My Secret With CEO

My Secret With CEO
78


Kembali ke rumah sakit, kini Luke berada di ruangan perawatan nya sendiri. Dia berbaring di ranjang sambil mengingat pertemuan nya pertama dengan Lila saat itu. Jujur saja saat ini pikiran nya masih berputra-putar memikirkan takdir pertemuan nya dengan Lila yang ternyata adalah adik nya sendiri. Pantas saja dia merasa ada sesuatu yang dekat antara diri nya dan Lila.


Lila yang dia anggap sebagai majikan nya tapi ternyata adalah adik kandung nya. Walaupun masih harus melakukan test DNA tapi dia sudah yakin saat memandang Alexa yang memang sedikit mirip dengan nya. Lila yang dia lindungi ternyata adalah adik nya.


“Aku tidak akan membiarkan kau pergi Lila baik sebagai adikku maupun sebagai nonaku. Aku sudah melindungimu selama ini dan kau pun sudah melakukan hal yang sama untuk melindungiku. Maka hal itu tidak akan aku sia-siakan sama sekali. Aku baik sebagai kakakmu maupun sebagai bawahanmu akan melakukan hal yang sama. Memastikan kau sembuh dan menemukan kebahagiaanmu sendiri.” Gumam Luke lalu memenjamkan mata nya setelah selesai memikirkan semua yang membuat nya bingung berpikir.


***


Kini Melvin selepas dari kantor nya dia segera meluncur ke rumah sakit dan hanya meminta orang rumah untuk mengirimkan pakaian untuk nya ke rumah sakit.


Begitu dia tiba di sana, ada Yola dan Delon di sana bersama Lila. Lila sedang di suapi oleh Yola dengan telaten.


“Tuan Melvin!” sambut Yola.


Melvin pun hanya mengangguk dan menatap Delon yang juga memandang nya. Tatapan kedua nya beradu dan terlihat seperti sebuah permusuhan. Seperti nya akan terjadi sebuah pertempuran besar di sini.


“Cukup, La!” tolak Lila.


Yola pun menghentikan suapan nya karena memang Lila juga sudah makan tadi, “Tuan Melvin, aku ingin pulang saja dari sini.” Ucap Lila menatap ke arah Melvin setelah dia minum air.


Melvin yang mendengar permintaan Lila pun segera memandang Lila dan segera mendekati sisi ranjang Lila hingga Yola pun dengan sadar diri segera berdiri dan memberikan ruang untuk Lila dan Melvin bicara.


Yola dan Delon kedua nya tanpa di minta pun segera keluar memberikan Lila dan Melvin berdua saja. Mereka tahu bahwa Lila dan Melvin mungkin saja ada yang harus di bicarakan berdua.


“Kau belum pulih dengan benar. Kita di rumah sakit dulu.” Ucap Melvin.


Lila menggeleng, “Saya ingin pulang tuan. Saya ingin ke apartemen dan juga melihat toko bunga mommy. Saya belum memeriksa nya.” Ucap Lila.


“Apartemenmu baik-baik saja. Tidak akan ada yang berani masuk ke sana. Semua nya aman terkendali.” Ucap Melvin.


“Lalu untuk toko bungamu juga di jaga oleh orang kepercayaanmu itu dengan baik. Tidak ada yang perlu di perhatikan.” Sambung Melvin.


“Tapi saya tetap ingin pulang tuan.” Ucap Lila.


“Kenapa tidak pulang ke kediaman di sisi kediaman milik orang tuaku. Bukan kah itu juga kediamanmu.” Ucap Melvin.


Lila yang mendengar itu pun tersenyum, “Apa Alex yang mengatakan nya?” tanya Lila ingin memastikan nya. Walaupun dia sudah yakin seribu persen bahwa putra nya itu yang bisa dengan mudah mengenali nya.


