
Prang!
Suara gelas yang dilempar kuat hingga pecah memenuhi seisi rumah mewah itu. Seorang pria berperut buncit tengah bernapas dengan terburu-buru saat marah besar. Tapi logikanya tahu, bahwa seberapa banyak gelas yang pecah di tangannya, tidak akan membantunya lepas dari masalah ini.
Di sudut ruangan, terdapat seorang wanita yang melihat pria itu dengan wajah pucat pasi. Tak pernah seumur hidupnya dia membayangkan pria yang menjadi teman tidurnya itu akan bersikap seperti ini.
“Ki-kita harus bagaimana, Mas Bambang?” tanya Zahra, sekretarisnya yang juga merangkap sekretaris di tempat tidur pria tua itu. “Pak Indra sudah menelepon Mas sedari tadi.”
“Suruh dia kemari!”
...***...
Di belahan kota yang lain, Indra sedang duduk di sofa dalam apartemen miliknya setelah menitipkan Viani pada Mira dan Philip karena kondisi anak itu masih sedikit lemas, dan dia tidak bisa mengurus Viani saat ini.
Ponselnya sudah dia letakkan di atas meja. Dia baru saja mencoba menghubungi Bambang yang sampai sekarang masih enggan menjawab teleponnya.
Kemudian, pria itu pergi ke toilet untuk bercermin di sana.
Bagaimana bisa alergi udangnya kambuh saat ini? Telapak tangan dan kaki, juga di sekitar bibirnya terdapat ruam yang perih.
“Mas, masih ruam ya?” tanya Ranita sambil memperhatikan ruam di kulit sang kekasih dengan rasa bersalah yang besar. “Maafin aku, Mas. Aku beneran lupa kalo kamu nggak boleh makan udang. Kamu punya obat nggak sih di sini?”
“Udah nggak usah dipikirin. Sekarang kita coba—“
Mereka berdua menoleh pada ponsel Indra yang tiba-tiba berbunyi. Pria itu mengambil ponselnya dan mengusap ikon berwarna hijau. Ternyata itu adalah telepon dari Zahra, sekretaris Bambang. Menerima arahan dari Zahra, Indra tampak seperti bimbang.
“Ada apa?” tanya Ranita.
“Bambang mau kita sama-sama kabur dengan beliau ke Singapore. Tiket kita udah dipesankan.”
“Jadi kita kabur, Mas?”
“Kita nggak punya pilihan, Rita… Sebentar lagi kita pasti jadi tersang—“
Ranita menjauh dari Indra. “Nggak! Aku nggak mau!”
“Jadi kamu mau ditangkep sendirian di sini? Sebentar lagi aku jamin semua aset dan rekening kita bakal nggak bisa dipakai lagi! Kita nggak punya pilihan lain selain kabur dari sini."
“Mas, bukan itu yang aku maksud! Pak Bambang itu baru saja menipu kita! Mengirimkan uang secara sepihak pada kita tanpa diskusi terlebih dahulu terhadap pembagiannya!
Aku nggak punya landasan untuk tetap percaya sama Pak Bambang. Tidak sama sekali setelah aku tau ternyata orangnya begitu ceroboh dan lemah kalau sudah bicara soal mobil mewah!
Sumpah! Itu adalah cara paling tolol yang pernah aku dengar! Gimana bisa kita mengkhianati kepercayaan kolega kita karena kilau sebuah benda? Dia nggak takut kalo kita akan beberin semua. Coba kalau dia bersabar, pasti bakal kebeli! Tapi kalau seperti ini, sama saja kita yang keseret!”
Indra menatap Ranita dengan nanar dan mengamini dalam hati kalau perkataan Ranita itu benar. Heran, kenapa saat genting seperti ini yang rasional justru Ranita?
“Jangan karena kita kepepet seperti ini, lantas kita jadi nggak punya pilihan! Berpikir dong, Mas!”
“So? Ada ide untuk kita kabur?”
“Ada… Kita ketemu aja sama Bambang malam ini, aku percaya dia bakal bawa uang cash yang amat banyak dari rumahnya.”
