Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
S2 Bab 42 - Yang Terjadi


"Astaga, Viani!"


"Sayang!!"


"Dia kejang!"


"Niko!!"


"Tolong anakku, tolong!"


Alvin, Vincent, Gala, Gemma, Erika dan Indra yang telah berkumpul di sana memekik hampir bersamaan saat melihat tubuh Viani mulai menggelepar di atas kursi roda.


Vincent dan Niko langsung melakukan penanganan ditemani oleh beberapa perawat yang kebetulan lewat.


Belum selesai masalah bayi mereka, ibunya kini dalam kondisi memprihatinkan. Kejang-kejang itu membuatnya terbaring di ICU selama sebulan lamanya.


Kesehatan Viani dan bayinya benar-benar menguras mental semua keluarga besar. Setiap hari, mereka harus dihadapkan pada kenyataan bahwa Viani bisa Tuhan ambil kapan saja.


Sebaliknya, kabar baik datang. Bayi mereka dinyatakan membaik, saturasi dalam darah meningkat, hingga dua minggu kemudian, bayi itu tak lagi mengenakan ventilator. Sedikit demi sedikit, bayi itu mulai belajar menelan ASI dari pendonor dan tak lagi menggunakan selang.


Semakin hari, bayi mereka semakin membaik, hingga selang NGT itu akhirnya dilepaskan. Berat badannya mulai naik menuju ambang batas normal.


Perkembangan bayi mereka sungguh luar biasa. Lalu beberapa hari sebelum Viani sadar, bayi itu akhirnya dipindahkan ke ruang rawat biasa.


Setiap hari, Vincent selalu berada di samping Viani bergantian dengan Gemma, Indra, dan Erika. Semua pekerjaan dilakukannya secara jarak jauh. Seringkali asistennya datang untuk membawa dokumen yang harus ditanda tangani langsung.


Sedangkan Niko, hampir setiap hari memantau keadaan Viani. Beberapa teman dokter spesialis terbaik dikerahkan untuk mengusahakan kesembuhan Viani.


Sempat terbersit di pikiran Gala untuk membawa Viani ke luar negeri saja. Tetapi setelah berunding dengan Niko dan Indra, Gala akhirnya tetap membiarkannya di Indonesia, di mana Niko bisa dengan bebas merawat Viani sampai ibu dari cucunya itu sembuh. Hitung-hitung sebagai ungkapan rasa tanggung jawabnya pada Viani--lebih tepatnya rasa bersalah.


Dan hari ini, satu bulan lebih beberapa hari, Viani akhirnya dapat menempati kamar biasa setelah sadar dari koma.


"Ini bayi siapa, Vin?" tanya Viani yang masih bengong.


Vincent mendekati istrinya dan memberi kecupan singkat. "Dia seorang pejuang, Sayang. Sama seperti kamu!"


Mata Viani membesar dan berkaca-kaca. Benarkah itu bayinya? Bayi mereka? Buah cintanya dengan Vincent?


"Aku mau duduk, Vin ..."


Dengan penuh kehati-hatian, Vincent membantu istrinya agar dapat lebih jelas menatap sang bayi yang kini sudah terbaring di sampingnya, sedang tertidur pulas setelah mandi pagi. Dengan menaikkan posisi brankar, akhirnya Viani dapat melihatnya.


Hidung itu, mata, kulit, bibir, bentuk wajah tirus dan mata sipit yang begitu manis tersebut adalah semua milik Vincent. Tak salah lagi, ini bayi mereka!


Seketika, Viani langsung merinding saat melihat replika mini sang suami itu bergerak dan menunjukkan tangan mungilnya terbalut sarung tangan berwarna pink yang imut.


"My ... baby?? My Babyyyyyy!!" pekik Viani dalam rasa hari yang membuncah dan meluap-luap.


"Kamu bikin dia kaget, Sayang!" ujar Vincent yang kemudian meraih bayi tersebut dan menggendongnya dengan hati-hati.


Air mata Viani berhenti mengalir. Kemudian, dia menggigit bibir bawahnya, merasa bersalah dengan tindakannya yang mendadak terpekik nyaring dan menyebabkan anak mereka menangis.


"Ma-maaf ..." cicitnya segan dan merasa bersalah sambil memperhatikan anak mereka dengan rasa cemas. Seketika dia jadi insecure dan amat meragukan diri sendiri, apakah bayi itu mau bersamanya? Atau justru anaknya akan terus menangis.


Vincent pun terkekeh pada perkataan Viani. Dia tahu apa yang ada dalam pikiran Viani, sejujurnya tadi dia hanya iseng saja. "Coba sekarang kamu yang gendong, siapa tau dia diem."


"Bolehkah?" tanya Viani dengan mata membola namun kembali menyendu dengan tidak percaya diri. "Aku takut dia nggak suka sama aku."


"Kamu bicara apa sih?" Vincent yang tak mau tahu langsung menyodorkan bayi itu pada Viani.


"Aku nggak bisa. Nggak tau cara gendongnya," cicit Viani lagi sambil menggeleng.


Dengan lembut dan penuh kasih sayang, Vincent meraih tangan Viani dengan sebelah tangannya, membuat kedua tangan itu siap untuk menerima bayi mereka untuk direngkuh pertama kali.


"Kamu bisa, kamu adalah ibunya, ibu dari anakku. Ini anak kita!" Vincent menunduk dan mengelus pipi bayi merah yang masih menangis itu. "Ini Mama kamu, Sayang. Mama sudah bangun dari bobo panjang."


Perlahan, bayi itu akhirnya sampai di tangan Viani. Dengan insting dan naluri yang langsung muncul, Viani menepuk pelan tubuh bayi itu hingga tangisnya berhenti.


Viani terpana pada mata itu. Kemudian, Viani melepas salah satu kaus tangannya dan mencoba menyentuh jemari kecil dan lemah tersebut. Bagai sudah mengenal, bayi itu langsung menangkap telunjuk Viani dan menggenggamnya erat.


Ibu muda itu jadi semakin terharu. Hampir-hampir tak percaya dengan keajaiban Tuhan yang ada dalam dekapannya.


Boleh kan, kalau dia menyebut ini keajaiban? Ini mujizat buat Viani karena dapat melihat bayinya selamat dari maut.


"Hai Baby. Ini Mama," ucapnya sambil mengelus tangan mungil bayinya. "Lembut sekali kulit anak Mama. Kamu ganteng sekali, Sayang."


Vincent terkekeh sambil duduk di sisi kosong ranjang Viani, turut ingin menyaksikan momen pertama kali Viani bertemu dengan anak mereka. "Dia perempuan, Vi! Masa lupa sih?"


"Oh iya lupa! Habis ini mirip banget sama kamu. Copycat kamu banget!"


"Ya iyalah, kan anak aku! Masa anak tukang beling!"


Viani tertawa pelan. Setelah puas memandang wajah bayi mereka, Viani pun akhirnya tak bisa menahan diri. Dia harus mengembalikan bayi itu ke box bayinya. Tubuhnya masih terlalu lemah untuk dalam posisi setengah duduk yang lama.


"Istirahatlah Sayangku. Ibu dari anakku," bisik Vincent lembut sambil mengecup puncak kepala istrinya dengan sayang.


Hari ini, adalah hari di mana Vincent tak henti-hentinya mengucap syukur pada Tuhan karena sudah memberikan kesempatan pada dirinya berkumpul dengan keluarga kecilnya.


Tak lama kemudian, Gemma, Indra, Gala, Erika dan Niko datang. Menyambut bayi sekaligus ibunya yang telah sukses melewati masa kritis.


...****************...