
“Apa ada yang bisa saya bantu tuan.” Ujar dokter Ana.
Melvin dan Deo segera duduk di kursi yang ada di hadapan dokter itu. Lalu Melvin segera mengambil foto yang dia bawa dan langsung memperlihatkan kepada dokter Ana.
“Apa seminggu lalu anda pernah memeriksa pasien ini?” tanya Melvin tegas.
Dokter Ana pun seketika terdiam memandangi foto itu. Foto seorang gadis yang dia kenal. Foto seorang gadis yang membuatnya terharu, “Diam anda saya anggap iya.” Ucap Melvin kemudian.
Dokter Ana tersenyum lalu dia mengembalikan foto itu kepada Melvin, “Pasien saya sangat banyak tuan. Jadi sulit untuk saya mengingat wajah mereka satu persatu.” Ucap dokter Ana.
Melvin pun tersenyum dengan keteguhan dokter di hadapannya itu. Melvin segera melirik Deo dan asistennya itu pun segera mengeluarkan dokumen yang dia bawa, “Pasien yang anda layani selama seminggu ini sekitar 25 orang saja. Itu terjadi pada tiga hari di minggu ini dan selama empat hari ke belakang ini anda mengikuti pelatihan. Jadi satu hal yang tidak mungkin anda tidak ingat pasien anda. Biar saja bantu dia datang kesini minggu lalu tepat di hari yang sama seperti hari ini. Tolong di ingat baik-baik.” ucap Melvin membacakan dokumen itu.
Dokter Anda pun terkekeh dan mengangguk-nganggukan kepalanya, “Anda benar. Saya ingat gadis itu tapi saya tidak mungkin mengatakan sesuatu yang mungkin anda inginkan dari saya. Saya sudah berjanji pada gadis itu untuk merahasiakan apa yang terjadi padanya. Saya di ingat oleh sumpah saya sendiri. Tidak peduli jika tuan mengambil surat izin atau mencabut surat izin praktik dari saya. Tapi saya tidak akan mengingkari janji yang sudah saya buat dengan pasien saya.” ucap dokter Ana tidak mudah di tindas.
“Bagaimana jika saya katakan bahwa dia mengandung anak saya. Dia membawa pergi anak saya.” ucap Melvin kemudian.
“Mungkin memang benar dia mengandung anak anda tapi saya tetap tidak punya wewenang untuk memberikan informasi yang anda inginkan.” Ucap dokter Ana.
Melvin pun menarik nafasnya panjang, “Tidak kah anda merasa kasihan kepada saya. Saya mohon tolong katakan ke mana dia pergi. Saya sudah mencarinya selama ini tapi tetap tidak bisa menemukannya. Sebulan lalu dia menutup CCTV agar saya tidak bisa menemukannya. Lalu di saat saya bisa memulihkan CCTV dia menghilang dengan membawa anak saya bersamanya. Tidak bisa kah anda membantu saya yang seorang calon ayah ingin dekat dengan anaknya. Saya mohon dokter tolong. Saya memohon dengan sangat. Jika memang dokter tidak ingin mengatakan di mana dia berada maka setidaknya katakan bahwa dia dan kandungannya baik-baik saja atau tidak.” Ujar Melvin penuh permohonan. Dia bahkan mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dadanya. Tidak masalah jika dia harus memohon yang terpenting dia bisa tahu di mana keberadaan gadis itu. Deo yang melihat tuannya memohon untuk pertama kali itu kepada orang lain selain orang tuanya memalingkan wajahnya karena tidak tega melihat tuannya itu.
Dokter Ana seketika menjadi bersimpati. Dia menjadi kasihan kepada pria di hadapannya itu, “Sa-saya tidak tahu dia pergi kemana. Dia hanya mengatakan akan membawa dan melahirkan anaknya itu di tempat di mana dia tidak akan di cemooh karena hamil di luar nikah. Untuk kesehatannya dan kesehatan bayinya. Semuanya baik-baik saja. Janinnya sangat kuat. Ini laporan hasil pemeriksaannya.” Ucap dokter Ana memberikan hasil pemeriksaan Lila itu.
Melvin menerimanya dengan tangan bergetar. Dia menangis melihat hasil USG di tangannya itu. Walaupun dia tidak mengerti apa gambar itu tidak masalah karena satu hal yang dia pahami bahwa itu adalah anaknya.
Dokter Ana dan Deo yang melihat itu pun ikut meneteskan air mata terharu melihat Melvin yang memeluk foto USG itu.
Lagi-lagi kini dokter Ana mengerti kenapa Lila tidak membenci pria ini. Dia justru mengatakan bahwa pria yang menghamilinya itu bukanlah orang brengsek. Pria itu adalah idolanya. Kini dokter Ana mengerti semua perkataan Lila waktu itu.
“Tuan, tenang saja. Saya pastikan dia tidak akan menggugurkan kandungannya itu.”