My Secret With CEO

My Secret With CEO
94


Kini Lila sudah berada dalam perjalanan bersama suami dan kedua anak nya itu, “Kita mau kemana, dad?” tanya Alexa yang memang sudah berubah menjadi heboh sementara Alex dia menjadi kalem. Dan saat ini Alex hanya tersenyum saja menatap Lila yang juga menatap sang putra.


“Kita mau ke kantor daddy. Kalian ingin kesana, bukan?” tanya Melvin.


Alexa langsung mengangguk dengan cepat, “Iya dad. Kami ingin bermain di ruangan tek--”


“Gak boleh. Itu perusahaan daddy. Kalian tidak boleh mengotak-atik nya. Jika ingin bermain game kalian bisa di rumah saja kan sudah punya sendiri.” Potong Lila yang langsung bisa menebak kelanjutan dari ucapan putri nya itu yang sudah pasti mengarah ke arah yang tidak jauh dari teknologi.


“Tidak masalah sayang. Mereka bisa ke sana dengan bebas. Lagi pula mereka yang memperkuat system perusahaanku.” Ucap Melvin lembut.


“Tapi--” Lila menghentikan ucapan nya itu karena Melvin menggeleng. Selain itu juga Lila tidak ingin di lihat berdebat dengan suami nya itu di depan anak-anak yang nanti nya akan di tiru oleh mereka. Lila pun memilih diam saja.


“Kalian boleh ke sana tapi tetap di pantau oleh anak buah daddy. Kalian boleh main game apapun di sana dan jangan melakukan sesuatu yang berbahaya.” Ucap Melvin kepada kedua buah hati nya itu yang di balas oleh kedua nya dengan anggukan yang bisa Melvin lihat dari kaca mobil.


Setelah itu Melvin pun meraih tangan sang istri lalu tersenyum. Lila pun hanya bisa diam saja dan memilih untuk memenjamkan mata nya. Jujur saja ego nya terluka. Dia yang biasa nya selalu hidup dengan penuh dengan aturan yang sudah dia tetapkan sendiri. Jika tidak bisa melakukan ini maka tidak boleh di lakukan apa pun alasan nya. Hal itu lah yang dia terapkan kepada kedua buah hati nya itu. Bagi nya ada saat nya belajar, ada saat nya bermain dan ada saat nya juga istirahat. Memang sangat teratur.


Melvin sendiri mengerti dengan istri nya itu. Dia sudah tahu bahwa Lila itu memang menerapkan hidup penuh aturan selama enam tahun ini. Jadi dia tahu bahwa saat ini istri nya itu sedang terluka ego nya karena di tolak oleh Melvin apa yang dia larang.


Kurang lebih sepuluh menit kemudian, kini mereka sudah tiba di gedung terbesar dan tertinggi di sana. Melvin segera memarkirkan mobil nya di parkiran khusus petinggi perusahaan. Setelah itu Melvin pun turun dan membukakan pintu untuk istri nya dan memindahkan nya ke kursi roda.


Sementara kedua buah hati mereka memilih turun dari mobil sendiri. Kedua buah hati mereka itu pun mengamati gedung itu dengan tatapan berbinar. Mereka sudah membayangkan akan sebesar apa perusahaan milik daddy mereka itu tapi kini setelah melihat nya langsung membuat mereka semakin tertarik dan mereka sangat menyukai nya.


“Apa kalian menyukai nya?” tanya Melvin.


“Tentu dad. Ini sangat besar dan tinggi.” Jawab Alexa jujur.


“Terus bagaimana denganmu boy?” tanya Melvin pada sang putra yang dari tadi diam saja.


“Aku menyukai nya dad. Ini lebih besar dari bayanganku.” Balas Alex.


Lila yang mendengar ucapan kedua buah hati nya itu pun tersenyum. Seperti nya memang kedua buah hati nya itu merasa lengkap setelah hidup dengan daddy mereka.


Setelah itu mereka pun segera masuk ke dalam gedung itu. Kedatangan Melvin dengan membawa seorang wanita di kursi roda dengan kedua anak berumur lima tahun yang mirip dengan nya itu tentu saja membuat banyak pertanyaan di benak para bawahan Melvin. Tapi mereka tidak ada yang berani bertanya karena takut.


Lila yang mendengar ucapan sang suami sudah mengerti apa yang akan di lakukan oleh Melvin. Dia pun tidak melarang apapun, terserah suami nya itu mau melakukan apa. Dia sudah mengatakan percaya pada suami nya itu maka saat ini untuk apa ragu jika memang suami nya itu sudah memutuskan untuk mengumumkan pernikahan mereka.


Lagi pula apa yang harus membuat nya malu, jika dari status sosial dia juga berasal dari strata sosial yang setara dengan Melvin. Untuk apa merasa malu.


“Baiklah, saya mulai. Kalian tidak usah ragu mengeluarkan ponsel kalian.” ujar Melvin saat melihat para bawahan nya itu yang ragu-ragu.


“Perkenalkan ini istri saya. Kalian pasti kenal dengan nya bukan. Dia bukan orang asing. Dia adalah Greyila El Bara putri mendiang Calvin El Bara dan Dhara Caroline. Dan ini adalah kedua buah hati kami, Alex dan Alexa.” Ucap Melvin.


“Hanya itu yang ingin saya umumkan. Jangan ada pertanyaan lagi atau pun perkataan buruk. Saya tidak suka mendengar nya dan jika ketahuan ada yang menjelekkan istri dan kedua anak saya maka ada hukuman nya.” sambung Melvin.


“Tidak perlu menakuti mereka seperti itu By. Aku tidak takut dengan perkataan buruk yang pasti nya akan muncul.” Lanjut Lila menatap ada beberapa wanita yang menatap nya dengan senyum mencibir.


Melvin yang melihat itu pun hanya tersenyum. Dia bukan nya tidak sadar ada pandangan negative di sekitar sana. Tapi dia ingin tahu bagaimana istri nya itu menanggapi nya dan ternyata tanggapan istri nya itu lebih dari apa yang dia duga. Dia tidak menyangka bahwa istri nya itu akan melakukan hal itu. Sungguh di luar dugaan. Dia pikir Lila hanya akan diam saja.


“Deo, urus semua nya. Jangan sampai media tahu hal ini. Aku tidak ingin Is--”


“Tidak masalah by. Biarkan media tahu. Untuk apa aku takut mengakui bahwa aku istrimu. Bukan kah itu memang kebenaran nya. Biarkan saja.” potong Lila mendengar ucapan lirih suami nya itu kepada asisten nya.


Melvin yang mendengar itu pun diam sementara Deo menjadi bingung, “Ini--”


“Ikuti kata istriku.” Ucap Melvin dan Deo pun mengangguk.


Setelah itu mereka pun segera menuju lift khusus dan segera menekan angka lantai tertinggi. Hanya berdua saja karena Alex dan Alexa sudah ikut Deo untuk di antarkan ke ruangan yang mereka tuju.


“Kau yakin ingin media tahu pernikahan kita?” tanya Melvin begitu mereka tiba di ruangan nya.


Lila pun mengangguk, “Untuk apa menyembunyikan nya jika memang kau sudah mengumumkan nya pada bawahanmu itu. Jadi tidak perlu ragu. Biarkan saja semua nya tahu.” Balas Lila.


“Kau tidak sedang kesal kan?”