My Secret With CEO

My Secret With CEO
06


Sementara Lila di apartemennya masih saja meratapi nasibnya. Masih saja menangis meratapi apa yang terjadi padanya. Lila menonaktifkan ponselnya dan memilih memandangi foto keluarganya dan menangis sambil memegang foto itu.


Lila menolak bertemu siapa pun termasuk Yola sahabatnya yang sudah menghubunginya dan mengirimkan banyak pesan khawatir kepadanya. Tapi hanya Lila abaikan begitu saja yang pada akhirnya justru dia memilih menonaktifkan ponselnya karena tidak ingin di ganggu sama sekali.


“Apa salahku tuhan hingga ini terjadi padaku?” ujar Lila lirih karena sudah lelah menangis.


Matanya sudah bengkak dan kantung matanya juga sudah besar pengaruh menangis dari kemarin lalu tidak tidur dan kini kembali menangis lagi. Sungguh dalam 24 jam banyak yang sudah terjadi padanya. Kejadian yang tidak ingin dia terima dengan logikanya. Ingin dia menolaknya tapi semua sudah terjadi dan sudah datang menimpanya. Dia hanya bisa meratapinya dan menangis saja.


Dia ingin membenci apa yang terjadi padanya tapi sekali lagi dia tidak tahu siapa yang harus dia benci. Apakah harus membenci mommy dan daddynya yang sudah meninggalkannya sendiri. Apakah harus membenci kebodohannya yang datang ke club sendiri. Apakah harus membenci pria yang sudah memaksa dan menidurinya. Ataukah harus membenci dirinya sendiri yang terbuai dengan sentuhan pria itu. Kenapa dia membiarkan pria itu melakukannya. Bukankah dia memiliki ilmu bela diri yang mumpuni sekedar melawan pria yang mabuk sama dengannya. Kenapa dia membiarkannya terjadi. Kenapa akal sehatnya tidak berfungsi dengan baik dan justru menikmati sentuhan pria itu di tubuhnya hingga merenggut sesuatu yang sangat berharga dan sangat dia jaga dalam dirinya selama ini.


“Ahh aku benci diriku. Kenapa aku membiarkannya melakukan itu padaku. Kenapa aku tidak menggunakan bela diriku selama ini? Untuk apa aku mempelajarinya jika tidak bisa menjaga diriku sendiri. Aku benci diriku. Aku benci Lila yang lemah begini. Aku benci kebodohanku. Aku benci semuanya. Aku benci situasi ini. Mom, dad ambil saja Lila dari dunia ini. Lila ingin ikut kalian. Setidaknya Lila tidak lagi hidup dalam dunia yang penuh sandiwara ini. Lila tidak sanggup lagi Mom! Jemput saja Lila. Bawa pergi bersama kalian. Lila tidak sanggup harus menghadapi semua ini sendiri.” Ucap Lila menangis.


Lila yang menangis dan meratapi nasibnya pun akhirnya tertidur karena kelelahan dan baru terbangun saat sudah sore.


Lila mengernyapkan matanya memandang sekeliling kamarnya. Lila kembali meneteskan air matanya begitu mengingat apa yang sudah terjadi padanya.


Lila segera bangun dan meraih ponselnya. Dia segera mengusap air mata yang sudah jatuh di pipinya, “Aku tidak bisa begini. Aku harus melangkah. Tidak masalah aku tidak lagi suci. Aku tidak akan menikah jika begitu. Siapa yang bersedia menikah dengan gadis yang tidak suci. Gadis ternoda sepertiku. Yah, aku tidak akan menikah.” Ujar Lila meyakinkan hatinya untuk kuat.


“Mulai hari ini aku tidak akan hidup karena diriku lagi. Tapi aku akan hidup sebagai anak yang membalaskan kematian orang tuanya. Tidak akan aku biarkan orang yang menyakiti mommy dan daddy bersenang-senang tinggal hidup di dunia ini dan menikmati harta milik mommy dan daddyku. Aku akan menyingkirkan mereka. Yah, itu tujuan hidupku mulai hari ini. Jangan panggil aku Greyila El-Bara jika aku tidak bisa mengusir dua wanita ular itu dari rumah milik mommyku. Aku akan pastikan mereka tidak akan hidup tenang. Sudah cukup bersedihnya. Sudah cukup tangisannya. Sudah cukup ratapannya. Kini saatnya balas dendam.” Ujar Lila penuh tekad.


