
Kini Lila sudah berada di parkiran kantor suami nya. Lila segera turun dari mobil nya setelah bicara dengan anak buah nya yang di minta untuk menjaga kedua buah hati nya itu.
“Ingat, jangan sampai anak-anakku kenapa-kenapa. Untuk saat ini hanya itu yang bisa kita lakukan sampai aku akan menemukan petunjuk yang lain.” Ucap Lila.
“Baik, nyonya.” Balas supir sekaligus orang kepercayaan nya itu.
“Kau bisa pulang sekarang mengawasi yang lain. Tidak perlu khawatirkan aku. Kini aku berada di kantor suamiku yang pasti nya akan aman. Suamiku tidak akan membiarkanku kenapa-kenapa.” Ucap Lila.
Sopir itu pun kembali mengangguk sambil membatin dalam batin nya, “Justru kau nona yang tidak akan membiarkan orang-orang yang kau cintai dan sayangi kenapa-kenapa termasuk suamimu itu. Aku yakin kau yang akan melindungi mereka bukan mereka yang akan melindungimu. Kau itu hebat.”
Lila segera masuk ke lobby kantor suami nya. Sengaja dia tidak mengatakan kepada Melvin akan kedatangan nya itu walaupun Melvin sudah meminta nya datang tapi tak dia iyakan.
Kejutan? Yah seperti nya itu menarik untuk di berikan kepada suami nya.
Walaupun itu akan terlihat lebay karena mereka yang baru saja berpisah kurang lebih sejam saja.
Semua orang di lobi yang melihat kedatangan Lila menunduk hormat karena mereka tahu siapa yang datang. Selain sebagai nyonya dari presdir mereka. Greyila El Bara juga bukan lah orang sembarangan. Dia adalah putri dari pengusaha ternama dari Calvin El Bara dan Dhara Caroline, pengusaha nomor dua dari perusahaan yang kini di pimpin Melvin.
“Apa tuan Melvin berada di tempat?” tanya Lila pada dua wanita cantik yang bertugas di resepsionis itu.
“Tuan sedang berada di tempat nyonya. Silahkan anda naik menggunakan lift khusus ke ruangan tuan yang berada di lantai paling atas.” jawab salah satu resepsionis sopan dan ramah.
Lila pun mengangguk lalu segera menuju lift khusus petinggi perusahaan.
[Nyonya sangat cantik dan ramah. Pantas saja tuan Melvin mencintai nya. Walaupun cinta mereka di uji hingga harus berpisah dan baru bertemu lagi]
[Iya, aku dengar juga nyonya sakit tapi Alhamdulillah dia sudah sehat seperti sedia kala. Pantas saja tuan rela meninggalkan perusahaan demi menemani istri nya yang berobat.]
[Siapa juga yang akan rela melepaskan wanita seperti itu. Sangat cantik dan kaya raya. Pewaris tunggal dari perusahaan nomor dua.]
[Eh, tidak lagi tunggal karena kembaran nyonya sudah di temukan.]
[Berhenti bergosip sebelum nanti tuan Deo mendengar apa yang kalian katakan. Kalian kan tahu tuan Deo itu memiliki banyak mata dan telinga. Hati-hati kalian bicara. Lanjutkan pekerjaan kalian dan jangan bergosip.]
Suara-suara ramai karyawan yang seketika heboh membicarakan kedatangan Lila itu mendadak diam saat salah satu di antara mereka menegur. Bukan nya sudah puas bergosip akan kedatangan nyonya muda mereka tapi karena takut akan hukuman yang akan mereka dapatkan jika nanti ketahuan bergosip oleh asisten tuan muda mereka itu yang sebelas dua belas kejam dan dingin nya sama seperti Melvin Al Berto, presdir perusahaan nomor satu.
Di ruangan nya, Melvin sibuk dengan banyak nya dokumen di hadapan nya setelah tadi mendengarkan penjelasan dari Deo sekitar setengah jam.
