My Secret With CEO

My Secret With CEO
96


Kini Lila hanya menemani suami nya itu yang sedang bekerja setelah mereka berbincang. Seperti biasa jika Lila sedang sendiri atau pun dia tidak punya kesibukkan maka pasti yang dia lakukan adalah memantau saham perusahaan atau memikirkan hal apa yang bermanfaat yang bisa dia lakukan untuk perkembangan perusahaan.


Seperti saat ini, dia sedang memantau saham perusahaan suami nya. Lila tersenyum mengamati perkembangan saham perusahaan suami nya itu.


Melvin yang sempat melirik sang istri yang tengah tersenyum pun menjadi penasaran dengan apa yang di lihat oleh istri nya itu di layar ponsel nya.


"Sayang ... Kamu senang melihat apa?" tanya Melvin menatap ke arah Lila.


Lila yang mendengar pertanyaan dari suami nya itu pun melihat ke arah sang suami lalu dia tersenyum, "Tidak melihat apa-apa suamiku." Balas Lila.


"Masa sih? Masa iya kau senyum senyum sendiri tanpa alasan seperti itu? Ayo katakan apa yang membuatmu tersenyum seperti itu?" tanya Melvin.


Lila pun lagi-lagi hanya tersenyum mendengar ucapan suami nya itu. Lalu dia tertawa melihat ekspresi yang di tunjukkan suami nya. Melvin yang tidak kunjung mendapat jawaban dari istri nya itu pun segera menghentikan aktivitas nya dan berdiri mendekati istri nya lalu melihat apa yang di lihat oleh istri nya itu di tablet nya.


“Sudah puas sekarang? Apa masih penasaran?” tanya Lila.


Melvin pun tersenyum lalu mencuri kecupan singkat di bibir istri nya itu, “Sudah puas sayang.” Jawab Melvin singkat.


Lila pun hanya bisa tersenyum jengah dengan apa yang di lakukan oleh suami nya itu. Lila sudah tidak begitu kaget lagi dengan suami nya itu yang mencuri kecupan dari nya karena hal itu sudah jadi kebiasaan Melvin akhir-akhir ini hingga Lila sendiri pun sudah terbiasa. Lagi pula hanya itu yang bisa dia berikan untuk suami nya itu. Dia tidak kuasa jika harus memberikan hak suami nya itu secara penuh mengingat keadaan nya saat ini yang tidak memungkinkan. Walaupun kondisi kaki nya sudah di katakan membaik. Penyembuhan nya sudah sekitar 90%. Tapi racun dalam tubuh nya selalu jadi pertimbangan juga.


Selain itu juga, Melvin sendiri yang tidak ingin mengambil hak nya itu. Dia tidak ingin membebani istri nya. Bagi nya Lila sudah mau menikah dengan nya pun sudah sangat dia syukuri. Jadi untuk hal lain nya tidak jadi beban pikiran nya.


Melvin yang mendengar ucapan istri nya itu pun mengangguk, “Mereka masih anak-anak sayang. Lima tahun. Jadi tentu saja sedikit bandel dan nakal bisa di maklumi. Mereka itu dewasa karena didikanmu.” Ucap Melvin.


Lila pun mengangguk dan tersenyum, “Yah, aku memang keras dalam mendidik mereka.” Ujar Lila.


“Sayang, bukan itu maksudku--” ucap Melvin yang takut istri nya salah paham.


Lila menggeleng dan tersenyum, “Aku tidak marah by. Aku mengerti kok.” Ucap Lila.


“Beneran tidak marah kan?” tanya Melvin memastikan dan menatap istri nya itu lekat.


Lila mengangguk yakin, “Benar by. Untuk apa coba. Takut banget aku marah.” Ucap Lila.


“Aku takut kau pergi tanpa jejak lagi. Aku tidak ingin itu terjadi lagi.” Ucap Melvin.


Lila yang mendengar nya pun tersenyum, “Itu tak akan terjadi kok. Tenang saja.” Ucap Lila.


“Janji?”