
“Udah siap?” tanya Indra pada Gemma yang sedang packing seluruh barang yang ada di apartemennya.
“Sebentar lagi,” jawab Gemma sambil memasukkan benda terakhir dalam kardus yang akan dibawanya.
Siang itu, keluarga kecil itu akan pindah ke apartemen baru. Permintaan absurd Gemma itu ternyata benar-benar dituruti oleh sang suami, Gemma masih speechless dan tidak menyangka kalau hari ini terjadi juga.
Sementara di belakang, Viani terlihat sangat bersemangat. “Papa, apartemen kita nanti lebih gede kan? Lebih luas kan?”
“Liat nanti ya, Sayang,” Indra lalu membuka pintu apartemen itu dan mempersilakan Viani dan Gemma keluar terlebih dahulu. "Kita angkat barang lain sama-sama ya, Sayang.” Ujar Indra sambil mengecup puncak kepala Gemma.
Wanita itu sendiri terlihat santai dan tak banyak bicara. Dia meremas pegangan koper tersebut, tak sabar melihat penampakan apartemen yang dijanjikan Indra untuknya.
Ya, Gemma memang meminta apartemen baru dari Indra.
“Aku mau… Apartemen yang mewah dan lebih besar dari ini dalam waktu tujuh hari… Kalau nggak, aku akan ajukan gugatan cerai!”
Indra masih mengingat jelas permintaan Gemma itu. Dia sungguh-sungguh ingin membuat istrinya senang dengan apa yang dibelikan dan dipersembahkan hanya khusus untuk sang wanita yang sudah lama mendampinginya itu.
“Loh, kita mau ke mana, Mas? Nggak ke mobil? Kita kan banyak bawa barang?” tanya Gemma yang tidak mengerti kenapa Indra malah menurunkan mereka di lobby dan berjalan terus keluar tanpa berniat untuk mengambil tangga turun atau kembali turun menggunakan lift lain menuju parkiran di basement.
“Kita langsung ke apartemen baru kita, Sayang… deket kok.”
Perasaan Gemma sudah mulai tidak enak kala Indra terus melangkahkan kakinya menuju ke seberang, tepatnya menuju ke tower B. Jangan bilang kalau…
Mulut Gemma menganga. Gemma berdiri terpaku saat dia menatap nanar lobby tower B dengan membawa dua koper besar berisi baju-baju miliknya dan keluarga kecilnya. Entah kenapa sekarang tenggorokannya terasa tercekat dan koper yang tadi di seretnya terasa begitu berat.
“Surprise, Honey… Apartemen kita yang baru, ada di sini. Aku rasa, kita nggak perlu jauh-jauh cari apartemen di tempat lain, karena unit di sini masih ada yang tersedia,” kata Indra yang bersemangat saat memberitahu istrinya bahwa apartemen mereka hanya pindah tower ke area yang lebih eksklusif.
Sial… Gemma memang menginginkan untuk pindah dari apartemen mereka yang lama, tapi bukan ke sini juga! Masa mau jadi tetangga sama Gala? Mau tak mau, Gemma mengikuti Indra dan Viani yang sudah menunggu mereka.
Tiba di lantai di mana di sana hanya ada 4 unit apartemen, Gemma, Indra dan Viani serentak keluar dari sana. Apartemen berjenis duplex itu terlihat mewah dan jauh lebih modern dari apartemen lama mereka. Begitu pula dengan balkon yang berada dekat dapur dan di lantai 2 yang begitu menawan, memberi cahaya dan angin segar yang lebih banyak untuk seisi apartemen itu.
Beberapa kali mereka bolak balik mengambil barang pribadi--seperti pakaian dan buku--dari apartemen lama mereka bersama-sama untuk mengisi apartemen yang sudah fully furnished tersebut. Waktu pun sudah menunjukkan pukul 4 sore, tak terasa sama sekali.
“Ini barang terakhir kan?” tanya Indra yang kemudian bersiap-siap mengunci apartemen lama mereka.
“Apartemen kita yang ini nanti mau diapain, Mas?”
“Ya dijuallah… Hasilnya buat nyicil apartemen baru kita.”
“Apartemen kita… dicicil?”
“Enggak juga sih sebenarnya. Cash installment* aja… biar nggak terlalu mahal.”
“Tapi, Mas… Emangnya kita mampu?"
“Udah, nggak usah kuatir, kamu terima beres aja. Aku bayar pake uang tabungan aku yang nggak kesentuh. Pernikahan kita lebih berharga daripada tabungan aku itu, Sayang!”
“Kamu… punya tabungan yang aku nggak tau?” tanya Gemma menatap Indra curiga.
Indra terlihat tenang. “Ya. Tabungan itu memang aku khususkan untuk sesuatu yang mendesak aja. Karena nggak pernah tersentuh, aku terus nabung di sana dan lama-lama jadi banyak.”
Sesampainya di lobby tower B, Gemma buru-buru berbalik dan menjauh dari Indra. “Aku mau ke toilet, udah nggak tahan!”
“Oke. Aku tunggu di atas ya,” jawab Indra dan Viani yang sudah menghilang dari balik lift.
