
Baru saja sampai di Jakarta, Gala langsung dihadapkan dengan banyak sekali dokumen tentang detail perusahaan yang akan dia pimpin langsung. Dia sampai tidak sadar kalau Felix, sepupunya yang berparas setengah bule dan amat macho itu datang membawakan secangkir kopi Los Planes, pesanannya pagi ini.
Konsentrasinya terganggu saat sebuah panggilan masuk dalam ponselnya. Nama Leticia Gunawan muncul di ponselnya. Seorang model kelahiran Indonesia yang kesemua keluarganya telah jadi WN negeri Kangguru termasuk dirinya.
“Halo?” sapa Gala dengan datar.
“Babe, aku udah landing. Tolong jemput. Aku nggak begitu kenal tempat ini, please jemput aku.”
“I can’t … aku banyak kerjaan.”
“Oh, come on, Babe. Lagi pula aku ada barang titipan dari Luke untuk kamu. Kamu lupa bawa gitar kamu yang satu itu.”
Secepatnya Gala menurunkan dokumen yang dia baca. Memang ada satu gitar dari sekian banyak gitar yang benar-benar lupa dia bawa.
“Kamu di terminal berapa?”
***
“Luke, why the hell you told Leticia that I moved here?”
Ujar Gala yang mencak-mencak pada teman baiknya yang tinggal di apartemen yang sama ketika masih di Sydney dulu. Kini, Gala berada di parkiran bandara, menunggu kedatangan wanita itu yang sedang menunggu bagasinya.
Luke, bule yang mengerti bahasa Indonesia baku itu tertawa canggung karena ketahuan melanggar perintah Gala.
“I’m sorry, Man. You know, dia orangnya pemaksa, dan aku tidak bisa bohong kalau sudah diajak minum!”
“Argh! Kau itu benar-benar kurang kerjaan! Kau sendiri tau kalau aku tidak ada hubungan apapun dengan wanita itu, dia itu hanya Beard*!"
“Tapi kau sendiri tahu kalau dia benar-benar menyukaimu, kan? Lagi pula dia setia dan tak pernah pacaran dengan siapapun selama ini.”
Gala berdecak sebelum memutuskan sambungan teleponnya. “Ck! Kalau bukan karena gitar itu ketinggalan, aku tidak mau jemput dia! Sudahlah! Aku bisa gila kalau bicara padamu lama-lama!”
Beberapa menit kemudian, Gala langsung menderu mobilnya untuk parkir di daerah pick up zone, saat melihat seorang wanita dengan rok jeans selutut dan kemeja putih muncul dari pintu keluar.
Paras cantiknya sepadan dengan merk apa yang dia pakai di tubuhnya, sambil menenteng sebuah tas branded yang Gala belikan untuknya tahun lalu. Di belakangnya muncul seorang porter tua mendorongkan trolley berisi beberapa koper dan sebuah hardcase gitar akustik.
Gala membukakan bagasi mobil SUV-nya dan porter itu langsung menempatkan koper-koper dalam jumlah banyak itu.
“Hai, Babe!” sapa Leticia yang bersiap-siap memeluk dan mencium pipi Gala.
Bukannya menyapa Leticia duluan, pria itu menghambur ke arah hardcase gitarnya, dengan cepat membukanya untuk memastikan kalau benda ini baik-baik saja.
“Kok gitar duluan, sih?” gerutu Leticia yang kesal saat melihat kelakuan Gala yang lebih memilih gitar daripada dirinya.
Kemarin saking sibuknya, Gala sampai lupa mengecek ada berapa banyak gitar yang dia bawa pulang ke sini, bahkan sampai lupa membawa satu. Sedikit banyak, dia berterima kasih pada Leticia dalam hatinya karena sudah membawakan benda yang berharga baginya.
