Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
18. Duka


Saat ini, Gala sedang bersimpuh di hadapan gundukan tanah yang baru saja ditumpuk. Matanya berkaca-kaca, dan air bening itu semakin merembes kala melihat nama Bobby Aditya tertulis jelas di nisannya.


Bobby Aditya meninggal dunia selang koma selama dua hari. Saat beliau meninggal dunia, dunia Gala serasa runtuh. Dia seperti kehilangan pegangan dan tak tahu kemana harus melangkah atau bersikap. Gala hancur, hatinya remuk sampai ke tulang-tulang.


“Saya turut berdukacita,” ucap salah satu pelayat sambil mengelus pundak Gala.


Sementara satu persatu para pelayat akhirnya pulang, Gala dan Mona masih berada di sana, saling berhadapan dengan pusara sang papa yang berada di tengah. Air mata Mona sudah habis. Dia begitu terpukul dan sempat pingsan pada hari pertama Bobby disemayamkan di rumah duka.


Sedangkan Gala, masih bisa memijakkan kakinya. Telinganya selalu menerima kata demi kata yang menguatkan dari Yosef, Arni, Gemma, keluarga yang lain dan juga teman-temannya yang lain.


Tapi saat ini, bukan itulah yang dia inginkan. Dia ingin sendirian. Sulit baginya untuk menghadapi semua ini dan menghadapi para pelayat yang datang silih berganti dan harus menjelaskan hal yang sama berulang-ulang tentang kenapa Bobby meninggal, kenapa tidak dibawa ke luar negeri, kenapa tidak pengobatan ini dan itu saja, dan sebagainya.


“Sialan,” maki Gala pelan tanpa di dengar orang lain. Kenapa mereka tidak menyampaikan rasa dukacita dan segera angkat kaki saja?


Seketika, amarah meninggi dalam dadanya. Dia begitu marah… marah karena ditinggal begitu saja oleh orangtuanya. Marah karena banyak orang yang tak mengerti dengan rasa duka yang dia miliki.


Rumah Gala dan Mona ramai, ada banyak yang mengajak mereka bicara sebab seluruh keluarga besar menginap. Tetapi hanya selama dua hari saja. Selebihnya rumah itu kembali sunyi.


...***...


Tiga minggu kemudian...


“Dasar GOBLOK!”


Suara bariton lelaki yang sedang emosi itu membahana dalam seisi ruangan. Febri berkacak pinggang melihat keadaan Gala yang terbaring lemah tak berdaya di rumah sakit dengan wajah babak belur dan hidung retak, 10 hari sebelum ujian sekolah akan dilaksanakan.


“Di mana otak lo, Goblok?!” omel Febri kembali dengan tangan terkepal dan meninju bantal yang ditempati Gala saat ini. Melihat ayunan tinju itu, Gala sedikit berpaling karena sedikit lagi wajahnya pasti akan kena.


“Udah-udah, Feb…” kata Diana sambil menarik lengan Febri. “Dia baru sadar, masih lemah juga. Jangan dihajar begitu!”


“Nih bedebah harus dikasih tahu, Di!” Ujar Febri melepas tangan Diana perlahan lalu maju menunjuk-nunjuk wajah Gala dengan emosi. “Syukur lo selamat, bego! Kalo lo kenapa-napa gimana? Mending kalo langsung mati, kalo cacat dulu, mau lo? Hah!?”


Dari jauh, Gala melihat pintu itu terbuka bertepatan dengan Febri yang mencak-mencak memarahinya. Tangan kanan ayahnya sekaligus adik kandung Bobby Aditya yang bernama Paul Aditya muncul.


Paul adalah pria yang paling sibuk saat kematian Bobby. Dia harus mengendalikan perusahaan seorang diri, mengurus dokumen kematian sang kakak, sekaligus mendampingi Gala yang terlihat lebih terupuruk dari Mona.


Betapa miris hati Paul melihat keadaan Gala saat ini, hal ini juga terjadi saat Mama Gala meninggal dunia. Apalagi kemarin, Gala tiba-tiba menghilang dari rumah membawa motor Ducati miliknya.


Selang satu jam, Paul menerima kabar kalau Gala dilarikan ke IGD setelah motornya menabrak pohon. Motor itu rusak parah, tapi untungnya selamat. Pria itu sudah mendengar makian Febri, tapi tidak merasa marah.


“Om…” sapa Niko saat melihat Paul masuk.