Melvin serius dengan semua dokumen di hadapan nya itu. Ingin segera dia selesaikan karena ingin segera pulang bertemu dengan istri dan kedua buah hati nya. Jika selama kurang lebih lima tahun ini dia lebih suka menghabiskan waktu nya di kantor dengan tumpukan dokumen di hadapan nya maka berbeda dengan kondisi saat ini yang dia ingin cepat-cepat pulang menemui orang yang dia cintai dan dia kasihi. Tapi tentu saja tetap melaksanakan kewajiban nya sebegai presdir perusahaan yang bertanggung jawab akan kesejahteraan perusahaan dan kesejahteraan karyawan yang menggantungkan hidup nya di perusahaan itu.
Saking serius nya menyelesaikan dokumen, dia sampai tidak sadar akan kedatangan Lila yang kini berdiri tepat di hadapan nya, “Deo, ada apa kau ke si--” Ucapan Melvin terhenti melihat siapa yang kini ada di hadapan nya.
“Dear! Kau di sini?” tanya Melvin yang segera melepas kaca mata nya dan berdiri dari tempat duduk nya mendekati sang istri.
Cup
Satu kecupan singkat mendarat di kening Lila, “Kenapa tidak mengatakan akan datang? Deo juga kenapa dia tidak melaporkan kedatanganmu.” Protes Melvin.
Yah, biasa nya Deo akan mengatakan pada nya apabila ada tamu yang akan datang menemui nya tapi kini tidak.
“Apa dia tidak berada di ruangan nya?” tanya Melvin.
“Aku yang melarang nya tadi. Dia melihatku di depan dan langsung menyambutku. Hendak memberitahumu tapi aku melarang nya karena tahu kau pasti sibuk dengan tumpukan dokumen karena sebulan lebih meninggalkan perusahaan. Dan ternyata benar dugaanku. Tumpukkan dokumen itu sudah memenuhi meja kerja hingga menutupimu dan tidak menyadari kedatanganku. Justru mengganggapku sebagai Deo.” Ucap Lila melepaskan pelukan Melvin dari tubuh nya.
Lila segera menuju sofa yang ada di ruangan suami nya itu. Melvin pun mengikuti dari belakang.
“Maaf! Aku terlalu serius dengan dokumen-dokumen itu hingga tidak menyadari kedatanganmu. Maaf sudah salah mengenalimu. Aku terbiasa dengan Deo yang memang suka masuk ke ruanganku tanpa izin lebih dulu karena aku yang membebaskan nya.” jelas Melvin.
“Jadi apa aku harus izin dulu masuk ke si--”
Cup
Melvin menghentikan ucapan istri nya itu dengan kecupan lima detik di bibir Lila.
“Bukan seperti itu sayang. Kau salah paham.” Ucap Melvin.
“Tentu saja kau bebas datang kapan saja ke ruangan ini dan itu tidak butuh izinku sama sekali. Aku membebaskanmu untuk itu. Ruangan kerjaku ini juga ruanganmu. Apa yang ku miliki adalah milikmu. Aku mohon jangan meragukan nya.” sambung Melvin.
Lila pun tertawa mendengar ucapan suami nya itu, “Hey, aku bercanda hubby. Jangan mengganggap perkataanku serius. Aku sedang mencoba melucu agar kau tidak tegang menghadapi tumpukan dokumen itu. Tapi ternyata aku tidak pandai melucu hingga bukan nya menciptakan suasana santai justru mengundang ketegangan.” Ucap Lila.
“Aku takut kau salah paham sayang.” ucap Melvin.
“Maka nya jangan terlalu menganggap perkataanku itu serius, by. Kau terlalu menjaga perasaanku padahal aku mencoba biasa. Aku mencoba untuk hidup normal lagi tanpa memikirkan hal lain yang membebani pikiranku. Aku lelah memforsir pikiranku sendiri. Aku ingin bergantung padamu saja. Menjadi bebanmu.” Ucap Lila lalu segera meletakkan kepala nya itu di bahu Melvin.
