My Secret With CEO

My Secret With CEO
14


“Mau kemana kau?” tanya papi Emran.


“Ck, pertanyaan macam itu pih. Tentu saja aku akan ke apartemennya untuk mencarinya dan memaksanya menikah denganku.” jawab Melvin kesal.


“Sekali lagi kau membuktikan kau bodoh putraku. Apa kau pikir dia masih ada di apartemennya saat ini. Tidak kah kau berpikir siapa yang menghapus CCTV itu dan membuatmu sulit mencarinya.” Ucap papi Emran.


Melvin terdiam dan mulai memahami semuanya, “Jangan katakan dia sudah lari pih.” Ucap Melvin sambil menggeleng.


Papi Emran pun mengangguk, “Yah kau benar. Dia sudah menghilang. Apartemennya kosong. Mobil yang dia gunakan di temukan di mesin ATM dan tidak ada catatan penerbangannya di bandara.” Jawab papi Emran.


Melvin yang mendengar itu pun mendesis kesal, “Stasiun kereta api atau terminal bagaimana pih? Kita harus mencarinya di sana juga.” Ujar Melvin.


“Apa menurutmu dia akan ke sana? Dia sudah tahu kau sejak awal. Dia sendiri yang memutuskan untuk tidak membutuhkan pertanggung jawabanmu. Dia sendiri juga yang sudah memutuskan untuk lari darimu dengan membawa kandungannya itu atau tidak. Hanya saja papi berharap dia tidak menggugurkan garis keturunan kita itu.” ujar papi Emran mengerang mengingat jika sampai Lila menggugurkan kandungannya.


“Deo, lacak gadis yang menemaninya di makam saat kematian ayahnya. Aku yakin gadis itu pasti tahu sesuatu. Aku tidak akan membiarkan dia menggugurkan anakku. Aku tidak akan membiarkan dia menjauhkan anakku dengan ayahnya. Aku harus menemukannya.” Ucap Melvin segera kembali ke meja kerjanya dan mulai menghubungi semua anak buahnya. Sementara Deo dia dengan cepat melaksanakan perintah tuannya itu.


“Tuan, saat ini gadis itu sedang ada di restoran A bekerja di sana.” Ujar Deo setelah menemukan keberadaan gadis yang di minta oleh tuannya itu.


Papi Emran pun tersenyum tipis setelah melihat jiwa putranya itu telah kembali. Dia menjadi semangat mencari keberadaan Lila.


“Papi pamit. Papi tunggu kabar baik darimu. Ayo Nugraha kita pulang.” Ajak papi Emran lalu dia segera melenggang keluar dari ruangan putranya itu dengan di ikuti oleh Nugraha di belakangnya. Sementara Melvin mengabaikan ayahnya itu yang sudah pergi dan fokus dengan informasi yang dia dapatkan.


“Tuan, apa ada akan menunggu saja?” tanya Nugraha penasaran dengan apa yang ada di pikiran atasannya itu.


“Bukankah kau tahu apa yang aku inginkan? Aku tidak mungkin diam saja. Aku harus mencari tahu di mana gadis itu berada dan memastikan bahwa calon cucuku baik-baik saja. Segera perintahkan orang-orang untuk mengecek stasiun kereta api dan juga terminal. Sepertinya ucapan putraku itu harus aku pikirkan baik-baik. Bisa saja gadis itu kesana karena pikirannya tidak bisa di tebak sama sekali. Sial!” umpat papi Emran.


Nugraha pun tersenyum melihat tuannya itu yang sedang kebingungan. Sungguh sangat asik menyaksikan tuannya itu yang di kalahkan oleh gadis kecil yang tidak bisa di tebak, “Jangan tertawa Nugraha. Aku memerintahkanmu untuk segera mencari gadis itu. Aku tidak bisa menerima kekalahanku ini.” ucap Papi Emran segera masuk ke lift. Nugraha pun mengangguk dan segera melaksanakan perintah tuannya.


