
Seminggu lalu…
Setelah mendapat ciuman hangat dari Gala, Gemma bukannya senang, tetapi dia ketakutan. Benar-benar ketakutan! Ini bukan perkara sembunyi-sembunyi atau backstreet seperti anak remaja umumnya lakukan, statusnya itulah yang membuat dia gelisah dan was-was.
Lagi pula, Gala main nyosor saja. Dia tidak meminta izin, tidak bertindak pelan-pelan. Pergerakan mendadak ini membuat Gemma terkejut luar biasa.
Kini dia sudah ada di apartemennya. Darahnya masih kocar-kacir tak menentu dan membuat urat-uratnya seakan hampir meletus. Di saat yang bersamaan, dadanya begitu sesak.
Pesona pria itu tetap mampu membangkitkan perasaan masa lalu di antara mereka. Gemma masih cinta! Tapi sisi moralitasnya mempertahankan dirinya untuk tetap berada di tempat yang seharusnya. Berada di sisi Indra sampai statusnya jelas.
Tok tok tok tok tok!
Berulang kali bunyi itu membuat pintu di belakangnya bergetar.
“Please… Just open the door…” mohon pria itu. “Kita bisa bicarain ini baik-baik.”
Meski suara Gala terdengar benar-benar hancur dan putus asa, tapi Gemma masih tetap menahan diri. “Aku nggak mau bicara lagi… Leave me alone! Suamiku bisa datang kapan aja!”
“Nggak! Aku akan tunggu di sini,” ujarnya dengan keras kepala.
Kalo dia mau nunggu di sana ya udah!
Gemma menutup kedua wajahnya frustrasi. Dia tak menampik kalau rasa yang dia punya masih membara seperti dulu. Mata cokelat sipit yang mengecil jika tersenyum dan lesung pipi yang menawan itu selalu membuat belakang lututnya terasa lemas.
Namun akal sehatnya selalu memperingatkannya kalau tak mungkin laki-laki itu benar-benar single sehingga rasa takut akan disakiti lagi oleh pria semakin besar. Dia tak punya pengalaman yang benar terhadap pria yang dekat padanya.
Ayahnya dan Indra adalah contoh paling sempurna laki-laki yang memperlakukan wanita dengan begitu buruk.
Semakin lama, dia jadi semakin takut. Dulu Gala dan dirinya masih sangat muda, masih baru tahu rasanya jatuh cinta. Tapi sekarang?
Dengan segala pengalaman yang mereka miliki dan sepak terjang Gala sebagai seorang pria konglomerat yang kaya dengan usahanya sendiri sewaktu bersama band Black Ruby, membuatnya tak bisa serta merta percaya pada pria itu. Apalagi wanita bernama Leticia, yang sering dibawa Gala saat tampil di hadapan media Australia.
Jangan pikir Gemma tak memantau kabar Gala.
Sejak internet aktif selama belasan tahun belakangan, hal yang pertama dicarinya adalah kabar pria itu. Mulai dari Facebook yang baru saja berdiri, semua cari Gemma hanya untuk mengetahui kabar terkini dari pria itu. Tapi dia tak punya keberanian sama sekali untuk menghubunginya.
Bagaimana kalau dia mengaku tak kenal, bagaimana kalau pria itu malah ketus padanya dan lain-lain. Semua pertanyaan itu berbaur jadi satu dalam otak Gemma dan memaksa organ vital itu untuk bekerja keras menyimpan rasa yang dia miliki selama bertahun-tahun.
Dan kini dia hadir di sini menuntut cintanya, setelah Gemma baru saja melihat kabar kedekatan Leticia dan Gala dua bulan yang lalu. Di usianya sekarang, pria itu harusnya sudah menikah dan berkeluarga. Kalau ditanya siapa yang jadi kandidat utama jadi istrinya, seharusnya Leticia bukan?
Dengan semua pemberitaan itu, bagaimana mungkin Gemma bisa percaya pada Gala saat pria itu menyatakan kalau dia masih cinta?
Sementara Gala masih tak menyerah mengetuk-ngetuk pintunya, Gemma berjalan menuju living room dan duduk di sana.
Dia pun membuka ponselnya dan memperhatikan di mana posisi suaminya sekarang dan berapa persen daya baterai yang masih tersisa di GPS tracker itu.
“Di Derawan? Nggak ada mainan yang lebih jauh?!”
Dia lalu iseng membuat panggilan video pada suaminya yang dijawab pada panggilan ke dua.
“Aku mau lihat sampai sejauh mana lagi kamu bohong sama aku, Mas.”
Panggilan itu pun akhirnya menampilkan wajah Indra yang berlatarkan sebuah hotel. Wajahnya terlihat gugup, seperti habis berlari.
'Pasti habis lari nyari tempat, ya kan?' katanya dalam hati.
