
Hari yang dinanti Gemma akhirnya datang juga. Sidang terakhir perceraiannya dengan Indra akhirnya selesai sudah, dengan hak asuh Viani yang jatuh ke tangannya.
Mira, sang mantan ibu mertua, sempat melayangkan protes saat mendengar Viani akan tinggal bersama Gemma, tetapi tak ada yang bisa dia lakukan sebab hukumnya sudah mutlak jatuh pada ibu kandung. Tak ada cacat cela yang didapati mereka untuk membuat Gemma kehilangan Viani.
Begitu sidang dibubarkan, Mira buru-buru mendatangi Gemma.
“Dasar wanita ******! Apa kamu menyuap hakim sampai-sampai semua berpihak sama kamu, hah?!”
“Tentu saja itu nggak benar,” jawab Gemma dengan wajah datar.
“Kamu pasti... kamu pasti suap hakim! Saya akan tuntut kamu! Anak saya sudah masuk penjara gara-gara kamu! Sekarang kamu mau ambil cucu saya?” Mira mengambil ancang-ancang dengan menaikkan tangannya dan melayangkannya.
Hap!
Sebelum tangan itu mendarat di pipi Gemma, sosok Gala yang tadi berada agak jauh dari mereka tiba-tiba sudah berada di samping wanita itu, menahan tangan yang hampir saja menyentuh pipi kekasihnya.
“Kenapa Anda tak menerima saja semua ini, Bu Suteja? Terimalah dengan lapang dada kalau anak Anda telah berbuat salah pada Gemma dan juga di mata hukum. Bagaimanapun Anda berusaha menutupinya, semua itu hanya akan mempermalukan diri Anda sendiri.”
“Dasar anak ingusan! Berani-beraninya bicara begitu pada saya?! Kamu lupa kalau saya—“
“Saudara Anda, Pak Irfan, yang jendral itu? Anda lupa kalau gara-gara kasus Indra, saudara Anda juga tengah disorot?”
Dada Mira terlihat kembang kempis saat Gala menamparnya telak dengan fakta itu. Ditatapnya Gala dan Gemma bergantian dengan penuh emosi dan bola mata yang melebar, seakan-akan hendak keluar dari tempatnya.
“Konspirasi… Ini pasti konspirasi! Kalian selingkuh duluan! Kamu pasti selingkuh terlebih dahulu sehingga Indra membalas kamu!”
“Terserah apa pendapat Anda, Bu Suteja. Anda bisa saja menuduh kami yang tidak-tidak untuk menolak fakta ini. Kalau Anda mendidik anak Anda dengan baik untuk tau cara memperlakukan istrinya, maka Gemma tidak akan pernah menggugat cerai. Gemma tak perlu lagi membuktikan kesetiaannya di hadapan Anda, karena Anda sudah melihatnya sendiri selama 15 tahun!”
Wanita itu masih tak menyerah dan terus mencaci maki Gemma di tengah lapangan parkir. Telunjuknya masih tertuju tepat di wajah datar Gemma yang terkesan mengundang Mira untuk terus menghakiminya.
“Stop, Tante!” akhirnya Gemma bicara. Menghentikan Gala yang masih melindunginya. “Satu kali lagi saya dengar tuduhan Tante, saya akan tuntut Anda!”
Tangan Mira turun perlahan-lahan menuju tempatnya, di samping tubuhnya, ekspresinya masih tegang, pun dengan tatapannya yang seakan-akan siap menguliti Gemma sampai mati.
Tapi wanita 33 tahun itu tidak takut. Dia menatap balik sang ibu mertua dengan tenang tanpa gentar sama sekali. “Jadilah orang yang baik, maka saya akan biarkan Viani tetap mengunjungi Anda dan menganggap Anda sebagai Omanya.”
“Arrrghhh!!”
Setelah menggeram hebat, Mira pergi dari hadapan Gemma dengan langkah kesal. Gala dan Gemma hanya memandangi kepergian wanita yang terlihat putus asa itu dengan tatapan waspada, kalau-kalau dia akan kembali lagi dan menyakiti Gemma.
“Kamu nggak pa-pa?” Gala mengelus lengan Gemma lembut.
“Semua udah berakhir,” kata Gemma dengan hembusan napas lega.
“Iya. Semua udah selesai, Sayang.”
“Aku sama sekali nggak ngerasa lebih baik,” respon Gemma tanpa membalas tatapan Gala. “Pasti berat buat Viani.”
“Pasti, Sayang. Tapi supaya Viani nggak merasa terlalu sedih, kita bawa aja dia sering-sering kunjungi Papanya.”
“Kamu nggak keberatan kalau nanti kita akan selalu kunjungin Mas Indra?”
