
Kini Melvin dan Deo dalam perjalanan pulang. Melvin membawa hasil pemeriksaan Lila itu. Selama perjalanan dia memandangi hasil USG bayinya. Anaknya yang kini di bawa pergi oleh gadis yang dia tiduri entah kemana.
Melvin setelah bicara cukup lama dengan dokter Ana bahkan sampai dokter Ana meresepkan obat baru untuk Melvin mengatasi mual dan muntahnya lalu juga di bagikan tips dan trik mengendalikan mual dan muntah. Baru lah setelah membahas semuanya mereka pulang.
“Deo, antarkan aku ke apartemennya. Aku ingin melihat apartemennya.” Ujar Melvin.
Deo pun mengangguk dengan cepat tanpa bertanya apartemen siapa yang di maksud oleh tuannya itu karena dia sudah tahu siapa yang di maksud oleh tuannya itu. Deo pun segera melajukan mobil menuju apartemen Lila. Apartemen yang seminggu lalu kosong dan di jaga ketat oleh anak buah Melvin. Tidak ada yang di izinkan masuk kesana termasuk pengacara Jay sekalipun yang sudah menjadi pengacara keluarga El Bara selama bertahun-tahun. Melvin seolah bertindak itu adalah miliknya.
Deo segera memarkirkan mobilnya di parkiran apartemen itu lalu membukakan pintu untuk Melvin. Melvin segera keluar dan segera masuk menuju apartemen Lila berada. Begitu tiba di pintu apartemen Lila dia segera memasukkan sandi apartemen itu. Jangan tanya dari mana dia mengetahuinya yaa tentu saja itu bukan pekerjaan yang sulit untuk Deo lakukan.
Melvin dan Deo segera masuk ke apartemen itu. Apartemen itu sudah lumayan berdebu karena sudah seminggu tidak di bersihkan. Melvin yang melarang untuk membersihkannya karena dia ingin mencari sesuatu dulu di sana.
Melvin melihat semua ruangan yang ada di apartemen satu kamar itu. Semua barang di sana barang mewah karena memang itu milik seorang putri kaya.
“Deo, minta seseorang untuk membersihkan apartemen ini sekarang.” Ucap Melvin sebelum dia melangkah ke kamar milik Lila. Dia segera masuk ke kamar itu dan tidak seperti kamar kebanyakan gadis pada umumnya. Kamar Lila ini mirip kamarnya. Warna cat kamar Lila itu kombinasi putih, abu dan hitam.
“Bau tubuhnya masih ada di sini.” Ucap Melvin mengambil bantal Lila dan menghirupnya. Entah kenapa bau tubuh Lila yang di tertinggal di kamarnya itu menenangkan Melvin. Semua mual yang dia rasakan mendadak menghilang seolah telah menemukan obatnya.
“Apa bau tubuhmu bisa mengobati mualku ini?” gumam Melvin menghirup bantal dan bed cover Lila yang sedikit berantakan itu. Terlihat sekali bahwa dia terburu-buru meninggalkan kamarnya itu.
Bahkan di tong sampah dan lantai kamar ada banyak tisu yang pastinya sudah bisa Melvin duga tisu itu di gunakan untuk apa, “Apa kau menangis? Kenapa menangis sendiri dan tidak datang padaku meminta pertanggung jawabanku. Kau justru menghukum dirimu sendiri dan membawa anakku pergi menghilang bersamamu. Ingin ku benci saja dirimu tapi tidak bisa. Kau justru menganggapku idolamu. Dasar gadis gila. Mana mungkin idola melukai penggemarnya seperti ini.” ucap Melvin melihat bingkai foto Lila yang tersenyum manis di sana.
“Kau cantik. Sangat cantik. Pantas saja aku tergoda denganmu. Pantas saja aku tidak bisa menolak pesonamu itu.” ucap Melvin bicara pada bingkai foto Lila itu. Lalu dia segera menuju walk in closet milik Lila dan melihat pakaian Lila yang masih berjejer rapi di sana.
“Apa kau tidak membawa pakaianmu? Kenapa masih banyak di sini.” Ucap Melvin menyentuh dress dan gaun milik Lila itu.
