Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
82. Potongan Apel


Gemma berdiri terpaku dengan air mata yang mengering di ruang tamu rumah lamanya. Dia kira, sang ayah akan menyesal atau minta maaf, atau bahkan memeluknya. Tapi tak ada yang pria itu lakukan selain meninggalkannya di begitu saja.


Tanpa menatap Gala, dia pergi menuju pintu. “Ayo, kita udah selesai kan?”


Semua ini memang tepat sesuai dugaan Gala. Pria itu menghela napasnya dan berdiri menuju sang tunangan, bersiap untuk menggandengnya pergi.


“Mbak!” Marni tergopoh-gopoh dari belakang mendatangi mereka. “Senin ini, Bang Yahya mau di kemo.”


“Baguslah,” jawab Gemma yang buru-buru hendak lari.


Tetapi Mbak Marni menahannya dengan menarik lengan wanita itu. “Saya tau loh, kalo Mbak sama Bang Yahya nggak punya hubungan yang baik. Saya cuma mau ngasih tau kalau Mbak masih punya ayah… Ya, beliau memang ayah yang kejam dan nggak baik. Tapi percayalah, Mbak. Bang Yahya itu sangat menderita dua tahun belakangan. Dia ingat-ingat Mbak terus. Dia pernah ngigau sambil nyebut-nyebut nama Mbak, lalu berteriak kalau dia nyesal, dan itu terjadi berkali-kali, bahkan beberapa minggu belakangan jadi tambah sering.


Mbak pernah terluka, fisik dan mental, saya pahami itu. Bang Yahya memang nggak pantas mendapat maaf dari Mbak. Dia sakit sendiri dan nggak kasih tau siapa-siapa, karena dia tau kalau nggak akan ada yang mau di sisinya. Makanya, dia sewa saya sebagai perawat dia sekaligus yang urus rumah setelah beliau pensiun. Saya sih enak dibayar mahal. Tapi seenak-enaknya hidup Bang Yahya, semuanya itu hampa. Kadang-kadang saya lihat dia buka foto Mbak sama anak cewek, yang saya tebak pasti itu anaknya Mbak. Dia rindu sama Mbak, tetapi dia terlalu rendah diri untuk bilang.”


“Seorang Yahya Fransius bisa rendah diri?” tanya Gemma menatap nyalang pada Marni.


Marni tersenyum lembut. “Dia malu bilang kalau dia sayang sama Mbak, ngerasa nggak pantas banget… Saya nggak maksa Mbak maafin beliau. Saya hanya memberitahukan kalau Mbak punya kesempatan untuk jadi anak yang baik.


Mbak belum pernah ada di posisi Bang Yahya kan? Andai Mbak tau gimana getirnya tiap kali Bang Yahya buka album foto waktu Mbak masih kecil, saya sendiri aja sampe nggak tega. Batu kayak gitu masih bisa tersentuh pas memandang foto anak, itu tandanya beliau masih punya hati, dan sayang sama Mbak sepenuh hati.


Mbak jangan terlalu ngarep beliau drama nangis-nangis berlutut atau meluk buat minta maaf. Sebagai anak, Mbak udah tau dari dulu kalau style beliau bukan begitu. Permohonan maafnya sudah dia mulai dari sejak dia memberi restu pada kalian.”


“…”                        


“Dengan mengampuni Bang Yahya, Mbak bisa punya cerita yang layak diceritakan pada Viani kelak. Seandainya Viani nggak mau mengampuni semua kesalahan yang Mbak lakukan, Mbak akan seperti apa? Hancur kan?


Itulah yang Bang Yahya rasain sekarang. Beliau hanya orang yang tak mampu dengan mudah mengekspresikan perasaannya, apalagi sampe minta maaf.” Marni mengalihkan tatapannya pada Gala. “Bukannya Mbak Gemma juga punya sifat seperti itu, yak an Mas Gala?”


Tunangan Gemma itu mengangguk pelan dan tersenyum pada Marni sebelum undur diri dari sana.


...***...


