
Guys, Gala tuh tau kalo Viani di-bully, tapi dia masih dalam diam ngawasin. Nanti dia muncul bentar lagi karena ada cepunya.
Mereka aslinya gak diam2 amat.
***
“Maaf soal kemarin …”
“Untuk apa?”
Mereka sudah sampai di depan kelas Viani. Kedua tangan mereka yang tertaut, kini terlepas sudah.
“Maaf karena lancang gandeng tangan kamu,” ucap Harry lagi dengan wajah bersalah yang membuat Viani mengerti apa arti ekspresi itu.
“Ada Hana tadi, iya kan?”
Harry mengangguk pelan. “Dari kemarin, dia nggak berhenti-berhenti hubungin aku. Nomor dia sampe aku blok. Dia nggak kenal waktu dan pantang nyerah banget.”
“Dia juga masih hubungin aku. Basa-basi, terus nanya-nanya hal absurd sama ngirim-ngirim berita Timor Lesti—which I dunno who the hell she is. Udah tau kalo aku nggak suka lagu Lelaki Kardus, tapi dia masih bahas.”
Harry terbahak nyaring, “Tipikal Hana banget ya.”
“Kenapa kamu nggak ngasih dia kesempatan?”
“Dia masih jamet.”
“Tapi kamu masih suka kan?”
Harry tersenyum manis, meletakkan kedua tangannya pada kedua bahu Viani dan pelan-pelan memutar tubuh gadis itu hingga menghadap pintu kelasnya. “Masuk gih, bentar lagi bel.”
“Oke… oke …” Viani meraih tangan Harry dan pelan-pelan melepasnya. Dia pun menoleh, tersenyum samar pada lelaki itu sambil melambaikan tangan.
Lalu, matanya menangkap satu sosok lelaki yang memandangnya dari jauh, dari kelasnya Harry. Dibalasnya tatapan itu dengan datar sebelum dia masuk kelas untuk duduk di kursinya sendiri. Namun sebuah ingatan tiba-tiba datang seperti korsleting listrik pada otaknya.
“Oh sh*it!”
Umpatan itu lolos begitu saja manakala dia melupakan sesuatu seharian ini. Hari ini ada tugas Matematika dari Pak Boni—berupa soal cerita panjang dan beranak pinak yang sudah dia tulis dalam lembaran HVS, buah kerja kerasnya selama beberapa hari, yang deadline-nya adalah hari ini.
Dibukanya tasnya dan dia cukup terkejut lantaran mendapatkan lembaran itu masih utuh pada tempatnya.
“Selamat deh!” ucapnya tanpa mengeluarkan lagi kertas itu tepat saat bel masuk berbunyi.
...***...
Sejak hari itu, sampai tiga hari ke depan, sekolah Viani berjalan lancar. Awalnya Viani pikir kalau hal ini akan berlangsung berkepanjangan, tapi nyatanya suah satu minggu ini tidak terjadi apa-apa.
Tak ada gangguan apapun, dan tak ada tugas yang hilang. Hingga Viani akhirnya melupakan kewaspadaannya terhadap tugas yang acap kali hilang.
“Kalau hal ini terjadi lagi, saya dan keluarga saya akan tarik semua saham kami. Paham?” kata Gala pada airpod yang terpasang di telinganya pagi itu saat mengantar Viani pagi itu, dengan suara kecil yang masih dapat di dengar Viani.
Lelaki itu terlihat galak, dan wajahnya tidak bersahabat. Entah apa yang terjadi, gadis itu tak berani menebak dan tak begitu mengerti tentang perusahaan. Yang dia tahu kalau sampai saham ditarik dalam jumlah besar secara berjamaah, maka harga saham tersebut bisa melorot drastis.
“Om, Viani sekolah dulu …” pamitnya sambil mengecup pipi Gala ketika roda empat mereka akhirnya sampai di sekolah.
“Oke, semangat, Sayang,” ucap Gala sambil memperhatikan Viani yang turun dari mobil dan berjalan menuju gerbang seraya masih berbicara dengan seseorang di ponselnya.
Viani pun masuk dengan tenang. Dan semua berjalan aman seperti tak terjadi apa-apa. Kendati dia senang, ada sekelumit perasaan yang membuatnya bertanya-tanya.
“Lagi senang?” tanya Harry yang mendatanginya di kelas.
“Selama ini aku aman berkat kamu."
Harry meletakkan ponselnya di atas meja, tersenyum lembut pada Viani.
“Kamu ngerjain PR aku. Makasih banget … "
Harry bermaksud bicara, namun ucapannya terpotong oleh seseornag.
“Vi! Lo dipanggil Pak Boni. Sekarang katanya.”
Viani pun meninggalkan kelas itu menuju ruang guru tepat saat bel berbunyi dan para siswa masuk ke kelas masing-masing.
Pak Boni, guru matematika—yang sekilas wajahnya mirip Andika Kangen Band tersebut duduk di kursinya dengan kacamata terpasang pada pangkal hidungnya.
