
Setelah mengantar Indra ke bandara, Gemma menderu mobilnya kembali menuju apartemen. Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi ketika dia sampai.
Sambil menghela napas dan menghembuskannya perlahan, dia membuka pintu apartemennya dan berjalan menuju kamar Viani yang ternyata tak dikunci.
“Vi…” panggil Gemma lembut. Dilihatnya putri cantiknya yang masih belia itu dengan tatapan penuh arti.
Teringat saat dia melahirkan dulu, begitu berat perjuangan yang harus dia rasakan karena sang ibu tidak ada di sampingnya. Suaminya membatasi pertemuannya dengan ibu kandungnya. Indra bilang, bahwa kehadiran Mira sudah lebih dari cukup.
Tetapi itu tidak cukup buat Gemma. Tak ada yang bisa menggantikan peran Mitha untuknya. Baby blues pun sempat dia alami, namun Mira tak peduli sama sekali.
Beliau yang perfeksionis selalu melandaskan ‘Saya dulu begini… Saya dulu begitu…’ membuat Gemma sudah enggan menceritakan apa saja yang terjadi pada dirinya.
Tak tahukan wanita itu kalau Gemma harus mengandung dan melahirkan di luar keinginannya? Perubahan itu terlalu besar. Namun sang mertua menganggap Baby Blues dan PPD adalah mitos.
Satu hal yang membuat Gemma mau memaafkan Indra adalah, pria itu merupakan pasangan yang sangat suportif dalam mengurus anak. Dia mau berbagi tugas dan tak pernah sama sekali mengeluh. Indra mau menggantikan Gemma beberapa jam pada subuh hari agar dia bisa tidur. Hal itulah yang membuat Gemma pelan-pelan luluh dan bertahan di sisi pria itu selama ini.
Jadi sebenarnya, Indra memang bukan suami yang buruk.
Sayangnya, dia terlalu terbuai dengan kata-kata cinta buaya yang diberikan suaminya hingga mengabaikan penampilannya saat ini.
Harusnya dia tetap cantik. Harusnya dia pandai merawat diri. Harusnya dia tak pernah menahan diri untuk membeli apa saja yang dia mau. Mencintai diri sendiri saja dia tak mampu, tapi di waktu yang sama, dia harus tetap menyenangkan orang lain.
Jadi dia pikir, perselingkuhan Indra itu tidak seratus persen salah sang suami.
Namun, selingkuh tetap saja selingkuh kan? Tak ada namanya seperempat atau setengah selingkuh. Kebohongan tetaplah sebuah kebohongan. Tidak ada yang abu-abu.
Terkadang, dia teringat dengan Gala. Bagaimana dulu dia terlalu bucin pada lelaki itu sampai membayangkan ke pelaminan segala! Punya anak yang tampan dan lucu serta pernikahan yang bahagia. Dia sering memaki diri karena masih ada sedikit rasa untuk pria itu. Sulit untuk menampiknya. Memori antara dia dan Gala memang tak bisa dilupakan begitu saja.
Tentu saja dia tidak dapat keluar dari bayang-bayang itu. Dia masih terlalu takut kalau semua jadi kenyataan. Karena kalau dipikir-pikir, sekalipun yang jadi suaminya sekarang adalah Gala, tidak ada jaminan kalau pria itu akan memberikan komitmen untuknya. Tidak setelah pria model Yahya dan Indra yang telah merusak pola pikirnya terhadap kaum Adam.
Saat ini, hidupnya adalah Viani. Matanya harus tetap tertuju pada Viani seorang. Tapi dia tidak akan membiarkan anaknya membenci ayahnya sendiri. Bagaimanapun juga, Indra adalah ayah yang baik.
Dielusnya pipi sang anak dengan penuh rasa. “Vi… Bangun…”
Ada sedikit pergerakan diiringi dengan erangan malas dari sosok yang dibangunkan. Subuh tadi, dia bangun untuk melepas kepergian sang ayah, lalu tidur lagi.
“Apa?” tanya Viani dengan suara seraknya.
“Mama tau kalau kamu masih marah… Mama ngerti. Tapi kamu harus tau, Mama begini karena nggak pengen terjadi apa-apa sama kamu.”
“…..”
“Begini aja Vi… Mama ngerasa kalau belakangan kita sering berantem. Sekarang, mau kamu apa? Mama akan berusaha kabulkan.”
“Viani mau jalan sama Dani.”
“Kamu tau kan? Bukan Mama aja yang melarang, Papa kamu juga nggak bolehin…”
“Kalo gitu, Viani mau sendiri. Viani nggak mau lihat Mama di sini… Viani mau tidur.
Saking kesalnya anak itu sampai mengusir sang ibu dari kamar. Tapi tidak apa-apa buat Gemma. Dia masih belum menyerah. Kalau Indra menuntutnya untuk sabar, maka itulah yang akan dia lakukan.
