
Kini Melvin segera bergabung dengan kedua orang tua nya itu di ruangan keluarga. Dia merebahkan tubuh lelah nya itu di sofa dan duduk di sofa yang berhadapan dengan kedua orang tua nya. Terlihat jelas sekali bahwa dia itu memikirkan apa yang di minta oleh putra nya. Menemukan Lila dalam kurun waktu seminggu itu adalah sesuatu yang menurut nya mustahil.
Jika saja itu adalah gadis yang berbeda. Bukan Lila gadis yang bisa menyembunyikan diri nya karena kemampuan yang dia miliki akan teknologi. Mungkin saja waktu sehari saja cukup untuk nya. Tapi kini sudah beberapa jam tapi dia tak kunjung juga mendapatkan kabar apapun. Dia sungguh tidak ingin mengecewakan putra nya itu. Putra yang baru saja bertemu dengan nya.
Mami Elea bisa merasakan keresahan putra nya itu, "Nak, apa Alexa sudah tidur?" Tanya mami Elea mencoba mengalihkan keresahan putra nya.
Melvin pun mengangguk dan menatap mami nya itu, "Hum, dia sudah tertidur. Cukup lama dia bisa tertidur karena seperti nya dia merindukan Lila walau pun putri ku itu berusaha untuk membuatku tidak begitu merasakan keresahan hati nya. Tapi aku tahu dia sangat merindukan Lila. Terlihat dia yang mengigau saat baru saja tertidur dengan memanggil nama Lila. Aku tidak menyangka bahwa ini akan terjadi mih, pih. Putra ku itu menjadi dingin padahal dia yang tadi terlihat ceria menyambut kita. Namun kini senyuman di wajah nya itu menghilang. Huh, aku pusing entah bagaimana cara nya bisa menemukan keberadaan Lila saat ini. Entah kemana dia pergi. Dia selalu mengambil keputusan nya sendiri tanpa memikirkan aku. Ku pikir hukumanku sudah selesai tapi ternyata belum. Dia masih mengujiku." Ucap Melvin dengan raut wajah sedih nya itu.
"Apa janjimu dengan Alex itu membuatmu pusing nak?" tanya mami Elea.
Melvin pun mengangguk, "Iya mih. Dia sangat menyayangi Lila bahkan putriku itu mengatakan dia sangat dekat dengan Lila. Tapi kini menjadi dingin karena kecewa padaku. Aku takut tidak bisa menepati janjiku kepada nya mih. Ini adalah pertama kali nya kami bertemu dan pertama kali juga putraku itu darah dagingku meminta sesuatu kepadaku. Tapi kenapa terasa sangat sulit Mih. Apa aku banyak berbuat dosa." Ucap Melvin sedih.
“Kau harus membuktikan dirimu nak. Kali ini mereka ada bersama kita. Permintaan yang dia buat kepadamu juga berlaku untuk kami sebagai kakek dan nenek mereka. Jadi jangan khawatir papi akan membantumu.” Ucap papi Emran setelah dari tadi diam akhirnya mengutarakan pendapat nya.
Melvin pun hanya mengangguk sambil memikirkan hal yang harus dia lakukan agar bisa menepati janji nya itu kepada sang putra.
“Nak, kau istirahat lah juga. Kasihan tubuhmu. Untuk mencari nya kita lanjutkan besok. Ingat kau harus menjaga kedua anakmu maka kau tidak boleh sakit.” Ucap Mami Elea kepada putra semata wayang nya itu.
“Iya nak benar kata mamimu. Kau harus istirahat karena hari esok pasti akan lebih melelahkan dari ini. Kau harus kuat untuk itu.” ucap papi Emran.
Melvin pun mengangguk lalu dia segera menuju lantai dua di mana kamar nya berada. Begitu masuk dia menatap foto besar di mana di sana foto diri nya yang di edit waktu itu lima tahun lalu.
“Lila, kau pergi kemana lagi? Kemana selalu pergi tanpa pamit padaku.” Ucap Melvin menyentuh foto Lila itu yang sedang tersenyum manis. Senyum tanpa beban sama sekali.