“Aku tidak keberatan untuk itu sayang. Aku justru menyukai hal itu.” ucap Melvin mengecup puncak kepala istri nya itu.
“Aku akan meminta Selena membelikan minuman untukmu. Kau ingin apa?” tanya Melvin cepat.
“Selena? Siapa dia?” tanya Lila.
“Itu sekretarisku. Apa kau tidak melihat nya di depan?” tanya Melvin balik.
Lila menggeleng, “Huh, seperti nya dia sedang menelpon suami kecil nya itu. Kebiasaan.” Ucap Melvin lalu segera menuju meja kerja dan bicara lewat intercom yang menghubungkan diri nya, Selena dan Deo.
“Selena, datang ke ruanganku sekarang.” Ucap Melvin.
“Baik pak bos. Selena yang cantik dan sexy akan datang. Izin masuk!” balas Selena dengan suara manja nya.
Lila yang mendengar itu mengangkat alis nya hingga Melvin juga segera menatap Lila saat mendengar suara Selena yang terdengar menggoda nya.
“Sayang, jangan salah pa--” ucapan Melvin terhenti saat Selena masuk ke ruangan nya.
Hening
Suasana hening itu sekitar 20 detik memenuhi ruangan dengan tiga orang dewasa di dalam nya yang larut dalam pikiran masing-masing.
“Nyonya muda!” ucap Selena menunduk penuh hormat saat melihat Lila di sana. Dia sadar dia telah salah bicara tadi dan keheningan yang terjadi saat ini karena diri nya. Jadi demi mencairkan suasana dia harus yang lebih dulu memulai nya sebagai bentuk pertanggung jawaban.
Lila pun mengangguk dan tersenyum tipis tapi sebelum itu dia menatap ke arah Melvin yang terlihat tegang. Lila bukan nya menyebutkan minuman yang dia inginkan justru memilih duduk dan mengambil majalah yang ada di sana.
Selena pun segera menatap Melvin.
Ehem
Melvin berdehem, “Selena, kenalkan dia istriku, Greyila El Bara atau biasa di panggil Lila. Sayang, ini Selena, sekretarisku.” Ucap Melvin membunuh suasana tegang yang tercipta.
Lila pun kembali berdiri dan menatap sekretaris suami nya yang terlihat tegang. Lila mendekat dan mengulurkan tangan nya.
“Lila!” ucap nya tegas penuh wibawa menunjukkan kelas nya yang seorang pewaris tunggal usaha kedua orang tua nya sebelum Luke di temukan.
Selena segera menerima uluran tangan nyonya nya itu walaupun ragu-ragu, “Selena, nyonya!” balas Selena menunduk.
“Selena, tolong belikan istriku minuman. Dia haus. Sayang, kau ingin apa?” tanya Melvin menatap sang istri mencoba menghilangkan ketegangan nya. Dia seperti di pergoki sedang selingkuh padahal itu tidak sama sekali.
“Cappucino dingin. Aku ingin menikmati kafein yang dingin untuk meredakan rasa panas dalam tubuhku.” Jawab Lila segera duduk kembali ke sofa dan membuka majalah.
“Selena, tolong buatkan. Dua, aku juga menginginkan nya.” pinta Melvin yang di balas anggukan oleh Selena.
Setelah itu Selena keluar dan begitu berada di depan meja kerja nya dia menarik napas panjang. Lega. Karena jujur saja selama di ruangan napas nya seolah tercekat dan dia kesulitan bernapas.
Selena menghirup napas nya dalam-dalam seolah dia kehilangan banyak oksigen di dalam karena terlibat bicara dengan nyonya muda nya. Dia memang lebih tua dari Lila tapi tatapan Lila mengintimidasi nya.
“Huh, pantas saja tuan Melvin bagaikan orang gila saat nyonya menghilang. Ternyata memang secantik itu dan yah sedingin itu. Mereka benar-benar pasangan yang dingin. Dua kulkas bertemu hingga mungkin dingin kedua nya akan mampu mengalahkan dingin nya kutub utara dan selatan.” Gumam Selena.