Beberapa hari kemudian sebelum kemo, Gemma mendapat kabar dari Marni kalau Yahya dibawa ke rumah sakit setelah pingsan di kamar tidurnya. Dan kini, mereka sudah ada di sebuah kamar rumah sakit. Gala yang mengurus semuanya, memberi kamar yang di atas kata ‘layak’ untuk calon mertuanya. Sementara Marni beristirahat di bed khusus penunggu karena kelelahan menunggui pria tua itu semalam suntuk.


“Boleh panggil Ayah juga nih, Om?” Gala duduk di sofa, di samping brankar Yahya. Pria itu sudah sadar dari pingsannya beberapa jam yang lalu.


“Terserah padamulah. Ini kenapa saya dibawa ke kamar VVIP kayak gini? Nggak perlulah!”


“Buat Mertua, masa aku ngasih kamar biasa, Yah? Aneh-aneh aja,” kata pria itu. Kendati dia mencoba santai, calon mertuanya itu tetap saja kaku. “Gemma bentar lagi datang. Dia lagi jemput Viani.”


Puluhan menit kemudian, pintu kamar Yahya terbuka, muncullah Gemma bersama Viani di sana yang masih menggunakan seragam putih biru. Anak remaja yang juga ternyata begitu mirip dengan Mitha dan Gemma itu sangat mencuri perhatian Yahya.


“Vi, sapa Opa Yahya,” pinta Gemma pada anaknya yang langsung dituruti.


Viani yang sudah merasakan aura menakutkan itu lantas berjalan mendekat dengan perlahan hingga sampai di tepi brankar, tak jauh dari tempat Gala duduk. “Hai, Opa. Viani udah dateng nih. Apa yang Opa rasain sekarang?”


Yahya memperbaiki posisinya berbaring untuk dapat menatap Viani lekat-lekat. “Saya baik-baik saja.”


Dengan rasa segan, Viani menyodorkan sekantong Apel Fuji yang baru saja dia dan Gemma belli dari swalayan. “Ini, Apel Fuji, Opa. Kata Mama, ini buah kesukaan Opa.”


Tanpa dikomando, Gemma langsung mengambil buah itu dari tangan Viani, mencucinya di wastafel, mengupas dan memotong-motongnya jadi beberapa bagian. Lalu dia letakkan di piring plastik yang langsung Viani sodorkan pada Yahya.


Pria tua galak ini menatap potongan apel yang salah satunya telah tertancap garpu untuknya. Diingatnya kalau Gemma selalu melakukan hal tersebut untuknya dahulu kala, tanpa kulit dan terpotong dadu kecil. Perlahan, dia menjulurkan tangan, mengambil potongan apel untuk dia langsung makan.


“Asam ya, Opa?” tanya Viani yang terlihat tidak enak. “Maaf, Viani nggak terlalu bisa milih mana yang manis.”


“Nggak pa-pa. Ini manis, cuma gigi saya yang nggak terlalu kuat.”


Gala tahu, semburat itu bukan karena apel yang asam atau karena gigi orang tua yang sudah keropos. Ada haru dan sesal yang bercampur aduk jadi satu di sana. Mungkin Gemma menyadarinya juga. Namun, sama seperti ayahnya, dia tidak menunjukkan emosi itu dengan mudah. Sekalipun Gemma lebih mirip sang ibu, tetapi gestur, sikap, serta pengendalian diri total itu memang didapat dari sang ayah.


“Kamu sudah kelas berapa?” tanya Yahya pada anak itu sambil terus memakan apel yang dikupas sang anak.


“Kelas VIII SMP, Opa,” jawab Viani. “Opa sekarang mau minum?”


“Boleh.”


Gemma duduk agak jauh dari mereka. Dia seakan masih memberi jarak antara dia dan Yahya. Namun, wanita itu tetap mengawasi mereka dari jauh. Untungnya Viani dapat bersikap natural tanpa terlalu ketakutan terhadap Opanya sendiri. Diambilnya sebuah gelas dan mengisinya dengan air dingin yang dicampur air panas dari dispenser, lalu memberikannya pada sang Opa dengan sebuah sedotan agar pria itu dapat meminumnya dengan mudah.


