
Guys, aku putuskan bonchap ini buat Viani. Gemma dan Gala ngekor, dan gak menutup kemungkinan akan kubuati part mereka.
Happy reading.
... ***...
Ini adalah minggu ketiga setelah Viani masuk pertama kali sebagai siswi di SMA Tunas Persada, sekolah di mana orang tuanya belajar dulu. Tapi jangan kira hal ini berjalan mulus.
“Hello Viani…”
Di istirahat sekolah itu, Viani sedang duduk menunggu Hana di meja paling ujung—menyantap bakso yang begitu nikmat. Jam makannya terganggu pada sesosok gadis belia seumuran dirinya. Tinggi, putih, tapi wajah pas-pasan dengan hidung pesek yang ditutupi make up tebal, dan mata bulat yang begitu intimidatif.
Nadia Zuraidin, salah satu gadis populer baru di kalangan kelas X. Tajir melintir. Ayahnya punya berbagai rumah sakit besar yang tersebar di Indonesia. Dia punya geng namanya Chicrich, kumpulan gadis-gadis dari keluarga kaya raya yang sekolah di sana.
Orang-orang heran kenapa Viani tak tertarik untuk ikut geng tersebut. Dia juga berasal dari keluarga kaya, sedikit lebih kaya dari keluarga Nadia.
Tapi Viani memang tidak nyaman kalau setiap hari harus bergaya hedon, yang makan siang selalu diantar gojek, dari restoran-restoran mahal atau ngemil wafel seharga 5 piring bakso di kantin. Sedangkan Viani lebih suka makan di warung kantin atau bekal yang dibuat Gemma.
“Kok nggak nyapa gue balik?” Nadia merebut sendok itu dan mengaduk-aduk kuah Viani. “Denger-denger, lo deket sama Vincent ya?”
Viani merebut ulang sendok dari tangan Nadia, terganggu dengan tebakan tersebut. “Bukan urusan lo …”
“Well … Well … lo udah mulai betingkah ya sama kita!” Nadia berdiri, menumpukan sebelah tangannya di meja dan mendekatkan wajahnya pada Viani. “Jangan sok kecakepan sama Vincent ya!”
“Kualitas muka gue itu urusan gue dan semua orang yang mandang gue, Nad. Mending lo urusin aja muka lo sendiri. Nggak usah nutupin rasa insecure lo dengan menghina wajah orang lain,” Viani yang sebal langsung mengangkat mangkuk baksonya untuk menjauh.
Namun Nadia dengan cepat menghadang langkahnya sehingga kuah bakso itu tumpah dan mengotori seragamnya. “Nad!!”
“Oops! Sorry! Muka kayak penjual cilok depan gang sekolah kayak lo tuh cocoknya sama Mang Soleh di depan! Sejelek-jeleknya kita, kita semua darah murni … Nggak peduli sekarang lo sekaya apa. Lo itu cuma mudblood di klan Aditya! Buat ada di level Cinderella aja, lo nggak akan mampu, Vi ... Dan jangan lupa tentang bokap lo yang koruptor itu!”
“Seumur-umur, yang gue tau tuh darah ya darah doang, Nad. Dan warnanya merah, nggak ijo atau biru! Lo kalo suka Vincent, langsung ambil aja kenapa? Jangan gue yang di-bully melulu tiap hari pake bawa-bawa nama bokap gue!”
Dada Viani kembang kempis mendengar penghinaan Nadia dan kawan-kawan yang kini menertawainya dengan kencang dan mengatainya ‘Darah Lumpur’. Dia melihat kesana kemari, tapi tak mendapati guru pengawas yang biasa berjaga di kantin.
“Jadi cewek kok jahat banget!”
Suara bariton itu mengagetkan Nadia, dia pun menoleh ke belakang dan mendapati Vincent berdiri di belakangnya dengan tatapan tidak suka. “Vin … Eng … Gue cuma …”
“Cuma apa?!” hardik Vincent jutek.
“Lo kenapa jadi marah sih? Bukannya lo seneng ganggu Viani juga?”
“Gue emang seneng ganggu Viani. Itu berarti Viani itu hak gue! Nggak ada satu orang pun yang boleh ganggu Viani selain gue. Paham?”
Nadia bungkam lalu meninggalkan mereka dengan wajah malu, diikuti dengan para lebah pekerja yang mengekor di belakangnya.
