
Gemma begitu terpukul setelah kepergian Yahya. Wanita itu mengira kalau dengan membenci Ayahnya itu, maka akan cukup untuk tidak menangisinya setelah dia meninggal.
Tapi Gemma salah besar. Dialah orang paling dirundung duka. Dia dan Marni tentunya, wanita yang menangis paling nyaring di pemakaman Yahya.
Yahya dimakamkan di pemakaman yang sama dengan Mitha, hanya beberapa meter jaraknya.
Awalnya Gemma memang sempat tidak menerima. Untungnya kehadiran Gala dan salah satu anak Mona yang masih balita bisa membuat perhatian Gemma teralih. Dia jadi sedikit bersemangat lagi dan mau melanjutkan persiapan pernikahan mereka yang sempat tertunda.
Ditambah lagi, amanat terakhir dari Yahya adalah, pernikahan mereka tak boleh ditunda sama sekali apapun yang terjadi pada pria tua itu nanti.
Dua minggu berlalu. Gala, Gemma, Viani dan Marni masih rutin mengunjungi makam sang Ayah.
“Ayah, kami datang,” ujar Gala. mereka kini berdiri berdampingan bersama dengan Viani di akhir pekan itu seraya menabur bunga.
Cucu tunggal Yahya itu juga masih sering menangis kalau ingat-ingat kematian sang Opa yang baru saja ditemuinya. Tentu saja kejadian Yahya pingsan kemarin begitu membekas dalam hati remaja tersebut. Baru saja bertemu, Opanya langsung anfal, bahkan tak lama kemudian meninggal dunia. Cucu mana yang siap, coba?
Sedangkan Marni, jangan ditanya. Wanita itu masih setiap hari menangis. Satu kalimat yang selalu diulang-ulang oleh perawat yang sedikit ceplas-ceplos itu adalah, “Bang. Kenapa kamu tinggalkan aku? Siapa yang gaji aku nanti, Bang?”
Antara sedih atau geli, Gala langsung menenangkan. “Udah Bu Marni tenang aja. Nanti kerja sama kita, oke?”
Dan pria itu hanya pasrah saat ditangisi oleh wanita bertubuh bongsor itu.
“Huuu! Baaaaaangggg!! Bang Yahya!!” saking histerisnya dia sampai-sampai Gala hampir jatuh menahan bobot tubuh Marni. Wanita itu memeluk Gala erat-erat, tak peduli dengan sekitarnya yang sedang ramai pengunjung. “Nggak ada lagi yang minta Pecel Lele sama aku, Bang! Aku sendirian makan Pecel Lele di Kalideres, Bang!”
Viani sampai berhenti menangis. Sedangkan Gala menahan tawa dan bernostalgia saat dia datang ke rumah Yahya pertama kali dan meminta izin padanya untuk mengajak Gemma jalan.
“Pecel Lele sambal pedes,” gumam Gemma sambil melirik Gala yang tersenyum ke arahnya.
Saking kuatnya pelukan Marni, lelaki ini tak punya pilihan lain selain memeluk balik Marni dan menenangkannya.
“Udah-udah, Bu,” Awalnya Gala sudah membayangkan kalau Gemma yang nangis-nangis di pelukannya. Kini, dia malah memeluk makhluk spesies lain. “Kalo keseringan makan Pecel Lele, entar sakit kayak Ayah, mau?”
Hampir tidak ada korelasinya. Tapi sejak saat itu, Marni berhenti makan Pecel Lele.
Setidaknya, wanita itu menjauhkan satu hal yang dapat membangkitkan kenangannya bersama Yahya.
...***...
Segala persiapan telah dikerjakan dengan baik meskipun terkesan kebut-kebutan. Tim wedding planner dan organizer bahu membahu mewujudkan pernikahan impian pasangan—ralat, impian Gala. Gemma hanya ingin pernikahan mereka terkesan sederhana, simpel, no ribet-ribet dengan undangan sedikit.
Tapi ‘sederhana’ versi Gala dan ‘sederhana’ versi Gemma itu jauh berbeda. Diam-diam, pria itu tetap saja menghabiskan dana yang banyak. Desainer, fotografer maupun suvenir, semua dikerjakan oleh orang-orang terbaik dan termahal di negara ini.
Untuk urusan foto, belum apa-apa, Gemma sudah mengeluh dengan pilihan konsep foto pre wedding yang benar-benar menyita waktu.
Akhirnya Gala mengalah. Gemma lebih memilih beberapa konsep kasual dengan tempat-tempat santai, yang menurutnya tidak ribet dan tidak memakan waktu. Yang pertama yaitu di dapur!
Gala memakai celana jeans dan sweater putih, sedangkan tunangannya memakai baju model boho yang menampilkan bahunya. Wanita itu telah siap dengan riasan naturalnya plus rambut yang tergerai bebas.
Gemma seakan enteng saat minta hal yang sederhana, tapi ternyata ini di luar ekspektasinya. Bukannya ribet lagi. Konsep itu ternyata bukan segampang yang dia kira.
Mereka harus mencari kitchen yang cocok untuk disewa, dan menambah beberapa peralatan di sana. Ditambah lagi wanita itu ternyata terlalu kaku di hadapan kamera.
Sesi pura-pura masak bersama itu berhujung gagal total.
Setelah beristirahat dari sesi yang panjang akibat kecanggungan Gemma yang tak habis-habis, mereka kini duduk di living room apartemen yang jadi tempat mereka berfoto dan menikmati makan siang bersama tim fotografer.
“Hmm… Mana katanya yang nggak pengen ribet. Ini jadi panjang gegara siapa?”
Gemma cemberut, “Kamu ih! Kamu kan tau kalo aku nggak akrab sama kamera!”
Sang fotografer lalu mengkode pada timnya untuk bersiap karena makan siang telah berakhir. Gemma dan gala mengikuti mereka menuju kitchen set.
“Ngomong-ngomong, Gem, kamu kok jadi kepikiran di dapur gini?”
“Nggak tau, pengen aja. Menurutku simpel. Lucu.”
Tetapi Gala menanggapi tunangannya dengan cara berbeda. Dia menyeringai, “Hmm… Aku tau kenapa kamu mau pre wedding-nya di sini.”
“Kenapa emang?”
Ditariknya pinggang wanita itu sampai tak ada jarak di antara mereka lalu mendudukkan wanita itu di counter, seraya menyatukan keningnya dengan kening Gemma.
Dikecupnya bibir sang tunangan tepat dihadapan orang banyak. Gala tak peduli jika mereka jadi pusat perhatian, karena itu yang dia mau.
“Kamu keingatan ciuman pertama kita setelah 15 tahun yang di apartemen aku itu kan?”
Gemma menatap mata Gala lekat-lekat dengan mata hijaunya yang bulat menahan malu. Ingatan itu masih jelas terpatri di otak Gemma. Saat dia memakai kemeja kebesaran milik Gala yang jatuh sampai setengah pahanya dan saat pria itu tiba-tiba nyosor menciumnya.
Pipi Gemma langsung bersemu merah alami. Gala menatap wanita itu dengan senyum mengembang dan lesung pipi yang semakin dalam.
Sang fotografer tak ingin membuang momen mesra itu begitu saja. Dia menekan tombol pada kameranya, menangkap setiap detik momen itu sebanyak-banyaknya.
...****************...