“Kenapa bisa tau?”
“Kalau kita jadi tersangka, semua aset kita diambil, Mas. Kalau sampai ketahuan dia nyimpan uang sebanyak itu, menurut Mas apa yang kejadian?”
Indra membuka telinganya lebar-lebar mendengar rencana spontan yang Ranita punya.
Lalu kita tempuh jalan darat dari sini sampai ke rumah Tante aku dan kita bisa minta tolong beliau supaya antar kita menuju perbatasan. Kita akan aman kalau kita udah nyampe di negara itu.
Kalau Singapore mahal! Kemampuan kita nggak cukup. Bahkan uang milyaran akan habis dalam sekejap! Please, Mas… Dengarkan aku. Untuk keselamatan kamu dan kita! Tapi untuk percaya sama Bambang, meskipun dia udah belikan kita tiket, aku tetap nggak bisa!”
“Tapi gimana cara kita lepas dulu dari Bambang? Dia nggak akan mungkin biarin kita pergi sendirian!”
“Kita harus jadi umpan dulu, Mas.”
“Maksudnya?”
“Ayo kita buat panggilan.”
...***...
Malam itu, dari pintu belakang rumah mewah milik Bambang, mereka tengah mempersiapkan diri untuk pergi. Ada dua buah duffle bag yang dia bawa. Satu berisi pakaiannya sendiri dan satu berisi uang tunai 3 milyar banyaknya. Zahra sudah mengepak semua barang miliknya seminimal mungkin.
“Istri dan anak-anak Mas gimana?”
“Mereka akan aman. Mereka nggak terlibat apa-apa. Tapi mungkin semua mobil kami akan diambil. Sekarang kita pergi dulu ketempat aman ya, Cantik.”
Zahra tersenyum. “Kita masih nunggu Pak Indra dan Mbak Ranita.”
Sebuah mobil sedan hitam datang, Indra duduk di belakang kemudi, sementara Ranita ada di sampingnya.
“Udah siap?” tanya Bambang.
“Udah, Pak. Ini mobil yang saya bawa adalah mobil sewaan seperti permintaan Bapak,” jawab Indra dengan tenang sambil melirik Ranita yang terlihat santai. Indra pun membuka pintu bagasi belakangnya tanpa turun dari sana.
“Zahra, masukkan tas saya,” perintah Bambang. Zahra membuka lebar pintu bagasi itu dan memasukkan semua dalam tasnya.
Baik Indra dan Ranita belum ada yang turun dari mobil sampai Zahra menutup pintu bagasinya.
Tiba-tiba, mobil Indra berdecit hingga berasap. Ban belakangnya berputar kencang disusul dengan deru mobil nyaring yang membawa baja segi empat itu melaju dengan cepat meninggalkan Bambang dan Zahra dengan wajah pias.
Indra mengeluarkan kepalanya seraya berteriak pada Bambang yang terpaku menatap kepergian mereka, “Adios madafaka!”
...***...
“Kamu oke, Sayang?” tanya Indra saat menatap Ranita yang terlihat begitu gemetaran dan meremas tali seatbelt-nya dengan erat. “Udah telepon polisi tadi dan kasih tau kalo Bambang akan pergi ke Singapore?”
“Udah. Tapi… Aku sedikit takut, Mas,” jawab Ranita sambil mengecek apa sabuk pengamannya benar-benar berfungsi dengan baik. Diliriknya sabuk pengaman Indra, yang juga terpasang dengan baik.
“Jangan takut, ada Mas di sini. Terima kasih karena udah kasih ide itu. Terima kasih karena kamu tetap berpikir logis waktu aku hampir panik.”
Indra menyetir sampai ke kawasan tol. Rencananya dia dan Ranita akan melewati jalan Trans Jawa, menyeberang ke Bali, NTB, NTT dan hingga sampai Timor Leste, semua di tempuh dengan jalan darat dan ferry.
Gila! Mau jadi apa itu pantat? Pria itu nekat karena tak punya pilihan!
Ranita menutup matanya sambil menghitung mundur.
Lima, empat, tiga, dua, satu…
Brak!
...****************...