“Mama udah ngomong sama Oma dan Opa. Mereka udah dari minggu kemarin janjian mau ke Lembang jam 9 ini. Viani mau ikut? Ada Edo, Tara dan Andi juga nanti.”
Tawaran itu spontan membuat Viani menoleh saat mendengar ketiga nama sepupunya disebut. “Mama ikut?”
“Nggak, Sayang. Mama di sini aja. Mama mau berbenah rumah. Sejak pindah, box-box masih belum Mama keluarkan semuanya. Mama juga mau ke salon. Biar seger kalo dilihat teman-teman Viani.”
“Berapa hari katanya?”
“Sampai hari Senin atau Selasa.”
Anak itu kembali bersemangat. Menarik duffle bag-nya dan menyiapkan semua keperluannya sendiri. Suasana pagi ini terasa lebih damai. Mungkin memang ada baiknya Gemma dan Viani mengambil jarak sebentar, untuk mengintrospeksi diri sendiri.
Setelah Viani di jemput mertuanya, Gemma membuat video call pada Indra. Suaminya itu terlihat hampir tenggelam dalam kesibukan, menampilkan posisinya yang memang sedang berada di kantor cabang Semarang.
Segala aktifitasnya hari ini juga berjalan dengan lancar. Pukul 11 siang, dia pergi ke salah satu restoran mahal dan menghabiskan total lebih dari 500ribu untuk satu kali makan siang. Dilanjutkan pergi ke Salon dan Spa untuk melemaskan otot-ototnya yang begitu tegang belakangan ini.
Seakan belum cukup, dia lalu pergi ke klinik kecantikan dan semua selesai pukul 7 malam. Bahkan dia membuat janji pada Klinik tersebut untuk melanjutkan Stretch Mark treatment yang sudah dia bayarkan full. Terserah nanti Indra mau protes bagaimana. Uang itu tak mungkin juga ditarik lagi.
Tubuhnya benar-benar terasa rileks dan tanpa sadar, dia sudah mengabaikan ponselnya karena beberapa kali dia tertidur pulas. Pertama karena pijat, kedua saat berendam air hangat, ketiga saat melakukan facial treatment.
Dan di sinilah dia sekarang, sudah naik ke lantai 20 tetapi ponselnya malah tertinggal dalam mobil. Mau tak mau, dia harus turun untuk mengambilnya. Dia sebenarnya merasa sedikit gelisah kalau sudah berada di luar apartemen, intensitasnya bertemu Gala terlalu sering.
“Good evening, Beautiful.”
Tuh kan? Yang dihindari muncul lagi. Belakangan ini, setiap kali bertemu, Gemma akan selalu mendengar kalimat-kalimat aneh. Mulai dari rangkaian kata-kata yang nyaris merayu, sampai kalimat yang benar-benar menggoda imannya.
Hanya sebuah senyum tipis nan singkat yang Gemma berikan untuk Gala. Selebihnya, wajahnya tetap datar. Tanpa ekspresi sama sekali.
Waktu dalam lift itu terasa begitu lama. Entah kenapa, aura yang dikeluarkan pria itu benar-benar mempengaruhi nalurinya dan hampir membuatnya bertekuk lutut.
Pelan-pelan, Gemma melirik Gala yang kini sedang menelepon seseorang, memperhatikan garis rahangnya, mata sipitnya yang lembut namun tajam, dan juga bibir dan lesung pipi yang selalu singkron saat tersenyum.
“Aku tau kalau aku ganteng… Nggak usah dipandangin terus. Atau kamu mau kita ke apartemenku aja, biar kamu bebas mandangin aku?”
Kata-kata itu berhasil mengembalikan akal sehat Gemma yang sempat terjeda. Saking asyiknya memperhatikan wajah Gala, dia sampai tak sadar kalau pria itu sudah selesai menelepon.
“Apaan sih?” tanya Gemma kesal. “Itu… Kerah kamu…”
Ish… kenapa malah mengomentari kerah? Gemma kembali memaki dirinya karena kata-kata itu terkesan kalau Gemma memperhatikan Gala. Memalukan!
Gala meraba kerah kemeja putihnya dan baru sadar kalau kerahnya dalam posisi tidak rapi. “Kamu perhatian banget sih? Tapi aku takut nggak rapi juga kalo aku yang perbaikin.”
“Beneran, Gem. Perbaikin buat aku dong.”
Masih tetap dalam posisinya, Gemma menjulurkan tangannya dan memperbaiki kerah kemeja Gala tanpa memangkas jarak sama sekali. “Tuh… Sudah.”
“Thanks… But, Gem…” Gala tiba-tiba menunduk hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari ceruk leher Gemma.
