
Sementara di sisi Aruna dan Linda, kini mereka juga sudah bersiap untuk semua nya.
“Apa kau yakin sering melihat Lila ada di sana?” tanya Linda pada pria yang akan jadi pembunuh Lila. Pria yang mereka sewa untuk jadi pembunuh Lila.
“Saya yakin nyonya. Dia sering ke tempat itu.” jawab pria itu dengan meyakinkan.
Linda pun akhirnya mengangguk, “Baiklah. Aku percaya padamu. Aku tidak mau kegagalan. Lila harus mati. Kematian nya harus di realisasikan segera. Aku harus mendapat informasi atas kematian nya untuk beberapa jam ke depan.” Ucap Linda menggebu-gebu.
“Nyonya tenang saja. Dia akan mati seperti keinginan nyonya.” Jawab pria itu lagi.
“Kapan rencana ini akan di laksanakan?” tanya Aruna.
“Ck, tentu saja sore ini.” jawab Linda.
Aruna pun mengangguk, “Kita akan kesana dengan mobil terpisah. Mami pergi lah dengan pria ini. Aku akan mengikuti kalian dari belakang. Kita tetap harus membuat rencana terpisah bukan. Jika rencana pertama tidak berhasil maka ada rencana cadangan.” Ucap Aruna tersenyum licik.
“Ck, ternyata mereka memang benar-benar wanita ular. Aku harus melaporkan rencana ini pada nona.” Batin pria itu mendengar ucapan Aruna.
“Kau benar juga. Kalau begitu kita rencanakan rencana kedua nya. Kita harus berhasil.” Ucap Linda.
Akhirnya mereka pun segera membicarakan rencana lain itu yang di rekam oleh pria di hadapan nya itu dan langsung dia kirimkan kepada Luke.
***
Di sisi Melvin, di kediaman utama.
“Daddy … kenapa kau melanggar janjimu? Mommy apa dia baik-baik saja?” tanya Alex menatap Melvin.
“Maafkan daddy boy. Maaf daddy yang tidak menepati janji. Tapi bagaimana mungkin daddy sanggup tidak melihat mommy kalian seperti itu.” ucap Melvin.
“Jangan beralasan dad. Aku tidak masalah jika memang daddy menemui mommy di saat dia tidak melakukan rencana nya. Tapi saat ini dia sedang membuat rencana besar. Mommy itu orang nekat dad. Dia bisa melakukan apapun yang membuat orang takut.” Ucap Alex.
Melvin pun diam tidak membalas ucapan putra nya itu karena dia memang sudah melihat sendiri seperti apa kenekatan yang di miliki oleh Mommy dari kedua anak nya itu. Memang sangat-sangat nekat dan keras kepala. Tapi dia menyukai nya.
“Kak, jangan terlalu menekan daddy. Daddy hanya rindu saja pada mommy.” Ucap Alexa membela daddy nya.
Alex pun menatap adik nya itu dan menarik nafas panjang, “Kau selalu saja membela daddy dek.” ucap Alex.
“Sama sepertimu kak. Kau juga membela mommy.” Balas Alexa tidak mau kalah.
“Ini berbeda dek. Di sini daddy yang salah. Dia mengajari kita untuk mengingkari janji dan tidak menghormati janji. sementara mommy dia selalu mengajari kita hal baik. Apa kau tidak mengerti?” ucap Alex kesal.
Alexa pun menunduk, “Daddy … kakak benar. Menepati janji itu hal yang tidak boleh di langgar.” Ucap Alexa.
“Ahh malas ngomong sama kalian. Daddy … kau harus memastikan mommy selamat. Mommy sering sakit dada. Aku ingin tahu penyebab hal itu. Jadi daddy harus menyelamatkan nya apapun yang terjadi. Aku memiliki firasat buruk terhadap mommy. Jangan sampai dia terluka.” Ucap Alex.
“Boy, apa yang kau katakan? Kau membuat daddy khawatir.” Ucap Melvin mendadak perasaan nya tidak enak.
“Pastikan saja mommy baik-baik saja dad.” Ucap Alex.
