Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
51. Tipsy


Kini Gemma duduk di kursi, di tengah-tengah orang-orang pendiam dan tidak terkenal. Tak ada satu pun yang diingatnya sehingga sekarang dia hanya diam saja.


Dia sempat berpikir, mungkin datang ke reuni ini adalah ide buruk hingga dia merasa ada yang menepuk keras punggungnya.


“Gem!”


“Diana?”


Perempuan hamil itu langsung memeluk Gemma tanpa basa-basi. “Gue kangen banget sama lo, sumpah!”


Gemma pasrah dibawa Diana menuju tempat duduk mereka. Perempuan itu tak bisa menghindari Gala yang juga ternyata duduk di sana. Mereka bercerita tentang kehidupan mereka masing-masing sambil bernostalgia.


Sementara wanita itu berusaha berbaur dalam percakapan, matanya sesekali melirik pada Gala yang juga ternyata curi-curi pandang padanya. Hanya saja, bukan lagi dengan tatapan menggoda. Mata cokelat Gala memandangnya dengan tatapan yang prihatin.


Gemma benci tatapan itu. Dia tak butuh dikasihani, apalagi oleh Gala. Bukankah dia sudah bilang kalau dirinya bahagia dengan pernikahan itu? Sungguh malu rasanya jika kenyataan yang terbalik itu malah ketahuan.


Lalu dia mengalihkan pandangannya pada teman-teman yang lain. Erika yang kini terlihat sangat cantik dan bahagia. 


Demikian Diana yang semakin cerewet dan enerjik. Niko dan Febri benar-benar tahu bagaimana menyayangi istri mereka dengan baik. Pemandangan itu terasa amat getir bagi Gemma, luka dalam hatinga terasa semakin menganga.


Acara itu tak berlangsung lama. Fokus acara hari ini adalah untuk reuni, jadi tak banyak sesi yang dilalui, lebih banyak pada free time di mana mereka bisa saling menyapa satu sama lain.


Selesai acara dan sesi foto, beberapa dari mereka ada yang tak langsung pulang. Pembicaraan mereka juga masih belum selesai.


Diana, Febri dan Niko adalah orang yang cukup cerewet dan tak pernah kehabisan bahan bicara, sehingga diamnya Gemma tak terlalu kentara.


“Foto dulu ayo!” kata Niko, mengeluarkan ponselnya. Gemma yang awalnya tak ingin ikut masuk berfoto, langsung ditarik Diana, sehingga mau tak mau, dia tersenyum pada kamera.


“Di…”


“Ya, ada apa?”


Sebenarnya beberapa kali Gemma ingin bicara dengan Diana secara empat mata. Dia ingin menumpahkan segala keluh kesah dalam hatinya.


“Gimana kandungan lo, udah kelihatan jenis kelaminnya?” tanya wanita itu pada akhirnya melenceng dari maksud awalnya tadi.


Saat melihat kondisi Diana sekarang yang terlihat amat sangat bahagia, telah berbadan dua dan tengah bersemangat menceritakan pengalaman kehamilannya,


Gemma merasa amat bersalah kalau isi hatinya akan merusak suasana. Maka wanita itu memutuskan untuk tidak bicara apa-apa dan segera pindah tempat dari sana.


“Gue pulang, guys.”


“Loh, bentar amat? Belum juga jam 9,” kata Niko yang ingin menahan Gemma di sini.


Istri Indra itu mengambil tasnya dan menyampirkannya di bahu tanpa menjelaskan apapun lagi tentang kepergiannya yang lebih cepat. “Gue duluan ya. Niko, Erik, Febri, Diana, Gala… Bye…”


Dia sudah tak tahan berada di sana. Terlalu banyak cerita bahagia yang dia dengar saat itu dan dia tidak bisa berhenti membandingkan dengan kehidupannya yang kini merana.


Belum cerai dari Indra saja, dia sudah merasa seperti janda. Pahit sekali.


Tiba di parkiran, seorang wanita memanggil namanya. Gemma menoleh pada wanita itu. Melly Liu. "Mel... Lo mau kemana?"


Melly tersenyum lembut sambil menyesap vape-nya. "Gue mau ke Club sama bocah2. Lo mo ikut?"


Setelah beberapa detik berpikir, Gemma mengangguk, “Gue ikut.”


“Ayo.”


Gemma lalu mengikuti Melly sampai ke Club yang ada di seberang jalan raya di sana. Sama sekali tidak jauh dari lokasi reuni. Mereka kini duduk di bar stool menghadap bartender yang sedang meracik minuman.


“Lo mau soju?”


“Boleh…”


Bartender segera memberikan sebotol soju dan dua buah sloki di hadapan Melly dan Gemma.


“Emangnya, lo nggak cerita sama Diana? Bukannya lo akrab sama dia?”


Gemma hanya tersenyum simpul sambil meneguk soju-nya. “Yang tau masalah ini cuma elo, Mel.”


Wanita lajang di sampingnya itu juga ikut menenggak minumannya. “Aduh… gue tambah nggak enak nih. Teman-teman lo aja nggak tau, eh malah gue yang nggak akrab sama lo jadinya tau. Kok bisa sampe lo nggak cerita sama mereka, sih?”


“Kayak gue pernah cerita gitu? Sama lo kan juga karena nggak sengaja, makanya gue cerita.”


“Ya juga sih. Lo sih orangnya datar amat. Terus sekarang, lo mau ngapain?”


“Oke, usahakan tetap sober ya. Tapi kalo udah tipsy, kita pulang aja ya. Gue nggak mau mabuk!”


“Deal.”