Sudut bibir Gala melengkung dengan lembut. “Aku ada bukan untuk gantikan posisi dia di hati Viani, Sayang. Aku ada di sini untuk kamu dan Viani karena aku sayang kalian. Aku mungkin nggak akan bisa buktikan gimana besar sayangku ke Viani, tapi untuk kamu, aku akan rela lakukan apa aja. Termasuk kalau aku harus bertemu berkali-kali sama Indra demi Viani.”
“Beneran?”
“Kapan aku bohong? Apa aku kedengaran gombal?”
“Banget!” sebenarnya tak juga. Gemma begitu pintar menutupi perasaannya yang begitu tersipu akan ucapan pria itu. Gala menyentuhnya tepat di hatinya, membuatnya tersentuh dan gemetar karena merasa dicintai.
Gala tertawa dan mencubit hidung Gemma dengan gemas. “Hari ini sudah cukup panjang untuk kamu dan Viani. Saatnya kalian istirahat sejenak."
...***...
Dua minggu kemudian…
Gemma dan Viani dijemput Gala menuju ke suatu tempat. Kabarnya, Niko mengadakan pesta ulang tahun untuk Erika berupa menikmati sunset dan makan malam di atas perahu Pinisi mewah. Sehari sebelumnya, Gemma dan Viani sudah membelikan kado untuk Erika berupa tas wanita yang dia bungkus dalam satu paperbag besar.
“Kenapa mesti berminggu-minggu kemudian?” tanya Gemma yang penasaran. “Padahal kalungnya udah dibeli dari lama.”
“Jadwal kosong sewa perahunya baru hari ini, Gem,” jawab Gala pelan.
Mereka kini sudah berada di teluk Jakarta, di atas sebuah kapal kecil yang menjemput mereka menuju kapal yang dimaksud, yang berada agak jauh dari posisi dermaga.
Kali ini, mereka sedang membahas Niko yang membelikan Erika sebuah kalung mahal yang begitu indah, yang rencananya akan diberikan hari ini, di atas perahu yang telah disewanya sambil menikmati indahnya sunset sore itu.
“Nggak nyangka aja sih. Niko nggak kelihatan romantis-romantisnya. Sekalinya romantis, buset, boros bener,” ucap Diana yang masih dengan mulutnya yang begitu spontan. “Mudah-mudahan kalo anak gue bini, bisa dapat lelaki romantis kayak Niko pas gede nanti. Jangan kayak Bapaknya, memble…”
“Pria yang ngasih bunga akan kalah sama yang ngasih transferan,” balas Febri tak mau kalah. “Hapemu baru, mobilmu baru, rumah aku beliin. Kemarin aku beliin cincin. Aku kurang apa la—“
Mata Viani membesar kala Diana terang-terangan mencium Febri di bibir. Sebelas dua belas dengan sang istri, pria itu dengan entengnya menyambut bibir Diana selama beberapa detik, tak peduli siapa yang menyaksikan mereka.
“TANTEEE! OM! MATAKU TERNODA!!”
Gala memutar matanya jengah. “Ada anak kecil woy!”
“Makanya nikah! Cewek di sebelah lo kan single, tinggal terkam.”
Ledekan Febri sukses membuat semburat merah di wajah Gemma. Sedangkan Gala di sampingnya hanya diam saja, tidak memberi sedikit pun respon pada sahabatnya yang begitu mesra dengan istrinya.
Perangai Gala yang agak berbeda sebenarnya sudah dirasa Gemma sejak minggu lalu. Tetapi wanita itu pikir kalau ini adalah hal biasa dan tak terlalu memusingkannya. Hingga hari ini, Gemma baru sadar kalau sikap Gala sudah kelewat dingin.
Tak lama kemudian, kapal kecil mereka merapat ke buritan kapal. Mereka naik satu per satu, dimulai Febri terlebih dahulu, lalu disusul Diana, Gala, Viani, terakhir Gemma. Hari sudah menunjukkan hampir pukul 4 sore, dan cahaya matahari masih terlihat begitu terik.
Mereka semua berpencar setelah naik ke kapal.
Di dapur, Gemma bisa melihat koki-koki sedang memasak untuk makan malam. Tetapi perhatiannya lalu tertuju pada suara orang yang sedang sound check di geladak teratas kapal. Penasaran, Gemma berniat naik ke atas, tetapi Diana kemudian memanggil Gemma.
“Temenin gue nyantai dulu di sini,” ujar Diana yang telah duduk di salah satu sofa chaise yang tersebar di seluruh dek di bawah anjungan. “Enak banget angin sorenya.”
