Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
S2 Bab 10 – Chat Balasan


Nggak ada yang lihat mereka kissing kok. Cuma kerekam kamera CCTV tetangga 🤪


Pegangann ya, ada badai di depan soalnya wkwkwkwk⛴️⛴️⛴️⛴️🌪️🌪️🌪️🌪️🌊🌊🌊


...***...


“Ngapain hayoo?!”


Suara Hana memekakkan telinga Viani yang sedang duduk sendirian di perpustakaan, sedang menunggu Vincent yang katanya ingin belajar bersama.


Saat itu, Viani memang sedang melamun, sambil mengusap-usap benda tangan kirinya. Dia teringat sebulan yang lalu, Vincent menggandeng tangan itu saat menyeberang jalan, beberapa jam sebelum mereka saling menyatakan perasaan masing-masing. Viani tak bisa berhenti memikirkan hari itu, terlalu bersejarah baginya.


“Lagi baca kok,” elak Viani sambil mengangkat buku yang dia pegang.


Hana berdecak. “Elah! Paling lagi ngekhayal Vincent!”


“Emangnya elo nggak pernah gitu ngekhayal Harry?”


“Berarti bener, haha!” Hana menunduk dan berbisik penasaran, “Lo udah cip*okan belom sama Vincent?”


“Hana!” Viani menepuk lengan temannya yang terlalu ingin tahu. “Nggak sopan ih!”


“Gue cuma mau tau!” rengek Hana. “Kalo gue sih, udah …”


“Nggak mau tau deh gue! Sstt!” Viani membungkam bibir Hana dengan telunjuknya.


“Ini apaan? Tumben lo pake jam tangan beginian. Biasanya lo suka yang sporty,” ujar Hana lagi yang tak bisa menahan rasa penasarannya pada cewek yang sedang bucin ini.


Tapi kali ini Viani tidak mengelak komentar itu, dia malah tersenyum manis pada jam tangan dengan model feminin itu. Sebuah jam tangan analog dari merk Daniel Wellington berwarna hitam dengan strap stainless—yang sama sekali bukan seleranya, tapi kini begitu berharga.


“Sorry, aku belum bisa ngasih kamu yang lebih bagus,” katanya seraya menyerahkan kotak jam tangan tanpa dibungkus terlebih dahulu itu pada Viani, tepat pada peringatan sebulan mereka jadia . “Ini hasil aku kerja paruh waktu di bakery Mamaku selama weekend. Kalo aku gajian lagi, nanti aku beliin yang lebih mahal dari ini.”


Lelaki itu tidak bohong, Erika memberitahukan Viani langsung dan bahkan memfoto Vincent saat dia tengah kerja keras mencuci piring, menyapu dan jadi kasir di sana pada hari Sabtu-Minggu mulai pukul 9 pagi sampai 4 sore.


Meski ada unsur insecure, tapi Vincent masih mencoba memberi semampu yang dia bisa untuk Viani. Bagi gadis itu, pemberian ini sudah terlampau manis. Viani tak peduli seberapa besar nilai yang ada pada jam tangan itu meski sang ayah bisa membeli pabrik jamnya jika dia mau. Dia sangat terkesan pada effort yang Vincent jalani untuk memberi gadisnya hadiah yang layak, meski bukan pada saat hari ulang tahunnya.


Lucunya, Viani juga memberi benda yang sama. Casio Pro Trex analog digital berwarna hitam orange yang begitu keren kini melekat di tangan Vincent. Sejak saat itu, Vincent selalu memakai jam tangan pemberian Viani yang memiliki fitur cukup canggih tersebut.


“Eh tuh, Vincent datang!”


Kepala Viani otomatis mendongak, mengarah ke titik semu yang ditunjuk Hana.


“Kena, weee!!”


“HANAAAA!!”


***


Siang itu, Viani dengan ciri khas baru, yaitu jam tangan hitam di tangan kirinya, mendatangi Vincent di kelas sebelah. Dia bermaksud meminjam buku catatan Biologi karena kemarin dia sempat tidak masuk karena sempat sakit selama sehari akibat alergi telur. Sekaligus hendak memberitahukan Vincent tentang rencana malam ini.


“Vi …” sapa Vincent yang tersenyum melihat kekasihnya duduk di sebelahnya. Dia menurunkan komik yang dia baca dan segera mengalihkan fokusnya pada Viani.


“Kenapa aku nggak didatangin di kelas?” tanya Viani.


Vincent menggaruk kepala belakangnya. “Sorry, tadi aku keasikan baca ini …” dia mengangkat buku bergambar tersebut.


Bibir Viani maju dua senti.


Vincent yang gemas langsung mencubit pipi Viani. “Jangan ngambek dong …”


“Lepas, ih …” Viani melepaskan tangan Vincent yang masih bertengger di pipinya. “Denger … Entar malam jadwal makan-makan geng bokap kita. Kamu ikut kan?”


“Ooh … Emang kenapa?”


“Nggak pa-pa. Kita jadi bisa ketemu … “ kedua tangan Viani bertumpu pada meja dan memperhatikan wajah Vincent dengan mata bulatnya yang begitu polos. Saat Vincent terdiam, Viani mengangkat kepalanya. “Kok nggak semangat gitu, Vin? Kan selama ini kita hampir nggak pernah nge-date di luar. Kalo dihitung, cuma satu kali doang.”