Pemandangan kali ini, meski agak kaku, tetapi cukuplah hangat untuk standar seorang Yahya Fransius. Tapi justru inilah yang membuat dada Gemma sesak bukan main. Dia lalu berdiri dari sana dan keluar dari ruangan itu. Gala menyusul setelahnya.


“Gem, kamu baik-baik aja?”


“Baik kok. Cuma…” Gemma mengibaskan tangannya di depan wajahnya. “Di dalam panas banget.”


Ada dua buah tangan yang tiba-tiba mendarat di bahu Gemma untuk menyalurkan semua kehangatan padanya saat tubuhnya gemetar karena merinding.


“That’s a good start, Honey,” bisik tunangannya itu. “Aku tau ini berat untuk kamu, berhadapan lagi sama Ayah setelah 15 tahun. Kamu nggak perlu buru-buru.”


“Aku sempat takut waktu dia ngelihat cucunya. Viani kan mirip banget sama aku dan Omanya.”


“Percayalah, dia pasti senang, Gem…” Gala mengangkat tangannya dan membelai rambut tunangannya itu dengan lembut. “Sebesar-besarnya batu karang, kalo sering-sering kena ombak, pasti dia nanti bakal hancur juga.”


Gemma memang tak pernah secara eksplisit mengatakan kalau dia akan memaafkan sang ayah. Namun dengan dia mau menemui Yahya bahkan mempertemukannya dengan Viani adalah hal kecil yang sungguh berdampak besar di antara hubungan mereka.


Gala sendiri berharap, kalau hubungan tersebut akan lebih dari itu. Terlebih di hari bahagia mereka nanti, dia ingin semua orang juga berbahagia dan damai, bukan hanya mereka saja.


Pagi tadi, sebelum Gemma datang, Gala sudah mendengar bagaimana parahnya kondisi Yahya. Pria itu kemungkinan sudah tak bisa diapa-apakan lagi. Tak ada hal lain yang dapat menyembuhkan ayahnya selain kemo. Dokter pun sebenarnya sudah angkat tangan dan memprediksi kalau usia Yahya tidak akan lama lagi. Gala hanya berharap, Gemma cepat-cepat luluh, agar wanita itu tidak menyesal nantinya.


Seorang perawat masuk ke kamar Yahya sebentar lalu keluar lagi.


Gala dan Gemma masih berdiri di lorong rumah sakit sambil memandangi taman buatan yang ada di tengah-tengah paviliun yang tenang, membelakangi pintu kamar Yahya sejauh beberapa meter.


Tapi ketenangan itu tak berlangsung lama saat beberapa perawat dan seorang dokter jaga tiba-tiba masuk ke kamar Yahya. Mereka berdua langsung menghambur masuk ke dalam ruangan yang mendadak penuh tersebut.


Viani yang menghampiri Gemma dengan begitu panik dan mata yang berkaca-kaca. “Ma! Opa tadi muntah-muntah terus pingsan lagi!” serunya dengan napas satu-satu dan tubuh gemetar ketakutan. “Aku langsung panggil perawat. Lalu, Opa… Opa Yahya tadi…” anak itu hampir beringsut, tetapi Gala menahan tubuhnya.


Viani merasa kakinya lemas seketika dan dia tak mampu berdiri dengan benar setelah apa yang disaksikannya. Barusan saja dia berbicara dengan sang Opa dengan lebih santai, tapi kini, kondisi Opanya malah memburuk.


Hingga menit itu berubah jadi jam-jam yang lama. Marni langsung terjaga seratus persen begitu melihat Yahya yang tak sadar lagi.


Kemudian, dua orang perawat datang membawa brankar yang lain, yang terlihat lebih portable dan lebih kecil. Salah satu dari mereka memindahkan botol infus di bed milik Yahya ke tiang infus di brankar yang mereka bawa.


“Pasien akan dipindahkan ke ICU ya, Mbak.”


...****************...