Melvin pun mengangguk, “Daddy jan--”
“Stop. Jangan menjanjikan apapun lagi padaku daddy. Aku tidak ingin kau tidak menepati janjimu itu lagi.” Potong Alex lalu dia segera pergi meninggalkan Melvin di sana.
“Melvin, anak buah daddy akan ikut denganmu.” Ucap papi Emran.
Melvin pun hanya mengangguk saja dan dia segera menuju pintu keluar kembali ke tempat Lila.
***
Di sisi Lila, kini dia sedang terbaring di tempat tidur nya. Memang setiap dia mengkonsumsi obat nya itu dia harus tidur selama dua jam baru akan terbangun lagi.
Lila mengernyapkan mata nya dan menyesuaikan dengan cahaya yang masuk ke mata nya. Lila melihat jam tangan di tangan nya dan sudah hampir waktu nya untuk melakukan semua nya. Lila pun mencoba bangkit dari tidur nya itu.
“Nona, anda sudah bangun?” tanya Luke yang masuk ke dalam tempat istirahat Lila.
Lila pun mengangguk, “Berapa lama aku tertidur Luke?” tanya Lila.
“Sekitar 3 jam setengah nona.” Jawab Luke melihat jam di tangan nya.
Lila pun mengangguk dan memegang dada nya, “Seperti nya racun nya semakin bertambah parah Luke. Biasa nya hanya butuh waktu dua jam saja. Kini sudah bertambah hampir dua kali lipat.” Ucap Lila.
Luke pun hanya bisa menatap Lila dengan tatapan pias nya. Kini dia yang tadi nya datang untuk memberitahu pesan yang di kirimkan oleh anak pembunuh yang di atur di kediaman Linda dan Aruna menjadi tidak tega membebani Lila.
“Ada apa Luke? Apa kau mau mengatakan sesuatu?” tanya Lila saat menyadari bahwa bawahan nya itu terlihat sedang bimbang.
Luke yang mendapat pertanyaan itu pun segera menggeleng, “Gak ada apa-apa nona. Semua baik-baik saja. Saya datang hanya ingin mengatakan bahwa sudah hampir waktu nya.” Jawab Luke.
Lila pun mengangguk percaya, “Baiklah. Aku harap kau tidak bohong Luke. Aku harap semua nya memang baik-baik saja. Aku akan siap-siap. Kita akan segera pergi.” ucap Lila.
“Nona, pakai lah pelindung ini.” ucap Luke memberikan pelindung nya.
Lila pun tersenyum lalu kemudian dia menggeleng, “Tidak perlu Luke. Pakai lah itu untukmu. Itu pelindungmu. Aku akan memakai punya milikku. Ingat Luke kau harus hidup.” Ucap Lila.
“Tentu nona.” Jawab Luke menahan tangis nya.
“Semoga saja nona. Aku akan memastikan kau aman. Aku yang memutuskan untuk menjadi pelindungmu saat ini. Kau harus hidup nona.” Batin Luke menatap Lila.
***
“Tuan Luke, apa anda yakin tidak akan mengatakan ini kepada nona? Saya takut ini akan jadi bahaya nanti.” Ucap salah satu bawahan kepada Luke. Memang kini Luke sedang bicara dengan empat orang yang bertugas melindungi Lila. Luke bisa di katakan sebagai ketua para bawahan Lila itu.
“Aku yang akan menjaga dan melindungi nona. Tidak perlu kalian khawatirkan. Kalian pastikan saja rencana berjalan lancar.” Ucap Luke.
“Tapi tuan Luke. Kami--”
“Ada apa Luke? Apa ada masalah?” tanya Lila keluar sudah dengan pakaian yang melindungi nya.
Luka menggeleng, “Tidak ada sama sekali nona. Semua baik-baik saja.” jawab Luke.
Lila pun mengangguk, “Baiklah. Jika memang tidak ada masalah. Kita pergi saja. Apa semua sudah di tempat mereka masing-masing?” tanya Lila memastikan. Luke pun mengangguk.
“Kalau begitu kita segera menuju ke sana saja.” ucap Lila melihat sekeliling nya dan dia tersenyum melihat mobil ada di sana.
“Kau di sini!” gumam Lila lalu segera masuk ke mobil dan tidak lama mobil pun melaju.