“Cepat Selena laksanakan tugasmu sebelum tuan dan nyonya marah karena kau yang lambat.” Lanjut nya saat sadar bahwa di beri tugas sangat penting. Krusial. Lebih krusial dari proposal bernilai miliaran dollar yang pernah dia tangani.
Sementara di dalam Lila masih sibuk membolak-balikkan halaman majalah di tangan nya. Melvin sendiri menatap istri nya itu dengan posisi nya yang sama. Berdiri. Seolah langkah untuk mendekati Lila sangat berat. Kaki nya itu mendadak kaku untuk di gerakkan.
“Dia cantik ya. Hm, seksi juga. Definisi sekretaris yang sempurna dalam novel romansa.” Ucap Lila tiba-tiba dan masih dengan posisi nya yang sama yaitu sibuk dengan majalah di tangan nya.
Melvin pun menarik napas lalu segera mendekati Lila, “Sayang, kau salah paham. Selena memang seperti itu orang nya. Jika kau tidak percaya tanyakan pada Deo. Dia suka bercanda. Aku mana mungkin tergoda dengan wanita lain jika yang ku inginkan adalah dirimu. Jika memang orang seperti Selena yang ku inginkan maka aku tidak akan melakukan hal yang brengsek dan pengecut kepadamu. Tapi bukti nya aku justru melakukan hal bejat itu padamu.” Ucap Melvin menggenggam tangan Lila erat dan berlutut di di hadapan Lila.
Lila tersenyum menatap suami nya yang terlihat sangat takut jika dia salah paham. Lila paham sekali bahwa suami nya itu sangat menjaga perasaan nya padahal sama seperti yang dia katakan sebelum nya, dia ingin kembali seperti Lila semasa mommy hidup. Lila yang ceria.
“Aku hanya mengatakan dia cantik dan sexy, hubby. Aku tidak menuduhmu selingkuh atau pun terlibat affair dengan nya sama seperti cerita novel skandal CEO dengan sekretaris nya. Jadi ayo berdiri. Aku tidak rela kau berlutut di hadapanku padahal kau tidak melakukan kesalahan. Kecuali untuk apa yang pernah terjadi di masalalu. Ayo berdiri, by!” pinta Lila.
Melvin pun segera menurut dan duduk di samping Lila, “Hubby, sudah aku katakan bukan bahwa aku tidak mencurigaimu lagi. Ragu padamu? Tentu tidak. Aku percaya padamu seratus persen bahwa suamiku bukan suami yang suka main wanita.” Ucap Lila menatap mata Melvin lekat.
“Tapi perkataan dan ekpresi yang kau tunjukkan itu seperti orang yang marah sayang. Aku akan membatasi hubunganku dengan Selena. Menjaga jarak demi menjaga hatimu.” Ucap Melvin.
Lila pun terkekeh, “Hum, untuk hal itu aku tidak mungkin menolak maupun melarangmu. Tapi satu hal yang harus kau ingat aku tidak memintamu melakukan hal itu, By. Kau sendiri yang menginginkan nya. Padahal aku tahu dan bisa melihat bahwa Selena bukan lah tipe sekretaris penggoda. Yah, walaupun suara nya terdengar seperti seorang penggoda. Pakaian nya tertutup walaupun kesan sexy itu tetap ada. Tapi setidak nya pakaian nya sopan dan tidak seperti pakaian penjaja **** di luar sana. Tapi jika memang kau ingin menjaga jarak tentu saja itu hal baik.” ucap Lila masih tertawa.
“Sayang, apa kau mengujiku?” tanya Melvin gemas karena istri nya itu mampu membuat nya harus berekspresi beragam macam pada hari dan dalam waktu berdekatan.
“Untuk apa mengujimu, by. Tidak ada lagi pengujian yang bisa ku lakukan untukmu karena kau sudah lulus semua ujian nya. Selain itu aku bukan lah seorang guru maupun dosen apalagi pembuat soal yang harus membuat test ujian.” Ucap Lila tertawa.
“Dear!”