
Gemma masih belum membahas wasiat itu pada Indra. Dia yakin benar kalau alasan Indra tetap menahannya adalah untuk mendapatkan warisan itu.
Lagi pula, dengan dibelinya apartemen ini, Gemma malah semakin curiga dengan sikap tamak Indra yang mati-matian dia sembunyikan. Apakah apartemen ini adalah benar hasil yang jujur, atau hasil dari sebuah kecurangan?
Sel-sel kelabu dalam otaknya bolak balik mengantarkan informasi yang mempengaruhi Gemma dalam membuat keputusan.
Kakinya begitu gatal untuk segera pergi dari apartemen yang sudah mereka sebut sebagai rumah, tetapi Gemma tak lagi menemukan kehangatan di dalamnya sejak hubungan mereka menjadi amat dingin.
Di tatapnya Viani yang kini tengah tertidur pulas dalam malam indah tanpa hujan. Anak ini masih begitu polos dan begitu lugu, masih bisa dengan gampang dipengaruhi dan ditipu oleh orang yang tak bertanggung jawab.
“Vi…” panggil Gemma pada Viani. Dia menggoyang tubuh anaknya, tetapi anak itu masih belum mau bangun dan masih begitu nyaman dengan tidurnya.
Diam-diam, dia mengemasi barang Viani berupa seragam dan berbagai pakaian kasual lainnya dan meletakkannya di bawah tangga.
Gemma menelan salivanya dengan susah payah. Dia pergi ke kamarnya dan mengemasi semua baju-baju miliknya dalam sebuah koper besar. Dia sudah tau akan pergi ke mana tengah malam begini bersama Viani. Ditatapnya Indra yang tertidur pulas di ranjang mereka.
‘Gem… kuat… Jangan sampai kamu ngerasa iba lagi,’ batinnya.
Kemudian, dia pergi ke kamar mandi untuk mengambil seluruh peralatan mandi miliknya dan menempatkannya dalam sebuah pouch besar.
Tepat saat dia membuka pintu kamar mandi, sosok Indra sudah berdiri kokoh di hadapannya dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada.
“Kamu ngapain, Gem?” tanyanya menuntut. Dilihatnya pouch dan koper yang terletak tak jauh dari ranjangnya. “Kamu mau kabur dari aku? Kamu mau ninggalin aku?”
“Kamu udah tau apa niatku, Mas. Minggir!” ujar Gemma tajam.
“Kamu nggak bisa tinggalin aku gitu aja, Gem!”
“Aku tau apa yang kamu lakukan di belakang aku, Mas! Kamu dari awal udah nggak pernah jujur dalam pernikahan kita… Coba! Kenapa aku harus tau tentang perkara surat wasiat itu dari Papi dan Mami? Aku mau tanya! Apa itu yang jadi alasan kamu mati-matian nggak mau cerai dari aku?”
Indra terdiam, wajahnya pucat pasi karena satu lagi kebohongannya telah terungkap. Tapi dia masih saja mencoba berkilah. “Itu memang rumah untuk kita, Gem! Aku bermaksud kasih tau kamu pas hari pernikahan kita yang ke 16—“
“Lalu kamu berencana kasih apartemen ini untuk Ranita sama seperti apartemen kita yang dulu, yang sempat ditinggali dia tempo hari?”
Lagi-lagi Indra bungkam saat kebenaran itu dikorek satu per satu oleh sang istri. Dia memang sempat menyuruh Ranita tinggal di apartemen lama mereka beberapa hari.
“Aku capek, Mas. I quit!”
“Apa-apaan kamu? Kamu nggak boleh pergi dari aku. Atau aku nggak segan-segan akan ambil Viani dari kamu!”
“Aku mau kita pisah secepatnya. Dan kamu lupa? Viani itu di bawah umur, Mas. Semua anak di bawah umur akan ikut ibunya!”
“Ibu yang nggak bekerja maksud kamu?”
“Ibu yang nggak ada kemampuan finansial untuk membiayai kehidupan dan pendidikan anaknya?”
“Ibu yang nggak punya keahlian apa-apa yang bahkan untuk menghidupi diri sendiri belum tentu mampu?”
Deg!
"Tell me... Lulusan SMA bisa apa? Jadi waitress? OB? atau... pegawe toko? Gaji mereka sama dengan uang SPP Viani selama sebulan, Sayang!"
Kaki Gemma melemas. Dia pikir semua ini akan berjalan sesuai keinginan dan tebakannya. Tetapi dia baru ingat, bahwa kemampuannya sungguh terbatas.
Dia terpikir pada Emon yang membantunya mendaftarkan perceraian Gemma kemarin. Dia baru sadar, kalau Emon adalah pengacara mahal yang sering dipakai kalangan selebritis.
