
Vincent dan Viani sedang bersiap-siap pada pagi itu untuk berangkat menuju vendor selanjutnya. Di tengah persiapan mereka, bel interkom berbunyi beberapa kali.
Viani menaruh tasnya di sofa dan berjalan ke depan. “Aku yang buka,” ucapnya pada Vincent.
Saat pintu terbuka, senyum Viani mendadak hilang.
Vincent maju ke depan, membawa tas Viani penasaran dengan siapa yang ada di depan tunangannya. “Siapa, Vi—elo!” Vincent menatap Alvin dengan penuh emosi.
“Oh, lo pada udah tinggal serumah?” Alvin tersenyum menyindir. “Vi … Vi, gue kira cupu, ternyata suhu!”
“Apa maksud lo, hah? Heran gue, elo masih punya nyali muncul di hadapan kita!”
Viani langsung berbalik, menahan Vincent tepat di dadanya. “Vin! Sabar dulu, Sayang.”
“Gue punya something, di tangan gue. Kalo elo pukul gue, benda ini nggak bakal pernah sampai di tangan elo!” ancamnya pada Vincent.
“Udah salah, beraninya lo ngancam!”
Viani menegur Vincent. “Vin!”
“Kenapa mesti dia terus sih yang kamu bela? Keluarga kita ancur gara-gara dia!”
Alvin mengernyitkan dahinya. Dia baru sadar kalau akibat dari hal tersebut sudah sangat parah. Alvin jadi merasa tak enak sama sekali kenapa dia baru saja muncul sekarang. Urusannya pasti sangatlah panjang.
Sikapnya yang rese sekarang, sama sekali tidak membantu. Maka dia mengubah caranya bicara.
“Em … Aku … bisa masuk dulu? I’m going to explain everything.”
Vincent mendengkus kasar saat Viani membukakan pintu apartemennya lebar-lebar dan mempersilakan pria tengil itu masuk.
Tanpa disuruh, Alvin langsung mengambil posisi duduk di sofa tunggal, sementara sepasang calon pengantin tersebut duduk bersebelahan di seberang Alvin.
“Gue minta rekaman di klub malam itu.” Alvin menyodorkan sebuah flash disk di atas meja. “Gue minta maaf karena kelakuan ogeb teman gue, elo berdua kena getahnya. Gue kirain, elo berdua cuma bakal sky diving setelah ini. Gue bener-bener nggak tau kalau hal ini sampai ke keluarga elo, Vi …”
“Bukan cuma sama keluarga Viani, keluarga gue juga!”
“Sayang,” tegur Viani. “Biarin Alvin jelasin dulu.”
“Jadi malam itu, gue udah tau kalau Marsel mau bungkus cewek. Yang gue nggak tau, adalah bahwa dia mau ngebungkusnya pake obat perangsang buat digarap gantian. But, ini spekulasi gue aja, yang pasti, Marsel-lah yang udah taroh obat ini.
Gue yang kebetulan di sana, ngelihat dan langsung mengamankan botol itu. Yang gue nggak nyangka, ternyata Marsel narohnya di botol air mineral, bukan mocktail-nya Viani. Sebenarnya gue udah coba jelasin, tapi elo nampar gue. Terus nomor gue juga diblokir Viani."
Vincent memindai wajah Alvin dari atas sampai ke bawah. Kelihatannya saja lelaki ini seumur dengan mereka, tapi dari cara bicara Alvin yang cablak dan tak pernah serius, perilakunya masih seperti bocah. Sungguh sulit mempercayai mulut embernya.
Tapi tampang itu berubah. Alvin menjadi sangat serius kali ini. “Kalo lo nggak percaya, silakan lo lihat isi flashdisk itu. Gue juga siap jelasin ke bokapnya Viani seandainya kehadiran gue dibutuhkan."
Ini kejutan. Vincent tak menyangka kalau Alvin bisa berpikiran dewasa juga di balik ‘wajah menyebalkan dan minta ditampar’ itu.
Pelan-pelan, penilaian Vincent terhadap Alvin sedikit berubah. “Kalo gitu, kita pergi sekarang juga!”
***
Viani menghubungi Febri perihal kedatangannya ke rumah Gala dengan Alvin kali ini. Pria itu pun sudah membuat janji dengan Niko nanti malam, sambil mereka berdoa agar hati Gala dan Gemma akan luluh.
“Apa kamu yakin, Vi? Papa kamu bisa dengar si Alvin itu?” tanya Febri meragu.
“Viani juga nggak tau. Ya kita coba dulu, Om.”
“Baiklah. Malam ini juga, saya akan ketemu Niko.”
“Oke, Om. Makasih banyak sudah nolongin Viani dan Vincent.”
“Ish! Kayak ngomong sama orang aja!”