***
Kini di sisi Lila, tepat nya di kediaman yang berada tepat di samping kediaman milik orang tua Melvin itu ada seorang gadis di kamar nya yang sedang menangis mengusap foto kedua anak nya, “Maafkan mommy nak. Mommy memang harus melakukan ini karena ini untuk kebaikan. Mommy harus menyelesaikan misi mommy dulu. Mommy tidak ingin melibatkan kalian di misi berbahaya mommy ini. Kalian akan aman bersama daddy kalian. Mommy yakin kalian akan senang tinggal bersama daddy yang selama ini kalian rindukan. Maafkan mommy yang ingin membuat ruang rindu di hati kalian juga. Mommy ingin di rindui oleh kalian seperti kalian merindukan daddy kalian selama ini. Tenang saja mommy akan mengamati kalian dari jauh. Untuk itu lah mommy ada di sini.” Ucap Lila mengusap air mata di pipi nya dan mengusap foto kedua anak nya itu.
Lila berdiri dari ranjang dan mengambil minuman soda yang dia bawa juga dan berjalan menuju balkon. Lila memandang kediaman yang berada di hadapan nya itu, “Apa itu kamar Melvin?” tanya Lila pada diri nya sendiri melihat sebuah balkon kamar yang terbuka dan ada cahaya temaram lampu.
“Kenapa dia belum tidur? Bukan kah mereka sudah kembali sejak tadi?” tanya Lila pada diri nya sendiri sambil melihat balkon kamar itu.
Lalu tiba-tiba Lila melihat ada yang keluar dari sana dan menuju balkon. Lila pun dengan cepat berbalik dan masuk ke kamar kembali dan segera menutup pintu ke balkon nya.
“Semoga saja dia tidak melihat nya. Bisa sia-sia semua yang ku lakukan. Aku sudah susah payah mendapatkan kediaman ini sejak di Negara Y. Aku tidak ingin semua rencana yang ku buat hancur berantakan. Aku akan kembali dan tidak akan bersembunyi lagi tapi nanti setelah memastikan bahwa dua ular itu tidak akan menggigitku dan kedua anakku.” Batin Lila lalu dia segera menuju ranjang dan berbaring di sana. Mencoba untuk mata karena besok dia harus memulai semua nya.
Dia sudah mendapatkan informasi terkait dua wanita itu yang masih saja bersenang-senang karena Melvin memperpanjang pemberian uang kepada mereka yang hanya dua tahun saja tapi kini tetap ada. Lalu di tambah dengan usaha mereka dengan modal dari Melvin dan beberapa kali bangkrut karena mereka yang suka foya-foya tapi tetap saja Melvin beri modal.
“Tunggu saja pembalasanku. Aku tidak akan membiarkan kalian hidup dengan tenang. Sudah cukup selama beberapa tahun ini kalian tetap menikmati hasil perusaan milik mommyku. Aku akan menuntut semua nya.” Ucap Lila lalu tidak lama pun dia memejamkan mata nya dan akhir nya tertidur. Mungkin efek kelelahan dari drama hari ini yang dia lakukan.
Kembali ke sisi Melvin, “Bukankah aku melihat siluet seorang wanita di sana. Sejak kapan rumah itu berpenghuni? Kenapa aku gak tahu siapa tetanggaku.” Ucap Melvin bingung dan terus menatap ke kamar yang masih menyala itu di kediaman sebelah rumah.
“Ahh mungkin saja aku yang terlalu tidak focus hingga tidak tahu apa yang terjadi di sekitarku. Aku terlalu pusing memikirkan apa yang terjadi padaku selama ini hingga tidak menyadari bahwa kediaman kosong itu telah berpenghuni.” Ucap Melvin lalu kemudian dia memutuskan untuk segera masuk ke kamar nya dan mencoba untuk mengistirahatkan tubuh nya itu di ranjang empuk miliknya itu mencoba untuk menutup mata nya karena apa yang akan di lakukan nya pada esok hari akan membuat nya lelah. Jadi haru menyiapkan stamina yang lebih untuk hal itu.