Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
68. Di Rumah Mama


Meski pembicaraan di antara mereka semakin malam semakin seru, tetapi Gala masih tak dapat memalingkan tatapannya dari Gemma saat ini.


Wanita itu tengah berada di tengah area kafe itu. Dia sendirian, tengah menghadapi salah satu orang yang turut bertanggung jawab atas apa yang dia rasakan selama ini.


Tangan wanita paruh baya itu beberapa kali terangkat untuk menunjuk dan hendak menampar Gemma. Tapi Gala melihat ada satu kekuatan dalam diri perempuan itu.


Dia tak membiarkan sendiri dihina oleh Mira. Bibir Gala melengkung untuk membentuk senyuman lega. Lega karena wanitanya kini terlihat begitu tangguh.


Berbagai pertanyaan kepo yang teman-temannya lontarkan terhadap hubungannya dengan Gemma saat ini menjadi penanda kalau dia ternyata bergerak terlalu cepat selama ini.


“Tapi, gini deh Gala… Apa lo nggak mikir kalau hubungan kalian ini kecepetan?” celetuk Febri yang memandangnya dengan sedikit kekuatiran.


Dia bahkan tak pernah bertanya pada wanita itu, apakah dia selama ini dirinya nyaman, ataukah semua ini kesannya terburu-buru? Gala terlalu berpusat pada dirinya sendiri dan melupakan apakah semua ini dimulai di saat yang tepat atau tidak.


Dia belum mempertimbangkan apa yang akan dinilai Viani nanti. Dan seberapa besar risiko yang akan ditimbulkan kalau orang-orang tahu.


Ketika pembicaraan itu beralih ke perbincangkan lain, Niko menarik Gala untuk bicara sebentar di tempat yang tak terdengar oleh yang lainnya.


Gala pun menceritakan perkembangan masalah di kantornya secara garis besar, bahwa pemeriksaan masih dijalankan hingga kini. Termasuk sampai sejauh mana perceraian Gemma dengan mantan suami.


“Apa Indra tau hubungan lo sama Gemma?”


“Nggak, Nik.”


“Apa dia masih mikir kalo lo bawahannya dia?”


“Seperti itulah. Tapi gue udah berhenti dari RE.”


Niko menghela napasnya dalam-dalam. “Gala… As your friend, gue seneng banget liat lo bisa bareng Gemma lagi. Tapi alangkah lebih baik kalau semua ini setelah Gemma pisah dari Indra aja atau minimal setelah kasus ini naik di sidang. Menurut gue, semua ini masih dini. Terlalu riskan."


“Kenapa emangnya?”


”Entahlah, gue ngerasa perasaan nggak enak aja. Apakah karena moral atau karena hal-hal di luar sana yang bisa aja berbahaya untuk semua orang yang tau. Di otak gue, ada Viani dan Indra yang nggak tau lo siapa.


Sekalinya Indra nyadar kalo lo ternyata yang punya RE, menurut lo dia bakal ngapain? Lo mungkin sudah dilindungi dari awal sama bodyguard meski mereka nggak terang-terangan ada bareng sama elo. Tapi Gemma gimana?"


Kalimat panjang Niko membuat Gala jadi banyak berpikir. Dia tidak marah karena Niko memang sepenuhnya benar.


Mereka mungkin bisa saja berhubungan, tetapi go public setelah semua selesai adalah hal yang lebih bijak. Dia mengutuk diri karena mengikuti hawa nafsu dan dengan bangganya memamerkan Gemma pada orang banyak.


Wanita itu terlihat gemetaran. Nampak ada gurat yang begitu elusif di wajahnya. Untuk berbicara dengan wanita tua yang terkesan kaku dan garang itu pasti memerlukan tenaga yang ekstra.


“Pulang?” tawar Gala.


“Ya…” Gemma mengangguk pelan. “Ayo.”


...***...


Sesampainya di rumah Gemma, Gala tak langsung pulang. Dia menemani Gemma sebentar. Membuatkannya teh manis hangat dan duduk di sampingnya, lalu duduk di sebelahnya dengan sabar sampai wanita yang sedari tadi diam saja itu mulai berbicara.


Gemma menyesap minuman itu beberapa kali sampai “Tadi itu mantan mertua aku.”


“Aku tau.”


“Kamu kenal?"


“Nebak aja. Mukanya mirip Indra. How do you feel?” tanya Gala sambil mengelus tangan Gemma.


Gemma tersenyum tipis. “Jujur aja, awalnya takut. Tapi nggak tau gimana, semua kata-kata itu mengalir aja dari mulut aku.”


“Apa aja yang kamu bilang?”


“Ya kelakuan anaknya yang nggak beres!” Gemma meminum minumannya dalam dua tegukan besar. “Aku cukup kaget juga sih bisa ngomong selancar tadi. Tapi aku cukup puas bisa bungkam mulut besar ibu mertua aku.”


“Aku bangga sama kamu,” ujar Gala mendaratkan kecupan di kening Gemma satu kali.


Wajah Gemma memerah, dia lalu menoleh pada Gala yang duduk di sebelahnya dan memandangnya penuh arti. Sebuah tatapan sayu yang selalu meruntuhkan akal sehat Gala habis-habisan. Belum lagi gestur yang Gemma tunjukkan, membangkitkan sebuah hasrat yang sudah Gala tahan-tahan dari dulu.


Tapi sebelum terjadi apapun, bel rumah Gemma tiba-tiba berbunyi.


“Siapa malam-malam begini yang datang?” tanya Gala.


Pria itu, diikuti Gemma pergi ke depan dan membuka pintu. Dan benar saja, apa yang dibilang Niko tadi akhirnya kejadian.


“Om… Om kan?” tanya Viani yang bingung melihat Gala. Alisnya menukik marah. “Ngapain Om di rumah Mama?!”


...****************...