Viani terkekeh lalu mentup panggilan itu.
“Alvin itu …” Vincent menghentikan kalimatnya. Matanya lurus ke depan saat menghindari mobil yang memotong jalan mereka.
“Kenapa?”
“Nggak pa-pa …” Gengsi rasanya saat dia tahu kalau Alvin tidak seburuk yang dia sangka.
“Apa kamu baru percaya, Vin?”
“Pandangan aku ke dia sedikit berubah.”
Viani tersenyum kecil. Gadis itu menyandar pada sandaran kursi mobil Vincent dalam perjalanan mereka menuju rumah Gala. Dia mengingat apa yang pernah terjadi antara dirinya dan Alvin.
“Saat itu, setelah aku ketemu dia … Aku juga ketemu sama teman-temannya. Marsel itu emang suka godain aku. Tapi Alvin, selalu pasang badan dan selalu marahin Marsel kalau dia berani-berani mendekati aku.
Aku dulu ingat dia pernah omelin Marsel : ‘lo gila! Jangan macem-macem lo sama Viani! Dia anak baik-baik, nggak bisa sembarangan lo bungkus!’ Percaya nggak percaya, dia melindungi aku dari si gila Marsel.”
Vincent menghela napas kasar sambil konsentrasi menyetir.
“Kalau soal dia ketahuan selingkuh sama cewek lain itu. Aku baru tau kalau dia lagi ada masalah keluarga. Aku bisa pahami itu, tapi aku tetap nggak bisa tahan emosi aku sampai aku bisa hajar dia sampai berdarah-darah,” Viani tertawa singkat. “Dia layak dapatin bogem mentah aku. Tapi itu bukan jadiin dia orang jahat, Vin.”
Lelaki itu membelokkan mobilnya ke gerbang komplek rumah Gala. Di belakangnya mengekor mobil BMW X2 milik Alvin. Lelaki itu memang benar-benar serius akan menjadi pembela di kasus mereka. Vincent sampai terkesan juga.
Sesampainya di rumah, Viani turun terlebih dulu, disambut Rinto, Agus dan Damar. “Papa ada di rumah?”
Rinto menatap Viani dengan rasa bersalah besar. “Neng! Astaga, Abang minta maaf, huuhuhu …” Rinto hampir saja berlutut di depan Viani. “Seandainya abang malam itu nggak pergi, nggak bakal Neng Viani kena masalah kayak gini, huhuhuhu.”
Vincent dan Viani langsung mengangkat tubuh Rinto. “Udah, Bang. Nggak pa-pa. Ini bukan salah Abang, Bundanya abang lebih perlu kehadiran Abang loh.”
“Tapi ini emang salah Abang, Neng,” Rinto masih terisak.
“Bukan kok, Bang. Udah, jangan nangis lagi … Saya harus hadapi Papa dulu.”
“Bapak masih di dalam, Neng. Belum berangkat ngantor,” ujar Agus sambil mempersilakan ketiga orang itu masuk.
Marni langsung menyapa Viani dengan begitu sedih. Dia kasihan dengan Viani yang harus mengalami hal seperti ini. Setelah sesi tangis-tangisan yang begitu ribut itu, ada sosok yang turun dari atas.
“Siapa, Bu—“
“Mama …” Viani yang takut-takut, maju dan berdiri di bawah, menunggu Gemma turun. “Bolehkah Viani bicara sama Mama dan Papa?”
Gemma menatap putrinya dengan tatapan tak terbaca. Dia lalu mengeluarkan ponselnya dan menyuruh Indra segera datang ke rumahnya.
...***...
“Buat apa anak tengik ini ada di sini?” tanya Gala kesal.
“Kami ada alasan membawa dia ke sini, Om …” jawab Vincent.
“Diam kamu! Saya tidak bicara sama kamu!” hardik Gala, Vincent langsung menutup mulutnya dan tak bicara lagi.
Situasi yang nampak tidak baik ini lebih parah dari dugaan Alvin. Lelaki itu berdeham pelan. Alvin memang harus melakukan sesuatu sebelum semuanya lebih runyam dari sekarang. Dia mengacak rambut tebalnya dan memperbaiki posisi kaos polo miliknya sebelum bicara.
“Saya menyadari benar kalau keberadaan saya di sini sangat tidak diharapkan oleh Om Gala, Tante Gemma dan juga Om Indra. Tapi di sini, saya mau menjelaskan semuanya. Karena memang malam itu, saya mengambil andil dalam kejadian yang sama sekali di luar keinginan kami.”
Semua terdiam mendengar penjelasan Alvin. Bahkan hampir tak terdengar sama sekali suara deru napas dari mereka semua saat rekaman CCTV tersebut diputar.