Gemma belum meminta pendampingan hukum darinya. Emon hanya membantu Gemma karena mereka adalah teman masa SMA. Kalau terjadi perebutan hak asuh, Gemma tidak akan punya daya apa-apa lagi selain peninggalan Mitha yang terbatas. Bahkan mungkin, dia harus menjual rumah peninggalan Mitha hanya untuk membayar jasa Emon.
Tapi dengan keyakinan dan kekerasan hati Gemma, dia tetap maju menerobos tubuh Indra untuk tetap memasukkan pouch itu ke kopernya dan menyeret benda itu keluar dari apartemen.
Viani akan ikut dengannya. Harus!
“Gemma!” panggil Indra dengan geram.
Sebelum Gemma mencapai pintu kamar Viani, anak itu juga sudah berdiri di depannya dengan mata yang masih mengantuk dan wajah yang amat berantakan. Sepertinya terbangun karena mendengar mereka sedang bertengkar.
“Viani, ayo ikut Mama,” ajak Gemma.
“Maksudnya? Loh, Mama mau ke mana bawa-bawa koper segala?”
“Mama akan jelasin nanti, Viani ikut Mama yuk.”
”Lalu, Papa gimana?”
“Viani, masuk kamar!” perintah Indra mutlak. “Dengar, Papa! Masuk kamar, SEKARANG!”
“Papa Mama kenapa?” tanya Viani yang sudah sadar seratus persen dari kantuknya. Wajah anak itu kini terlihat ketakutan kala melihat sang ayah yang murka.
“Viani, ayo ikut Mama…”
“Maksudnya, ninggalin Papa?”
“Iya… Kita pergi… Ikut Mama… Mama nggak bisa tinggal bareng Papa lagi.”
“Kenapa?”
“GEMMA!” geram Indra. “Aku kasih kamu kesempatan untuk tetap ada di sini dan kembali ke kamar kita. Atau kamu bakal kehilangan segalanya!”
Gemma memandang Indra dalam amarah dan putus asa yang bercampur menjadi satu. “Kamu kejam, Mas!”
“Kamu yang kejam, Gem!” bentak Indra dengan mata membesar menatap Gemma. “Kamu yang mau ninggalin aku! Coba katakan kenapa, Hah? KENAPA?” tantang Indra. Dia ingin melihat seberani apa Gemma membongkar perselingkuhannya di hadapan anaknya.
Gemma terdiam seribu bahasa.
“Nggak bisa jawab ya?”
“Cukup, Mas!”
“Kalian kenapa?” tanya Viani pada Papa dan Mamanya.
“Kalau kamu mau pergi. Silakan… tapi jangan bawa apapun dari sini!”
“Oke! Siapa yang takut?”
Gemma lalu menarik tangan Viani, tetapi genggaman tangannya segera dilerai oleh Indra. “Kalau aku bilang jangan bawa apapun, itu berarti termasuk Viani.”
“Pa! Kenapa Mama malah disuruh pergi?!!” Viani mulai menangis dan memandang sang ibu. “Ma… Apapun masalah antara Papa dan Mama, please, jangan pergi. Jangan tinggalin Viani! Viani masih mau tinggal sama Mama dan Papa!”
Dipandanginya Viani dengan tatapan pilu. Tetapi Gemma sudah tak bisa menahan diri lagi. Dia tak bisa hidup serumah dengan pria yang tukang selingkuh.
Dia tak mau selalu dibohongi dan disuruh menjadi istri yang baik di rumah dan membiarkan kelakuan suami yang semakin merajalela yang pelan-pelan akan mengikis akal sehatnya sampai habis.
“Ma… Kalau Mama pergi, siapa yang masak buat Viani? Siapa yang antar jemput Viani di sekolah?” tanya Viani. Ada sebuah nada memohon yang membuat Gemma jadi tak tega.
“Kalau Mamamu mau pergi dari kita, biarkan aja. Biarkan dia tinggalin kita, Vi… Kamu aman sama Papa.”
Dada Gemma begitu sesak mendengar semua ini. Dia pun mengambil kopernya dan segera meninggalkan apartemen itu.
“MAMA!” jerit Viani saat pintu itu pelan-pelan Gemma tutup. Hatinya begitu hancur begitu kakinya melangkah menjauh dari sang buah hati.
Lalu dia sampai di sebuah pintu. Dipandanginya pintu apartemen Gala dengan begitu getir.
Dia mengetuk pintu apartemen Gala beberapa kali.
Dalam sekejap, Gala sudah membukakan pintu. "Gemma, ada apa?"
Tak ingin menjawab, dia menghambur ke pelukan Gala dan menangis sejadi-jadinya.
...****************...