“A-apa yang kamu lakuin?” jantung Gemma terasa bergejolak tak karuan saat wajah itu mendekatinya. Meskipun dia sudah memundurkan wajahnya, tetap saja lift sialan itu membatasi pergerakannya. Ah… sial…
“You smell so good,” bisik Gala yang kembali ke posisi berdirinya semula. “Kamu habis nyalon ya, Gem?”
“Bukan urusan kamu…” padahal Gemma juga tergoda dengan aroma maskulin yang menguar dari tubuh Gala.
“You know, aku lagi mau makan malam sama Felix. Kamu bisa join kalau kamu mau.”
“Nggak, makasih."
“Gimana kabar kamu beberapa hari ini, Gem?”
“Baik.”
“Eng… Maaf aku nggak ngabarin apa-apa sama kamu belakangan ini. Aku baru bekerja, jadi sibuk banget…”
Alis Gemma terangkat. “Ngapain kamu ngabarin aku? Nggak ada kerjaan!”
“Ya haruslah. Kita kan calon—“
“Jangan ngada-ngada!”
Ting…
Syukurlah! Lift pun terbuka. Menampilkan orang-orang yang hendak masuk juga.
Tepat di balik kerumunan itu, tampak seorang wanita bertubuh tinggi, berbalut fashion branded, berkulit putih dan terlihat manis sekali.
“Gala…”
Hati Gemma mendadak berdenyut tak karuan. Bahkan suara wanita itu saja terdengar begitu seksi.
Gemma memperhatikan pria yang ada di sampingnya itu. Tak ada wajah yang menunjukkan kalau pria itu antusias saat melihat wanita tersebut.
“Kamu ngapain di sini?” tanya Gala ketus.
Wanita itu berjalan, menghampiri Gala dan bergelayut manja pada bahunya. “Aku mau ketemu kamu.”
Duh! Buat apa lagi Gemma malah berdiri di situ seakan minta penjelasan? Dia lalu berbalik, mencari lift turun dan segera menghilang dari sana untuk kembali ke tujuannya, yaitu ke basement, mengambil ponsel yang tertinggal di mobilnya.
Sepanjang perjalanan dari basement kembali ke lantai 20, otaknya tak berhenti memutar bentuk tubuh wanita tadi. Tinggi, cantik, kaki jenjang. Tak mungkin ada stretch mark di perutnya, dan Gala terlihat tidak suka?
Orang secantik itu saja tidak masuk hitungan Gala, apalagi dirinya!
“Lo terlalu kege-eran, Gem,” bisiknya pada diri sendiri. mati-matian dia meyakinkan dirinya kalau semua godaan dan kalimat gombal Gala itu hanya untuk bercanda saja.
Mana mungkin kan, pria setajir, setampan, dan sesempurna Gala mau dengan wanita kurus, berperut gelambir, berselulit dan sudah punya anak macam dirinya?
Sempat dia terpikir kalau bercerai nanti dari Indra, dia mungkin akan mencoba mendekati Gala. Tapi sepertinya tidak mungkin. Bodoh benar kalau dia bisa percaya kalau Gala akan mau menerimanya.
Maka sekarang, Gemma hanya akan fokus ke satu hal.
Mengorek kebohongan Indra satu per satu.
Persetan kalau dia akan jadi janda seumur hidup, persetan kalau dia sudah tidak diinginkan siapa-siapa termasuk Gala. Meski hatinya masih mencintai pria itu, tapi dia harus tahu diri.
Kini dia berada di apartemennya, duduk di sofa dan menatap ponselnya dengan tajam. Terpancar amarah tertahan yang hampir merusak raut wajahnya. Sembari otaknya memutar kenangan menyakitkan tempo hari.
“Aku rindu kamu.”
Kalimat yang pernah tertulis di ponsel Indra itu terulang di kepalanya.
Menjijikan.
Dia akui kalau dia dulu syok. Dedikasi yang selama ini dia berikan untuk keluarga ini ternyata tak ada artinya bagi Indra. Suaminya telah berkhianat… Tak hanya dirinya, tetapi juga pada Viani.
Dia pun mencoba mengetes Indra dengan menelepon pria itu.
“Halo, Mas lagi di mana? Udah makan?”
“Udah, Sayang. Mas lagi di jalan menuju hotel.”
“Oh begitu. Oke, hati-hati ya Mas.”
“Oke, Sayang. Love you…”
Sambil memutuskan panggilan itu, dia menyesap alkohol yang sudah lama tak diminumnya.
Gemma lalu mengusap layar ponselnya untuk menampilkan aplikasi lain yang menunjukkan posisi GPS tracker yang telah dipasang Gemma pada tas kerja Indra, yang terhubung pada telepon genggam miliknya.
Di mana posisinya saat ini sudah tidak menunjukkan kalau suaminya itu ada di Semarang.
...****************...