Di sebelah Diana, telah duduk Viani yang asyik memandang sekeliling.
“Gue baik-baik aja, Di. Gue sekarang udah kerja, jadi tutor buat ngajarin anak-anak main gitar sama piano di kursus musiknya Om Dante. Bulan Agustus nanti, gue juga udah mulai kuliah.”
“Wah, gue seneng dengarnya.” Diana menghela napasnya dan menatap lantai gamang. “Lo udah banyak melalui hal yang berat. Gue merasa bersalah banget sebenarnya. Gue nggak ada di sana buat lo. Temen macam apa gue in—“
“Sstt! Udahlah! Lo sendiri kan tau gimana gue, Di. Apa yang terjadi bukan salah lo sama sekali. Dan gue udah ikhlas kok jalanin ini. Kalo nggak ada masalah ini, gue nggak akan bisa lepas dari Indra. Gue juga nggak akan bisa sebebas ini jalan sama lo pada.”
Diana menyampirkan rambutnya yang tertiup angin lalu tersenyum pada Gemma. “Gue bener-bener pengen lihat lo bahagia, Gem.”
“Gue bahagia sekarang, Di…”
“Tapi wajah lo nggak mungkin datar kalo lo lagi bahagia. Bilang ke gue, lo lagi mikirin apa?”
Gemma menghela napasnya dalam-dalam dan memandang kuku-kuku kakinya lamat-lamat. “Cuma lagi nunggu yang kurang pasti sih.”
“Kurang pasti? Siapa? Gala?”
Gemma mengangguk pelan. “Sampe sekarang dia nggak bergerak. Kayaknya terlalu sibuk sama kerjaannya dia. Udah mulai jarang telepon, jarang jemput. Apa perasaan gue aja kali ya?”
Diana mengangguk. Dia paham perasaan Gemma dan wanita itu sudah tahu sejak awal ketika melihat Gala dan Gemma yang datang, terkesan ada jarak di antara mereka. “Tapi dia nggak ninggalin lo kan?”
“Entahlah. Gue kan udah pernah nikah, Di… Gue nggak yakin aja kalo dia beneran sayang sama gue. I mean, look at me! Ada banyak di luar sana yang jauh lebih baik dari gue. Udah gitu, gue janda, punya anak pula. Kasarnya gue ini bekas orang! Awalnya pasti indah banget, tapi coba dua tahun lagi. Gimana? Jujur, gue takut ditinggalkan lagi. Dikhianati lagi. Rasanya sakit banget.”
Diana begitu speechless mendengar perkataan Gemma kali ini. Dia mengangguk paham dengan perasaan Gemma, tapi dia sendiri tak bisa melakukan apa-apa.
Ketakutan itu begitu wajar, sekaligus begitu nyata. Gemma sudah pernah ditinggal oleh sang ayah, membuat traumanya akan ditinggalkan semakin besar dan semakin mengakar. Dari suaranya saja, sudah terdengar sekali kalau sahabatnya itu akan sakit dan tergoncang sekali lagi kalau sampai Gala meninggalkannya.
Tidak ada yang dapat Diana lakukan selain duduk di samping Gemma dan menggenggam tangannya, berusaha menenangkan perasaan kalut wanita itu sebisa yang dia mampu. Bahkan cahaya matahari yang perlahan turun itu tak mampu mengubah suasana hati Gemma yang mendung.
Setengah jam kemudian, Gemma yang saat itu berkutat dengan sosial medianya dalam keadaan autopilot terkejut saat Febri tiba-tiba sudah di dekatnya. “Di, Gem. Ayo naik. Acara ultahnya Erika udah mau mulai.”
Mereka pun menaiki dek kapal paling atas. Ada beberapa sofa chaise dan kursi yang telah di sediakan.
Di hadapan mereka sudah tersedia musik akustik live yang terdiri dari dua buah gitar dan cajon, serta microphone yang sudah di-setting dengan sempurna.
Tapi, tunggu. Kenapa personel band itu bule semua?
Musik romantis pun mengalun lembut, seiring dengan kemunculan Niko, Erika, Gala dan Viani dari bawah. Sosok Gala yang diterpa indahnya matahari sore itu membuat Gemma tak bisa berpaling. Namun hal itu jugalah yang membuat Gemma semakin sadar diri kalau tempatnya mungkin bukan berada di sisi Gala.
Pria itu terlalu indah. Seperti mimpi yang berjalan dalam bentuk manusia.
Tentunya, dia lebih cocok dengan wanita yang sepadan dengannya.
Sebelah hatinya sudah mencoba meyakinkannya kalau Gala tidak akan meninggalkannya. Pria itu sudah melakukan banyak hal demi bersama Gemma. Namun trauma itulah yang selalu membuatnya berpikir negatif.
