Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
56. Aku janji, Mas!


Indra membuka matanya setelah tidur siang berkualitas yang cukup panjang. Dia menoleh ke kasur yang ada di sampingnya, menatap manik cokelat yang dari tadi memperhatikannya dalam tidur.


“Kamu tidurnya pulas banget, Mas…” kata wanita itu sambil membelai wajahnya.


"Ayo mandi, aku mau ajak kamu keluar," ujar Indra seraya mengambil handuk dan menatap nakal pada Ranita. Dia bermaksud memberi kode pada perempuan itu, tetapi urung karena ada yang lebih penting.


Setelah Indra berpakaian lengkap, dia mengambil ponsel dan memasukkannya dalam kantongnya, berikut dengan dompetnya, sambil menunggu Ranita yang masih bersiap-siap.


“Ayo, Mas…” ajaknya ketika dirinya telah siap. Gaun kasual itu terlihat begitu pas di tubuhnya yang sintal. Membuat Indra tak bisa melepaskan matanya dari body sang wanita.


“Cantik banget!”


“I dressed for you… Better than your little wife.” Ranita menyeringai sambil menggandeng tangan Indra.


Mereka sedang berjalan menyusuri titian yang menghubungkan resort mereka dengan area romantic dinner yang berada tepat di tepi pantai di mana sudah ada beberapa pasangan yang duduk di sana sambil menunggu jam makan malam tiba.


Ranita menahan langkah Indra untuk berdiri di ujung titian yang membentuk dermaga kecil, tempat bersandar speedboat yang mengantar para wisatawan pergi dan pulang.


“Siapa, Mas?” tanya Ranita saat ponsel Indra berbunyi dari dalam kantongnya.


Indra mengerutkan keningnya melihat nama Viani muncul di ponselnya dalam panggilan video. “Viani…”


“Jawab aja, Mas. Bilang aja lagi bareng sama teman-teman kantor.”


Indra pun menjawab panggilan Viani. Anak itu terlihat begitu bahagia dan santai. Pria itu melakukan apa yang Ranita sarankan tadi. Bahkan dengan tanpa rasa takut ketahuan atau canggung, Ranita dengan berani melambai pada Viani.


“Rita!” pekik Indra memanggil nama kecil Ranita.


“Apa? Nggak bakal ketahuan! Aku kan teman kantor kamu juga, ingat?”


Indra menyerah dan masih memperhatikan obrolan Viani dan Ranita. Kalau sampai wanita itu terlalu gamblang dan keceplosan, Indra benar-benar akan meninggalkannya.


Setelah panggilan itu berakhir, Ranita mengembalikan ponsel itu pada Indra.


“Udahlah Mas… Nggak akan ketahuan.”


“Aku kan udah bilang, aku belum siap, Rita. Kita harus hati-hati. Aku nggak bisa pisah dari Gemma sekarang! Aku juga nggak mau kehilangan Viani.”


“Kamu nggak akan kehilangan Viani! Aku bahkan jauh lebih dekat dengannya ketimbang ibunya sendiri. Aku janji, Mas. Dan kamu juga harus janji, kalau kamu akan segera ninggalin istri kamu yang jelek itu.”


Kalimat itu membuat Indra menoleh dan menatap Ranita dengan jengkel.


“Jangan jengkel kayak gitu dong, Mas. Nanti makan malam kita nggak enak gara-gara mood kamu jelek. Nggak usah dipikirin terlalu dalam. Aku yakin Viani baik-baik aja.”


Wanita itu berjinjit, dan mencium Indra tepat di bibirnya dengan lembut, seperti pada awalnya cinta mereka terpercik dan bersemi di kantor Rapidash Express.


“I love you! Aku nggak sabar jadi ibu buat Viani. I always want to be a mother.”


Tahu pasangannya masih bad mood dengannya, Ranita memperdalam ciumannya dan membuat pria itu mulai bergerak tanpa sadar.


“I’ll be back,” ujar Indra yang meninggalkan ponselnya di atas meja.


Sekembalinya Indra dari toilet, mereka melanjutkan kegiatan mereka. Bersantai di meja yang telah disiapkan untuk makan malam sambil menikmati sunset yang begitu indah.


