
Malam itu, bukannya terjadi adegan romantis, Gala dan Gemma malah bertengkar hebat.
Gala merasa kalau privasinya telah dilangkahi oleh Gemma dan sayangnya gadis itu hanya kesepian karena Gala tak jua merubah sikapnya.
Sampai akhirnya, pembicaraan mereka pun seperti ini. Gemma berusaha mendekati Gala yang terlihat menjaga jarak. Ia ingin Gala dan dirinya duduk berdua bicara dari hati ke hati sambil berpegangan tangan.
Gemma berusaha membuka tabir penghalang antara dirinya dan Gala. Gemma ingin Gala percaya padanya, menjadikan Gemma tempatnya berbagi.
Tapi sayang, Gemma terlalu percaya diri dapat mengubah Gala. Saat ini Gala terlihat jengah dan sudah bosan.
"Kamu pulang aja Gem.”
"Kenapa aku harus pulang?"
"Aku udah nggak nyaman. Aku perlu sendiri sekarang. Besok aku bakal kasih kado."
Gemma melongo. Bukan ini yang dia inginkan di hari ulang tahunnya. Memang sih dia senang diberi kado. Tapi bukan seperti ini juga. Tidak romantis dan tidak berkesan, tidak ada unsur kejutan sama sekali.
Gemma tidak ingin pulang. Ini kesempatannya karena sang ayah tidak ada di rumah.
"Nggak mau!"
"GEM! Pulang!"
Gemma kaget saat dibentak dan dia pun refleks mundur beberapa senti.
"Atau..." lanjut Gala terhenti.
Gemma kira hanya sebatas membentak nya untuk pulang. Rupanya ada kalimat lanjutan. Gemma tidak sempat mengantisipasi sama sekali. Dia tahu kalau kalimat lanjutan ini tidaklah baik. Dia menatap Gala dengan sendu.
“Atau apa?!"
"Atau kita putus ..."
Kalimat itu sukses membuat Gemma tercenung. Sejurus kemudian, gadis itu langsung mundur teratur. Gala sungguh keras kepala, malam ini Gemma menyerah.
"Kita putus atau nggak, udah nggak ada bedanya sejak kamu berubah ..."
Giliran Gala yang terkejut. Dia menyangka kalau Gemma akan memohon.Tapi ternyata tidak. Gemma pun pulang tanpa pamit.
Sadar kalau ini tengah malam dan berbahaya untuk perempuan, Gala buru-buru mengambil kunci mobil dan berlari menyusul Gemma yang sudah keluar lebih dulu.
Tapi terlambat. Gemma sudah pulang.
...***...
Setelah beberapa hari perang dingin, Gemma memutuskan untuk mengalah.
Dia bersikap normal seakan malam itu tidak terjadi apa-apa. Melupakan kalau kejadian itu pernah ada.
Awalnya Gala masih merespon. Tetapi kemudian, Gemma tak menerima kabar apapun lagi dari sang pacar.
Gadis memutuskan untuk mencoba mendatangi Gala di rumah. Gemma masih belum menyerah dan berpikir kalau hubungan mereka masih berharga untuk dipertahankan.
Namun, beberapa kali cewek itu mengajak Gala untuk Jalan-jalan atau sekedar bertemu, cowok itu selalu menolak. Entah apa yang mendorong lelaki itu untuk menahan kata maaf dari mulutnya, dan tetap bersikap dingin pada Gemma.
“Ini dari siapa Bik?” tanya Gala saat dia menerima sebuah kado yang besar sekali dan tak ada nama pengirimnya.
“Dari Mbak Gemma, Mas …” jawab Bik Yana sambil mencuci piring. “Tadi datang ke sini pagi-pagi banget, Mas Gala masih tidur.”
Gala membuka apa yang jadi isi dari kado tersebut dan menemukan sebuah gitar akustik dengan kayu kecokelatan yang berkilau. Bukannya kemarin Gemma sudah memberikan uangnya untuk patungan dengan yang lain? Kenapa mesti ada hadiah spesial seperti ini lagi?
Gala menyentuh gitar itu dan dia langsung tahu kalau benda ini bukanlah merk sembarangan, dan tebakan Galla, pasti gadis itu telah menghabiskan seluruh uang hadiah lomba yang dimilikinya, untuk patungan jam tangan dan juga untuk gitar ini.
Yang membuat gitar ini berbeda adalah, tepat di bawah lubang suara, terdapat nama Gala dengan huruf sambung yang indah. Gitar custom dari merk seperti ini, pasti sangat jauh dari kata murah.
“Happy Birthday… Sorry for the late present. Hope you’ll like it.”
Begitulah isi note yang ditulis Gemma di sebuah kertas, yang ditempel pada hardcase gitar itu.
