
April tidak kaget sama sekali saat dirinya mendapat SP pertama dari Varel. Yang membuatnya malu adalah saat dia ketahuan dan disidang langsung di hadapan direktur utama dan juga pemegang saham di Trisinar.
Seluruh teman-teman April merasa tertohok dan tak mampu berkata-kata. Mereka bahkan mendelik pada April secara tajam karena mereka merasa dijebak.
Kini, mereka sedang ada di toilet wanita di lantai 9, sebuah toilet yang paling jarang di datangi karyawan karena lokasinya yang cukup terpencil dan sedikitnya pegawai yang bekerja di lantai itu.
Wanita-wanita cantik tanpa otak tersebut masih saja mencecar April setelah dipermalukan di hadapan idola semua kaum hawa single di Trisinar, siapa lagi idola mereka kalau bukan Dokter Toni yang maha gagah?
“Lo ngejebak kita, Pril?” sergah Karin marah pada April. “Apa maksud lo sama semua ini hah? Lo sengaja mancing kita jelek-jelekin Viani sampai kejadiannya kayak gini?”
“Gue udah negur lo pada tadi siang kalau kita udahan aja. Apa tadi pagi gue ada mancing-mancing kalian ngomongin soal Bu Viani? enggak kan!” sergah April membela dirinya.
“Nyolot aja terus! Lama-lama gue gampar juga lo!”
“Silakan! CCTV di mana-mana dan gue punya bukti kalau elo ngelakuin kekerasan sama gue!”
“Iiiiih, tambah nyolot!” Tangan Karin terangkat, bersiap melayangkan tamparan pada pipi April.
Namun rupanya hal itu tidak kejadian. Karin semakin terpojok dan semakin panik karena seseorang menahan tangannya. Tidak lain dan tidak bukan, Bapak Varel. “Kekerasan di lingkungan Trisinar itu tidak dibenarkan, Nona Muda!”
Tubuh Karin mendadak gemetar menatap sorot mata penuh intimidasi dari pria dewasa yang hampir berumur 40 tersebut. “Pa-pak Varel? Sa-saya …”
Varel mengangkat tangannya untuk memotong pembelaan diri April. “Tirta, buatkan SP ke dua, khusus untuk Nona Karin!”
Asisten Varel mengangguk dan segera pergi dari sana dengan wajah datarnya. Dalam hati dia mensyukuri biang gosip kantor kena karmanya, sebab asisten Varel ini juga kerap kali dihina dan digosipkan Karin terang-terangan.
“Kalian semuanya bubar!” perintah Varel.
Semuanya pergi kecuali April yang tengah menunduk malu. Di hadapan Varel. Dia tidak beranjak dari sana sebab ingin berterima kasih. “Te-terima kasih, Pak Varel.”
“Ingat, Pril. Mulutmu, harimaumu. Saya tidak tahu apa yang terjadi padamu dan Ibu Viani. Yang jelas, kamu sudah bikin saya kerja banyak hari ini karena saya harus mengurusmu dan teman-temanmu yang hedon itu!”
“Ba-baik, Pak!” katanya seraya pergi dari hadapan Varel. Dia pun kembali ke ruangannya. April hampir-hampir tak bisa bekerja dengan benar selepas mendapat SP tersebut.
***
Sore itu, sekitar pukul 5, April melajukan mobilnya menuju ke sebuah sekolah menengah pertama yang jaraknya hanya satu kilo dari Trisinar. Di sana, dia menunggui adiknya yang ekskulnya sudah selesai di jam yang sama.
Januar, sang adik yang mengikuti ekskul PMR tersebut mendatangi sang kakak yang mobilnya sudah terparkir dalam area sekolah.
“Kak!”
“Udah selesai?”
“Udah … tapi …”
April mengernyitkan keningnya. “Ada apa?”
“Itu … Zein mau ikut katanya.”
“Zein?” Mendengar nama itu, April langsung teringat sahabat adiknya yang bernama Zein yang sering kali memiliki masalah keluarga.
Entah masalah apa itu, yang jelas, Zein kerap kali tidak mau pulang ke rumah dan memohon pada Januar untuk bisa menginap di rumahnya.
“Kak, bolehin nginap lagi ya,” pintanya dengan memelas.
“Kalau orang tua kamu nanyain gimana? Kalau kemarin-kemarin kan, karena orang tua Zein ke luar kota?”
“Nggak bakal! Dia nggak akan peduli aku ke mana!”
Setelah perdebatan panjang, akhirnya Zein tidak jadi diikutkan. Masih dalam pikiran yang menumpuk, April terus saja kepikiran soal Viani. Dia memutar kemudinya, menuju rumah Viani yang pernah didatanginya satu kali.
Sesampainya di rumah besar mewah tersebut, April memberanikan diri untuk masuk. Dia meminta Januar menunggu di mobil. Wanita itu langsung dipersilakan masuk oleh Bu Marni yang tak tahu menahu perihal masalah Viani dan April di kantor.
Tak lama kemudian, Viani keluar sambil menggendong bayinya, bersama sang suami. Vincent yang begitu terganggu dengan kehadiran April menatap gadis hedon itu dengan penuh kecurigaan.