“Makasih,” ujar Viani pada akhirnya seraya meletakkan mangkok itu di atas meja. Dia mengambil tisu dan membersihkan kuah bakso yang membuat warna permukaan kemejanya menggelap.
“Jadi elo mau-mau aja gitu lihat gue jadian sama Nadia?!” tiba-tiba sebuah kalimat tersebut meluncur begitu saja dari mulut Vincent. Lelaki itu terlihat marah, rahangnya mengeras dan matanya menatap Viani sengit.
“Lo denger yang tadi?”
“Iya! Gue denger semua!”
“Emangnya gue salah? Lo bebas kok sama siapa-siapa, Vin. Nggak ada yang ngelarang.”
...***...
Viani memperhatikan ponselnya, pada sebuah chat masuk dari Harry, anak kelas sebelah yang naksir berat pada teman baiknya, Hana.
[ Gue tunggu di deket parkiran sepeda. Gue mo nitip sesuatu buat Hana. ]
Sepulang sekolah, Viani mendatangi parkiran sepeda yang langsung kosong setelah bel pulang berbunyi.
“Lama amat datangnya,” protes Harry, cowok jago Karate bertubuh tinggi, berkulit sawo matang, hidung mancung dengan sepasang mata belo yang menawan. Lelaki itu bersandar di pagar sambil menunggu.
“Sori, gue tadi piket bentar. Emang napa sih nggak lo kasih langsung sama Hana?”
“Gue malu, Vi …” ujarnya seraya mengeluarkan sebuah kotak kado pink dengan pita imut di atasnya dari dalam tas miliknya. “Minggu depan kan ultah dia … gue tau gue bukan siapa-siapa jadi nggak mungkin diundang kalo seandainya dia rayain kan? Jadi gue nitip ini aja sama lo.”
“Padahal si Hana tuh suka banget juga sama lo. Tapi doi tuh sama kayak lo, malu-malu! Sebagai cowok harusnya lo yang lebih berani dong."
Tangan Harry terjulur untuk memberikan kado itu, tepat saat beberapa anak melintas di dekat mereka, tepat di belakang Viani. Tapi, sebuah kejadian tak terduga malah terjadi .…
Bruk! Cup!
Tubuh Viani terdorong ke depan, menghantam Harry. Tubuh Harry sendiri termundur sampai tersentak ke pagar pembatas, masih dalam posisi berdiri sambil menahan tubuh Viani yang hampir jatuh.
Tapi bibir mereka … tak sengaja tertaut.
Mata Viani dan Harry terbeliak bersamaan dan tak sampai sedetik, keduanya sama-sama memisahkan diri dengan keadaan canggung.
Viani menoleh ke belakang dengan marah, kepada siapa yang telah dengan lancang mendorong tubuhnya sehingga terjatuh pada pelukan Harry dan tak sengaja mengecupnya.
Ada Nadia.
“Ciyeeeeee!! HARRY DAN VIANI JADIAAAAAANNNNN!!” teriak gadis itu sambil tepuk tangan.
“STOP!” Viani yang sudah menahan marah sedari tadi memandang Nadia dengan tajam.
“PENGUMUMAN OI, HARRY DAN VIANI JADIAN! DOSKI CIUMAN DI PARKIRAN SEPEDA!”
Pengumuman itu terus digaungkan berulang-ulang oleh geng Chicrich seperti hansip kampung yang mendapati sepasang anak muda tengah mesum. Teriakannya didengar oleh beberapa siswa yang berhenti sesaat untuk melihat kejadian ribut-ribut itu.
“Berhenti! Kita nggak ngapa-ngapain! Elo yang dorong Viani, kan?” terang Harry yang dengan putus asa berusaha meredam suara-suara sumbang gadis kaya sok cantik yang sebenarnya jauh dari kata manis.
“CIYEEE DIBELAIN HARRY STYLES!!” Bukannya meredam suaranya, teriakan mereka makin norak dan semakin nyaring.
Viani yang kesal memasang ranselnya dengan baik lalu beranjak pergi dari sana. Namun langkahnya tertahan saat melihat ada dua pasang mata yang memandangnya dari kejauhan.
Ada Vincent dan juga Hana … mereka berdiri di tempat berbeda menatap Viani nanar.
“Hana, gue bisa jelasin!” Viani berlari pada Hana, namun gadis itu segera berpaling dan berlari menjauhinya.
Lalu dilihatnya Vincent. Laki-laki itu berbalik, pergi meninggalkan Viani sebelum gadis itu mencapai tempatnya berdiri.
...****************...