan?!”
“Nggak ada gue kasih obat! Lepasin tangan lo dari cewek gue! Lepasin!!” Lelaki itu berusaha maju dan meraih gadis itu tetapi masih dihalangi Agus. “Ini namanya penculikan, ya! Mau gue laporin polisi lo?”
“Heh! Elo yang mau nyulik, bangsat! Kita bodyguard Nona Viani!”
Tiba-tiba lelaki itu terbahak. “Kalian salah orang, woy! Cewek kere kayak gini, masa punya bodyguard?!”
Damar dan Agus melotot. Masing-masing dari mereka mengeluarkan ponsel dan membandingkan wajah Viani dan gadis yang mereka bawa.
Dari deskripsi Rinto pada pakaian terakhir yang Viani kenakan, memang semuanya mirip, pun dengan postur tubuh dan rambut. Meski terdapat perbedaan mencolok pada warna mata, hidung dan warna kulit, sekilas gadis ini mirip dengan Viani.
Damar mengumpat. “Sial, Bos. Kita salah orang!”
...***...
“Ada ribut-ribut apa tuh?” tanya Viani saat melihat ada 4 orang sedang berdiri di dekat sebuah mobil, tak jauh dari posisi mereka.
“Nggak tau. Aku nggak perhatiin tadi,” jawab Vincent yang kini sudah duduk di kursi driver.
“Oh. Alvin mana?"
Vincent menatap Viani dengan tatapan menusuk. "Jangan tanya cowok lain di hadapan aku, Vi!"
Fix, lelaki ini cemburu.
Sejenak, Vincent menatap lurus ke depan pada sebuah titik semu. Viani sudah duduk di sebelahnya, buang muka. Mereka kembali pada mode senyap khas pasangan yang tengah bertengkar.
“Jenny sama aku itu nggak ada hubungan apa-apa, Vi." ucapnya.
“Aku tau kok …” Viani tak jua ingin menatapnya. Gadis itu masih marah sekali. Akhirnya Vincent diam saja dan menjalankan mobilnya.
Sepanjang jalan, tidak ada percakapan yang terjadi di antara mereka sama sekali. Pun ketika mobil Vincent sudah berada di basement, yang dia berhentikan tepat di samping mobil Viani yang telah dibawa oleh Rinto.
Vincent selalu melirik Viani yang terlihat biasa saja, seperti tidak terjadi apa-apa. Jelas-jelas dia melihat Alvin memegang botol itu. Apa zat itu benar-benar sudah terminum oleh Viani atau belum? Vincent tidak tahu.
“Astaga, aku lupa hubungi Bang Rinto,” gumam Viani sambil menepuk dahinya dan menoleh pada Vincent.
“Dia udah aku suruh pulang, karena kamu nggak bisa dihubungi sama sekali. Ibunya Bang Rinto masuk ICU beberapa jam yang lalu.”
“Ya ampun.” Viani meringis karena lupa. Padahal tadi Rinto sudah bilang kalau kondisi sang bunda tengah menurun. “Sudah separah itu?”
“Iya … “
Dan Viani sampai tak memperhatikan kalau orang terdekatnya sedang dilanda musibah.
“Aku anter kamu,” ujar Vincent saat mereka sama-sama turun dari mobil itu, berjalan menuju lift dan menunggunya turun. “Kamu udah makan malam?”
Viani mengeluarkan botol air mineralnya dan meminum dari botol itu seteguk.
“Udah … kamu?” tanyanya tanpa memasukan botol itu kembali ke dalam tas.
“Udah.” Meski marah, masing-masing dari mereka tidak bisa menahan diri untuk tidak saling perhatian. “Kenapa kamu harus matiin hape kamu?”
“Aku lagi bete. Banyak pikiran. Males ngobrol sama orang-orang. Apalagi yang baru temu kangen sama mantannya …” sindir Viani.
“Emangnya tadi kamu nggak temu kangen sama mantan juga?” sindir Vincent balik.
Keduanya terdiam lalu memasuki lift yang baru saja terbuka. Hanya ada suara desah napas masing-masing yang terdengar dari hidung keduanya. Vincent terlihat tenang, sedangkan napas Viani terdengar lebih pendek.
Tanpa minta izin, Vincent menyambar botol di pegangan Viani itu dan meminumnya seteguk. Melihat gadisnya bersama pria lain membuatnya merasa panas luar dalam.
Sesampainya di depan apartemen, Viani mengeluarkan kartu akses dan membuka pintunya. “Masuk dulu, Vin. We need to talk. A very deep talk tentang hubungan kita.”
...****************...