Dinner yang mereka habiskan juga terlihat begitu romantis, penuh kehangatan dan kemesraan, sampai semua orang begitu iri. Indra benar-benar seperti seorang pria jantan yang begitu memanjakan Ranita. Dia bak seorang ratu yang paling berharga.


“Desert-nya,” ucap seorang waiter sambil menyodorkan dua buah gelas es krim sebagai makanan penutup berupa es krim vanilla dengan cherry dan wafer cokelat.


Ranita mengambil sendok yang tertancap di es krim itu dan memakannya sambil menikmati live music romantis yang mengiringi makan malam mereka. Mata wanita itu begitu berbinar saat mendengar suara merdu sang vokalis menyanyikan lagu Marry You milik Bruno Mars.


“Mas… Suaranya merdu banget ya…”


Ketika Ranita menolehkan pandangannya pada Indra, dia mendapati kursi tersebut kosong, dan menemukan Indra sudah berada di sampingnya, berlutut sambil memegang sebuah kotak di tangannya.


“Marry Me?” tanya Indra dengan tatapan penuh harap.


Tangan kanan Ranita spontan membekap mulutnya yang hampir mengeluarkan pekikan panik. Tanpa ragu lagi, wanita itu mengangguk-angguk. “Yes… OMG, YES!”


Indra menarik tengkuk Ranita dan menciumnya dengan mesra, lalu menyematkan cincin itu pada jarinya.


“I love you…” bisik Indra dengan penuh cinta.


“I love you too…” Ranita kembali menunduk dan mengulang ciuman mesra itu.


Mereka kembali ke kamar mereka setelah menikmati makan malam itu hingga selesai.


Sambil tersenyum, dia menatap cincin berlian itu. Cincin yang sudah pasti mahal dan amat berharga, tersemat di jarinya. Membuatnya merasa menang di atas peperangannya melawan Gemma, sang istri yang tak pernah dianggap oleh kekasihnya. Yang tak pernah dibelikan apa pun serta dimanjakan dalam hal apa pun. Dia beruntung. Sangat beruntung.


Tetapi mood mereka yang sedang baik saat ini dengan mudahnya berubah karena sesuatu yang menjadi kesalahan Ranita.


Begitu Indra mengecek ponselnya, keningnya terlipat, matanya memicing dan alisnya menukik tak senang.


“Apa-apaan ini, Rita?”


Ranita mengangkat kepalanya. “Kenapa, Mas?”


“Kamu ngirim apa sama Gemma? Pesan apa yang kamu kirim sampai kamu hapus semua?”


Ranita menarik sellimutnya. Ekspresinya berubah dari puas, menjadi sendu. “Aku hanya lelah jadi bayangan terus, Mas.”


“Aku udah bilang, Rita… Kalau nggak bisa sekarang! Kita harus tunggu satu tahun lagi. Begitu umur aku 44, kita bisa bebas! Kalo sekarang, gimana? Bisa-bisa rencana aku hancur dan kita nggak dapat apa-apa!”


“Mas! Aku udah nggak tahan! Apa kamu nggak cinta sama aku? Kamu bisa ngomong sama Gemma kan? Kamu ikat dia dengan Viani biar dia nggak bisa lepas dari kamu dulu selama setahun ini!”


“Tapi kamu itu tetap aja gegabah!”


Tetes air mata langsung membasahi pipi Ranita. “Maaf, Mas… aku salah! Aku salah! Aku hanya terlalu cinta sama kamu. Aku nggak tahan selalu disembunyikan, Mas!”


“Bukannya selama ini semua orang taunya kamu yang jadi istri aku? Kurang cukup apa pengakuan dari aku, Rit?”


“Mas! Aku butuh kepastian!”


“Lalu, apa cincin itu nggak ada artinya buat kamu?”


Ranita terdiam, dia masih terisak dengan tangisannya yang semakin dalam.


“Apa kamu kirim foto?”


“Iya…”


“Kamu perlihatkan wajahmu?”


“Nggak…”


“Kalau begitu kita masih aman.”


“Maksudnya aman gimana, Mas?”


“Aku mohon, kamu jangan gegabah lagi. Kalau aku sampai cerai dari Gemma sebelum waktunya, aku nggak segan-segan untuk tinggalin kamu!”


“A-aku janji, Mas…”


...****************...