Sang sales person properti yang stand by sore itu menyambut Gemma dengan ramah. Dengan berpura-pura sebagai orang yang sedang mencari apartemen, dia ingin menggali informasi berapa harga apartemen duplex yang dibeli oleh Indra dengan pembayaran tunai bertahap itu.
“Ini harganya 4,1 Milyar… kita bisa buat simulasi cicilannya, Bu.”
4,1 Milyar untuk seorang General Manager seperti Indra? Masa iya dia mampu? Gemma memang tak pernah kuliah, tapi bukan berarti dia tidak paham betul bagaimana kemampuan sang suami selama ini. Untuk mencicil apartemen yang lama saja, mereka sempat kesulitan kalau tidak dibantu oleh Philip dan Mira.
“Berapa banyak hal lagi yang kamu sembunyiin dari aku, Ndra?” tanya Gemma dalam diamnya saat berjalan kembali ke lobby tower B.
Berbagai pikiran buruk melintas dalam benak Gemma, membuatnya sempat terpikir yang tidak-tidak. Tapi bagaimana kalau yang tidak-tidak itu jadi kenyataan dan membahayakan dia dan Viani?
Gemma mengambil kembali box tadi dari meja resepsionis. Sedari tadi, dahinya tak berhenti terlipat, overthinking terhadap apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia sampai tak menyadari kalau ada sepasang kaki yang menghentikan pintu lift yang dia masuki tadi untuk menutup.
“Gemma?” kata sosok itu. “Kamu ngapain di sini?”
OMG! Sore itu, Gala berdiri lagi di depannya! Terhitung ini sudah tiga hari berturut-turut! Gemma menggerutu, mengeluh kenapa kebetulan itu selalu mengikuti Gemma dan Gala.
Di bahu pria itu tersampir sebuah duffle bag hitam kecil. Dari perkiraan Gemma, pria itu baru saja selesai berenang di kolam renang yang masih di area apartemen.
Sepertinya olahraga itu masih menjadi salah satu kebiasaan Gala. Rambutnya yang masih basah itu menambah kesan seksi yang hampir membuat iman Gemma goyah.
“Kamu yang ngapain di sini?”
“Loh, kamu lupa kalau aku tinggal di tower ini? Memangnya ada apa? Kamu rindu sama aku?” tanya Gala dengan seringaian menggodanya yang kembali menggetarkan hati Gemma dengan hebat.
Gemma tak dapat menahan wajahnya untuk tidak berubah warna. Dia memalingkan pandangannya dari pria itu dengan wajah bersemu, menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya sedang salah tingkah. “Nggak sama sekali. Pede banget kamu!”
Pria itu terkekeh pelan lalu memasuki lift yang sama dengan Gemma untuk membawa mereka ke atas. Tatapannya masih tak lepas dari wanita yang masih memegang erat box yang ada di tangannya. Gala tak bisa berhenti tersenyum. Dia begitu yakin kalau Gemma saat ini merasa gugup di sampingnya.
Mata Gemma membola saat Gala menekan tombol 20 di sisi kanan lift tersebut. Saking kagetnya, Gemma sampai tergagap, “Ka-kamu tinggal di lantai 20? Be-beneran di lantai 20?”
Gala menoleh pada Gemma, menatap wanita yang tingginya hanya sampai sebahunya itu. “Iya, benar. Emangnya kenapa?”
“Demi kambing guling!” umpat Gemma sambil berbisik. Mereka jadi tetangga? TETANGGA LITERALLY TETANGGA, OH MAI GAT! Artinya, Gemma dan Gala bisa-bisa akan sering bertemu! Gemma mulai panik.
Gemma cepat-cepat menutup mulutnya yang membuka karena terkejut untuk kesekian kalinya hari ini, dengan cara melipat bibirnya dalam-dalam. Hatinya mengaduh, tak habis pikir kenapa Indra harus membeli apartemen di sini?! Sungguh, Gemma ingin mengumpat dan menghajar suaminya sekarang juga!
“Sepertinya semesta berpihak pada kita ya, Gem…” kata Gala sambil menatap lurus ke depan, menunggu lift yang meluncur ke atas menuju lantai di mana mereka tinggal.
Jantung Gemma berpacu cepat dan membuat darahnya kocar kacir. Perkiraan kalau suaminya akan membeli apartemen di tempat lain ternyata salah besar. Dalam hati dia mengira bahwa pergerakannya akan lebih lega karena sudah menjauh dari Gala. Tapi nyatanya sekarang mereka malah makin dekat!
“Nggak ada ‘kita-kitaan’! Yang ada hanya ‘kamu’! Akunya lagi sial aja,” ujar Gemma ketus. Tapi pria yang di sampingnya hanya kembali tergelak, tak tersinggung sama sekali.
“Gem!”
Seketika wajah Gemma langsung menoleh pada suara tegas yang memanggil nama wanita itu. Mereka berdua sampai baru sadar kalau lift itu sudah sampai di lantai 20, di mana apartemen mereka berada.
Dan di mana Indra berdiri dengan kaku di hadapan mereka dengan tangan terkepal kuat.
...****************...
Cash installment* (cash/tunai bertahap) : mencicil rumah dalam jumlah besar dengan kurun waktu terbatas menggunakan fasilitas installment alias mencicil kepada developer tanpa harus memakai bank.
Gimana, Indra udah mulai mencurigakan belum?