“Sayang? Kenapa nelpon?”
“Kenapa? Aku nggak boleh nelepon suami sendiri? I miss you.”
Ekspresi kalut Indra langsung bertransformasi jadi eskpresi lembut dan hangat, penuh kepalsuan seperti biasa. Mereka sepertinya saling berlomba siapa yang paling jago dalam hal memalsukan raut wajah.
“I miss you, too,” balas Indra dengan senyum manisnya.
“Eh, kok ada bunyi deburan ombak? Kamu di mana emang?”
“Oh… Eng…” Indra memandang ke titik lain dengan sedikit kebingungan. Matanya berpendar ke sana ke mari, lalu memandangi sang istri tanpa ada keyakinan sama sekali. “Dengar, aku hubungi lagi nanti ya, mereka panggil aku.”
“Tapi—“
Tut…
Satu bukti didapatkan lagi olehnya setelah perekam layar itu akhirnya dia matikan. Dia masih mencoba berulang kali berusaha menghubungi suaminya lagi, tetapi tak satu pun panggilan dan chat yang dibalas Indra.
Saking gugupnya Indra, dia sampai tak terpikir kalau dia masih marah pada istrinya perihal kartu kreditnya yang melebihi limit.
Setelah dia makan siang sendirian dan memastikan kabar Viani di Bali bersama dengan mertuanya. Viani terlihat sangat senang berada di sana dan sangat menikmati liburan mereka.
“Makasih, Ma, udah bolehin Viani liburan sama Oma dan Opa.”
“Sama-sama, Sayang. Sampai di sini nanti, kita jalan sama-sama ya. Nanti cerita sama Mama kalian kemana aja. Kapan-kapan, nanti Mama bujuk Papa liburan bareng ke sana.”
“Beneran, Ma?”
Gemma mengangguk. Sepertinya liburan itu memberi dampak positif bagi Viani. Jarak yang mereka miliki sekarang cukup membuat keduanya berpikir dan introspeksi diri.
Hati Gemma seperti diremas-remas kala mendengar kata-kata Maaf dari Viani. Tak sampai hati sebenarnya mendengar Viani memohon maaf. Tapi dia benar-benar menyambutnya dengan gembira.
“Udah. Nggak usah dipikirin. Pokoknya nanti kamu pulang, kita akan pergi kemana aja kamu mau. Kamu mau beli apa, Mama akan turutin.”
“Oke, Ma…”
“Have fun.”
Setelah panggilan pada Viani terputus, ada perasaan lega. Sepertinya hubungannya dengan Viani menemukan titik di mana akhirnya mereka bisa rileks dan melepas semua ego.
Gemma kembali pada pikirannya terhadap Gala.
“Pasti Gala udah pulang,” gumamnya. Diam-diam dia memperhatikan layar interkom di luar. Lalu dia membuka pintu sedikit untuk memastikan kalau pria itu benar-benar tak ada.
Gemma kembali ke kamarnya dan merebahkan diri. Kemudian dia iseng, mengirimkan pesan berupa kata-kata cinta pada Indra. Entah kenapa dia hari ini begitu ingin mengerjai pria itu.
Kendati perasaannya masih sakit akibat pengkhianatan Indra, tapi dia tak begitu memikirkannya, sebab pengkhianatan itu tidak dilakukan oleh orang yang dia cintai. Tapi yang jadi masalah besarnya adalah sang anak. Kalau sampai kenapa-napa dengan Viani, dia bisa kehilangan anak itu.
[ Me : I miss you, Mas… Cepat kembali… Rindu banget rasanya udah lama kamu nggak pulang. Aku pengen jalan bareng, menghabiskan waktu bareng. Aku rindu liburan bareng sama kamu… Kabari aku kalau kamu udah ada rencana pulang ya. Jangan extend terus… Love you… ]
Dua jam kemudian, mata Gemma mendadak terbuka saat mendengar suara notifikasi yang berasal dari telepon genggam miliknya. Terjaga dari tidur siangnya, Gemma berusaha membaca isi chat yang masuk dalam ponselnya.
Dari nomor Indra sendiri. Wanita itu memicingkan matanya sambil memperhatikan kata demi kata yang tertulis di dalam sana.
[ Mas Indra : Halo… Kamu mungkin nggak tau siapa aku, tapi kenyataannya, Mas Indra lebih nyaman sama aku daripada sama kamu. ]
Deg!
Serasa ada parang tak kasat mata yang sedang membacok dada Gemma bertubi-tubi. Isi pesan singkat itu benar-benar ditujukan hanya untuk Gemma seorang.
Awalnya, Gemma kira Mas Indra akan terus berkilah. Siapa sangka yang menghubunginya langsung sekarang adalah selingkuhannya?
Seakan semua belum cukup, masuk lagi sebuah chat dari nomor Indra. Sebuah gambar yang menampilkan sebuah pemandangan dari pasangan tak halal yang membuat emosinya naik pitam.