Hati Gemma semakin berkecamuk saat dia melihat Paul dan istri, Felix dan istrinya, Mona dan suaminya, plus 3 orang berbeda yang tak pernah dia lihat sebelumnya. Sepasang pria dan wanita paruh baya, diikuti oleh seorang wanita yang cantik sekali.
Dapat disimpulkan, kalau wanita itu adalah anak dari pasangan tadi. Wanita itu mengikuti orang tuanya yang mendatangi Gala dan Paul. Masing-masing memberi kecupan di pipi Gala. Tekanan darah Gemma mendadak naik saat bibir wanita itu mendarat di pipi Gala.
Tak kuat dengan rasa cemburu, Gemma menutupinya dengan sebuah pertanyaan. “Ngapain keluarga Gala di sini juga, Nik?” tanya Gemma pada Niko yang berdiri tepat di sebelah Erika.
“Gue yang undang. Keluarga kita kan udah deket banget, Gem.”
Gemma baru ingat kalau keluarga mereka sangatlah dekat. Febri, Niko dan Gala adalah sahabat sejak bayi, semua orang tahu itu.
“Mama,” panggil Viani. “Kok Mbak itu cium Om Gala?” tanyanya dengan ekspresi tak tenang.
Belum sempat Gemma menjawab, MC yang merupakan bule juga itu memulai acara. Lantunan lagu happy birthday dan lagu-lagu romantis menjadi pengantar kegiatan mereka sore itu. Erika terlihat begitu bahagia saat kalung yang mereka pilih bersama tersemat di lehernya.
Mereka adalah keluarga yang benar-benar sempurna. Niko, Erika, Vincent dan Vina terlihat sangat harmonis dan membuat semua orang iri.
Acara itu hanya sebentar. Dalam satu jam, acara potong kue, pemberian hadiah dan foto-foto sudah selesai. Tetapi para bule itu masih asik melantunkan lagu-lagu romantis yang membuat suasana sunset itu jadi terkesan begitu syahdu.
Seluruh pasangan di sekeliling Gemma sudah menghampiri pasangan masing-masing. Tapi tak sedikit pun ada tanda-tanda kalau Gala akan mendatanginya.
Gemma yang gerah langsung menuju ke bar counter untuk meminta bir. Bartender segera memberikan apa yang Gemma minta dan wanita itu langsung menyesap minuman itu beberapa teguk.
Guna menghindar tatapannya pada pasangan-pasangan tersebut, Gemma memusatkan perhatiannya pada Viani yang sedang duduk di samping Vincent dan wanita asing tadi.
Mereka bercakap-cakap cukup intens. Viani terlihat tidak senang pada si wanita tadi. Keningnya semakin mengkerut karena wanita itu tiba-tiba tertawa-tawa. Anak itu jelas tak suka padanya.
Suara merdu dari vokalis bule itu saat melantunkan lagu A Thousand Years langsung mencuri perhatian semua orang.
Dan di saat itu, Gemma melihat sosok Gala berdiri di tengah-tengah sambil memegang sebuah kotak beludru berwarna ungu.
“Perhatian semuanya. Hari ini, di hadapan Tuhan dan semua orang yang ada di sini, saya ingin membuat sebuah pengumuman. Saya akan mengajak seseorang menikah tepat di sunset ini dan di geladak ini,” ucap lelaki dengan kemeja putih yang lengannya digulung sesiku.
Tapi tunggu. Tatapan Gala sama sekali tidak tertuju pada Gemma. Malah, mata itu terpusat ke arah gerombolan wanita itu.
The Hell!
Sebenarnya apa yang terjadi? Gemma meneguk seluruh bir yang ada di gelasnya dan mengembalikannya pada bartender. Dia mengambil tas dan ponselnya dan bersiap-siap turun ke dek paling bawah. Kalau bisa pulang sekalian!
“Aku harus berlutut ya?” tanya Gala lagi pada Paul dan istrinya. Lelaki berlesung pipi itu lalu berlutut sambil membuka kotak tersebut.
Meski dia emosi, Gemma bisa apa? Gala single, dia bebas memilih siapa yang akan dia lamar!
Tentu saja pemandangan itu membuatnya tak tahan. Gemma pun membalik tubuhnya menjauh dari venue. Flat shoes yang dia pakai sebentar lagi akan menyentuh anak tangga pertama. Tetapi pergerakannya terhenti saat dia mendengar sebuah kalimat.
“Viani, maukah kamu jadi anak Om?”
...****************...
1 bab sehari dulu ya sayang2...
author mesti persiapan nulis ky gini huhuhuhu