***


Sementara di sisi Lila, kini dia sedang berada di dalam kereta api menuju kota J.


“Tenang saja nak. Kita akan baik-baik saja. Mommy akan menjagamu dengan baik. Untuk saat ini kita lari dulu dari pantauan daddymu dan juga pantauan kakek kalian.” ucap Lila sambil mengusap perut ratanya itu dengan penuh kasih sayang. Sungguh, dia mencintai janin yang ada dalam rahimnya itu. Bagaimana mungkin dia tega menggugurkan darah dagingnya sendiri. Selain itu juga pemilik benih di kandungannya itu adalah idolanya. Dia yang memang dari dulu menginginkan putra setampan Melvin tentu saja tidak akan menggugurkan dengan tega benih di kandungannya itu.


“Mommy tahu kamu mungkin akan membenci mommy karena menjauhkanmu dari daddymu. Tapi coba pahamilah posisi mommy. Mommy melakukan ini demi kebaikanmu. Kau mengerti kan nak. Harus mengerti yaa.. kita akan berjuang bersama-sama di negeri orang.” Sambung Lila.


Yah, Dia tahu bahwa dia di ikuti oleh anak buah papi Emran itu sejak seminggu lalu sehingga dia merancang semuanya seolah dia tidak tahu bahwa dia di ikuti dan seperti yang sudah terjadi dia bisa membodohi semuanya dengan sangat mudah. Dia pastikan bahwa untuk kali ini pun tidak akan ada yang menemukannya. Dia memakai identitas palsu untuk naik kereta api ini. Jika pun mereka sampai memeriksa ke stasiun. Sangat mudah baginya untuk membuat identitas palsu.


“Maafkan aku! Tapi ini adalah keputusan terbaik yang ku miliki.” Gumam Lila.


***


Sementara di sisi lain, kini Melvin dan Deo sudah tiba di restoran A di mana tempat Yola bekerja.


“Apa ada yang bernama Yolanda Jelita yang bekerja di sini?” tanya Deo.


Manajer restoran itu segera menyambut kedatangan Melvin dan Deo, “Selamat datang tuan.” Ucap manajer itu.


“Yolanda Jelita. Apa dia bekerja di sini?” ulang Deo dingin dan tajam.


“Ahh ada tuan. Sebentar saya panggilkan.” Ucap manajer itu menjadi gugup dan segera menyuruh seseorang untuk membawa Yola ke sini.


Tidak lama gadis yang berpakaian khas pelayan restoran itu pun datang, “Iya. Apa bapak mencari saya?” tanya Yola sopan sambil menunduk.


Manajer itu mengangguk, “Mereka mencarimu. Apa kau mengenal mereka?” tanya manajer itu sambil menunjuk Melvin dan Deo yang sedang duduk.


Yola menelan ludahnya kasar, “Siapa yang tidak mengenal pengusaha muda seperti tuan Melvin pak.” Ucap Yola.


“Ya sudah sana kau temui mereka.” ujar manajer itu.


Yola pun mengangguk dan segera berjalan mendekati Melvin dan Deo dengan seribu pertanyaan di otaknya. Dia bertanya apa yang membuat pengusaha nomor satu yang terkenal sangat sibuk itu menemuinya pelayan rendah di restoran yang tidak begitu besar.


“Apa tuan-tuan mencari saya?” tanya Yola hati-hati dan tetap dengan nada ramah.


Melvin dan Deo pun melihat Yola dari ujung rambut sampai ujung kaki. Yola yang melihat itu merasa seolah di di telanjangi karena tatapan mereka yang membuatnya gugup setengah mati itu. Tatapan tajam yang mematikan, “Deo, tanyakan dengan benar. Sampai dia menjawabnya.” Ucap Melvin.


Deo pun mengangguk, “Apa anda mengenal nona Greyila El Bara?” tanya Deo.


Yola pun mengangguk perlahan, “Di mana keberadaan dia saat ini?” tanya Deo kemudian.