
Wajah Viani membayang. Otak dan batinnya berperang, saling berdebat menentukan antara bayangan itu adalah ilusi optik atau hanya salah orang.
Ah, Gala penasaran. Dia berbalik dan mencoba mengikuti Viani.
Baru saja di langkah kedua, tubuh Gala terhenti saat sebuah tangan akhirnya menariknya dalam realitas.
“Mirip Gemma ya? Masih bucin lo sampe sekarang?” tembak Niko tanpa tedeng aling-aling.
“Bucin?”
“Budak cinta… istilah gaol sekarang. Lo kelamaan jadi TKI sih. Dahlah, kalo dah selese, gue mo balik. Lagian ngapain juga lo beli happy meal sampe dua kotak. Emangnya Vincent anak SD?”
“Ya lo kaga bilang kalo cuma buat Elvina doang!” Gala hampir menjitak Niko. “Gue mo pulang. Anter gue sekarang!”
“As you wish, boss!”
***
“Mas Gala, tamu!”
Gala mengernyit saat tiba-tiba dia dibangunkan dari tidur cantiknya. Matanya perlahan membuka dan mendapati kalau jam sudah menunjukkan pukul 8 malam.
“Siapa, Bik?” tanya Gala mengantuk.
“Temen-temen Mas Gala semua di bawah,” ujar Bik Yana yang langsung menghilang setelah melapor. Bik Yana sudah terlihat menua, ada banyak uban di rambutnya di usia yang menginjak hampir 60 tahun, namun beliau masih bugar sekali.
Dengan malas, Gala menurunkan kakinya, memakai kaos berwarna putih, lalu keluar kamar. Dari ujung tangga, Gala menaikkan alisnya sebelah saat melihat seseorang bertubuh tinggi, agak gemuk, perut buncit dan kepala nyaris botak duduk di sebelah seorang wanita dewasa yang Gala yakini itu Diana.
Dari arah dapur, Bik Yana datang membawakan minuman dan cemilan untuk mereka.
Setelah mendekati pria tersebut, barulah dia sadar kalau itu adalah temannya sendiri, Febri. Ketampanannya terkikis seiring usia. Berbeda dengan suaminya, Diana terlihat semakin fresh dan lebih berisi. Tapi perut buncit Febri membuktikan kalau dirinya benar-benar diurus dengan baik oleh sang istri. Betapa Gala iri…
“Man, astaga gue hampir ga kenal ama lo," ujar Gala menatap Febri tak percaya.
“Sial …” maki Febri tiba-tiba.
“Kenapa?”
“Lo kenapa nggak ikut gendut juga sih kayak gue dan Niko!”
Tawa Gala menggema ke seisi ruangan. “Gue harus jaga bodilah. Lo kan dah laku, gue belom!”
“Yee … Lo mah kaya raya, cewek yang nyari lo, bukan lo yang nyari cewek. Mantan lo aja udah move on dari lama,” celetuk Febri.
Gala langsung berhenti tertawa. Dia diam sebentar saat mengingat Niko juga mengatakan hal yang sama tadi siang.
“Napa. Lo belum bisa move on?” tanya Febri ingin tahu.
Dengan tidak nyaman, Gala duduk sambil menyilangkan kakinya. “Gimana kabar Gemma, Di?”
“Kayaknya baik sih… anaknya satu, cewek, masih tinggal di Jakarta. Doi jadi ibu rumah tangga, nggak banyak keluar rumah,” ujar Diana sambil meminum minuman yang disediakan Bik Yana. Wajahnya tampak tak begitu tertarik saat membicarakan Gemma.
“Kok kayaknya? Gitu doang kabarnya?”
Air muka Diana berubah, rahangnya terlihat menegang. “Kabar gimana lagi yang lo pengen tau? Gue udah jarang kontekan sama Gemma.”
“Loh kenapa? Bukannya lo pada sahabatan?”
“Suaminya posesif banget. Ngelarang jalan sama gue, chat gue juga jarang dibalas. Susahlah pokoknya. Gue nggak tau apa-apa soal dia sama sekali.
Bahkan waktu kita nikah, tiga tahun lalu, pas lo nggak bisa datang gara-gara wisuda S2 lo, dia juga nggak datang! Temen macam apa tuh. Kecewa banget gue, asli …”
Alis Gala menukik saat mendengar seberapa berubahnya hidup Gemma setelah dia menikah. Sungguh terlalu banyak yang dia lewatkan dalam 15 tahun ini. Pernikahan Febri dan Diana, kelahiran Elvina, dan juga pernikahan sepupunya—anak tunggal Paul yang bernama Felix.
“Lo kenapa baru balik sekarang?” tanya Febri yang mendapati kawannya terlihat melamun dengan posisi dahi berkerut.
“Hmm? Oh … gue pengen balik aja. Om Paul pengen pensiun katanya.”
“Cuma itu?”
“Emangnya apa lagi?”
Gala hanya terkekeh saat Febri menjadikan perasaannya dengan Gemma sebagai lelucon. Ya mau diapakan lagi? Apakah dia lantas harus tersinggung dengan perkara sepele ini? Toh tidak ada yang bisa membuat Gemma kembali padanya atau meng-cancel pernikahan Gemma yang terlihat tidak sehat.
“Mulutmu itu, Pah! Nggak lucu!” gerutu Diana yang kini memanggil Febri dengan sebutan “Pah”.
“Udah berubah nih panggilan, nggak Ayang Bebep lagi macam alay?” goda Gala yang membalas Febri dan Diana.
Febri tersenyum manis sambil menyatukan keningnya dengan kening Diana beberapa detik. “Diana hamil! 4 bulan sekarang!"