Melvin pun ikut tersenyum ketika melihat Lila yang senyum. Melvin mengangguk, “Putra kita itu sangat hebat. Dia bisa menganalisa apa yang terjadi dengan mudah. Dia seperti sudah memiliki indra ke enam saja. Terima kasih sudah melahirkan putra dan putri sehebat mereka untukku. Terima kasih tidak menggugurkan mereka.” ucap Melvin tulus dan menatap Lila lekat.


Lila kembali tersenyum mendengar ucapan Melvin itu, “Dia memang hebat. Alex dan Alexa adalah kebanggaanku. Maka aku mohon saat aku tia--”


Cup


Ucapan Lila terhenti karena tiba-tiba saja ada bibir yang menutup bibir nya. Sebuah kecupan singkat yang hanya berlangsung 10 detik saja bahkan hanya sebuah kecupan biasa saja. Tapi mampu membuat efek getar di hati kedua nya.


“Jangan mengatakan hal seperti itu lagi. Aku sudah mengatakan tidak akan membiarkanmu pergi dari sisiku. Kau harus menebus semua nya. Aku tidak akan pernah merelakanmu untuk pergi. Tidak yang menitipkan siapa untuk siapa. Kita akan merawat mereka bersama-sama.” ucap Melvin setelah melepas kecupan nya itu.


Lila yang masih kaget dan terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Melvin itu pun hanya bisa mematung dan tidak fokus dengan apa yang di katakan Melvin. Jujur saja hanya Melvin saja satu-satu nya pria yang menyentuh nya selama dia hidup sudah hampir 29 tahun ini.


“Tuan Melvin jangan lakukan hal seperti itu lagi. Saya tidak menyukai nya.” Ucap Lila setelah selesai dari ketidaksadaran nya.


“Lila, menikah lah denganku.” lagi-lagi ajakan menikah itu di ucapkan oleh Melvin. Entah sudah ajakan menikah yang ke berapa kali yang di ucapkan oleh Melvin. Tapi hingga kini tak kunjung di sambut oleh Lila.


Melvin yang mendengar ucapan Lila pun sedikit memiliki harapan karena dari Lila yang biasa nya cuek dan tidak menerima status nikah mereka itu. Kini menjadi Lila yang mengatakan bahwa mereka adalah suami istri, “Aku tahu hal itu dan aku juga belum melupakan nya. Status kita sudah menikah. Tapi mari kita wujudkan untuk jadi pernikahan asli seperti yang kau harapkan. Mengucap janji satu sama lain di hadapan Tuhan. Kita sempurnakan pernikahan kita juga di hadapan agama. Bukan hanya sekedar tercatat dalam Negara.” Ucap Melvin.


Lila menggeleng lalu dia terkekeh, “Aku belum siap untuk itu, Tuan. Kita begini saja. Aku tidak ingin mengucap janji atau pun membuat janji atas nama seseorang di hadapan Tuhan pada kehidupanku ini. Aku sudah menerima takdirku yang seperti nya tidak memiliki nasib baik di kehidupan ini.” ucap Lila.


“Sudah aku katakan jangan mengatakan hal yang seperti itu. Aku mohon percaya lah untuk sembuh. Aku akan mengusahakan yang terbaik. Kita akan menciptakan takdir kita sendiri.” Ucap Melvin/


Lila tersenyum mendengar ucapan Melvin itu, “Saya tahu apa maksud anda tuan. Tapi untuk menciptakan sebuah takdir yang baik seperti nya sudah sangat terlambat untuk itu. Kita seperti nya memang tidak memiliki takdir kehidupan untuk bisa hidup bersama. Kita memiliki jalan yang berbeda. Aku tidak ingin membebani siapa pun dalam kehidupanku ini. Aku ingin menikmati sisa waktuku sendiri.”


“Lagi pula untuk menciptakan takdir kita sendiri seperti nya memang sudah sangat terlambat. Waktu untuk itu sudah terlewati.” Ucap Lila.