Mendengar pertanyaan Leticia, bukannya Gala minta maaf. “Cepetan masuk! Aku masih banyak kerjaan.” Gala pun menjulurkan 5 uang lembaran merah untuk porter tersebut, yang langsung diterima dengan hati gembira.
“Kamu udah tau di mana kamu bakal tinggal?” tanya Gala seraya menurunkan tuas hand rem dan menderu mobilnya keluar dari area bandara.
“Udah. Di daerah Puri. Aku udah sewa untuk setahun di sana,” jawabnya antusias tanpa melepaskan pandangannya dari Gala. “Aku kangen kamu, Babe.”
“Stop panggil aku Babe!” ujar Gala dengan mode serius.
“What? Kenapa? Biasanya kamu ma—“
“Itu waktu di Aussie. Dan perjanjian kita, kita mesra hanya di depan umum. Selebihnya, kita hanya sebatas partner, nggak lebih dari itu. Bukannya udah tercetak jelas dalam kontrak?”
Leticia diam seribu bahasa. Kendati perasaanya ingin berteriak bahwa hubungannya dengan Gala seharusnya lebih dari itu, tetapi kalau pria itu sudah bicara tentang keprofesionalan, dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Dia memutar otak, apakah dia harus menggunakan pendekatan yang berbeda untuk menaklukkan hati Gala, pria yang sudah bersamanya sejak dua tahun lalu karena sebuah perjanjian kerja saja.
Gala menurunkan Leticia di lobby apartemen di mana dia tinggal. Dia membayar seorang satpam untuk membawakan seluruh bawaan wanita itu.
“Nggak mau masuk dulu?” tawar Leticia pada Gala saat seluruh barangnya telah berada dalam apartemennya.
“Nggak!” kata Gala yang langsung pergi dari sana.
...***...
Beberapa hari kemudian berjalan cepat. Mata Gala hampir copot rasanya setelah membaca berbagai dokumen dan laporan keuangan dua tahun terakhir dari perusahaan yang akan dia pimpin.
Dia juga telah pindah ke apartemen dan tidak lagi tinggal di rumah Mona. Meski di rumah itu menyenangkan karena ada tiga keponakan lincah dan cerewet yang selalu menemani harinya, tetapi tetap saja dia rasanya perlu privasi.
“Lix, apartemen gue udah dibersihin?” tanya Gala.
“Sudah dari kemarin Bos, beres! Sebagian pakaian sama barang-barang lo juga udah dipindahin. Tinggal masuk aja!”
“Good. Thanks.”
Setelah mengalami kemacetan yang cukup melelahkan, Gala akhirnya sampai juga di kawasan apartemen yang memiliki 3 tower tinggi menjulang itu. Tower A untuk hunian sederhana dengan maksimal 2 kamar tidur. Tower B, adalah tower di mana apartemennya berada, tempat unit-unit paling besar dan mewah. Tower C memiliki hunian sedang maksimal 3 kamar tidur dengan luas yang lebih terbatas.
Mobilnya telah terparkir di basement tower B. Saat di lobby dan hendak berjalan menuju lift, lengannya ditarik seseorang yang sudah beberapa hari ini tidak dia lihat.
“Kenapa kamu nggak pernah angkat telepon aku?” kata Leticia dengan manis.
Gala mendesah bosan. “Aku nggak ada urusan lagi sama kamu. Ngapain sih kamu hubungin aku terus? Aku capek, Leti. Kamu pulang aja!”
Leticia mengulum senyumnya tanpa ingin menjawab pertanyaan Gala. “Aku bawa makan malam buat kita. Please… aku janji, hanya makan malam aja.”
Sambil mengerutkan keningnya dengan tak suka, Gala pun berjalan mendahului Leticia. “Kamu jadi ikut atau nggak?”
Senyum pun merekah di wajah wanita itu, dia lalu dengan begitu antusias mengikuti Gala.