“Setelah ini, terserah Om dan Tante kalau mau tuntut Marsel. Teman saya itu memang kurang ajar. Kalian bisa pakai rekaman ini, atau kembali memintanya di klub malam itu untuk dijadikan bukti. Saya pun siap menjadi saksi jika diperlukan.”
Gemma menghela napas berat. Ditatapnya mantan suaminya meminta tanggapannya.
Indra pun berdeham dan memberi pendapatnya. “Menurutku, ya kalau memang seperti ini, menuntut dia juga nggak ada guna. Yang ada, banyak orang akan tau tentang skandal macam ini. kalau Vincent dan Viani mau menikah, lebih baik menikah saja secepatnya …”
“Sekarang bukan itu aja masalahnya, Mas …” Gemma lalu mengalihkan pandangannya ke Gala yang menatap titik lain dengan ekspresi rumit.
“Sayang. Sekarang kamu harus perbaiki hubungan kamu dengan Niko. Dia bakal jadi besan kamu. Dan kamu tau, ini bukan soal Vincent dan Viani lagi, ini adalah soal pribadi kamu dengan Niko. Kamu, Febri dan Niko sudah jadi sahabat dari kecil, Sayang. Udah jadi saudara!”
“Sebenarnya,” Viani angkat bicara. “Tadi kami udah nelepon Om Febri untuk turut ngomong sama Om Niko.”
Dipandanginya sang istri. Dan di situ pulalah Gemma tahu kalau Gala sangat merasa bersalah. “Apa kamu pikir dia bakal maafin aku?”
“Niko pasti akan maafin kamu …” Gemma meyakinkan Gala.
Lelaki yang hampir berusia 50 tahun itu memandang Vincent dan juga Viani bergantian. Di datanginya mereka berdua. Tangannya terbentang, meraih kedua sejoli itu dalam pelukannya. Di saat itu pulalah pertahanan Gala runtuh.
Air matanya menetes tak terbendung. “Saya hanya ingin jaga Viani, Vin … Saya hanya tidak ingin sesuatu terjadi sama anak perempuan saya … Maafkan saya, Vincent."
Viani sampai terharu saat melihat Gala yang tengah rapuh, memeluk mereka dengan segenap kelemahannya.
Gala yang terkesan kuat, dominan dan tegas, kini harga dirinya luluh lantak bagaikan rumah kayu yang disapu ombak tsunami. Wajah keras itu berganti dengan gurat pilu seorang ayah yang sayang pada anaknya.
Gemma dan Indra sampai meneteskan air mata yang sama derasnya. Wanita 46 tahun itu menatap Indra dengan tatapan tajam.
Cerita bahwa dulu terjadi sesuatu yang buruk antara dia dan Indra memang tersimpan rapat hanya di antara mereka saja. Tidak ada yang boleh mengulang lagi cerita itu.
Sedangkan di ujung sana, Indra menunduk malu dan menangis dalam diam.
Kini Indra tahu rasanya bagaimana jika kehormatan anak perempuannya direnggut.
Meski hal ini terjadi karena ketidaksengajaan dan Vincent yang akan bertanggung jawab penuh, trauma yang Gala alami itu akhirnya menular pada ayah kandung Viani tersebut.
Rasa sakit itu tak ada bandingannya. Rasa-rasanya Indra lebih baik mati saja dari pada menanggung beban ini. Dirabanya dan dipukul-pukullah dadanya yang perih dan sesak. Dia sangat merasa bersalah, baik sebagai mantan suami maupun ayah dari Viani.
Di datanginya Viani, dan dipeluknya anaknya dengan tangis kencang. “Maafin Papa, Viani. Maafin Papa!! Kamu begini karena Papa, Sayang! Maafin Papa!! Ya Tuhan, ampuni saya!”
Tidak ada satu pun dari mereka yang hadir di rumah itu, yang matanya tidak berkaca-kaca.
“Gala …” Gemma menyusun semua akal sehatnya untuk mendatangi suaminya. “Malam ini, selesaikanlah semua. Masih ada waktu sebelum hari pernikahan Vincent dan Viani. Demi anak-anak kita. Demi pertemanan kalian yang sudah berlangsung puluhan tahun, aku mohon …”
Gala menghapus air matanya, meraih tangan Gemma dan mengecupnya tanpa melepas tatapannya dari sang istri. Lelaki itu akhirnya mengangguk pelan.
Viani berjalan, menuju Alvin dan memeluk lelaki itu dengan erat. "Makasih, Vin ... Tanpa kamu, aku bingung bagaimana perbaiki ini semua."
Masih terharu pada Indra dan Gala, Alvin menyeka air melarikan diri dari matanya dan menepuk punggung Viani, "Sama-sama. Bahagia ya, kalian ..."
Dari jauh, Vincent mengangguk pada Alvin tanda permusuhan di antara mereka sudah selesai.
...****************...