Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
12. An*jing


Pada akhirnya tak ada satupun dari sekolah Gemma maupun sekolah Julian masuk dalam jajaran juara utama ataupun juara harapan. Meski mereka sedikit kecewa karena kalah, tapi setidaknya, Gemma dan kawan-kawan tidak melihat sekolah Julian menang.


Sebuah hal tak terduga—atau well, sedikit diharapkan beberapa orang—akhirnya terjadi. MC tiba-tiba membuat pengumuman untuk satu orang pemenang tambahan sebagai juara favorit.


“Salsabilla Hamidah dari SMA Pelita Ibu Pertiwi dan Gemma Aruna Fransius dari SMA Tunas Persada… Jangan lupa kirimkan vote kalian sebanyak-banyaknya lewat SMS dengan format ini ke….”


Sang MC terlihat begitu semangat memberitahukan lima peserta yang berkesempatan mendapat posisi tersebut. Suatu kabar yang membuat semuanya lega, bahwa Gemma masih ada kesempatan mendapat posisi itu, meski sekali lagi harus berhadapan dengan sekolah Julian dan 3 sekolah lainnya.


Gala menatap tajam pada Julian dari jauh yang matanya masih belum lepas dari Gemma. Yang dipandang sendiri terlihat langsung menundukkan kepalanya, tak ingin membuat kontak mata lebih lama. Tampak sekali kalau cowok itu berusaha menghindari tatapan Gala yang menghunus dan seakan mengajak adu otot saat itu juga.


Belum lagi mata-mata yang sedari tadi memandangi cewek di sampingnya. Gala semakin terpancing.


“Tunggu di sini, Gem…” kata Gala sambil melirik Diana, untuk menitipkan Gemma sebentar. Gemma menatap Gala dengan wajah tidak suka sambil menggerutu dalam hati.


Mulut Gemma maju satu senti. “Lo kenapa sih harus nitip-nitip gue ke Diana? Emang gue ini bar—“


“Gem…” tegur Diana dengan senyum lembutnya. “Ikutin aja apa mau Gala…”


“Kenapa gue harus—“


“Ssstt! Ikutin aja! Apa Gala ke WC lo mau ikut juga?"


Diana itu tahu persis kalau cowok yang menyukai teman baiknya itu sedang waspada, karena bukan hanya Julian yang dari tadi curi pandang pada sahabatnya, tapi ada banyak!


Sayangnya, Gemma tidak terlalu tanggap dengan orang-orang yang menunjukkan kasih padanya. Dia tak begitu mengerti tentang cinta dan orang-orang yang menaruh perasaan padanya. Dia tahu kalau ada orang yang menyukainya, tapi tak tahu hendak memberi respon apa. Takut kalau dia akan dipermainkan, takut kalau semuanya hanya bohong. Takut kalau…


Gala sendiri juga masih baru dengan hal seperti ini. Cowok itu belum pernah pacaran, belum pernah jatuh cinta, dan belum pernah menyukai perempuan sedalam ini. Dia tidak begitu pandai mengutarakan perasaannya dan cenderung melakukan hal-hal bodoh yang membuat orang yang disukainya salah paham.


“Kita bukan jodohin, Sayang. Tapi mereka mesti dikasih tau, biar paham sama perasaan masing-masing,” kata Febri pada Diana yang sempat tidak ingin terlibat dalam hubungan sahabat mereka. “Paling nggak, mereka bisa saling ungkapkan rasa itu, supaya nanti nggak menyesal. Soal mereka jadian atau nggak, ya terserah mereka. Kasih tak sampai itu nggak enak, tauk!”


Saat ini, hati Diana masih merasa tidak enak. Dia tidak tahan untuk tidak memberitahu apa yang instingnya katakan tentang kejadian hari ini pada pacarnya.