“Feb. Udah deh! ada Om Paul."


Paul duduk di samping Gala dan menatapnya dengan lembut. “Berhentilah menyiksa diri kamu, Gala. Om tau kalau kamu frustrasi. Tapi nggak seperti ini juga.”


“Sudahlah Om. Aku lagi malas dengar ceramah Om. Biarin aku istirahat. Suruh mereka semua pulang, usir!” suara meninggi Gala itu sempat didengar oleh Niko yang langsung menoleh padanya dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Om… kita pergi aja… Nanti malam, kita datang lagi,” ujar Niko yang akhirnya menyerah dengan Gala. “Ayo Sayang,” ajak Niko pada Erika dan menggandengnya keluar, disusul Febri, Diana dan Gemma yang sebelum pulang menghampirinya.


“Aku pulang dulu, Gala,” kata Gemma sambil meremas tangannya dengan lembut dan mengecup pipinya.


Gala menggeram, kenapa semua orang tidak mau meninggalkannya sendirian? “Nanti malam nggak usah datang.”


Mata hijau Gemma melebar penuh tanya. “Kenapa?”


“Gue bilang nggak usah datang lagi!” bentak Gala pada Gemma. “Nggak usah kasih gue apa-apa. Dan nggak usah kasih perhatian lagi!”


Air muka gadis itu berubah dan matanya langsung berkaca-kaca. Sial, jelas di sini Gala sudah keterlaluan. Cewek itu menatap Paul yang hendak minta maaf. Namun sebelum maaf itu disampaikan, Gemma sudah berlari pergi dari sana.


Saat pintu itu tertutup, Paul menoleh pada Gala menatapnya dengan tajam. “Apa-apaan kamu? Kamu mau usir semua orang yang peduli sama kamu, iya?”


“Nggak usah sok-sok urusin Gala, Om! Kemana Om pas Papa meninggal, hah? Sibuk mau ambil perusahaan Papa? Iya?"


Tuduhan tanpa bukti itu akhirnya membangkitkan amarah Paul. Pria paruh baya itu kini berdiri tegak, rahangnya menegang dan hidungnya mengeluarkan dengusan kasar.


“Luar biasa tuduhan kamu, Gala! Kamu bisa tanyakan sama Mona tentang apa yang Om kerjakan untuk Papa kamu! Om tau kalau kamu sedang berduka, tapi kamu mengusir semua orang yang sayang sama kamu!


Kamu tau nggak, siapa yang terluka lihat kamu begini? Mereka yang tadi duduk di sini! Kamu kira cuma kamu yang berduka? Kamu kira cuma kamu yang sedang terluka dan terpuruk?


Jangan egois! Di luar sana, banyak orang yang lebih terpuruk dari kamu. Kamu kira saya tidak berduka karena kehilangan kakak saya? Sekarang saya melawan dunia sendirian! Mona juga kehilangan, sementara kamu terlalu fokus pada rasa dukamu sendiri. Apa tangisan kami di pemakaman tadi nggak cukup? Apa itu semua air mata buaya?


Benar kata Febri. Kamu tuh tolol! Semua orang yang mencoba menguatkan kamu sudah berusaha semampu mereka selama sebulan ini, tapi kamu selalu mengusir mereka. Kalau kamu nggak mengubah sikap kamu dan cope your grief, kau akan kehilangan semua. Ingat itu baik-baik! Kamu juga harus sekolah, sebentar lagi lulus dan kamu akan kuliah. Menurut kamu, apa yang Papa Mama kamu katakan kalau kamu seperti ini?”


Paul menyugar kasar rambut setengah memutih miliknya. Air matanya mengalir perlahan tanpa mampu dia tahan, sementara air mata Gala juga akhirnya tak mampu menahan tangis. Paul menangkup wajahnya dengan kedua tangannya lalu menangis dalam dukanya. "Saya amat merindukan Papa kamu, Nak!"


“Om… Gala minta maaf…” bisik anak laki-laki itu.


Paul yang tak tega melihat keponakannya menangis langsung merengkuh Gala dalam dekapannya. Mereka menumpahkan semua rasa sedih dan duka yang merasuk dalam jiwa mereka selama sebulan belakangan ini. Paul sudah tidak bisa berpura-pura kuat sendiri.


Kalau dengan cara ini Gala bisa lebih menghargai waktu yang dia punya, kenapa tidak? Sedikit bentakan tidak akan berpengaruh apa-apa 'kan?


...****************...