Kekehan Gala terhenti dengan wajah berbinar tak percaya. Temannya itu? Istrinya sedang hamil? Tiga tahun mereka menikah dan belum ada tanda-tanda kalau mereka akan punya anak.
Sumpah, sekarang Gala merasa iri, mereka sebentar lagi akan lengkap. Meski terdengar klise, Gala juga ingin seperti itu, seperti Niko dan Febri. Bekerja, berkeluarga, punya anak dan istri ... ah!
Rasanya sekarang campur aduk. Dengan melihat keberadaan teman-temannya saat ini, mau tak mau sekelebat ingatan menyakitkan pun muncul kembali.
Begitu berat rasanya untuk kembali ke sini. Kepergian ibunya, Bobby dan juga kandasnya hubungannya bersama Gemma benar-benar membuat dampak yang dalam, memberi luka menganga dalam hati Gala yang sampai sekarang masih belum sembuh juga.
Dia pun terlalu banyak bersenang-senang di luar sana. Berbagai macam bentuk pelarian sudah dia lakukan, tapi tetap tak bisa menghapus bayang-bayang wanita itu.
“Di … gue senang liat lo semua. Selamat ya atas kehamilan lo, dan kenaikan pangkat lo pada. Pencapaian yang bagus…” Kata Gala tulus sambil meminum minumannya.
“Thanks … Tapi sayang, teman gue nggak pernah mencapai apa-apa,” bisik Diana saat Febri ke depan menyabut kedatangan Niko berserta keluarganya.
“Gue tau lo masih belum bisa move on dari Gemma… Kalau masih ada yang belum selesai di antara lo sama Gemma, lebih baik selesein. Gue sebagai temannya ngerasa kasihan sama dia. Udah hatinya nggak beres, pernikahannya juga kayak aneh gitu.”
“Emang dia semengenaskan itu?”
“Gue nggak tau, tapi dari luar udah keliatan kok kalo si Gemma itu nggak baik-baik aja.”
Gala mengangguk lalu tersenyum menggeleng. “Entahlah, gue rasa itu bukan ide yang bagus, Di … Kita udah hidup masing-masing. Masa’ lo nyuruh gue ngerebut bini orang. Aneh-aneh aja lo!”
“Gue lebih suka lihat Gemma sama lo daripada sama suaminya sekarang. Walau gue tau sedikit-sedikit doang, tapi gue bisa lihat, betapa Gemma jadi orang yang berbeda banget. Ingat kan betapa terangnya Gemma sewaktu sama lo dulu?
Dia pintar, cantik, jago main gitar, populer pula … Sebelum sama lo, dia itu kayak kulkas berjalan, tau nggak?! Masa depannya aja suram. Begitu lo datang, dia jadi punya mimpi, orang-orang jadi kenal namanya dan apa keahliannya.
“Lah sekarang? Dia bahkan nggak kuliah, nggak kerja, nggak berbuat apa-apa! Nggak ada pencapaian apa-apa untuk dirinya sendiri.
Gue bandingin sama hidup gue, di usia 25, gue udah jadi anggota, dan lo tau? Erika, gitu-gitu jago masak dan bikin kue, dia punya usaha pastry yang berkembang pesat. Sedangkan Gemma? Nggak ada! Gue sedih lihat dia begitu…”
Entah kenapa Gala kini merasa bertanggung jawab dengan semua yang pernah terjadi pada Gemma. Apakah dia sebegitu tertawannya dengan pernikahannya itu? Apa Gemma tidak pernah dibiarkan melakukan seuatu untuk dirinya sendiri?
“Entahlah, Di… mau gimanapun, itu udah bukan urusan gue lagi.” Meski terdengar yakin, dia tak dapat menutupi kalau hatinya merasa getir.
Diana mendesah kasar. Andai sahabatnya itu masih belum hamil saat itu, dia pasti sudah menyeret Gemma kemana-mana, persetan dengan suaminya! Diana akan membawanya ikut kuliah, bekerja, atau masuk militer seperti dirinya.
Apapun itu, asal Gemma tidak seperti ini, mengingat pernikahannya benar-benar suatu keterpaksaan saja. Diana mengira kalau suami Gemma tidak akan mengekangnya, tetapi dia benar-benar salah kaprah. Gemma seakan berpindah dari neraka satu ke neraka lainnya.
Namun, Gala benar, tak seharusnya Diana mengganggu apa yang sudah diputuskan sejak awal. Bahwa Gemma sudah memilih lelaki itu karena dia punya komitmen pada anaknya.
Tak lama kemudian, Febri dan Niko masuk bersama Erika. Mereka pun bercengkerama bersama-sama dan bercerita tentang berbagai hal yang terjadi selama Gala tidak berada di sini.
“Lo jomblo?” tanya Erika yang penasaran.
“Iya, mang napa?” tanya Gala. “Mo nyariin?”
“Banyak sih temen gue yang single.”
“Drop nomornya sini…” ujar Gala terdengar santai saat dikirimkan Erika link insta**am teman-temannya yang lajang. Dia single kan? Tentu saja dia harus terbuka pada semua kesempatan.
Tapi saat dia asyik stalking instagram salah satu teman Erika yang merupakan seorang model ternama, seuatu pesan pop up masuk di aplikasi sosial media berlogo bulat hijau.
Mata Gala membulat selebar-lebarnya saat membaca pesan yang tidak diharapkannya sama sekali itu.
[Hi, Honey. I miss you... I’m going to Jakarta tomorrow. You must pick me up, okay? I have a surprise for you, Babe!]
Gala memaki dalam hatinya. Wanita itu menyusulnya ke sini? Sial!
...****************...