Gemma marah! Sayangnya, wajah wanita selingkuhan Indra itu sama sekali tidak kelihatan! Dia sungguh berharap kalau Ranita mengaku saja!
[ Me : Perempuan murahan. Tak tau malu bermesraan dengan suami orang! ]
[ Mas Indra : Oh… Saya nggak perlu malu. Karena yang diakui Mas Indra sebagai istrinya bukanlah kamu, tapi aku! ]
Memang, Gemma sudah tahu pengkhianatan Indra dari lama. Namun, istri mana yang siap ditantang balik selingkuhan seperti itu? Seakan-akan dia bangga menjadi selingkuhan suaminya.
Pada kenyataannya tidak semua wanita yang jadi selingkuhan akan malu kalau kepergok bersama pria bersuami. Orang inilah salah satunya.
Dan memang benar, selama ini Indra tak pernah mengajaknya untuk terlibat dalam acara-acara perusahaan. Seperti makan malam bersama direksi di mana Indra sering diundang, atau acara makan malam kantor non formal lainnya. Gemma seperti istri yang selalu disembunyikan dari semua orang.
Air mata Gemma menetes lagi. Tapi bukan untuk cinta, lebih pada seseorang yang terlihat kalah dari perang batinnya. Dia sudah berusaha mengingatkan dirinya sendiri agar siap menerima kenyataan.
Latihan yang selama ini dia coba buat tetap saja sia-sia. Tetap saja air mata sialan itu kembali berderai untuk orang yang tak pantas.
Tak sampai berapa detik kemudian, ketiga pesan chat termasuk foto itu dihapus oleh yang memegang ponsel Indra. No-no! Gemma tak seceroboh dahulu, dia telah mengambil screen shot dari percakapan mereka sebelum semua menghilang.
Satu jam lamanya dia duduk di sofa, menangisi keadaannya yang ternyata tersia-siakan begitu lama. Kalau tahu begini, mungkin dari dulu Gemma sudah meminta cerai dari Indra, di mana Viani masih kecil dan belum mengerti sama sekali. Semakin lama mereka tetap dalam pernikahan itu, maka semakin sulit pula rasanya untuk pisah dari Indra.
Dia mengambil ponselnya kembali, mencari nama teman SMA mereka, seorang pengacara bernama Emon, untuk berkonsultasi mengenai masalah pernikahannya. Telepon itu hanya sebentar, karena Emon dan Gemma akan bertemu kemungkinan besok untuk membahas masalah ini dengan membawa seluruh dokumen yang diperlukan.
Setelah panggilan itu berakhir, tangan Gemma tak berhenti gemetaran.
Sejujurnya dia tadi menelepon Emon, pengacara sekaligus teman Gala dalam band SMA mereka dulu, dalam keadaan autopilot. Dia juga tak mengingat dengan jelas apa yang dia bicarakan dengan Emon tadi. Ah… rasanya kepalanya sudah hampir pecah.
Aspirin yang sempat dia minum dari apartemen Gala tadi sudah hilang pengaruhnya dan dia butuh obat sakit kepala lagi. Tak lama setelah sakit kepalanya reda, dia langsung mandi berganti pakaian dengan yang lebih kasual.
Kepalanya mengingat-ingat masalahnya dengan Gala tadi. Dia sungguh tak sampai hati sebenarnya saat melihat Gala memohon padanya seperti ketakutan kalau dirinya akan pergi untuk selamanya.
Dia butuh pelarian saat ini! Sudah cukup dia selalu bertentangan dengan hatinya, dan dia mencoba mencari kebahagiaan sendiri. Untuk sejenak tidak apa-apa kan?
Dia mungkin tak akan segila Indra yang terang-terangan tidur dengan orang lain.
Maka dengan hati yang mantap, dia membuka pintu apartemennya dan mengetuk pintu apartemen milik Gala.
“Gem! Kamu ngapa—“
Pria itu telah berdiri di hadapannya dengan pakaian rapi. Matanya menatap manik pria itu begitu sendu sebelum dia tiba-tiba bergerak maju dan menggandeng tangan Gala dengan erat, memotong pertanyaan yang ingin dia ajukan.
“Bawa aku… kemana pun kamu pergi, aku mau ikut…”
Tak pernah terbayangkan bagi perempuan itu menapaki hubungan baru dan diam-diam seperti ini. Dia sudah tak pusing lagi apa kata orang. Mungkin sekarang, dia tidak ada bedanya dengan Indra.
Seandainya Mitha belum meninggal dunia, mungkin ibunya akan jadi tempat yang paling tepat. Tapi semua itu tidak mungkin lagi kan?
Dia hanya perlu pelampiasan dan tempat bersandar kala dia sedih dan ingin menangis.
...****************...