“Viani, ini kertas kamu atau bukan? Kamu yang ngerjain sendiri atau kamu minta orang ngerjain?” tanyanya tanpa basa basi dan menatapnya seolah gadis itu adalah behel yang akan dilepas dari gigi.
Viani memperhatikan kertas yang telah dia kumpulkan minggu lalu tersebut dan baru sadar kalau tulisan itu bukanlah tulisannya, kendati nama yang tertera di sana memanglah namaya. Viani hampir panik, tapi dia tidak bisa mengakuinya juga kalau itu bukan miliknya. Bisa-bisa dia dihukum lagi oleh Pak Boni.
“Kamu ngakulah! Ini jelas-jelas bukan tulisan kamu!” Pak Boni mengambil buku catatan Viani yang lain dan membandingkannya. “Lihat sendiri!”
“Ka-kalo saya nggak mood, sa-saya nulis pake tangan kiri,” jawab Viani asal.
“Kiri? Jadi, kanan kiri gitu?”
“Hm-m, iya, labil …” Semoga nggak disurih nulis. Semoga nggak disurih nulis. Semoga nggak disurih nulis.
Pak Boni mengangkat alisnya sebelah. Pria itu sepertinya menyerah dan tak ingin memperpanjang. “Sekali saya tahu kamu nyuruh orang kerjain, saya bakal panggil orang tua kamu. Ngerti nggak?”
Yes! Nggak disuruh nulis! “Ngerti, Pak Andi—eh---Pak Boni …” ralat Viani yang mengerjap-ngerjap gugup.
Baru selesai urusan dengan Pak Andika—Pak Boni, ada empat guru lagi—yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Fisika, dan Kimia—yang memanggilnya dengan kasus yang sama.
Viani tahu kalau ini pasti ulah Harry.
Gadis itu tersenyum. Dia pun mengirim chat pada Harry untuk berterima kasih karena telah sering membantunya menulis ulang tugas-tugasnya yang hilang. Hatinya sedikit tergerak oleh perasaan asing yang pelan-pelan merasuk.
[ Sama-sama. Tapi … boleh nggak aku minta sesuatu? ]
[ Pamrih ih! Apa tuh? ]
[ Tar sore, nonton sama aku yuk! Dr. Strange 2 ]
[ Oke! ]
Tak sampai 5 menit, Viani menerima pesan gambar yang isinya dua karcis nonton di kursi D 7 dan 8.
...***...
Setengah jam kemudian, setelah meladeni semua guru yang memanggilnya, akhirnya Viani bisa menghirup udara bebas.
Dia membawa kakinya melangkah dengan santai menuju kelasnya. Lapangan saat itu hanya dipenuhi siswa siswi dengan seragam olahraga, tidak ada satu pun yang ada di sana dengan seragam biasa, kecuali dirinya dan—
Di sudut sana, di kelas yang berada tepat di sebelah toilet, Vincent sedang duduk di depan kelasnya sambil bersedekap, tak masuk kelas. Tatapannya kosong, tubuhnya mematung. Sementara di kelasnya sudah ada guru dan para siswa yang terlihat hening.
Viani yang tak bisa menghindarinya lantaran jalan kelasnya melewati kelas Vincnet, lantas harus lewat tepat di depan anak laki-laki tersebut.
“Viani …” panggil Vincent dengan wajah terangkat dan tak lagi keras seperti tadi.
Viani sempat berusaha tak menyapa. Tapi kalau namanya dipanggil, mau tak mau dia harus menghentikan langkahnya. “Ada apa?”
“Lo nggak pa-pa, kan?”
Kening Viani terlipat mendengar pertanyaan itu. “Ya, gue nggak pa-pa. Emang kenapa?”
Vincent tersenyum lembut, “Cuma nanya doang. Nggak boleh ya?”
“Boleh kok.” Kedua telunjuk Viani beradu ragu-ragu. Ia ingin bertanya, tapi ragu. Namun, Viani tak bisa berhenti untuk tidak peduli.
“Eng … lo kenapa di luar?” tanyanya pada akhirnya. Dia ingat, siswa yang sering kali dihukum di luar pastilah karena tidak mengerjakan PR. “Lo nggak kerjain tugas?”
“Iya …”
“Ooh … tugas apa?”
“Biologi …”
Gadis itu lantas hanya mengangguk pelan hingga satu sosok familiar datang menghampirinya dan Vincent.
Erika.
“Hai Tante Erika …”
Si pemilik nama langsung memeluk Viani, “Apa kabar, Sayang?”
“Baik Tante … Tante ngapain ke sini?”
Erika berdecak sambil mencubit pinggang anaknya. “Si Boy ini, udah berkali-kali nggak ngerjain PR! Jadinya Tante yang dipanggil ke sekolah.”
Diliriknya ekspresi Vincent yang kini malu. Telinga pria itu memerah sambil membuang muka.
“Tante ketemu wali kelas Vincent dulu ya …” pamit Erika pada Viani. “Ayo, Vin …” wanita seusia Gemma itu menarik tangan Vincent yang terlihat pasrah menuju kantor guru.
...****************...