Setelah puas melihat semua isi kamar Lila itu dia pun segera membaringkan tubuhnya di ranjang milik Lila. Dia sempat tertidur di sana. Sangat nyaman dan mualnya pun menghilang sehingga bisa tertidur dengan nyaman.
Tok … tok … tok …
“Tuan!” panggil Deo dari luar setelah sekitar satu jam Melvin di kamar itu tidak kunjung keluar juga.
Melvin yang mendengar ada yang memanggilnya pun membuka matanya, “Masuk!” ucap Melvin.
Deo pun segera masuk dan mendapati Melvin yang masih berbaring di ranjang, “Ada apa?” tanya Melvin.
“Hum, suru masuk saja dia kesini. Aku akan melihatnya merapikannya.” Ucap Melvin.
Deo pun mengangguk dan segera mempersilahkan pelayan itu untuk merapikan kamar Lila dengan Melvin yang ada di sana, “Kamu sapu saja dan angkat sampah itu keluar. Tidak usah di pel dan jangan ganti seprai ranjang ini. Tugasmu sapu dan angkat sampah saja.” ujar Melvin kepada pelayan itu yang langsung mengangguk dan memulai pekerjaannya dengan cekatan dan rapi.
“Deo, lain kali minta pelayan itu untuk membersihkan apartemen ini seminggu dua kali tapi tidak dengan kamar ini. Biar aku sendiri yang akan membersihkannya.” Ucap Melvin setelah pelayan itu tidak ada di kamar itu lagi.
Deo pun mengangguk mengerti, “Baik tuan.” Ucap Deo.
Melvin pun mengangguk lalu dia segera merapikan bed cover dan bantal yang dia pakai. Mereka segera keluar dari kamar Lila dan menuju ruang tamu.
“Tuan, apa anda akan menginap di apartemen ini?” tanya Deo hati-hati.
Melvin mengangguk, “Sepertinya begitu. Aku menemukan kenyamanan dengan tidur di ranjangnya itu. Rasa mualku pun ikut menghilang hanya dengan menghirup bau tubuhnya yang tertinggal di sana.” Ucap Melvin.
“Terus bagaimana anda akan menghadapi pengacara Jay tuan? Dia sudah sangat penasaran dengan alasan kita mengambil alih apartemen ini dan tidak mengizinkan siapa pun masuk.” Ucap Deo.
Melvin pun menarik nafas panjang lalu dia berdiri, “Kalau begitu ayo kita temui dia. Aku harus membicarakan hal ini baik-baik dengannya. Aku tidak ingin di tuduh mengambil apartemen ini.” ucap Melvin.
Deo pun segera berdiri dan ikut Melvin, “Emm, Deo berikan kunci kamar Lila.” Pinta Melvin menengadahkan tangannya.
Deo pun segera memberikan kunci kamar Lila itu kepada Melvin lalu setelah itu mereka pergi meninggalkan apartemen itu menuju kantor hukum pengacara Jay.
***
Sementara di ruangan pengacara Jay, kini pengacara Jay terlibat perdebatan dengan dua orang wanita yang tiba-tiba datang dan menuntut bagian mereka lagi padahal bagian mereka sudah di cairkan.
“Aku tidak mau tahu pokoknya aku dan Aruna harus mendapatkan bagian dari perusahaan juga selain uang yang kami terima. Itu tidak sebanding dengan apa yang aku lakukan untuk merawat Calvin saat dia hidup. Ini tidak adil.” Ucap Linda Emosi.
“Benar paman Jay. Kami sudah merawat daddy dengan baik hanya saja dia yang tidak berumur panjang sehingga pergi menyusul mendiang istrinya itu. Lagian juga saat ini Lila sudah pergi dan paman tidak bisa menemukannya bukan. Jadi dari pada tidak akan yang memimpin perusahaan maka lebih baik aku yang menggantikannya sebagai pewaris. Lila itu tidak bertanggung jawab sekali.” Timpal Aruna.
“Siapa yang kau katai tidak bertanggung jawab nona.”