Ada sedikit senyum tercetak di bibir Gala. Tetapi lengkungan itu buru-buru menghilang begitu dia mengingat apa yang terjadi tempo hari.
Saat melihat Gemma memaksanya untuk terbuka, entah kenapa, Gala mulai merasa ilfil. Dia tidak lagi menemukan ketertarikan pada Gemma dan menjaga jaraknya dengan gadis itu.
Dan yang buat cowok itu jenuh, perhatian itu masih tetap ada hingga sekarang. Apa dia tidak mengerti kalau saat ini Gala hanya benar-benar ingin sendiri saja?
Mungkin Gemma benar, bahwa dia telah berubah, dan bahwa tidak ada bedanya buat Gala meski mereka masih berpacaran.
Namun kenyataannya, semua di negera ini sudah tidak menarik lagi. Bahwa Gala sudah bosan dan tak ingin lagi berhubungan dengan siapa pun. Termasuk dengan Febri, Niko dan lain-lain. Dia begitu frustrasi dan segera ingin keluar dari negara ini...
“Dua pilihan aja. NZ atau Aussie?” tanya Mona saat itu.
“Aussie…” ujar Gala datar.
Mona mengangguk pelan dan menyuruh asisten pribadinya untuk mengurus semua kepentingan Gala kedepannya.
Admission Letter sudah ada di tangan Gala, dan dia dinyatakan lulus IELTS* dan Entrance Test setelah mengikutinya di sebuah lembaga pendidikan dan bahasa di Jakarta yang bekerja sama dengan kampus sasarannya. Dan kini dia tinggal mengurus visa dan lain-lain saja.
Hatinya lega, batu loncatan yang paling sulit ini akhirnya mampu dia taklukkan.
Malam ini, dia ingin merayakannya, mencoba sesuatu yang tak pernah dilakukannya. Yaitu dugem.
“Tuh, Man! Ceweknya cantik-cantik!” tunjuk Stefan pada gadis-gadis yang sedang berjoget liat di tengah dance floor, mengikuti alur musik yang DJ mainkan dengan lihai.
Gadis-gadis dengan pakaian minim dan kekurangan bahan itu tampak nyaman-nyaman saja dan tak merasa risih sama sekali. Salah satu dari mereka, yang berambut panjang dengan kulit eksotik, melirik Gala dan menatapnya dengan menggoda.
Seketika itu juga Gala berdecih. Dia langsung menghabiskan birnya lalu menarik cewek itu menuju meja VIP di mana Gala, Stefan dan Marco duduk.
“Man, liar juga lo. Nggak pake ba-bi-bu langsung nyosor aja!” celetuk Stefan yang sedang ditarik-tarik seorang gadis menuju dance floor. "Untung si Rina bukan bokin orang!"
Salah satu yang masih waras di sini hanyalah Marco. Dia mengernyit melihat kelakuan Gala yang aneh sekarang ini, tak mengerti kenapa dia tiba-tiba ada bersama mereka di sini.
“Kenapa? Ada masalah?” tanya Gala ketus pada Marco.
Marco menggeleng dan menatap cewek tersebut. “Pergi lo, gue mau ngomong sama temen gue!”
Gadis itu berdecak kesal, namun menurut pada Marco dan berlalu begitu saja.
“Tanya sendirilah!”
“Terus, Gemma?”
“Kenapa emangnya?”
“Kalian udah putus, atau gimana?”
“Bukan urusan lo!” Gala meminum birnya sampai habis dengan kernyitan di dahinya.
Sebenarnya dia hampir tak pernah minum alkohol. Ini adalah pengalaman pertamanya dengan minuman itu. Maka, bir adalah satu-satunya minuman dengan alkohol terendah yang mampu ditoleransinya.
Lagi pula, usia Gala sudah legal untuk masuk tempat seperti ini, jadi harusnya, tidak jadi masalah kan?
“Ck!” Marco berdecak. Gala memang tak seperti biasanya. “Gue nggak tau ya, masalah lo sama cewek lo itu apa. Tapi dari gelagat lo yang kayak gini. Gue peringatin, Man! Selesain masalah lo pada dengan baik, jangan sampe entar lo nyesal!”
“Bacot!” umpat Gala sambil memesan gelas bir selanjutnya.
“Kalo Gemma jomblo, mending lo kasih ke gue. Gue masih cowok baik-baik, imut kayak marmut. Gue juga hormati cewek, gak pernah macam-macam sama mantan gue … Nggak kayak sepupu gue yang bajingan.”
Gala membenarkan dalam hati, bahwa Marco sebenarnya orang yang baik jika dibandingkan dengan sepupunya. Namun, meski mereka putus, jauh dari lubuk hati Gala, dia tidak rela melihat Gemma bersama siapa pun.
“Cari mangsa lain napa?!”