“Kata siapa aku nggak semangat?” Vincent menggeleng pada pendapat Viani, menjulurkan tangan dan mengusap puncak kepala Viani. “Lagi mikirin outfit malam ini. Biar keliatan gagah di depan kamu.”


“Kamu pengen jalan?” tanya Vincent lembut.


“Jalannya sama kamu …” koreksi Viani. “Tapi biarlah malam ini kita ketemu kayak biasa dulu.”


“Baiklah,” Vincent mengangguk, mengiyakan permintaan kecil dari sang pacar yang tak pernah meminta aneh-aneh.


Setelah itu, Viani pun benar-benar meminjam buku catatan Biologi milik Vincent.


...***...


Di sebuah restoran di mal Grand Indonesia, mereka sudah berkumpul dan telah selesai makan malam bersama.


Pertemuan itu berlangsung riuh seperti biasanya. Gemma menepuk paha bayi Geraldo yang yang tertidur dengan nyaman pada stroller-nya. Sedangkan Febri sedang sibuk-sibuknya mengejar Briana yang tak bisa diam semejak bisa jalan, membiarkan Diana menggibah bersama Erika hingga tertawa terbahak-bahak.


Vincent kali ini benar-benar terlihat gagah. Tubuh remaja itu dibalut dengan celana pendek cargo selutut dengan sneakers plus sweater putih yang membuat wajah tampannya terlihat semakin terang. Sedangkan Viani masih tetap girlish dengan Velcro sneakers favoritnya dan dress floral kuning yang jatuh hingga ke lutut, dipadukan dengan jaket jeans lengan pendek.


Duduk berseberangan, mereka saling pandang-pandangan dengan kedua kaki yang saling bersentuhan. Saling melempar senyum malu-malu yang membuat siapa saja gemas. Tak terkecuali Erika yang tak sengaja menangkap momen itu dengan kedua matanya.


Dia melihat mereka bagai bercermin pada masa lalu, saat pertama kali jatuh cinta pada ayah Vincent. Bukan backstreet, hanya pacaran tanpa pengumuman, bahkan tidak memberitahu Gala dan Febri. Begitulah hubungan Viani dan anaknya sekarang, hampir mirip dengan hubungannya dulu. Hanya saja, minus s*eks.


Obrolan itu semakin lama semakin ribut hingga membuat Gemma—yang duduk di sebelah Gala—jadi kehausan. Dia mengambil gelasnya dan langsung menenggak air di dalamnya hingga tandas. Tangannya meletakkan benda itu saat ekor matanya menangkap sesuatu yang asing.


Dilihatnya Viani sedang sibuk bermain ponsel, begitu juga Vincent. Mereka tak banyak mengobrol seperti biasanya. Lalu saat Vincent pergi ke toilet, Gemma bergeser mendekati Viani.


“Mama nggak pernah lihat ini deh,” ucapnya pada sang anak. Matanya merujuk pada jam tangan yang melingkar manis di pergelangan Viani.


Seketika wajah Viani memerah. “Ini dikasih seseorang, Ma …”


Ekspresi Gemma jadi terlihat antusias, “Oh ya? Dari siapa? Kok nggak cerita?”


“Dari Vincent, Ma. Tapi please,” Viani memasang gestur dengan telunjuk yang menempel di depan bibirnya.


"Kenapa, Sayang?" tanya Gala.


Gemma tersenyum. "Nggak ada apa-apa."


Tentu saja sang ibu mengerti. Dia mengedipkan mata kirinya pada Viani dan kembali pada percakapannya yang alot dan seru.


...***...


Selesai makan, tiba-tiba Gala melihat salah satu ban mobilnya kempes. Dia membuka bagasi dan mengeluarkan dongkrak, dan kunci.


“Vincent bantu, Om …” Remaja itu buru-buru membantunya mengeluarkan ban cadangan.


Viani pun berdiam diri, mengamati interaksi antara Vincent dan Gala sepuluh meter dari tempatnya, Gemma, Erika, Febri dan Diana berdiri, menunggu Gala selesai dengan ban serep itu. Dalam hati, dia cukup senang karena Vincent mau mencoba melakukan pendekatan pada ayah sambungnya.


15 menit kemudian, semua selesai. Gala memanggil Gemma dan Viani agar mereka bisa pulang.


Gadis itu buru-buru mendatangi sang kekasih hanya untuk menyampaikan pamitannya. “Aku pulang Vin … Sampai jumpa besok ya …”


Vincent menghapus peluh yang ada di kepalanya. Dia menatap Viani dan mengangguk seraya tersenyum samar.


***


Viani duduk di depan meja belajarnya setelah menyimpan seluruh buku pelajarannya untuk besok. Dia memandang ponselnya yang sedari tadi sepi.


Dia sudah mengirimkan pesan pada Vincent, mengucapkan selamat malam dan semoga mimpi indah. Tak lupa dia bilang kalau dirinya menyayangi laki-laki itu. Pesannya sudah centang biru, dan posisi akun kekasihnya adalah online.


Tapi hingga satu jam, tak ada chat balasan dari Vincent.


Vincent memang sering begini, online tapi ketiduran dan baru membalas pesan Viani keesokan harinya. Mengatakan selamat pagi dan juga berkata kalau dia menyayangi Viani.


Tapi hingga pagi menjelang, selesai sarapan, bahkan dalam perjalanan ke sekolah, pesan itu tidak terbalaskan.


...****************...