Setelah tiba di lantai 20, kaki Gala melangkah sampai ke depan sebuah apartemen tipe duplex yang dibelinya dengan cash setahun lalu tanpa pernah dia tempati. Apartemen itu cukup luas, mewah, dan fully furnished. Memiliki balkon, 1 kamar tidur di lantai bawah dan 2 kamar tidur di lantai atas dengan kamar mandi masing-masing di dalam. Hampir mirip griya tawang, hanya saja tidak terletak di lantai paling atas.
“Apartemen kamu bagus banget,” komentar Leticia saat memandangi seisi unit tersebut. “Pasti mahal.”
Gala tak menjawab. Dia mengambil bungkus makanan yang dibawa oleh Leticia dan meletakkannya di atas meja makan. Leticia buru-buru membantu Gala menyiapkan piring-piring, silverware, gelas berikut air minumnya.
Wanita itu membawakan chinese food kesukaan Gala yang salah satunya adalah Bebek Peking. Dengan cekatan, Leticia meletakkan semuanya di atas piring, menuangkan sup kepiting dalam mangkuk dan menyusun piring-piring tersebut sementara Gala tengah mandi.
Setelah pria itu telah berpakaian rapi, Gala bergabung dengan Leticia yang sudah duduk manis menunggunya di depan meja makan.
“Makasih,” ucap Gala seraya menikmati makan malam tersebut dalam hening. Kendati Leticia telah berkali-kali membuka obrolan, tetapi pria itu tetap dingin dan tidak mau membuka celah sedikitpun bagi Leticia.
“Saatnya kamu pulang. Piring-piring itu biar aku yang cuci,” kata Gala mempersilakan perempuan itu pergi.
“Aku mau stay, boleh?” tanya Leticia berharap Gala setuju.
Pria itu kembali mendesah pelan. “Sorry, Leti. Kamu tau kan, kita nggak bisa begini terus. Let everything stays in Aussie.”
“Tapi aku nggak bisa,” ungkap Leti sambil menundukkan kepalanya. “Aku lelah harus pura-pura nggak ada rasa. Aku cuma pengen bisa dekat sama kamu. Kenapa kamu nggak pernah kasih aku kesempatan?”
“Hubungan kita cuma sebatas hubungan profesional aja. Perjanjian kita di awal, nggak boleh ada perasaan yang terlibat. Kamu udah melewati ba—“
“Tapi kontrak kita udah selesai tepat sebelum kamu balik ke sini! Aku nggak melewati batas apa-apa sama kamu. Apa kamu nggak bisa lihat di sini kalau aku punya perasaan sama kamu? Dan aku sangat tulus…”
Tatapan Gala padanya berubah skeptis. Gala hanya bisa menertawakan perasaan Leticia dalam hatinya. Dia pun berdiri, mengambil piring-piring itu untuk diletakkan di kitchen sink. “Leti. Nyerah aja. Perasaan aku nggak bisa kamu paksakan.”
Leticia pun mendekati Gala dan memeluknya dari belakang. Suaranya terdengar serak dan tatapannya berubah jadi sendu. “Aku benar-benar tulus sama kamu. Kenapa kamu nggak bisa lihat itu? Aku ke sini, sengaja menerima job di sini demi kamu. Demi bisa dekat sama kamu.”
“Jadi menurutmu, karena kamu udah korbanin kehidupan kamu yang enak di Aussie, aku harus balas perasaan kamu? Nggak, Leti. Bukan begitu konsepnya! Aku nggak pernah minta kamu ke sini!"
Leticia pun pelan-pelan melepaskan tangannya dari Gala. Menatap lantai dengan nanar dan air mata yang hampir menetes. Hatinya benar-benar sakit sekali. Sekalipun perasaannya tidak berbalas, kenapa Gala harus seperti ini padanya?
Gala menggaruk hidungnya, salah tingkah saat melihat tetesan air mata itu semakin deras. Hatinya tak tersentuh sama sekali saat melihat tangisan Leticia, tetapi dia tetaplah iba.