"Sayang, liat nggak banyak yang dari tadi liatin Gemma dan ngajak dia kenalan? Apalagi ditambah kejadian Julian hari ini. Aku bukan doain, tapi kayaknya bakal ada yang berantem deh."


"Masa iya?" Febri belum menyadari kalo sang kawan telah pergi entah kemana.


Mata Diana melayang ke sekeliling, dan mendapati Gala yang sudah membawa Julian untuk bicara empat mata di parkiran, tak jauh dari tempat mereka berdiri.


...***...


Di sudut parkiran, tak jauh dari posisi Gemma dan kawan-kawan berdiri, Gala sudah ada di sana menawan Julian agar cowok itu tidak kabur. Tangannya terkepal hingga urat-uratnya muncul.


“Brengsek lo!" desis Gala sambil menarik kerah Julian dengan kencang.


“Ajarin? Atau menjebak?! Bedebah licik! Lo harus minta maaf ke Gemma!"


“Ngapain gue minta maaf? Gue nggak ngerasa ada yang salah sama gue. Harusnya lo yang minta maaf ke dia. Kalo lo ngajarin dia dari awal, dia nggak bakal lari ke gue!”


Gala terdiam. Julian mengatakan hal yang benar. Tapi tetap saja, cara Julian itu tidak bisa diterima.


“Pergi lo dari gue! Mata gue sakit ngeliat muka songong lo dan muka cewek lo yang kelewat stupid!”


Dada Gala memanas. “Apa lo bilang?!”


Sebelum tangan Gala yang terkepal itu melayang pada wajah tampan Julian, tiba-tiba lengannya dicekal dengan lembut oleh seseorang yang baru saja mereka bicarakan.


“Stop. Please, Gala. Udah… jangan berantem. Gue mohon jangan…” ucap Gemma dengan tatapan yang begitu dalam pada Gala.


Seakan dihipnotis, kepalan tangan Gala melemas, dia menurunkan tangannya tanpa melepas tatapannya pada Gemma.


“Ini semua gue yang salah. Dia nggak salah! Jangan sentuh dia, jangan sama sekali lo pukul dia!”


Alis Gala menukik tajam tidak terima. “Apa-apaan lo Gem? Kenapa lo jadi bela dia sih?”


“Please… jangan kotorin tangan lo buat dia,” ujar Gemma berusaha membujuk Gala. “Dia bahkan nggak pantes dapat pukulan lo.”


Julian mendengus kasar dan mengangkat kepalanya dengan angkuh untuk menantang. “Diliatin cewek gitu aja langsung nggak jadi mukul. Haha! Bilang aja lo nggak berani ama gue! Dasar LEMAH! CEMEN! BANCI LO!”


Hinaan itu sukses mengompori Gala habis-habisan. Di saat yang sama, semua orang yang mengenal mereka sudah menghalau kontak fisik yang akan mereka lakukan.


“BANG***SAT!!! SINI HADAPIN GUE!”


“SINI LO, GUE TABOK LO, ANJING!"


Kedua cowok yang tersulut amarah itu segera dipisahkan jauh-jauh meski terus memberontak. Febri dan Gemma menarik Gala yang masih melontarkan makian terhadap Julian. "LEPAS! LEPASIN GUE!!!"


Sebelum kejadian ini tercium panitia dan membuat segala sesuatu jadi tambah runyam, Gemma langsung membawa Gala ke mobil milik cowok itu dan menderu besi besar itu keluar dari venue sejauh mungkin.


Cowok itu sedikit kaget karena tak menyangka kalau Gemma sudah bisa mengemudi. Tapi dia tidak ingin membahas itu. Hatinya terasa penuh sesak karena emosi yang tak tersampaikan. Seakan-akan dia hanya akan puas jika sudah melihat Julian terkapar tak berdaya.


Meski gak memberitahukan dirinya, Gemma sudah tahu persis isi hati Gala. Maka dari itu, Gemma tak membiarkan Gala membawa mobil tersebut dalam keadaan emosi.


...****************...