Mereka pun mengobrol di sana bersama dengan teman-teman akrab Melly yang juga teman-temannya di sekolah. Setidaknya di sini Gemma bisa merasa lebih bebas, karena dia tidak bertemu dengan orang-orang yang diharapkannya akan mengerti keadaannya.


Waktu berlalu begitu cepat. Club itu semakin malam jadi semakin ramai.


Entah sudah gelas ke berapa, Gemma tak ingat sama sekali. Dia hanya minum dan terus minum kendati Melly sudah memperingatkannya untuk berhenti.


Dia ingin lupa dengan rasa sakit itu sebentar saja. Dia perlu sesuatu untuk bersandar dan menangis. Tapi yang didapatinya hanya meja bar saja, jadi dia menangis sejadi-jadinya di sana.


Melly yang belum terlalu terpengaruh alkohol, hanya melihatnya dengan perasaan kasihan. “Gem. Udah… Ada gue di sini…”


Gemma tak menjawab, semakin lama tangisannya terdengar semakin pilu dan menyakitkan.


“Gue dah bilang jangan minum banyak-banyak!”


Buru-buru Melly menelepon seseorang, tetapi sebelum ponsel itu sampai di telinganya, Gemma menahannya. “Jangan telpon siapa-siapa! Gue berhenti minum sekarang.”


Kawannya memperhatikan Gemma dengan kening berkerut, dia berniat akan memesankan taksi daring untuknya. Tetapi tidak jadi saat melihat wanita itu mampu berdiri dengan normal tanpa merasa apa-apa. “Lo sober nggak nih?”


“Sober. Gue bentar lagi pulang, palingan.”


Melly menggeleng kepalanya dan tetap berfokus pada ponselnya. Gemma lalu berhenti minum dan memandangi botol soju itu tanpa ekspresi.


Lama dia duduk di sana memandang botol itu, tak bergerak sama sekali. Berbagai pemikiran datang di kepalanya seperti sebuah memori yang bertabrakan. Sedih, senang, kecewa, marah, bergabung menjadi satu dan merusak jiwanya.


Detak jantungnya semakin cepat, mengejar-ngejar napasnya dengan memburu. Dia hampir mengambil botol soju itu untuk minum langsung dari sana. Tetapi sebelum mulutnya dapat menyesap alkohol itu sedikit, seseorang mencekal tangannya.


“Gem? Kamu kenapa di sini?"


“Mas?!” Gemma menatapnya dengan terkejut. “Mas ngapain di sini?! Bukannya Mas lagi pergi?! Seminggu loh, Mas!"


"Berani-beraninya Mas muncul di hadapan aku setelah semua kejadian itu, dasar brengsek! Tukang selingkuh! Bajingan!"


“Ka-kamu... Kamu ta-tau dari mana?” kata pria itu dengan cukup terkejut, saking terkejutnya dia sampai tergagap.


“Oh iya… kamu belum tau kan kalo aku udah tau semuanya? Hah? Cara kamu selingkuh di belakangku itu sama sekali nggak sulit buat dibongkar! Dasar cupu! Payah! Amatiran!"


Wanita itu maju, hendak menampar, tetapi pria itu menahannya sebelum telapak tangan itu melayang ke wajahnya. “Gem. Kamu mabuk!”


“Mabuk dari mana, he? Tukang selingkuh, penjahat kelamin! Jangan kamu pikir aku nggak tau perbuatan kotor kamu! Kamu kira aku bodoh? Aku udah korbanin semua buat kamu, dan ini balasan kamu? Brengsek! Brengsek! Brengsek!!”


“Gemma udah!” tangan pria itu terjulur untuk menahan tubuh Gemma yang hendak terus memukulnya. “Ayo pulang. Kita pulang, sekarang! Kamu udah mabuk!"


Dengan sekuat tenaga, lelaki itu menyeret Gemma keluar dari club, masuk ke dalam mobilnya untuk pulang. Sepanjang jalan, Gemma berteriak-teriak tak jelas, memukul-mukul lengan sang pria dengan tangisan air mata, seperti anak kecil yang merengek minta mainan.


Sambil meringis menahan sakit, pria itu masih berusaha tenang dan berkonsentrasi untuk menyetir.


Mereka pun sampai di lobby apartemen. Tetapi apa yang Gemma lihat, malah pemandangan yang luar biasa memuakkan.


Wanita yang dikenalnya sedang berdiri dekat resepsionis dan menyapa pria di sampingnya seperti tak terjadi apa-apa dan tak menganggap Gemma ada.


“Sayang, aku tunggu kamu sedari tadi!” ujar si wanita.


Gemma berdecih dan mendengus kasar. “Kamu! Dasar pelacur nggak tau malu! Masih punya nyali muncul di hadapan aku, ya!"


“Eh? Apa-apaan nih?!"


"Jangan belagak nggak berdosa! Pelacur ya tetap pelacur! Kamu udah tidur sama pria mana aja sebelum sama suamiku? Hah?"


"Kamu ngomong apa barusan? Kamu yang pelacur nggak tau malu ya! Aku tuntut baru tau rasa!"


Gemma sudah bersiap-siap menyerang wanita dengan pakaian kurang bahan itu, tetapi tubuhnya tertahan oleh tenaga yang jauh lebih besar dari dirinya. "Lepas, Mas!!"


“Pergi dari sini. Nanti aku hubungi,” ujar pria itu memohon. “Aku janji akan hubungi kamu.”


“Ck!” Wanita itu menghentakkan sebelah kakinya dengan kesal.


“PERGI!” usir pria itu pada teman tidurnya, sebelum pria itu menyeret Gemma masuk ke lift.


...****************...