“Aku akan menciptakan waktu itu untuk kita. Jika memang pintu waktu itu sudah di tutup maka aku akan membuka nya dengan mendobrak jika memang tidak bisa di buka. Maka aku mohon padamu Lila percaya dan jangan putus aja saja. Kita pasti akan bisa melakukan hal ini dengan baik. Jalan itu pasti ada.” Bujuk Melvin. Lila hanya memenjamkan mata nya saja.


Melvin yang melihat Lila memajamkan mata nya dan sudah membelakangi nya pun diam saja. Dia membiarkan saja Lila mengistirahatkan tubuh nya itu. Dia tidak ingin mengganggu Lila.


“Istirahat lah! Aku tidak akan mengganggumu. Pikirkan saja dulu baik-baik sendiri. Jika memang kau tidak ingin melakukan nya untukku maka lakukan demi dirimu atau juga demi anak-anak yang ingin melihat mommy mereka sembuh. Alex dan Alexa membutuhkanmu. Aku juga. Aku akan menunggu sampai kau siap. Aku tidak akan menyerah untuk memintamu menjadi istriku. Aku juga akan menciptakan takdir kita bersama.” Ucap Melvin lalu menaikkan selimut Lila.


“Untuk masalah kau ingin pulang ke apartemen atau mengunjungi toko bungamu nanti setelah kau sedikit pulih. Aku akan menepati hal itu. Aku sendiri yang akan membawamu mengunjungi nya. Tapi kau harus sedikit pulih dulu.” Sambung Melvin.


Setelah itu, dia keluar dari ruangan Lila dan mendapati Yola dan Delon di sana.


“Yola, kalian pulang lah. Lila sedang istirahat. Terima kasih sudah menjaga nya.” Ucap Melvin.


“Ahh tidak masalah tuan. Lila adalah sahabat bagi saya. Saya senang bisa bertemu dan melihat nya lagi.” Jawab Yola. Melvin hanya mengangguk saja.


“Tuan Melvin, bisa kita bicara.” Ucap Delon tiba-tiba saat Melvin hendak menemui Luke yang jika memang Luke adalah kakak dari Lila maka itu berarti pria itu adalah kakak ipar nya. Yah, kakak ipar. Tidak salah bukan dia mengatakan itu. Bukan kah Lila adalah istri nya di mata hukum. Jadi itu berarti Luke adalah kakak ipar nya.


Melvin pun segera menatap Delon lalu kemudian dia mengangguk karena sejujur nya dia juga ingin memukul pria di hadapan nya itu. Dia juga sebenar nya ingin membalaskan dendam nya itu atas pukulan Delon beberapa hari lalu. Selain itu juga dia ingin membalaskan kekesalan nya akan masalalu di mana jika bukan karena Delon mungkin saja Lila akan segera dia ketahui dan mungkin saja takdir mereka tidak akan seperti saat ini. Yah, mungkin. Memang mungkin itu adalah sesuatu yang sangat di impikan oleh semua orang. Mungkin identik dengan sebuah keindahan, kebaikan, dan kebahagiaan.


Melvin dan Delon pun segera menuju taman rumah sakit dan membiarkan Yola kembali ke ruang perawatan Lila.


“Apa yang ingin kau bicarakan denganku?” tanya Melvin to the point saat mereka sudah berada di taman rumah sakit.


Delon pun hanya tersenyum lalu dia segera duduk di bangku taman rumah sakit yang ada di depan mereka itu, “Anda tahu tuan Melvin. Lila itu adalah gadis yang ceria. Dia tidak dingin seperti itu sebenar nya. Dia adalah orang yang heboh. Tapi waktu dan keadaan yang mengubah nya menjadi sosok yang dingin seperti saat ini. Dia berubah sejak kematian mommy nya. Sejak dia di tuntut untuk jadi dewasa karena harus menjaga diri nya sendiri di tengah-tengah dua wanita yang membenci nya dan hanya menginginkan harta kedua orang tua nya saja. Dia di tuntut untuk menjadi pewaris karena memang sebagai pewaris tunggal.” Ucap Delon menjeda ucapan nya itu sebentar.