“Hahaha … Dahlah, jangan nyangkal lo kalo masih sayang. Diembat orang baru tahu rasa lo. Cewek cantik kayak gitu jarang ada yang jomblo. Kalo nggak dipacarin orang ya dinikahin orang.”
Mata Gala memicing mendengar perkataan Marco. Sebelah hatinya masih menjadikan Gemma miliknya, tetapi sebelah hatinya yang lain merasa kalau hubungan mereka telah kandas.
“Denger ya. Apapun yang jadi masalah lo, di sini nggak akan ada jawabannya. Mabok iye, kelar kaga,” ujar Marco yang langsung pergi meninggalkan Gala di sofa seorang diri.
Pukul 10 malam, Gala sudah pulang ke rumahnya. Dia tidak mendapati hal-hal menarik di klub malam tersebut. Tempat itu bukanlah dunianya, bukan circle-nya.
Sepertinya Marco benar, kalau dia seharusnya tidak lari dari masalah. Dan kalau dia memang ingin berpisah dari Gemma, dia harus membicarakannya baik-baik.
Mengingat kejadian nekat Gemma tempo hari, Gala jadi sadar akan sesuatu. Bahwa Gemma sama sekali tidak ingin menjalani hubungan LDR tanpa ada sesuatu yang mengikat.
Gadis itu begitu tidak ingin kehilangan dirinya. Tetapi hatinya saat ini tidak bisa dipaksa. Gala sudah kehilangan rasa pada semua orang.
Maka dia semakin yakin, kalau kepindahannya ke Australia adalah keputusan terbaik untuk berpisah dari gadis itu.
Baru saja dia meletakkan kunci mobilnya di nakas di lantai 1, tiba-tiba seorang satpam datang.
"Mas Gala... ada Mbak Gemma..."
Lah? Nih cewek ngapain malam-malam kemari? Eh... tapi kan panjang umur!
Gala segera pergi ke teras rumah dan menemukan Gemma sedang duduk di kursi jati, menunggunya.
"Gala..." sapa Gemma dengan senyuman. "Jam 7 tadi aku datengin kamu ke sini, tapi nggak ada."
Gala mengulum senyum dan mengajak Gemma duduk. "Listen, ada sesuatu yang mau aku sampein."
"Aku juga."
"Aku bakal kuliah di Aussie ..."
"Benarkah?" Mata Gemma melebar dan terlihat semakin berbinar.
"Ya."
"Aku seneng dengarnya," ucap Gemma sangat antusias. "Congrats... Anyway... Besok aku---"
"Gem. Let's break up."
Gemma termangu, dia menatap cowok itu dengan otak yang masih belum bisa mencerna semuanya.
"You ... You're joking, right?" ujar Gemma mencoba menertawakan omong kosong itu.
"I'm not..." jawab Gala datar.
Seperti deja vu, dulu kalimat di atas pernah Gala dan Gemma sebutkan saat menyatakan perasaan mereka. Sungguh miris karena kalimat ini terulang untuk menyudahi hubungan mereka.
"Tapi ... aku nggak mau."
"Kamu sendiri yang bilang waktu itu kita putus atau nggak, ya nggak ada beda. Aku cuma mau memperjelas status kita."
Gemma mencoba mengontrol napas yang menderu. "Aku... masih... Kita masih bisa kok---"
"Nggak ada yang bisa dipertahanin, Gem. It's over."
Gadis itu terlihat kesulitan menelan ludahnya saat ini. Dia masih mematung, belum mampu berkata apa-apa.
"Pulanglah Gem ... Sudah malam. Gue bakal minta Pak Fandi anter lo pulang."
Dan kata ganti panggilan itu berubah. Batin Gemma terasa tersayat begitu perih. Tatapan gadis itu jatuh meja jati di depannya. Bola matanya terlihat bergetar dan berkaca-kaca. Lidahnya kelu dan dia terlihat beberapa kali mengerjap-ngerjap tidak percaya.
Gala pun berteriak, memanggil Pak Fandi, sang sopir, yang kebetulan masih ada di rumah untuk mengantar gadis ini pulang, tanpa menoleh ke belakang lagi.
...***...
Dua hari kemudian...
Gala bangun cukup siang, sekitar pukul 10 pagi di weekend tersebut. Setelah mandi dan sarapan, Gala memutuskan untuk menelepon Febri setelah makan siang dan mengajaknya main PS di sini. Baru saja dia hendak mencari nama Febri, ponselnya sudah duluan bunyi.
"Halo Feb. Barusan gue mau nelpon. Main Pe---"
"Bro, kita ke rumah ya... ada sesuatu yang gue pengen kasih tau."
"Apaan?"
"Kita semua ke rumah. Sekarang..."
...****************...
*IELTS : International English Language Testing System disingkat IELTS adalah uji coba kemampuan berbahasa Inggris.