Lila segera meletakkan ponselnya dan segera meraih batrobenya dan berjalan menuju kamar mandi. Dia segera mandi dan membersihkan dirinya. Lila bertekad untuk melupakan semuanya dan memulai kehidupan barunya dengan awal yang baru dan juga tujuan yang baru. Dia akan hidup dengan memperjuangkan perusahaan milik daddy dan mommy yang di wariskan padanya.


Lila segera meraih ponselnya dan mengaktifkannya kembali. Begitu dia mengaktifkannya banyak telepon dan pesan dari Yola sahabatnya itu. Beberapa pesan dari orang suruhannya dan juga dari paman Jay juga ada yang menanyakan keadaannya.


Yola segera membalas pesan paman Jay dengan mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Tidak perlu mengkhawatirkannya. Begitu juga dia segera membalas pesan Yola untuk tidak perlu mengkhawatirkannya dan juga tidak perlu menghubunginya karena dia baik-baik saja. Tidak ada yang terjadi. Lila juga mengatakan tidak perlu menemuinya karena dia baik-baik saja dan belum ingin bertemu dengan orang lain.


Barulah Lila selesai membalas pesan dari Yola dan paman Jay. Lila segera membuka rekaman video yang di kirimkan oleh orang kepercayaannya itu.


Lila membuka rekaman CCTV itu itu satu persatu-satu dengan tangan yang lumayan gemetar karena sebentar lagi dia akan tahu siapa pria itu. Pria yang sudah menidurinya. Pria yang sudah mengambil kesuciannya. Pria yang sudah membuatnya terbuai dengan sentuhannya sehingga membuatnya terlena tidak lagi melawannya. Pria yang sudah menumpahkan benihnya di dalam rahimnya yang semoga saja tidak tumbuh menjadi makhluk yang di namakan bayi itu. Pria yang sudah memberikan pengalaman pertama serta rasa sakit untuknya itu di saat yang bersamaan. Pria yang entah siapa itu.


Lila menutup matanya dan memutar salah satu rekaman video itu. Video yang dia putar adalah video yang di hotel. Lila membuka matanya perlahan dan kini menonton dengan seksama rekaman video CCTV yang ada di koridor kamar hotel 607 itu.


Lila menontonnya sampai wajah seorang pria yang sangat dia kenal terlihat menggendongnya masuk menuju kamar hotel itu, “Jadi dia laki-laki itu? Awalnya aku akan mengancamnya untuk bertanggung jawab jika pria itu adalah pria miskin. Tapi kini pria itu adalah dia? Ahh kenapa juga aku memikirkan dia pria miskin jika dia pergi ke club Having Fun yang hanya bisa di masuki oleh pengusaha kelas atas saja. Ahh, Sial. Kau sangat sial Lila. Kenapa harus dia. Aku harus bagaimana sekarang?” ucap Lila frutasi dan meletakkan ponselnya yang masih terputar rekaman video itu.


“Hanya satu yang harus aku lakukan yaitu jangan sampai dia tahu bahwa gadis yang dia tiduri itu aku. Yah, aku harus memastikannya. Aku benci diriku yang pasrah saja ketika di sentuh.” Ucap Lila.


“Aku tidak akan meminta pertanggung jawaban darimu. Kau tenang saja. Aku tidak akan merusak reputasimu itu. Aku akan melupakan bahwa kau pria itu. Yah, kau adalah pria idolaku. Mana mungkin aku membencimu. Aku akan melupakan semuanya. Aku akan mengganggap tidak ada yang pernah terjadi pada kita agar kau tetap akan jadi idolaku. Biarlah ingatan kau sebagai idolaku yang tersimpan di memoriku.” Tekad Lila.


“Aku akan mengingatmu sebagai idolaku bukan penghancurku.”