“Bawa masuk baby, Sayang.”
“Apa kamu yakin kamu baik-baik aja menghadapi April sendiri? Aku nggak mau kamu disakitin!”
Sikap protektif Vincent membuat Viani merasa dilindungi. Ah, betapa sempurnanya suaminya itu. Sudah tampan, baik hati, posesif dan protektifnya membuat Viani sebagai istri merasa dihargai. Istri mana yang tidak senang kalau suaminya sangat melindungi?
“Aku baik-baik aja. Kalau kamu kuatir, kamu bisa awasin aku dari ruang makan,” ujar Viani sambil mendelik ke arah ruang makan.
“Ada apa?” tanya Viani dingin.
Takut-takut, April mengangkat wajahnya dan memberanikan diri menatap Viani. Tapi tekadnya sudah bulat, bahwa dia harus segera meminta maaf.
Otaknya sudah membayangkan yang aneh-aneh bahwa dia mungkin akan dipukul, tampar, atau diusir. Berbagai resiko itu sudah berlarian dalam kepalanya dan dia sudah pasrah.
Dengan keberanian yang tersisa secuil, April mulai mengucapkan kata maaf.
Dan benar saja, Viani langsung mencecarnya dengan kemarahan yang tertumpuk dalam hatinya.
Setengah jam, Viani sanggup marah-marah sampai akhirnya suaranya turun satu oktaf. Vincent saja sampai heran saat istrinya ternyata tahan marah sampai selama itu.
“Gue akui, elo berani banget ke rumah gue setelah jadi pengkhianat busuk.”
Kepala April tertunduk menahan desakan air mata yang hampir turun.
“Tapi karena elo sudah berani, gue hargai usaha elo. Sekarang elo ke depan panggil Januar buat makan bareng kita!”
...*** ...
April cukup terkejut saat mendapat ampun dari Viani secepat ini. Beberapa kali dia hendak bertanya, tetapi urung karena sudah kepalang malu. Sedangkan Viani terus saja menyeringai licik meski ibu muda itu bersikap seperti biasanya.
Begitu saatnya pulang, Viani mendekati April dan berbisik. "Elo kaget kenapa tiba-tiba gue baik?"
April mendongak pada wakah sumringah Viani. Wanita itu semakin condong padanya lalu bisikan itu terdengar semakin provokatif.
"Gue senang aja lihat elo di SP. Gue senang borok elo ketahuan dan langsung menerima karma. Dan gue lebih senang lagi karena elo nggak bisa balas karena gue seratus level lebih tinggi dari elo."
"Gue emang nggak ada niat balas apa-apa ke elo. Ini murni kesalahan gue," cicit April yang semakin tak berkutik saat perbedaan derajat antara dia dan Viani malah diperjelas.
Mobil semurah miliknya tak ada apa-apa dibandingkan Mercy yang terparkir di halaman.
"Sekarang elo pulang! Jadikan ini pelajaran buat elo. Kalau gue sampai dengar lagi, gue bakal bertindak lebih kejam. Kalau mau hidup tenang, ingat-ingat apa yang gue bilang!"
April mengangguk lalu berpamitan pada semua orang. Sebelum pulang, April sempat sedikit bingung pada kelakuan Viani yang bisa panas dan dingin dalam waktu bersamaan. Seperti ini. Dia malah cipika cipiki sebelum April masuk dalam mobilnya.
...***...
Sesampainya di rumah, betapa terkejutnya mereka saat sosok Zein yang masih menggunakan pakaian sekolah masih duduk di teras kontrakan mereka.
"Januar!"
"Loh, kok elo di sini?"
"Gue nginep ya, gue nggak mau pulang! Badmood gue ketemu si botak!"
Januar memutar bola matanya malas. "Botak botak! Bokap elo tuh!"
Zein terkekeh dan langsung menyerobot masuk ke rumah saat April membuka pintu. Memang April sudah mendengar perihal anak ini yang selalu berkonflik pada sang ayah yang kini sudah jadi duda.
Memang sih mengurus anak remaja saat partner sudah tiada adalah hal yang sulit. Dirinya saja sering kewalahan menghadapi pola Januar yang sudah mulai suka memberontak, gampang marah dan labil.
Lucunya, setelah mandi dan makan seadanya, Zein langsung terlelap di salah satu kasur ekstra di kamar Januar. Satu ide terbersit di kepala April.
"Buruan ambil hape Januar!"
Beruntung ponsel itu tidak dikunci. Segera saja April membuka ponselnya dan mencari nomor sang ayah. Tapi setelah 5 menit, April tidak menemukannya.
"Lah, nggak ada tulisan Papa, ayah, daddy, papi, abi, atau semacamnya. Ini gimana sih?"
"Coba kakak ketik nama Si Botak," celetuk Januar yang sedang ngemil di ruang tengah.
Benar juga, tadi Januar dan Zein sempat menyebut botak. Dan benar saja, nomor itu tersambung dan langsung diangkat, April segera menyuruh ayah Zein menjemput di rumah.
Hanya dalam sepuluh menit, sebuah mobil putih sampai di depan kontrakan April.
Turunlah sesosok pria yang disebutkan bernama Si Botak.
"Loh, Pak Varel?"
...****************...