“Aku panggilin taksi untuk kamu.”
Dengan tidak sabaran, Gala pun membawa Leticia ke lantai dasar sambil memesankan taksi untuknya. Sampai di bawah, kebetulan taksi tersebut telah menunggu. Sebenarnya Gala tidak ingin mengusir Leticia seperti ini.
Wanita itu telah begitu baik padanya. Tetapi dia tetap tidak bisa membiarkan perasaan seperti ini ada. Kalau pun dia akhirnya menaruh perasaan, dia ingin pada wanita pilihannya yang dia yakini dalam hatinya. Dan hatinya bukan untuk wanita seperti Leticia.
“Aku pulang,” kata Leticia pelan sambil menghapus air matanya.
“Hati-hati di jalan,” ujar Gala sambil menutup pintu taksi itu dan membiarkan kendaraan roda empat itu membawa Leticia pergi dari hadapannya.
Gala menghela napas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan cepat sampai taksi itu akhirnya menghilang dari pandangannya. Dia pun bermaksud untuk masuk ke dalam lobby, tetapi sebuah mobil SUV putih yang melaju dari arah pintu masuk menarik perhatiannya. Mobil SUV itu singgah di depan tower C.
Dari dalam mobil itu keluarlah sepasang suami istri paruh baya dengan wajah keras. Tubuh mereka tegak dan berwibawa. Aura mereka menunjukkan kalau mereka bukan dari kalangan biasa. Senyum di wajah mereka pun terlihat amat kaku, seperti membangun batas pada orang lain agar tak semudah itu dijangkau.
Mereka di sambut oleh sepasang pria dan wanita lain yang muncul dari dalam lobby tower C. Masing-masing dari mereka menyalami pasangan paruh baya yang terlihat seperti orang tua mereka. Sang pria, terlihat mirip dengan pasangan lansia itu.
Si pria kemudian meletakkan tangannya di bahu wanita di sampingnya dengan amat posesif dan mencium puncak kepalanya. Mereka tampak berbahagia.
Jantung Gala berdegup tak terkendali. Dia tidak menyangka bisa bertemu mereka di sini. Apa dia tinggal di kawasan yang sama juga?
Tapi Gala tahu kalau itu semua hanya kamuflase, dia tahu persis perangai wanita itu karena lebih dahulu mengenalnya. Gurat lelah di wajahnya dan mata hijau wanita itu tidak bisa berbohong, bahwa dia sebenarnya sudah lelah dengan semua kebohongan itu. Bahwa senyum itu hanyalah kepalsuan semata. Mata Gala menyorot mereka dengan tajam.
Wanita itu kemudian berdiri menegang, membiarkan pasangan paruh baya tadi dan pria yang memeluknya masuk duluan. Perlahan-lahan, dia berbalik menatap Gala dari kejauhan.
Dan saat tatapan mereka terhubung, mendadak dunia di sekeliling Gala terasa runtuh. Dia yakin, bahwa kali ini dia tidak salah orang sama sekali. Tatapan itu, mata itu, itu adalah orang yang sama.
"Gemma..." panggil Gala. Entah kenapa, Gala hanya bergumam, tak memanggilnya dengan suara yang lebih nyaring.
Tapi wanita itu buru-buru masuk ke dalam sebelum Gala bergerak mendekatinya. Pria itu akhirnya hanya berdiri di teras lobby, terpaku menatap punggung wanita itu yang perlahan menghilang di balik lift.
Meski telah begitu lamanya mereka tidak berjumpa, hanya dengan melihat dari jauh saja, Gala sudah terjatuh lagi pada rasa yang sama.
Bahwa dia masih belum bisa melupakan wanita itu.
...****************...
*Beard (companion) : American slang untuk orang yang digunakan sebagai pacar, teman kencan, atau pasangan untuk menutupi skandal, atau identitas seseorang.