“Hidup nya tak dia jalani seperti apa keinginan nya lagi. Dia selalu waspada pada sekitar nya. Dia ingin membenci daddy nya tapi tidak bisa karena dia juga menyayangi daddy nya. Di tambah dengan kenyataan bahwa mommy dan daddy nya saling mencintai. Daddy nya di jebak sehingga menikahi Linda istri kedua nya itu. Lila pun perlahan mencoba berdamai dengan semua nya. Dia menjauh dari kediaman utama nya dan memilih tinggal di apartemen. Tapi siapa sangka hal itu lah yang membuat semua nya menjadi parah karena ternyata tuan Calvin di racuni hingga kematian itu datang pada nya. Lila pun merasa jadi orang paling bersalah saat itu karena membiarkan daddy nya tinggal dengan Linda dan juga Aruna. Untuk kejadian selanjut nya anda pasti sudah tahu sendiri karena benang merah kehidupan Lila terikat dengan milik anda.” Sambung Delon mengakhiri cerita nya itu.


“Lalu kapan dia mulai di racuni jika dia tinggal terpisah dengan daddy nya?” tanya Melvin. Hal itu lah yang ingin dia tanyakan.


“Lila memang tinggal di apartemen nya tapi tetap sering datang mengunjungi daddy nya. Setiap perayaan ulang tahun atau perayaan besar dia pasti datang ke kediaman utama. Mungkin saat itu lah racun itu masuk ke tubuh nya. Untuk hal ini juga saya kurang tahu karena sejak kematian nyonya Dhara saya pun kembali tinggal di kediaman orang tua saya dan menjaga Lila dari luar saja.” jawab Delon.


Melvin pun mengangguk mengerti, “Aku mengerti. Lalu apa maksudmu menceritakan ini padaku?” tanya Melvin memandang lekat ke arah Delon.


Delon yang mendengar pertanyaan yang di ajukan oleh Melvin pun tertawa meringis, “Apa anda tidak bisa mengerti semua nya setelah saya menceritakan nya panjang lebar tuan?” tanya Delon balik.


Melvin pun terdiam lalu kemudian dia kembali menatap Delon, “Jangan katakan kau me--”


Delon segera mengangguk sehingga memotong apa yang hendak di katakan oleh Melvin, “Yah, saya mencintai nya tuan. Saya ingin menikahi nya. Saya memiliki perasaan itu kepada nya sejak dulu. Sejak saya di percayakan untuk menjadi teman nya. Mungkin saat itu kami masih kecil dan cinta masa kecil sering di anggap sepele. Tapi semakin kami tumbuh besar dan tumbuh bersama. Tidak saya pungkiri perasaan itu semakin besar untuk nya. Saya juga menyadari bahwa perasaan saya itu sudah di tahap cinta pria pada wanita. Bukan lagi rasa sayang dari sahabat untuk sahabat nya. Sudah lebih dari itu. Tapi sekali lagi saya hanya bisa diam dan jadi pengecut sehingga tidak pernah mengungkapkan perasaan itu. Saya tidak ingin merusak persahabatan yang kami jalin. Terlebih lagi dia adalah putri tunggal sedangkan saya hanya putra dari pengacara keluarga nya. Kami sangat berbeda. Hal itu lah yang saya sesali hingga kini. Kenapa saya tidak punya keberanian untuk mengungkapkan perasaan saya saat itu kepada nya dan justru lebih memilih memendam nya.” Ucap Delon.


“Kau tidak boleh mencintai nya. Saya tidak mengizinkanmu untuk itu Delon. Tetap pendam saja perasaanmu itu hingga akhir. Jangan biarkan dia tahu sedikit pun. Kau tidak boleh mengungkapkan nya. Jika kau melakukan itu maka kau harus tahu bahwa saya tidak main-main dengan ancaman ini.” ujar Melvin menatap tajam ke arah Delon.


“Saya tidak sepenurut itu tuan.”